Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
48. Berita Duka


__ADS_3

"Ya... Iya... Saya bilang kan bisa dibicarakan lagi saat meeting... Iya... Baik... Terima kasih."


Helaan panjang Tria memenuhi dapur yang semula hanya terdiri dari suara adukan sendok dengan gelas. Binar berjalan menuju meja makan seraya membawa gelas susunya. Duduk tenang di hadapan sang ibunda yang tampak gusar mengacak rambutnya.


"Lama nggak kerja, pusing juga," keluh wanita itu kemudian. "Papamu juga nggak pulang-pulang, loh, Binar. Masa iya urusan Singapura satu pekan aja kurang?" omelnya.


Binar meneguk susu penutrisi kandungan hasil rekomendasi Intan perlahan-lahan, matanya masih setia membaca kekesalan Tria.


"Terus kalau sudah ada yang meleset gini, gimana? Susah juga menghubungi Ned kalau sudah fokus kerjaan. Investor itu rewel pula, aku benar-benar harus ke kantor sekarang," gerutunya seraya merapikan alat rias yang masih bercecer di meja.


Meski jelas tampak buru-buru mengejar waktu, Tria sempat diam memperhatiakan Binar. Ia mendengus kasar, "Serius nggak masalah di rumah sendirian?" tanyanya memastikan.


"Fine. Biasanya juga oke. Lagipula aku ada kelas memasak dan yoga hari ini," sahut Binar sambil mengangkan dua bahunya sedikit.


"Telpon aku kalau Ned kembali, atau suruh dia menjawab surel yang kukirim, atau lebih baik dia yang suruh telpon aku sendiri."


Binar hanya mengangguk-angguk menyepakati. Tria berlarian sambil memasang sepatunya yang tinggi. Wanita itu kembali menggilai dunia fashion mode yang selalu ia ikuti.


Hari-hari berangsur kembali seperti tak ada apapun yang terjadi. Ia menyandang statusnya sebagai putri tunggal keluarga Alvero, bocah delapan belas tahun yang sering ditinggal orang tuanya mengurus bisnis ke sana kemari. Yang membedakan hanyalah dirinya yang kini tak perlu lagi takut bangun kesiangan.


Tidak ada ritual mandi pagi, membuat sarapan sekalian bekal atau pekerjaan rumah setumpuk yang menagih penyelesaian di akhir pekan. Hari-hari Binar lebih banyak dihabiskan untuk mengurus rumah. Kadang menyapu latar, dan baru masuk begitu mendengar cibiran dari tetangga. Kalau sudah begitu, Binar memilih memutar musik keras-keras, menyapu dan mengepel seisi rumah.


Kegiatan-kegiatan ini juga dibangun dalam rangka menjaga kesehatan tubuhnya. Pesan Intan yang semakin berisik usai dinyatakan hamil anak pertama itu adalah; 'pastikan untuk rajin bergerak'. Sejak saat itu Tria mulai aktif membuat jadwal dengan training olah badan. Mulai dari renang, yoga, atau apapun yang konon bisa melancarkan proses persalinan.

__ADS_1


Tria menjadi sangat overprotektif menjaga kehamilan Binar. Hal yang seringkali membuat Ned protes dengan menu makan sehat yang mulai membosankan untuk lidahnya. Dalam situasi seperti itu Binar diam-diam akan memesan makanan lezat, dan menghidangkannya khusus untuk ayah tercinta.


Soal Riswan, jangan ditanya.


Perempuan itu bahkan rela mengunci kamar berhari-hari kalau sudah membahas suaminya. Mulai dari sindiran, kata motivasi, hingga membujuk secara terang-terangan. Tak satupun usaha itu membuahkan hasil agar Binar mau rujuk pada Riswan.


Tiga bulan sudah berlalu sejak insiden kepergian Binar dari rumah utama keluarga Darmawangsa, dan jawaban, "Nanti saja," atau "Pikir belakangan," menjadi penangkis utama. Binar senantiasa menghindar, ia belum bisa membuat keputusan dari kegusaran hatinya.


Di saat yang sama, mungkin, ia amat merindukan Riswan. Tapi pikirannya mengajukan tanya skeptis yang tak pernah pudar, bagaimana kalau Riswan kembali tergoda? Bagaimana jika suatu hari, Riswan mulai bosan dengan pernikahan mereka dan menekuni lagi kebiasaan bejatnya? Kemungkinan-kemungkinan semacam itu berkembang pesat di kepala Binar.


