Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
41. Pro-Kontra Dua Permintaan


__ADS_3

Mobil mereka masih terpakir beberapa meter dari halaman rumah Ned dan Tria. Belum ada yang bicara. Binar jatuh pada fokusnya membelai perut, sementara Riswan menilin pemandangan. Canggung mengakhusisi mereka.


Terus terang, Binar tak punya keberanian untuk turun dan pulang. Meski di saat yang sama ia amat muak berada di samping Riswan Candrawinarta. Dilema benar, apa yang harus Binar lakukan dalam situasi sekarang?


Riswan pribadi yang sudah mulai tersiksa dengan bungkam ini akhirnya lebih dulu menyerah. Pria itu sengaja mendenguskan napas kasar. Membuat seisi mobil diambil alih oleh embus yang ia buang.


"Kita bisa pulang ke rumah utama kalo kamu masih bimbang," cetus Riswan menyimpulkan keadaan.


Lebih dari lima belas menit sudah mereka berdiam di sana. Rasa-rasanya, Riswan paham bahwa Binar tak cukup tangguh untuk berani menjilat sumpahnya di hadapan Ned sang ayah. Satu penawaran yang bisa ia ajukan, pulang ke kediaman Darmawangsa.


Akan tetapi, "Apa paman masih mencintainya?" Binar malah mengajukan pertanyaan menyimpang.


Seutas kalimat tanya yang tentu saja membuat Riswan gigih membuang napas panjang. Pria itu bahkan sempat mengacak rambut singkat, tepat sebelum manjatuhkan pandang pada Binar yang masih menatap lurus ke depan. "Serius?" sahutnya balik bertanya.


"Maksudku, serius kamu tanya masalah itu lagi ke aku?"


Binar mengangguk, "Menurut paman, sampai kapan pernikahan kita bisa bertahan?" jawabnya seraya menggiring tatapan. Manik mata mereka bersinggungan,  "Apa paman masih berpikir pernikahan kita akan berhasil di masa depan?"


"Bahkan detik ini pun aku sudah bisa melihat kehancuran, Paman. Pernikahan ini akan menjadi penjara yang bukan hanya menyakiti aku dan paman, tapi juga si kembar. Jadi buat apa diteruskan?" cecar Binar tanpa cela. Ia meluapkan segala amarah, kecewa, serta luka yang ia rasakan terhadap Riswan.


Perasaan itu campur aduk dalam benaknya. Terus terang, ia sempat menaruh harapan pada pernikahan mereka. Apalagi usai mendengar penjelasan dari Intan. Tapi kemudian apa? Dipikir bagaimanapun juga, Rhea benar. Untuk apa berusaha merebut hati seseorang yang belum usai dengan masa lalunya?


Percuma.


Hubungan dua insan yang masih melibatkan masa silam tak akan pernah berjalan lancar. Toh, Binar juga terlanjur tergoda oleh Sean. Pernikahan paksa yang dibumbu pengkhianatan dari masing-masing pihak, apa lagi yang bisa diselamatkan?

__ADS_1


"Aku mau kita cerai, Paman," Binar melanjutkan ucapan, "Lagipula sejak awal paman nggak niat menikahiku, kan?Jadi biarkan aku menjadi ibu tunggal bagi si kembar.  Aku nggak mau mereka kena imbas dari hancurnya pernikahan kita."


"Emangnya dari awal kamu ada niat hamil muda?" tukas Riswan gusar, "Dari awal, skenario ini di luar rencana kita, Binar."


"Apa aku juga bagian dari ****** yang menjadi pelampiasan hasrat paman?" pantang menyerah, Binar melempar tanya itu dengan wajah datar. "Malam itu paman sempat sadar, kan? Paman tahu betul kalo aku adalah Binar putri tunggal Ned dan Tria. Terus kenapa nggak nolak?"


"Sekalipun aku yang narik paman, walau aku yang lebih banyak menggoda, seharusnya paman bisa kan..."


"Nggak bisa!" sela Riswan menghentikan tutur Binar. "Meski nggak mabuk pun, mungkin aku juga melakukan hal yang sama."


Intensitas tatapan mereka kian dalam. Binar yang tercekat tanpa sadar telah dikunci Riswan dalam iris matanya. Selang beberapa detik perempuan itu kemudian memincingkan senyuman.


"Jadi maksudnya aku juga ******, kan?" tanya Binar lebih terdengar seperti cibiran.


