Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
14. Terkapar Lemah


__ADS_3

Sekali lagi sisa makanan itu dimuntahkan perut Binar.


Tubuh perempuan itu gemetar. Dua pelayan yang menyambut Binar sejak pindah ke rumah Darmawangsa itu panik dibuatnya. Mereka serba salah.


Binar menjadi makin mual tiap kali pelayan-pelayan itu memijat tengkuk. Padahal sangat mustahil jika mereka hanya diam saja menyaksikan sang nona muda duduk bersimpuh. Terlebih kepala pelayan terus mengamati dari jauh.


Pandangan dua pelayan itu sesekali beradu. Sampai ketika sosok yang membuatnya takut mengambil alih keadaan.


"Seharusnya tidak perlu dihabiskan semua, Nona," kata sang kepala pelayan seraya mendekat.


Ia menepuk-nepuk punggung Binar dengan telapak tangan, sementara perempuan itu sudah menyandarkan kening pada bibir kloset tak berdaya. Binar lemas, seluruh makanan yang ditelannya semalam menuntut hak untuk keluar.


"Sudah biasa kalau makanan tidak habis seperti itu dibuang. Nanti akan diolah menjadi pupuk atau makanan hewan. Jadi bukan terbuang sia-sia," jelasnya dengan nada lembut menenangkan.


"Tapi aku masak susah payah," bisik Binar pelan. Air matanya merebak di luar sadar.


Wanita itu tak berkomentar, sebab tiada kalimat penghiburan yang pantas diajukan pada Binar. Memangnya hati siapa yang tidak terluka diperlakukan demikian?


"Sekarang kami sudah siapkan bubur untuk nona," ujarnya mengalihkan topik pembicaran, "Bahaya kalau perut dibiarkan kosong sampai siang. Tidak baik untuk kesehatan."


Usai menghabiskan seisi meja makan, tentu Binar muak hanya sekadar memikirkannya. Menu-menu itu kembali berselancar di kepala. Menimbulkan pening kian menjajah diri Binar.


Detik kemudian dia sudah menggelengkan kepala, "Nggak mau. Mual," rengeknya.


Wanita itu membuang napas, tidak kasar. Ia seperti tengah mengelola emosinya guna memilih kata untuk si nona muda. Lantas memberikan isyarat pada dua pelayan yang masih di sana, supaya meninggalkan mereka.


Dua pelayan yang membaca makna tersirat sang kepala pelayan sempat ragu. Namun pada akhirnya mereka tetap mundur.


Sambil mengelus punggung Binar lebih lembut, ia berbisik halus, "Saya tahu kalau tidak nyaman, Nona. Demi kandungan, sebaiknya makan sesuap dua suap."


Binar menoleh agak tidak percaya. Dia pikir kehamilannya dirahasiakan pada seisi rumah. Tapi ternyata tidak, Greg mempercayai wanita itu lebih dari yang bisa Binar duga.

__ADS_1


"Saya sudah siapkan vitamin dan susu untuk membantu pertahanan sistem imun nona. Jadi kalau memang mualnya tidak berkurang, saya akan panggil dokter pribadi Tuan Darmawangsa."


Sebutir bening kembali menetas di pipinya. Pelupuk mata Binar terasa sesak. Ia menyeret pandangan agar tidak bersitemu dengan kepala pelayan.


"Nggak perlu sampai panggil dokter segala. Aku masih kuat."


Tentu ucapan itu dusta belaka. Binar tidak mau adegan memanggil dokter itu jadi perkara baru yang digunakan Greg untuk menghina. Pria tua itu jelas mengomelinya lagi karena gagal menjaga kesehatan. Membayangkannya saja, Binar sudah malas.


Kepala pelayan itu juga tidak bisa memaksa. Mau disalahkan bagaimanapun, tugasnya hanya mematuhi pemilik rumah. Binar menolak, dan ia melakukan segala cara untuk membuat perempuan itu terhindar dari sakit berkepanjangan.


"Kalau begitu, selagi menunggu tuan muda yang masih dalam perjalanan pulang, mari saya bantu tiduran. Sebaiknya nona istirahat sebelum beliau sampai rumah."


"Paman pulang?"


Binar tidak tahu jika urusan bisnis di Batam bisa sebegitu cepatnya. Jam baru menunjukkan pukul delapan, bukankah biasanya peresmian cabang berlangsung sampai makan siang?


