Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
BAB 03 - JADI PENGANTIN BAYARAN (BRIDE WITH BENEFITS)


__ADS_3

Rinai memainkan pena di tangan kanan, sembari mengigit bibir bawah. Rahangnya sedikit mengeras, laporan terkait permasalahan konsep pernikahan dua hari lalu pada sesi rapat telah ia terima. Bukan begini rencananya.


“Ini sudah kesepakatan dua keluarga?” tanyanya memastikan.


Perempuan yang diajak bicara langsung mengangguk mantap, “Ya. Kita perlu berdiskusi dengan tim sebelah.”


Ia mendengus kasar sambil memijat singkat pelipisnya. Yang paling sulit mengenai koordinasi tim dalam pekerjaan


ini adalah; jadwal dua pengantin dari tim berbeda terjadi pada waktu yang sama. Bukannya tidak bisa diselesaikan, Rinai hanya benci negosiasi yang merepotkan.


“Oke, akan aku usahakan. Susunan acaranya bagaimana? Cindy sudah ada kabar?”


Pandangan Rinai tertawan pada proposal acara. Ia memilih dan memilah sekiranya apa yang perlu dipertahankan


untuk berdebat dengan tim sebelah. Minimal soal dekorasi dasar, ia tidak ingin kalang kabut mencari vendor dadakan.


“Dia masih di rumah keluarga pengantin. Masalah adat dari pekan lalu belum clear.”


Rinai Tenggara sukses menghentikan segala aktivitas. Terus terang, ia mulai terganggu dengan kinerja Cindy yang kian menurun tiap project wedding berdatangan.


Sahabat sekaligus rekan kerja terbaiknya itu sering kali tak memberikan Rinai pertolongan. Terlebih ketika dua acara pernikahan terjadi diwaktu yang sama seperti sekarang. Cindy justru menjadi penghambat bagi kinerja tim mereka.


Namun tak berniat memperpanjang masalah, Rinai lagi-lagi membuang napas. Ia menutup berkas proposal itu dan kembali menatap perempuan di hadapannya.


“Baiklah. Sepertinya aku harus mengadiri rapat untuk jadwal pernikahan besok lusa,” sahut Rinai kemudian,


“Terima kasih, kau sudah bekerja keras,” imbuhnya sembari bersiap diri hendak beranjak dari ruangan.


Namun, “Aku dengar di bawah ada tamu,” kata perempuan itu ragu-ragu, membuat Rinai menjeda kegiatan guna


mendengar kalimatnya lebih lanjut. “Dua lelaki, mereka bilang kalau salah satunya adalah pacarmu.”


Mata Rinai sontak membulat. Ia melesat cepat tanpa meninggalkan sepatah kata. Pikiran Rinai dipenuhi rasa


kesal. Tidak seharusnya lelaki itu datang mengunjungnya—apalagi di tempat kerja. Rinai sudah berulangkali meminta, supaya batas antara hubungan romansa dan profesionalitas bisa tercipta dalam hubungan mereka.


Rinai benci menjadi bahan pembicaraan. Hubungannya dengan Cindy saja sudah cukup berantakan untuk


dijadikan topik terhangat. Lantas bagaimana pikiran rekan kerja yang lain jika mereka lihat kekasih hati Rinai Tenggara datang?


Disepanjang jalan itu, ia terus berdecak. Mengundang belasan pasang mata tergoda untuk memperhatikan gerak


geriknya.


Begitu ia sampai di ruang tunggu, lelaki itu langsung melambaikan tangan. Senyum manisnya merekah, menyambut


langah-langkah Rinai dengan sumringah.


“Apa yang kau lakukan?!” bisik Rinai penuh tekanan.


Bagi Rinai, lelaki yang berstatus sebagai kekasih hatinya ini telah mengacaukan susunan rencana. Datang tanpa


pemberitahuan adalah kesalahan utama yang tidak bisa dimaafkan. Tentu itu menganggu jadwal kerja. Terlebih ia membawa seorang teman yang tidak Rinai kenal.

