
Wanita itu tersenyum seakan-akan telah menduga kehadirannya hari itu. "Masuklah," ia melengang masuk lebih dulu.
Sesesaat, amat sebentar, Riswan tertahan di tempat sembari mengamati sekeliling lamat-lamat. Ia mencari alat perekam yang mungkin saja bertugas mengamatinya. Tepat sebelum kekeh dari Rhea terdengar, "Apa yang berusaha kau temukan, Riswan?" ejeknya.
Dengan segala resiko yang siap ia tanggung, Riswan mengekori sang wanita. Entah bagaimana akhirnya ia akan digoda atau tergoda. Atau kembali terjebak fitnah yang memiliki kemampuan tinggi menghancurkan pernikahannya. Terus terang, Riswan pasrah.
Tanpa berbasa-basi Rhea langsung duduk sambil menunjuk kursi kosong di seberangnya dengan iris mata. Wanita itu berusaha mengisyaratkan bahwa di situlah seharusnya Riswan berada.
"Aku tak akan membuatkanmu minuman, Riswan, atau basa-basi soal kecurigaanmu sebelum masuk ruangan. Jadi apa kau sudah bercerai dengan Binar?" tukasnya langsung menyerang pada inti topik yang paling ingin ia bicarakan. .
Jauh berbeda dengan ekspresi Rhea yang tenang hingga nyaris tak bergelagat, Riswan gelisah. Pria itu berusaha keras mengasah otaknya agar bisa mewujudkan satu rangkaian kata sempurna guna membuka percakapan. Jari-jemari tangan ia tautkan, lantas mendengungkan nada untuk mengulut waktu bicara.
"Eee," gumamnya, "Aku bukan datang untuk itu, Rhea," tandas Riswan pada akhirnya.
Duduk berhadapan membuat keduanya mudah menjamah manik mata. Enggan berkomentar, Rhea hanya menyorot Riswan tanpa cela. Membuat lawan bicara kewalahan, pria itu bahkan gusar dengan posisi duduknya.
"Ucapanku keterlaluan, maksudku, soal Kalimantan. Kalau dipikir ulang, reaksiku berlebihan, Rhea. Aku..."
"Apa yang berusaha kau sampaikan, Riswan? Aku tak punya waktu mendengar kehati-hatianmu dalam menimbang kata," sela Rhea seraya bersindekap dada. Wanita itu sudah hapal di luar kepala, Terkadang Riswan bisa menjelma menjadi orang yang merumitkan hal mudah.
Riswan menelan saliva susah payah. Ia menggesekkan telapak tangannya pada paha, lantas menarik napas dalam-dalam. Pria itu berbisik pada dirinya, 'andai ia masih lajang, maka...'
"Aku mencintaimu, Rhea," ujar Riswan tegas, bola matanya tak lagi berlarian. Sebait kalimat yang sukses membuat Rhea tercekat menatapnya juga.
__ADS_1
"Aku menyesal melepasmu begitu saja. Aku tak pernah berhenti membenci diriku yang gagal melindungimu dari Greg Darmawangsa. Tanpamu aku hampa dan kau selalu benar, aku menjadikan puluhan ****** itu sebagai pelampiasan rindu padamu seorang."
"Kalau boleh mengaku, aku juga tak pernah keberatan, Rhea, meski kau puluhan kali menjanda, aku selalu siap menjadi tempatmu pulang," maka begitulah kalimat yang begitu ingin Riswan utarakan. Rentetan kata yang selama ini dipendam rapat-rapat. Dibinasakan oleh akal sehat dan asas sadar diri yang dijunjung sedemikian tingginya.
Iris mata Rhea berkaca-kaca. Siapapun tahu bahwa wanita itu terenyak sampai relung jiwa. Bait yang Riswan tuturkan itu amatlah ia dambakan. Jauh dalam hatinya, Rhea menantikan kalimat itu sampai ke telinga.
"Itu yang selalu ingin aku sampaikan padamu, Rhea, andai kau datang sedikit lebih awal. Kalau saja aku belum menikahi Binar, dan memiliki calon buah hati kembar yang sebentar lagi lahir ke dunia," imbuh Riswan panjang lebar. Pria itu bahkan tidak bisa lagi menyembunyikan butir beningnya.
"Seingin itu aku pada kebersamaan kita, Rhea. Bohong kalau aku tak menyesali perpisahan kita."
Lantunan yang Riswan sampaikan menimbulkan air mata Rhea merebak. Di luar kesadarannya, pipi telah terjamah hujan. Tak ingin menjadi lebih buruk dari sekarang, Rhea pun membuang mata. Menyusuri jajaran gambar dirinya di nakas.