Wanita itu mengangguk ringan, "Beliau tanya kabar nona, jadi saya jelaskan secara rinci dan langsung bergegas pulang."


Apakah kepala pelayan hanya memberinya penghiburan? Mustahil Riswan bertindak demikian.


"Dua pelayan itu saya suruh tunggu di luar, jadi kalau sudah kenyang atau kembali mual, panggil mereka saja."


Binar mengangguk sepakat. Wanita itu kemudian melanjutkan pekerjaan. Menyisakan Binar yang masih memutar-mutar kalimatnya di kepala.


Apa diam-diam Riswan mengkhawatirkannya? Kalau pria itu sungguh mencuri informasi tentang dirinya lewat kepala pelayan, bukankah keromantisan semacam itu terasa amat lucu?


Sesaat perasaan Binar seperti terbang melayang. Menghalusinasikan suami dingin yang ternyata sangat hangat. Hal seperti itu sering terjadi dalam film maupun drama. Binar ingin merasakannya juga.


Akan tetapi akal sehatnya menangkis dalam sekejap. Riswan bukan tipe yang demikian. Terlebih setelah mengambil alih Wangsa Group seutuhnya. Pria itu berubah total, ia bahkan tak pernah menganggap Binar ada.


Menikahi Binar adalah murni usahanya untuk menggugurkan tanggung jawab. Pria itu tak berniat memenuhi hak-hak Binar sebagai istrinya.

__ADS_1


Binar menelan dua suap bubur sebagai syarat sah menyerahkannya pada pelayan. Diteguk habis segelas susu bersama vitamin yang menyertainya.


Ia membaringkan badan, berharap tubuhnya mau diajak sedikit bekerja sama ketika membuka mata.


***


Samar-samar, Binar melihat sosok Riswan tengah duduk di sampingnya. Ia mengerjap dan kembali mengerjap. Pria itu tampak duduk berselonjor sambil memperhatikan ponsel pintar.


Riswan berada pada sisi kasur yang memang menjadi tempatnya. Masih dengan pakaian lengkap, pemandangan yang tersaji di hadapan Binar terasa tidak nyata.


"Sudah sadar?" celetuk Riswan yang mendapati geliat Binar dari ekor mata.


Sembari meletakkan ponsel pintar, Riswan bersindekap dada, "Sekarang apa lagi masalahnya?"


Seketika itu juga Binar sadar bahwa Riswan memang ada di hadapannya. Ia berusaha bangkit namun sebujur tubuh Binar terasa berat. Binar terpaksa berbaring menghadap ke atas.


"Kamu sendiri yang cari gara-gara. Berapa kali aku bilang jaga kesehatan, Binar, jaga kesehatan. Anggaplah mual karena morning sickness sudah biasa, tapi kan nggak berarti kamu bisa makan segitu banyak!"


Petuah panjang lebar itu sambil lalu melintasi telinga Binar. Ia mulai merasakan desakan dahsyat di dada. Seakan didorong keluar menuju kerongkongan.


Sebisa mungkin Binar memejam, mengatupkan mulutnya untuk menetralkan mual yang kian menggila. Ia harus menahannya sebentar. Bisa-bisa Riswan makin gigih murka jika Binar muntah sekarang.


"Aku sampai ninggal pekerjaan yang belum kelar. Buru-buru pulang cuma karena ketelodranmu menjaga badan!"


Binar menutup mulutnya dengan telapak tangan, namun tubuh yang amat lemas menghambat pergerakan. Binar terjatuh dari ranjang. Perempuan itu terlambat lari dan membuang isi perut yang tersisa pada karpet kamar.


Perpaduan antara susu dan bubur yang ia telan sebelum terlelap itu keluar semua. Pening menjajak kepala tepat saat pengelihtan Binar membunar.


Ruangan itu terasa berputar-putar. Sebisa mungkin Binar mengendalikan kesadaran. Namun kekuatan itu akhirnya gagal. Binar menyaksikan setitik cemas menjamah wajah Riswan, tepat sebelum ia terkapar tak berdaya.


"Binar!"

__ADS_1


Teriakan Riswan langsung menggugah dua pelayan yang berjaga di depan kamar. Perempuan itu sudah jatuh dalam dekapnya. Riswan terkejut bukan kepalang. Lagi-lagi perempuan itu terkapar hanya karena terlalu banyak muntah.


"Cepat panggilkan dokter sekarang!"


__ADS_2