Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
25. Cemburu Buta


__ADS_3

"Kenapa tadi diam aja?"


Riswan baru selesai mandi ketika pertanyan itu diajukan.


Tentu ia tak bisa lupa. Keputusannya kembali ke rumah utama tak lantas membuat dosa Riswan berguguran. Binar tahu betul wanita yang tadi menyapanya adalah sosok yang berada di apartemen Riswan.


Dan... Kenapa Riswan diam saja saat dijamah?


"Aku mengusirnya lho, Binar," protes Riswan tidak terima. Jelas-jelas dia bersikap ketus pada Rhea, bagian mana yang disebut dengan diam saja?


Binar memutar bola mata, lalu memincingkan senyuman, "Tadi waktu dia pegang-pegang pundak paman! Kenapa? Mau pura-pura lupa?" cecarnya.


Tak habis pikir dengan konflik baru yang dihadapinya, Riswan bertolak pinggang, "Terus kamu mau aku ngapain? Dorong dia sampai terjungkal? Iya?"


Sebelah alisnya terangkat, "Dengar, Binar. Sebelum kembali ke rumah ini kita sudah sepakat untuk berjuang bersama, dan mempertahankan rumah tangga kita apapun yang terjadi di dalamnya. Jadi tolong jangan membesar-besarkan masalah! Kamu tahu betul kalau aku dan Rhea nggak ada apa-apa!" omel Riswan panjang lebar.


Sakit bekas adegan berlututnya di kediaman Alvero belum sepenuhnya hilang. Istirahat di apartemen beberapa hari pun tak mengurangi penat. Hari ini ia baru berniat kembali kerja dan kehadiran Rhea malah mengacaukan semua.


Ia ingin memperjuangkan Binar. Menjadikan perempuan itu sebagai istri tunggal yang akan di sisinya sepanjang usia. Tak bisakah Binar percaya padanya saja? Bahkan meski seisi dunia curiga, Riswan ingin Binar tetap berpihak padanya.


"Terus kenapa malam itu dia di apartemen paman?" tanya Binar bersikeras, "Kita belum sempat membicarakannya lho, Paman. Kenapa mantan pacar yang juga calon tunangan itu ada di kamar paman?!"


"Nggak terjadi apapun, Binar," keluh Riswan menjambak rambutnya, "Demi Tuhan aku hanya memberi bantuan!"


Faktanya memang begitu, kan? Riswan enggan menceritakannya secara rinci karena berpotensi menyebabkan salah paham. Binar akan lebih sensitif jika tahu Rhea dalam keadaan mabuk saat mereka bersama.


"Paman masih suka ya sama dia?" desak Binar gencar, "Alasan paman nggak pacaran atau menikah itu karena dia, kan? Wanita yang membuat paman meniduri ribuan ******! Semua itu karena Rhea kan, Paman?!"


"Jawab, Paman. Aku harap kita bisa saling jujur dan terbuka!"


"Iya!" sahut Riswan tegas.


"Kalau kamu minta jujur dan terbuka maka jawabannya, iya. Tapi aku sudah komitmen denganmu, Binar. Berjanji di hadapan Ned dan Tria. Terus buat apa? Bisa apa rasa suka itu sekarang?"


"Harusnya paman nggak usah jemput aku sekalian!" teriak Binar membalas.

__ADS_1


Napasnya memburu di dada, dengan urat leher yang bermunculan. Akan lebih mudah jika Riswan memutuskan kembali pada Rhea tanpa mempertimbangkan pernikahan mereka. Binar punya alasan untuk melindungi si kembar, dan Riswan bisa bersama orang yang dicinta.


"Bisa nggak sih kamu nilai dari sudut pandangku juga?" tanya Riswan datar. Ia tak berniat lagi menunjukkan air muka. Pandangannya lurus pada Binar, mengunci manik mata perempuan itu lekat.


"Atau jangan-jangan kamu masih menyesali pernikahan kita?"


Binar terperangah.


Dia hampir lupa meluruskan.


Kalimat spontan yang hanya selintas menjamah otaknya itu pasti membekas dalam benak Riswan. Kala itu Binar hanya terbawa suasana, meluapkan amarah supaya Riswan mau belajar lewat Adrian.


Namun...


"Kita nggak akan bercerai, Binar," tandas Riswan seraya mengalihkan diri pada aktifitas, "Suka nggak suka, menyesal atau nggak, aku mau pernikahan ini satu untuk selamanya."