__ADS_1


“Kenapa tidak menelponku dulu sebelum datang?!!” sambungnya yang malah disahut dengan gerlak renyah.


“Kau sudah makan?” tanya lelaki itu sembari mengusap lembut puncak kepala Rinai, “Astaga, lihatlah, tempat kerjamu ini tidak memberimu istirahat ya?”


Rinai menepis tangan lelaki itu cepat, meski sang empunya tak jera dan masih menyuguhkan senyum hangat.


“Temanku butuh bantuan untuk pernikahannya, jadi aku rekomendasikan My Wedding Organizer supaya lebih


mudah,” jelas lelaki itu menyampaian maksud tujuan.


Kini pandangan Rinai beralih pada lelaki yang berdiri tepat di samping sang pacar. Lelaki itu membalas tatapannya


tanpa bicara. Membuat Rinai yang kepalanya dipenuhi oleh rencana pekerjaan hanya memutar bola mata.


“Aku sangat sibuk sekarang, jadi bawa dia ke tim marketing saja. Kau tahukan kalau aku tida—“


“Dia pacarmu?” potong lelaki itu menghentikan percakapan Rinai dengan belahan jiwanya.


“Tentu saja. Namanya Rinai. Sayang, dia Aksara, teman sekaligus pemilik perusahaan di tempatku bekerja. Aku


merekomendasikanmu dengan mempertaruhkan nama baikku juga, jadi tolong luangkan waktu sebentar.”


“Mohon kerjasamanya, aku tidak bisa memilih orang sembarangan.”


Lelaki bernama Aksara itu kembali melemparkan tatapan aneh yang sulit dijelaskan. Bisa dibilang Rinai justru


terganggu dengan caranya memandang. Namun dengan sejurus kesabaran, ia membuang mata dan beralih lagi pada kekasih hatinya.


***


Aksara yakin, perempuan itu bukanlah orang yang sama. Dilihat dari caranya memperlakukan Dirga yang datang tiba-tiba ke kantornya, Rinai tidak terlihat seperti perempuan gampangan yang bercumbu di ruang kerja seseorang pagi-pagi buta.


“Jadi bagaimana? Apa yang bisa aku lakukan?”


Perempuan itu bersindekap dada. Rambut yang diikat satu ke belakang menyisakan poni tipis di keningnya. Tatapan setajam bilah menatap lurus ke depan. Ia mempertegas aksen dirinya lewat rahang bawah yang sedikit mengeras.


Aksara tidak bisa tidak memperhatikan setiap jengkal dari perempuan di hadapannya. Diamati dari sisi manapun juga, Rinai adalah orang yang berbeda. Lantas siapa perempuan yang disaksikannya?


“Sederhananya, dia ingin menggelar pernikahan secara privat dan aku butuh bantuanmu untuk menggelar upacara per—“


“Aku butuh kau untuk andil dalam segala hal,” tukas Aksara memperjelas, mengabaikan Dirga yang belum tuntas


dengan kalimatnya.


Tujuan Aksara buru-buru mengajukan penawaran itu hanya satu, untuk memastikan dugaan. Ia tidak mungkin salah mengenali seseorang. Kalau memang benar demikian, Aksara ingin tetap berada di sekitar Rinai untuk sementara. Hanya itu yang terlintas di kepalanya.


Seulas senyum masam melengkung di wajah Rinai, “Dengar, Tuan, aku tidak melakukan semua sendirian. Timku yang lebih banyak mengambil alih pekerjaan. Jadi tolong jelaskan secara garis besar,


bagaimana konsep pernikahan yang kalian harapkan?”


“Aku bayar tiga kali lipat,” tandas Aksara tegas.


“Ini bukan soal biaya!”

__ADS_1


“Aku sponsori perusahaan kalian agar lebih berjaya,” cecarnya tak gentar.


“Kami sudah ramai pelanggan tanpa sponsor dari anda, Tuan.”


“Aku akan menjadi penanam saham tunggal di perusahaan kalian.”


