Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
18. Manis, Sepah Dibuang


__ADS_3

Dua hari dua malam sudah Binar tidak dengar kabar Riswan.


Usai menyombongkan kepedulian. Menerbangkan Binar pada harapan, mimpi, serta cita-cita. Juga mengajukan pembelaan terhadap Binar di hadapan Greg Darmawangsa. Pria itu seakan raib ditelan kehidupan.


Sejak kejadian pagi itu, tentu Binar meminimalisir kegiatan di luar kamar. Selain menghindari Greg, Binar juga enggan berpapasan dengan pelayan. Ia tak siap dengan belasan pasang mata yang menghakimi kehamilannya.


Tidak, Binar tak ingin mengulang kejadian yang sama. Cukup teman-teman sekolahnya saja yang bersikap demikian.


Sialnya, lagi-lagi Riswan tidak ada di sisi Binar. Pria itu seperti lepas tangan. Menanggungkan beban berat itu pada Binar seorang. Ia bahkan sengaja menonaktifkan nomor pribadinya.


Dari Adrian, Binar hanya tahu kalau Riswan mengalami kendala serius yang sangat mendesak. Riswan perlu bolak-balik ke kantor dan luar kota. Menyebabkannya sulit pulang ke rumah utama untuk sementara.


Riswan mengambil jalan efektif yang ringkas. Pria itu pulang ke apartemen pribadinya untuk menghemat tenaga.


Baiklah, anggap saja Binar paham dengan situasi Riswan. Tapi yang jadi masalah adalah kenapa sampai menghilang tanpa kabar?


Masih berdasarkan pemaparan Adrian, Riswan mengaku takut mendengar kabar buruk dari Binar dan mendadak kabur dari seluruh pekerjaan itu hanya dengan satu panggilan. Tapi siapa yang percaya? Detik ini pun Binar masih gagal menghubungi Riswan.


Sebetulnya, kabar buruk apa yang Riswan khawatirkan?


Mondar mandir dari satu sisi kamar, ke sisi lainnya. Sembari menggigiti kuku tangan, Binar duduk lalu beranjak dari ranjang. Pergerakan konsisten yang berulang, dilakukan sambil sesekali melirik pada layar.


Ting!


Bunyi nyaring mendaratkan pesan Adrian. Binar sudah melesat walau hanya membacanya lewat notifikasi mengambang. "Riswan barusan kuantar ke apartemen," begitulah kurang lebih tulisnya.


Binar tidak perlu baca sampai tuntas. Kalau Riswan memang tak bisa pulang ke rumah utama, maka Binar yang akan datang menemuinya. Ia ingin memastikan dengan mata kepala kalau pria itu baik-baik saja.


Yah, walau sekaligus berniat mengomeli sang suami yang pergi tanpa kabar. Intinya Binar ingin menemui Riswan saat ini juga.


Namun beribu sial membuatnya berpapasan dengan Greg Darmawangsa. Pria tua itu baru kembali dari prosesi makan malamnya ketika Binar baru sampai ruang tengah.


Di bawah pengawasannya, Greg mengamati Binar dari ujung kaki hingga kepala. Kelopak mata yang dipenuhi kerutan itu menyipit seketika.

__ADS_1


"Kemana?" tanyanya, "Anak perempuan hamil malam-malam begini mau kemana? Nggak lihat jam? Atau daridulu memang kebiasaan nggak ada jam malam?"


Binar mendengus samar, berusaha memutar otak untuk membuat alasan. Makin panjang urusan kalau Binar mengaku hendak mengunjungi apartemen Riswan. Pria itu bisa-bisa ceramah panjang lebar.


"Aku sudah ijin paman," cetusnya kemudian, "Ada janji sama temanku sebentar, urusan pelajaran. Aku sedang mempersiapkan study-ku di masa depan."


Baru saja Greg menarik napas untuk melayangkan kalimat, Binar lebih dulu menyambar, "Sudah dulu ya, Kek. Takutnya nanti makin malam."


Alibi spontan yang sempurna itu tak boleh menghalanginya. Binar harus cepat-cepat kabur sebelum Greg berhasil membaca gelagat dusta. Pria tua itu sedikit banyak pasti tahu kegiatan Riswan, apalagi soal nomor pribadinya yang sengaja tidak diaktifkan.


Bahkan boleh jadi, keberadaan Riswan yang memilih menginap di apartemen pribadi pun atas seijin Greg Darmawangsa. Pria tua itu pasti sepakat pada apapun keputusan Riswan yang menyangkut bisnis Wangsa. Sebab bagi mereka, Binar selalu menjadi perempuan hamil yang tidak berguna.


