Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
38. Jadwal Konsultasi


__ADS_3

Sedikit banyak, asumsi Greg Darmawangsa mempengaruhi pandangan Binar tarhadap Sean. Pertanyaan demi pertanyaan menghinggapi kepalanya. Membuat ragu bersemayam dalam dada. Mungkinkah Sean bekerjasama dengan Rhea?


Entahlah, tak ada kepastian nyata yang bisa menjawab kegusaran. Aneh rasanya jika tiba-tiba Binar mengajukan kecurigaan itu kepada Sean. Ia tak cukup berani menanggung kesalaahpahaman, apalagi sampai menimbulkan retaknya hubungan.


Meski demikian, Binar yang terlanjur


terikat janji tak lantas kabur dari Sean begitu saja. Lelaki itu tetap menemaninya menghadiri jadwal konsultasi kandungan ke dokter Intan. Binar bahkan berjalan di sisinya sambil tersenyum ramah seolah tak terjadi apa-apa.


Semoga saja, semoga Sean tak membaca


gelagatnya.


"Biasanya dateng sendirian?" celetuk Sean berusaha mencairkan suasana.


Bagaimana tidak? Sepanjang perjalanan, Binar hanya bungkam. Tanpa air muka, atau topik pembicaraan acak seperti biasa. Sean canggung dibuatnya. Ia merasa bertanggung jawab untuk mengambil alih percakapan.


Namun Binar hanya mengangguk sambil


mengulas senyum singkat. Jawaban yang membuat Sean bekerja keras memutar otak.


Mencari topik yang mampu menghangatkan situasi mereka.


Akan tetapi, belum sampai Sean mengangkat tema selanjutnya, pandangan Binar tertawan. Mata perempuan itu jatuh pada dua sosok manusia yang tengah asik bersenda gurau di ambang pintu ruang pemeriksaan. Pria dan wanita yang juga pernah Sean lihat, kala mereka berada di Kalimantan.


Apa lagi sekarang? Batin Binar.


Pemandangan romantis Riswan dengan


dokter Intan. Wanita itu memukul lengan Riswan sembari tersipu salah tingkah. Sementara Riswan menikmati sentuhan itu tanpa penolakan.


Sebetulnya, apa yang sedang mereka


lakukan? Dua insan yang seharusnya sibuk bekerja malah diam-diam saling menggoda. Kalau sudah begini, salahkah jika Binar menarik semua rasa percaya?


Nyatanya, sepanas apapun percumbuan


mereka tak mampu membuat Riswan setia. Pria itu tetap tergoda pada wanita-wanita lain di luar sana. Tabiat buruk itu telah menjadi karakter mendasar seorang Riswan yang mustahil diubah.


Sean menyentuh lengan Binar,


"Mau balik nanti aja nggak?"


Binar yang sejak tadi menghindari tatapan Sean pun akhirnya melingak. Mata mereka beradu sejenak. Binar tidak bisa tidak menunjukkan kepedihan.


"Udah terlanjur juga, males banget kalo ngulang perjalanan," tolaknya.

__ADS_1


Sentuhan Sean menjelma menjadi


tepukkan lembut sebagai usaha menenangkan. Ia juga melempar senyum guna menyalurkan kekuatan. Bagaimanapun Sean tak samapi hati membiarkan Binar


menyaksikan suaminya dengan wanita lain berluang-ulang. Mau sampai kapan?


Binar bukan perempuan yang layak


dibuat terluka.


Pandangan mereka kembali jatuh pada


tujuan utama, ruangan praktik dokter Intan. Luput beberapa menit dari pengamatan, rupanya Riswan telah tiada. Dokter Intan pun sudah masuk dalam ruangan. Gurau mesra yang Binar dan Sean saksikan telah bubar. Menyisakan keheningan.


"Gimana? Masuk sekarang?"


tanya Sean memastikan.


Tanpa jawaban, Binar mendahului Sean


masuk ke sana. Tentu saja tanpa air muka. Binar berlagak seolah tak menyaksikan


pertemuan rahasia antara Intan dan Riswan.


"Hai, Binar," sapa Intan ramah. Senyumnya masih merekah, semu kemerahan bahkan masih menyelimuti pipinya. Riswan seperti meninggalkan kesan yang membuat wanita itu berbunga-bunga.


singkat.


Sementara Binar berbaring, Sean mengambil duduk di seberang meja kerja Intan. Lelaki itu sengaja tak mendekat, bahasa tubuh yang membuat Intan lagi-lagi tertawa. "Apa Binar melarangmu mendekat?" ejeknya dengan nada yang sangat bersahabat.


"Buatkan aku surat rekomendasi untuk pindah dokter kandungan," ketus Binar menjawab.