Rinai yang nyaris kembali membantah terpaksa mengurungkan niat kala Dirga menggenggam tangannya. Lelaki itu


berusaha menahan amarah Rinai yang membara. Perempuan itu memandang Dirga singkat sebelum kembali pada Akasara.


“Mempelai wanitaku tidak dalam keadaan prima untuk bisa mengatur sendiri pernikahannya. Jadi aku mau kau


berperan sebagai calon mempelai wanita sampai hari pernikahan tiba.”


“Apa kau gila?!” pekik Rinai hilang akal.


Tentu Rinai memandang Dirga penuh harap untuk menyangkal ide dari teman sekaligus bosnya. Namun Aksara yakin Dirga tidak akan melakukan apa-apa. Lelaki itu pasti memberi keyakinan pada Rinai agar sepakat.


Bagaimanapun, posisi Dirga tidaklah diuntungkan. Lelaki itu boleh jadi merasa waspada terhadap Aksara yang


berpotensi membocorkan tabiat buruknya. Ia juga tengah mempertaruhkan nama baiknya sebagai teman sekaligus asisten pribadi yang paling dipercaya Aksara.


Oleh karena itu, segila apapun ide Aksara sekarang, Dirga pasti sependapat.


“Aku masih waras, Dirga. Bagaimana bisa kau menyerahkan kekasihmu sebagai calon mempelai wanita bayaran?!”


“Hanya membantu, bukankah pekerjaanmu memang begitu? Dengar, tiga bulan saja cukup. Kau hanya bertugas


mempermudah Aksara untuk memesan gaun pengantin, cicin pernikahan, seserahan, dan hal remeh lainnya. Mudah, bukan?”


Rinai beralih pada Aksara, “Aku sungguh sangat sibuk.”


“Aku bisa bicara dengan atasanmu bila perlu.”


Perempuan itu kehilangan kata-kata. Raut kesal bercampur dengan ketidakberdayaan tergambar jelas lewat wajahnya. Aksara paham semenyebalkan apa dirinya sekarang. Namun entah mengapa ia bersikeras membawa perempuan itu berada di sisinya.


Kalau dipaksa menjawab, Aksara juga tidak tahu rencana selanjutnya. Ia tidak punya hak untuk membongkar keburukan Dirga kepada Rinai, tetapi sisi kemanusiannya begitu ingin mengungkapkan itu tanpa berpikir dua kali. Aksara tidak mengerti, ia menjadi tak terkendali.


“Dasar keras kepala! Jangan berpikir untuk datang kembali dan melakukannya!”


Rinai yang sama keras kepalanya itu berlalu meninggalkan Dirga dan Aksara. Keduanya kini bungkam seribu bahasa.


***


Tumbuh dalam asuhan orangtua yang menjadikan pernikahan sebagai transaksi bisnis, Aksara Candrawinartapun memandang pernikahan tak lebih dari mencari partner usaha. Namun, visi pernikahan pria itu justru berbanding terbalik dengan Clarisa yang mementingkan cinta dalam sebuah pernikahan.


Perbedaan visi dan keengganan Clarisa menikahi Aksara membuat persiapan pernikahan mereka tersendat. Demi tetap menikahi wanita itu, Aksara menyewa jasa wedding organizer Rinai Tenggara untuk menepis semua rumor ketidakharmonisan Aksara dan Clarisa. Secara khusus, Aksara pun meminta Rinai menjadi pengganti Clarisa untuk menjajal gaun pengantin, dll, sebab Clarisa tidak mau bekerjasama mempersiapkan pernikahan yang tidak dia inginkan sejak awal.


“Aku tidak pernah berhenti mendoakanmu, Aksara. Semoga kau dikutuk oleh cinta.”


Tanpa disangka-sangka, Aksara malah jatuh cinta pada Rinai. Celakanya, Rinai adalah kekasih dari Dirga, sahabat Aksara sendiri. Haruskah Aksara meneruskan rencana pernikahan bisnisnya? Atau… haruskah pria itu menerobos semua halangan demi menikahi wanita yang dia cinta?


__ADS_1


__ADS_2