Ya, jawaban yang sudah bisa Binar duga sebetulnya.


"Kamu sendiri kenapa nggak nolak?"


Binar terdiam. Jantungnya mendadak berdebar tak karuan. Terlebih kala Riswan mendekatkan wajahnya, sengaja menyentuh kulit pipi Binar dengan embus napas yang dibuang perlahan-lahan.


"Aku memang menginginkanmu, Binar, dan bukan sebagai ******," jelas Riswan dengan nada bicara yang nyaris tak terdengar. Diikuti ekor mata sayu yang mulai memandangi bibir Binar.


Tidak mungkin tanpa alasan. Alam bawah sadar Riswan boleh jadi telah merekam sosok Binar sebelum ia mabuk dan datang ke rumah Ned yang jelas-jelas tengah melakukan perjalanan ke luar kota. Entah kapan tepatnya keinginan itu tumbuh menjelma dalam birahinya. Namun terhadap Binar, Riswan memang pernah mendamba.


Gila, tentu saja. Tapi lelaki mana yang menolak kala berdapan dengan kesempatan emas?

__ADS_1


Jemari Binar menyusuri dagu Riswan. Menyentuh rambut-rambut halus yang tumbuh di rahang bawah. "Mana bisa aku nolak kalo itu paman," bisiknya.


Percakapan vulgar itu mendorong Riswan berbuat lebih berani terhadap Binar. Ia menarik tengkuk perempuan itu dan menyecap habis bibirnya. Keduanya terbuai dengan mata yang memejam. Sampai ketika tangan Riswan menjamah puncak dada, binar terkesiap.


Sontak ia menarik buai yang Riswan suguhkan. Beranjak dari cumbu mereka yang hampir memanas. Dengan napas terengah-engah Binar menatap Riswan yang memasang wajah heran.


"Mulai sekarang jangan temui aku lagi, Paman, kecuali membawa surat perceraian," kata Binar tegas, lantas beranjak dari kursi penumpang dengan bantingan pintu yang keras.


Sementara itu di dalam mobil, Riswan tertawa nanar. Pria itu tak mengira jika hatinya dipermainkan oleh seorang remaja. Tak lekang, ia sampai terbahak-bahak. Menertawakan diri sendiri hingga tak menyadari derai air mata jatuh bersamaan.


***


Sesak telah bersemayam dalam benak Riswan, meski dengan segala upaya ia berusaha tampak biasa saja. Selain itu ia juga mempersiapkan diri dan mental. Berjaga kalau-kalau Tria melayangkan murka atau tamparan.


Wanita itu langsung menghubungi Riswan sesaat setelah Binar sampai di rumah. Tanpa sepengetahuan Ned, ia meminta Riswan melajukan kendaraan ke kafe andalan mereka. Gelagat yang mencurigakan, membuat Riswan tidak bisa tenang berhadapan dengannya dalam kurun waktu yang lama.


"Kau tahu, hampir semua masalahku dengan Ned bisa selesai berkat bantuanmu," Tria berujar usai menelan es kopi satu teguk, "Anehnya kau bisa menyelesaikan masalah kami tanpa terkesan ikut campur. Kalau diingat begitu jadinya makin lucu, sebab kini kau adalah kontradiksi dari semua keberuntungan itu."


Riswan menelan saliva susah payah, ia tak bisa menerka kemana kiranya arah pembicaraan Tria bermuara. Wanita itu tampak marah sekaligus putus asa. Dua emosi yang peluangnya sulit dipastikan.


"Apa Binar menyulitkanmu?" tanya Tria makin membuat Riswan merasa ambigu. "Dia tumbuh dari ibu sepertiku, jadi tolong pahami dia jika merajuk."


Ia masih setia menilai Tria tanpa sepatah kata. Mencerna situasi di antara mereka berdua. Sahabat lama yang kini telah berstatus sebagai menantu dan mertua.


"Bisakah kau lupakan Rhea dan tetap setia pada putriku?" Tria menelusupi manik mata Riswan tanpa ragu, "Bukan sebagai teman, Riswan, ini adalah permintaanku sebagai seorang ibu."

__ADS_1


Segala kata yang bisa Riswan lontarkan tersangkut di tenggorokan. Pria itu hanya membalas tatapan Tria dengan segenap rasa tidak percaya. Apakah ia telah mendapatkan restu sah? Atau hanya sarkasme yang menuai makna sebaliknya?


__ADS_2