Riswan mulai berpakaian. Mengabaikan Binar yang mematung di tempat. Perempuan itu sama sekali tak memberi tanggapan. Hanya terpaku tanpa sepatah kata.


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk kita, sekaligus menjalankan bisnisku sebaik yang aku bisa," sambung pria itu terus berbicara.


Riswan menjeda kalimat, melirik sang istri yang belum berkutik sejak kalimat tanya darinya. Mungkinkah Binar masih menyesali pernikahan mereka? Akankah suatu hari perempuan itu memilih mundur dan mengakhiri semua?


"Binar?" panggil Riswan, "Kamu denger kan ucapanku barusan?"


Bibir perempuan itu bergetar, "Memangnya paman nggak menyesal?" tanya perempuan itu diikuti pandang yang menoleh pada Riswan.


Namun Binar jadi kepikiran. Barangkali pria itu juga punya penyesalan yang sama. Seandainya dosa satu malam itu tak menyebabkan kehamilan, dan pernikahan mereka tak pernah terlaksana, Riswan bisa bersama Rhea sekarang.


Tatap mata Riswan menajam. Dua manusia itu bertekat untuk saling menyerang.


Riswan yang tak bisa lagi menemukan kalimat efektif untuk bicara dengan Binar pun menyerah. Pria itu bersuara dingin nan tajam.


"Aku nggak pernah menyesali keputusan yang ku buat."


Kemarahan menggerogoti relung batinnya. Sesulit itu kah memahami Binar? Bahasa manusia apa yang cocok untuk mereka bercengkrama?

__ADS_1


Ia nyaris raib dari sana kalau kalimat Binar tidak menahan pergerakan.


"Kamu selalu pergi tiap kali kita bicara," kata Binar.


Perempuan itu mengurai langkah. Mendekat pada sang suami yang sudah berada pada ambang pintu kamar. Jarak mereka sisa sejengkal, Binar tak goyah memenjarakan mata Riswan.


"Apa paman bisa mencintaiku lebih besar Rhea?"


Riswan mana tahu yang begitu?


Rhea adalah sosok yang tak pernah lekang dari belenggu.


Meski ia menyetubuhi Binar bukan sebagai pelampiasan hasrat terhadap Rhea, apakah boleh diterjemahkan sebagai cinta? Rasanya bukan sebatas itu cinta bekerja.


Cinta punya makna yang lebih megah. Dan bagaimana mungkin Riswan bisa mencintai Binar yang baru dinikahi satu bulan?


"Aku menanggung sumpah yang besar di hadapan papa, Paman. Aku nggak mau pernikahan ini cuma sebatas pelunas kewajiban. Jadi jika paman memang nggak bisa menjanjikan cinta yang lebih besar, biarkan aku cari suami lain di dalam pernikahan kita."


Ya. Binar memang sudah gila.


Ia tak mau terjebak dalam pernikahan kosong tanpa rasa. Untuk apa tinggal bersama suami yang hatinya dijabat oleh satu wanita? Binar tidak bisa.


Sumpahnya terhadap Ned juga tak mungkin dilanggar. Mustahil ia membesarkan si kembar tanpa bantuan seseorang. Sekalipun Binar merasa sanggup melakukannya, bagaimana nasib masa depan buah hatinya?


Satu-satunya jalan pintas untuk lari dari itu semua hanyalah dengan sedikit pengorbanan. Binar bisa bertahan lebih lama dalam pernikahan itu selagi mencari suami baru yang berkemampuan menjamin masa depan. Maka tak ada pihak yang merasa dirugikan.


Dalam situasi seperti ini, kebijaksanaan Riswan sebagai suami dipertanyakan. Bagaimana baiknya meladeni remaja delapan belas tahun yang terselubung kecemburuan? Riswan tak bisa bicara sembarangan, cinta bukan sesuatu yang boleh dijanjikan.


Ia mendiamkan Binar berdetik-detik lamanya, hingga satu nada datar kembali disuarakan.


"Silahkan," sahut Riswan.


"Kalau menurutmu pernikahan hanya lelucon di hadapan Tuhan, maka silahkan. Aku nggak keberatan. Semoga suami yang kamu idam-idamkan itu ada di dunia!"


Sungguh, sejujurnya Binar tidak bermaksud mendengar jawaban itu. Pada akhirnya Riswan tetap berlalu. Menyisakan pilu yang entah mengapa menjalar pada seisi relung.

__ADS_1


Apa salahnya merasa cemburu?


__ADS_2