Intan yang telah mengambil gel khusus


itu sontak terperangah. Ia menatap Binar heran, "Kenapa? Apa penjelasanku kurang akurat? Atau pemaparanku terhadap pemeriksaanmu kurang jelas? Kita bisa


bicarakan itu dulu, Binar. Tak perlu mengambil langkah ekstrem yang gegabah."


"Apa aku terlihat seperti bocah


yang bisa dibodohi dengan mudah?"


Wanita itu kian kebingungan. "Aku seorang dokter, Binar, untuk apa membodohi pasien hanya karena usia?" sanggahnya seraya meringiskan senyuman. Intan sama sekali tidak paham, sebenarnya, kemana arah pembicaraan Binar mengarah?


Senyum kecut Binar membalas, "Kau sengaja menjadikanku alat untuk mendekati Riswan, kan?" tuduhnya.

__ADS_1


Lagipula sudah jelas, bukan? Dua kali sudah Binar menyaksikan Riswan dan Intan berduaan. Wajar kan kalau Binar langsung menyerang pada intinya? Ia muak dipermainkan.


"Apa yang kau bicarakan, Binar?" kening Intan mengernyit tidak paham.


"Kau dan Riswan. Jangan pikir aku tak tahu hubungan kalian.”


Gagal memahami keadaan, Intan menanggalkan segala peralatan yang hendak digunakan untuk melakukan pemeriksaan terhadap Binar. Wanita itu bertolak pinggang, fokus matanya menyorot perempuan itu lekat.


“Kami pernah berteman semasa kuliah, Binar. Atas dasar apa kau menuduhku demikian?”


“Apa kejadian barusan tak cukup untuk dijadiakan landasan pembuktian?”


Tetapi di luar dugaan, pertanyaan itu justru membuat Intan tergerlak. Tawa renyahnya menggema. Membuat Binar yang tak mengerti letak kelucuannya makin gigih menajamkan pandangan.


“Maksudmu Riswan yang pergi barusan?” tanya Intan di sela-sela gerlak, “Bukti apa yang kau harapkan, Binar? Fantasimu


sungguh luar biasa mengagumkan,” godanya.


Masih dalam jangkau pengamatan Binar, wanita itu melangkah menuju meja. Ia tampak mengambil kertas yang tak tampak dari jarak Binar memandang. Intan kembali lagi menghampiri Binar masih dengan tawa geli yang serupa.


“Aku baru saja menikah,” jelas wanita itu lugas seraya menunjukkan foto pernikahannya, “Dan ini tanda terima


yang Riswan berikan sebagai hadiah pernikahanku sekaligus permintaan maaf


karena tidak bisa datang,” imbuhnya menyodorkan kertas lain pada Binar.


“Jadi,” kekeh Intan kembali terdengar, “Apa kau masih butuh surat rekomendasi pindah dokter kandungan?”


Penjelasan itu sukses membuat Binar


terenyak. Perempuan itu merasakan pipinya mulai memanas. Ia kehilangan akal untuk menyelamatkan harga dirinya di hadapan Intan. Wanita itu bahkan menggigit bibir bawah untuk meredam tawa, menyembunyikan gelitik terhadap reaksi Binar sekarang.


“Terus yang di Kalimantan?” Binar menambah pertanyaan. Meski memalukan, ia bersikeras tak mau kalah dari Intan.


“Kenapa kau sangat mencurigai Riswan, Binar? Dia sungguh pria baik jika kau bersedia sedikit lebih percaya,” sahut Intan seraya memulai kembali kegiatannya memeriksa kandungan Binar.


Kalau boleh sedikit lebih jujur, Binar merasa tidak enak hati pada Riswan. Bagaimana jika selama ini dugaan-dugaannya terhadap Riswan memang tak pernah ada? Atau bagaimana jika Riswan memang teguh terhadap pernikahan mereka?


Lamunan menelan Binar, rasa mengganjal terlanjur menggerogoti relung jiwa. Perempuan itu bahkan tak mendengar


satu kalimat pun penjelasan Intan terkait tumbuh kembang si kembar. Binar terpenjara dalam perasaannya.


Sembari menyusun kembali transducer ke tempat semula, Intan yang menyiasati ekspresi wajah Binar lagi-lagi angkat bicara. “Aku juga mengajar, Binar. Sering mengisi mata kuliah sebagai dosen tamu di beberapa Universitas,” jelasnya langsung mencuri perhatian Binar.


“Hari itu kebetulan aku ada mata kuliah praktik di sana. Sungguh tidak sengaja, aku mengenali Riswan di IGD bercucuran

__ADS_1


darah,” wanita itu menyuguhkan senyum hangat. “Aku berani bersumpah. Hanya itu yang terjadi pada kami di Kalimantan.”


Tak ada lagi kata yang layak Binar ucapkan. Perempuan itu terbungkam kenyataan. Kemungkinan Intan berdusta adalah nol besar. Akan lebih baik Binar berlutut pada Riswan memohon pengampunan.


__ADS_2