Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
49. Pemakaman Terkasih


__ADS_3

Entah sudah kali berapa pria itu mengusapi pelupuk matanya. Pelayat yang datang mencegahnya bersikap sentimental. Meski lubuk hatinya porak poranda.


Yang Riswan tangisi bukanlah kepergian Greg semata. Lagipula pria tua itu sudah terlalu renta untuk menerima doa agar memiliki umur lebih panjang. Riswan hanya digerogoti penyesalan, ia tidak bisa tidak membenci dirinya yang tidak menemani hari-hari terakhir seorang Greg Darmawangsa.


Ya, pria tua itu seminggu belakangan rewelnya memang kelewatan. Ada saja permintaan yang diajukan saat Riswan masuk jam-jam sibuk mengurusi Wangsa Grup di berbagai kota. Mulai dari mendadak ingin makan siang bersama Riswan dan Binar. Sampai membicarakan nama-nama cucu yang mungkin cocok untuk si kembar.


Riswan seringkali mengeluh dengan jawaban kasar, bahwa ia saja tidak diberitahu jenis kelamin anaknya, untuk apa membuat nama sekarang? Tak jarang, dengan sengaja ia mengabaikan dering telpon Greg dengan mudah. Beralasan sibuk, sampai tidak dengar.


Intensitas percakapan tidak bermutu itu makin sering terjadi tiga hari sebelum kepergian. Betapa bodohnya Riswan yang gagal membaca pesan tersirat dari kakek tercinta. Kali ini air mata Riswan merebak semakin giat. Jatuh tanpa kendali sang empunya.


Adrian menepuk pelan pundak Riswan, "Ikhlaskan. Supaya kakek Greg bisa tenang," bisik itu memecahkan isak tangis yang tertahan.


Masa bodoh dengan anggapan investor yang mungkin saja datang, atau pegawai Wangsa Grup yang boleh jadi menyaksikan. Riswan ingin meratapi sesalnya. Mengutuk diri sendiri yang begitu keji terhadap pria yang bertahun-tahun berperan seperti seorang ayah.


"Pemakaman sudah beres, jenazah sampai sini berapa jam lagi?" terdengar suara Tria mengajukan tanya pada Adrian. Wanita itu langsung melesat begitu menerima kabar Adrian, ia menyerahkan seluruh pekerjaan pada staf yang lumayan bisa dipercaya.


Adrian melihat jam tangan, "Sepuluh menit lagi harusnya. Langsung dimandikan saja begitu datang, nanti biar istriku yang mengurus jamuan."


Tria mengangguk sepakat. Sementara pendengaran Riswan menjadi tuli seketika. Ia tidak bisa mengabaikan pesan singkat yang terakhir kali Greg kirimkan. 'Riswan, aku sudah menghubungi ambulan. Dadaku sesak, tolong datang ke rumah sakit utama kalau kau sempat', begitulah... begitulah...

__ADS_1


"Setidaknya aku mengangkat telpon Greg, Adrian. Dia bukan pria yang pantas mati hanya karena serangan jantung mendadak!" protes Riswan kala Adrian sekali lagi mencoba memberi ketenangan.


"Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri, Riswan," ujar Adrian masih dengan nada yang sama. Lembut dan bijaksana.


"Hanya Greg keluargaku yang tersisa! Apa kau lupa?!" murka Riswan menggema. Membekukan seisi ruangan berdetik-detik lamanya.


Sepatah kata yang tanpa disangka sampai pada sosok yang baru memasuki ruangan. Perempuan itu membeku di ambang pintu utama rumah keluarga Darmawangsa. Hatinya bukan lagi terenyak, tapi lepas dari radar kehidupan. Dari ekor matanya, ia bisa melihat kepanikan Adrian membungkam mulut sang tuan.


Adrian sadar betul dengan situasi yang di hadapinya, Binar ada di sana sekarang.


***


Sepanjang prosesi pemakaman, Ned tak lepas merengkuh Binar. Pria itu juga mengingatkan buah hati tercinta agar tidak tersinggung dengan ucapan Riswan, sebab Greg adalah keluarga tunggal yang hanya dimiliki pria itu menahun lamanya. Ned berusaha memainkan peran ganda, ayah bagi Binar sekaliguss sahabat bagi Riswan.