Meski kebenarannya amat samar, Binar tak cukup berani mengambil keputusan itu sekarang. Apalagi dengan usia kandungan yang memasuki tujuh bulan, Binar tidak mau gegabah. Ia enggan dipengaruhi oleh hormon sensitif yang meledak-ledak semasa kehamilan.


Ia baru saja beranjak dari meja makan kala pintu rumah tiba-tiba terbuka. Pria dengan lengkung senyum bercampur lelah langsung menyambutnya. Ned Alvero dengan tas ransel yang masih bertengger di punggung itu langsung merebahkan diri di sofa.


Binar yang bergerak dengan sigap itu tak langsung berkomentar. Ia meletakkan cangkir berisi teh hangat kepada sang ayah. Minuman sederhana yang menjadi rutinitas pria itu disaat merasa lelah.


Dan seolah telah menemukan jawaban, giliran pria itu yang begerutu menggantikan Tria, "Apa aku harus ke kantor hari ini juga?!" protesnya lebih kepada diri sendiri alih-alih Binar. Meski aktifitas memainkan benda kotak itu tak langsung diakhiri Ned tentu saja.


Jemarinya tampak lugas mencari-cari pembaharuan selama ia dalam perjalanan. Binar menerka-nerka kalau mungkin di antaranya adalah surel yang dimaksudkan oleh Tria. Namun semakin lama pria itu menjelajah, keningnya makin berkerut tajam. Tubuh yang semula bersandar itu terangkat perlahan-lahan.


Binar yang heran menerjemahkan raksi itu semakin bungung kala Ned menatapnya. Pria itu diam berdetik-detik seolah kesulitan mengeja kata. "Tria dimana?" tanya Ned usai memilih kalimat paling efektif yang bisa dijangkau lidah.


"Mana lagi, Pa. Sejak pagi mama sudah mengeluh banyak soal pekerjaan. Minum tehnya dulu sebelum nyusul mama. Aku ada aca..."

__ADS_1


"Acara apa?" tukas Ned mendesak. Wajah yang semula malas dan ogah-ogahan itu berubah mengeras. Binar paham betul jika ekspresi itu ditunjukkan saat sang ayah ingin bicara seirus kepadanya.


"Kursus. Kenapa?"


Ned tampak sukar menarik napas. Ia membenahi posisi dan nyaris mengatakan sepatah kata kalau saja telponnya tidak berdering nyaring memecah keheningan. Pria itu sontak bangkit menjauh dari jangkauan mata dan telinga Binar. Kegelisahan tampak jelas dari punggung badannya.


Semenit, dua menit, Ned berdebat dengan seseorang di balik telponnya. Sesekali Binar bisa melihat Ned mengacak rambut hingga urat-urat lehernya bermunculan. Sebetulnya ada apa?


Binar sebisa mungkin membungkam rasa penasarannya dengan sabar. Kurang lebih lima belas menit kemudian Ned memasuki rumah dengan langkah gontai tak bertenaga. Ia mengambil posisi yang persis seperti semula, kemudian sibuk menarik dan mengembuskan napasnya berulang-ulang.


"Dengar, Tria tidak sepakat tapi aku harus melakukannya," suara Ned mendadak terdengar sumbang. Ada getar yang tertahan di pangkal tenggorokan.


Masih dengan ketenangan yang dibuat sedemikian rupa, Binar meraih punggung tangan Ned sebagai isyarat bahwa dirinya siap mendengar. Pria itu memijat pelipisnya sebelum menoleh pada putri kecilnya. Sekali lagi lidahnya kelu, namun cengkraman tangan Binar berhasil mendorong Ned membuka mulut.


"Greg Darmawangsa meninggal dunia, Binar. Tria membantu menyiapkan keperluan pemakaman sekarang."


Deg.


Terenyak batin Binar. Genggaman pada tangan Ned luruh seketika. Dunia Binar serasa diputar-putar. Pandangannya membunar dijejali butir air mata. "Greg Darmawangsa?" ulang Binar memastikan. Meski tampak tua, pria itu tidak terlihat seperti manusia yang mati dengan cepat.


"Iya, Binar, dan papa yakin Riswan kacau balau sekarang."


Butir bening itu mencelat. Jatuh ke permukaan pipi Binar. Ia membuang muka, menagih jawaban terhadap dirinya lebih keras kepala. Kalau sudah begini, apa yang harus dia lakukan?

__ADS_1


__ADS_2