"Butuh bertahun-tahun untukku mendengar pernyataan itu, Riswan. Asal kau tahu saja," protes Rhea pelan, lebih dibuat seperti cibiran sarkas.
Masih pada pelarian bola mata, Rhea membuang napas panjang. Dada wanita itu mendadak sesak. Pilu jiwa bergerombol di cekat tenggorokan.
"Kau bertanya padaku, Riswan, Alih-alih menikahi banyak pria, kenapa bukan pulang padaku saja?" tatapannya mengedar dari satu sisi ke sisi lain rumah. Wanita itu gigih menghindari tatap mata Riswan, seolah lebih tergiur memperhatikan perabot rumah yang selalu berada di tempat semula.
"Aku bukan asal menikahi banyak pria. Mereka adalah orang-orang yang ingin aku nikahi dengan segala bentuk ketulusan, dan apa kau tahu apa yang lebih buruk dari itu semua?" Rhea menyeret ekor matanya jatuh pada Riswan, "Ingatanku tentang Greg ternyata tak pernah memudar."
Riswan seperti tertampar. Ia tak pernah menduga jika kejadian itu sungguh membekas pada diri seorang Rhea. Bagaimana wanita itu mampu mengarungi hidup sendirian? Sementara sepanjang sepak terjang kehidupan, hanya Riswan yang Rhea punya.
"Salah besar kalau kau ikut menuduhku gila harta, Riswan. Apalagi cerai usai menguras habis kekayaan mantan-mantan suamiku untuk mengangkat derajad keuangan," kalimat Rhea sengaja digantungkan ke udara. Ia mengunci manik mata Riswan lebih dalam sebelum melanjutkan kata.
__ADS_1
"Nyatanya aku tak pernah sudah dengan urusan kita, Riswan. Aku selalu khawatir pada hubungan yang menyangkut keluarga besar."
"Bagaimana jika aku dibuang? Bagaimana jika taraf hidupku tak setara dengan mereka? Bagaimana jika aku yang sebatang kara ini menjadi istri atau pasangan tidak berguna? Ada jutaan 'bagaimana jika' yang mengahntui dan mendorongku untuk lari dari pernikahan."
"Dan kalau kau tanya kenapa aku tak jadi pemain pria juga, jawabannya sederhana, Riswan. Aku ingin punya keluarga."
Hati Riswan mencerat begitu kata 'keluarga' disebutkan. Wanita yang tumbuh besar di yayasan yatim piatu itu tampak tulus melantunkannya. Keluarga, Rhea memang tak memiliki seorangpun yang bisa dinamai sebagai keluarga. Lantas apabila itu adalah tujuan utamanya membangun pernikahan, tidakkah terdengar menyedihkan?
"Maaf," cicit Riswan lagi-lagi terdengar. Yang membedakan hanya pita suaranya jauh lebih kecil seperti dihimpit serak.
Memangnya apa lagi yang layak Riswan haturkan? Wanita itu telah direbaki air mata. Luruh membasahi kain bajunya yang tak bisa berontak. Walau masih tanpa suara, Riswan tahu betul Rhea telah terisak-isak dalam keheningan.
"Sama sepertimu, aku juga menghormati pernikahan, Riswan. Tak banyak orang yang mau bercerai sukarela," parau suara Rhea yang dibuat amat tegar itu menggema. Membuat Riswan terpaksa menyeret ekor mata menuju yang tercinta.
"Kau layak bahagia, Rhea. Kau selalu pantas menyandang kebahagiaan."
Senyum getir Rhea mengembang. Wanita itu kehabisan kata untuk mengajukan argumentasi yang pantas dijadikan bahan perdebatan. Rhea juga ingin demikian, bahagia dengan dicintai dan mencintai seseorang. Tapi bagaimana bisa? Siksa yang terlajur terpatri dalam jiwa itu sudah menggerus segalanya.
"Aku tak akan menyampaikan maaf atas nama Greg Darmawangsa, tapi sungguh dia telah bersumpah akan menghabiskan sisa hidup dalam penyesalan. Jadi tolong bahagialah, menjadi seorang Rhea yang hingga kini amat kucinta."
"Terdengar manis sekali, Riswan. Binar beruntung bisa memilikimu seutuhnya."
Tanpa sepatah kata lagi, Riswan meraih Rhea dalam peluknya. Melepas rasa rindu serta cinta yang mereka abaikan bertahun-tahun lamanya. Tidak ada yang berusaha saling menggoda untuk lebih lancang. Mereka hanya menyudahi kasih sayang dalam bentuk dekap panjang.
__ADS_1