Mata Binar masih setia tertawan pada sosok Riswan yang bersimpuh di hadapan batu nisan. Tangis pilu yang sudah tidak bisa ditahan itu terdengar menyayat-nyayat hatinya. Ada setitik perasaan ingin memeluk pria itu terselip di hati Binar.


Namun belum sampai tubuh perempuan itu sempurna bergerak, seseorang berdiri di samping kiri yang semula lengang. Wanita dengan pakaian serba hitam, lengkap dengan tas jinjing dan kacamata dengan warna senada. "Sebagai seseorang yang menanti kematian Greg Darmawangsa, aku tidak begitu bahagia," celetuknya sukses membuat Binar melingak.


Rhea tampak menatap lurus ke arah pusara, "Aku akan memulai perjalanan keliling dunia, Binar, tidak mungkin sempat menggoda Riswan lagi sekarang," ujarnya kembali melanjutkan kalimat, "Kau tahu, dia berlutut padaku dan memohon agar aku bahagia."

__ADS_1


"Padahal itu kan hanya alasan," mata Rhea jatuh pada Binar yang sejak tadi menyimak kalimatnya, "Dia bersikeras mempertahankan pernikahan kalian."


Seperti tidak butuh jawaban Binar, wanita itu melengkungkan senyum seraya mengacak rambutnya persis seperti bocah. Terakhir Rhea mencubit pipi Binar gemas, dan sadar atau tidak, Ned sama sekali tak peduli pada kehadiran Rhea di sekitar Binar.


"Selamat atas kehamilanmu ya, Binar. Aku belum sempat mengucapkan juga atas pernikahan kalian. Kuharap kau tak pernah menyia-nyiakan kesempatan berhasil memiliki Riswan Darmawangsa."


Datang tiba-tiba dan lenyap seketika. Mata Binar menggiring kepergian Rhea yang raib bersama taksi sekali jalan. Entah apa dan bagaimana maksud Rhea menyampaikan itu semua, yang jelas Binar dengan mata berkaca-kaca kembali melamatkan pandang pada sosok Riswan.


Doa pada jenazah Greg Darmawangsa telah tuntas di lantunkan. Satu per satu pelayat mulai berhamburan meninggalkan area pemakaman. Ned yang sejak tadi menemani Binar sudah gesit membantu Tria merapikan beberapa hal. Sementara Adrian tak henti menerima telpon ucapan belasungkawa.


Riswan masih meringkuk lemah di tepi gundukan yang masih gembur bekas galian. Atas ijin alam bawah sadarnya, Binar berangsur mendekat. Deras air matanya berjatuhan, tepat sebelum perempuan itu ikut duduk di tanah seraya memeluk punggung Riswan dari belakang.


Binar menenggelamkan wajah pada diri pria itu seraya terisak-isak. Tangisnya mengalahkan pilu yang sejak tadi Riswan lantunkan. Tanpa sepatah kata, Riswan berbalik dan meraih Binar masuk dalam dekap. Kepala mereka saling bersandar kala Binar berusaha keras menyampaikan kalimatnya dengan terbata-bata.


"Pa-man ma-sih punya a-ku, kan..."


Tangis Binar makin menjadi begitu telapak tangan Riswan membelai perutnya. Walau tak saling memandang, Binar tahu betul bahwa pria itu masih berlinang air mata. Meski dengan susah payah, ia masih bersikeras menekan suara agar tak terdengar cengeng di hadapan Binar.


"Ja-ngan bi-lang gi-tu lagi ya, kapan-kapan," sesungguk itu hanya dijawab anggukan. Binar bahkan sudah tidak peduli lagi pada gagasannya yang takut mengambil keputusan secara emosional.

__ADS_1


Ia masih punya hati untuk tak membiarkan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu hidup sebatang kara. Terlebih jelas-jelas Binar telah mengandung buah hati mereka. Elus lembut Riswan menyisiri helai-helai rambut Binar, satu kecupan di kening mendarat sesaat kemudian.


"Tidak akan, Binar, tidak akan pernah," bisiknya.


__ADS_2