Taksi online yang Binar pesan telah menunggu di halaman utama. Binar meminta si sopir melajukan kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata. Perjalanan rumah utama menuju apartemen Riswan memakan waktu dua jam.


Dan Binar enggan kehilangan akses terhadap Riswan.


***


Dua jam itu terasa bagai dua abad. Disepanjang perjalanan, Binar tak jemu berusaha menghubungi nomor Riswan. Akan tetapi mesin penjawab mengambil alih segala pembicaraan, Riswan murni mengabaikannya.


Namun gusar terlanjur berlalu-lalang dalam jiwa. Binar membayar tagihan taksi menggunakan kode batang dengan sekali tekan. Langkah kaki berikutnya ia habiskan untuk mengeja password apartemen Riswan yang dikirim oleh Adrian.


Satu tekan, dua tekan, daun pintu apartemen itu langsung terbuka.


Pandangan Binar berpedar, gelap mengakuisisi seisi ruangan. Mungkinkah Adrian menipunya? Atau Riswan telah pergi lagi ke kota yang mustahil dijangkau Binar?


Sebetulnya apa alasan Riswan melakukan hal seperti ini pada Binar? Apakah perempuan itu melakukan suatu kesalahan? Apa diam-diam Riswan masih menyimpan dendam perkara ucapan Binar yang menyesali pernikahan?


Remang cahaya kamar memberikan setitik harapan. Binar mendekat seraya melantunkan doa supaya Riswan berada di sana.


Takut menggugah, Binar mengendap-endap. Ia tak mau disebut pengganggu yang mengusik waktu istirahat Riswan. Akan tetapi, ekor mata Binar justru mendapati punggung Riswan. Pria itu tengah menyelimuti seseorang yang berbaring di ranjang.


Walau di bawah pencahayaan yang sangat minim, Binar tahu betul jika seseorang yang dipandangi Riswan adalah wanita. Sosok yang tak lama kemudian meraih tangan Riswan. Ia membisikkan nada serak yang menggema pada seisi ruangan.

__ADS_1


"Kemarilah. Atau aku ikut tidur di luar."


Binar membungkam mulutnya, menahan jerit agar tidak bersuara. Sementara itu manik matanya setia pada Riswan, pria itu tak menepis sang wanita.


"Riswan~" panggil wanita itu manja, "Kemarilah. Aku bersumpah tak akan mengulangi kejadian semalam."


Semalam?


Apa yang terjadi di antara mereka semalam?


Hilang sudah pertahanan tubuh Binar. Perempuan itu berusaha menyangga berat badan pada kusen kamar, namun tubuh yang gemetar membuat pergerakannya sempoyongan. Telapak tangan Binar melesat, ia menyenggol koleksi vas bunga milik Riswan.


Binar panik menyembunyikan diri kala Riswan menoleh padanya. Pria itu sontak menekan sakelar yang menerangi seisi ruangan. Dua insan yang sama terkejutnya itu saling bertukar pandang.


"Binar?" Riswan mengernyit heran. Ia mendekat selangkah, namun perempuan itu mundur dua langkah.


Ia tidak bisa memprediksi sudah berapa lama Binar di sana. Namun raut wajahnya menggambarkan semua. Perempuan itu tampak jijik padanya.


"Oke. Aku yakin semua ini cuma salah paham. Jadi tolong jangan mundur lagi karena pecahan kaca di belakangmu itu bahaya," ujar Riswan mencoba menenangkan.


Tetapi Binar sama sekali tak peduli pada ucapan Riswan. Ia tak mau selangkah pun lebih dekat dengannya. Apalagi ketika wanita yang mengenakan baju tanpa lengan dan celana ketat itu sudah ikut berdiri di sana.


Binar makin gigih mengurai langkah ke belakang.


"Ada apa, Ris..."


"Binar, awas!"


Kepingan kaca berukuran sedang menggores telapak kaki Binar. Tidak sampai tertancap, sakitnya tidak seberapa. Namun air mata Binar sudah melesat begitu deras.


Tangis tanpa suara. Binar langsung berlari menjejakkan bercak-bercak luka. Energinya bukan hanya dikuras oleh cemas, melainkan juga patah sepatah-patahnya.


Sekalipun Binar telah purna pada tabiat butuk Riswan, tapi menyaksikan percumbuan itu sebagai istri sah bukanlah perkara yang sama.

__ADS_1


Riswan telah mengkhianati ikatan suci pernikahan mereka.


__ADS_2