
Ucapan berbela sungkawa lebih banyak berdatangan dalam bentuk karangan bunga. Di antaranya ada milik Intan dan keluarga yang berhalangan menghadiri upacara pemakaman. Tak sampai satu hari dua puluh empat jam, rumah utama disulap bagai pameran bunga.
Aroma semerbak langsung tercium begitu Binar membuka pintu mobil bagian penumpang. Riswan masih membisu dan tak melepaskan genggaman tangannya. Sementara Adrian yang tampak buru-buru berteriak susah payah menyampaikan rangkaian pesan.
"Ada yang perlu ku urus di kantor pusat," begitu kalimat pembukanya disampaikan, "Ned dan Tria akan membantuku mengurus media dan keperluan lainnya, jadi tolong jaga Riswan. Kepala pelayan sudah kumintai tolong untuk membereskan tamu yang datang."
Angguk tegas dari Binar berusaha meyakinkan asisten kepercayaan Riswan. Pria itu melesat dalam hitungan detik tanpa perlu memastikan lagi semua yang sudah diulang-ulang sepanjang perjalanan. Binar tersenyum pada Riswan yang sudah tampak seperti mayat, ia menuntun pria itu amat sabar.
"Mau makan atau istirahat?" Binar mengajukan tanya setelah mereka masuk ruang tengah.
"Nggak lapar, Binar," jawabnya singkat. Ada kehampaan terpancar dari nada bicaranya.
Tentu saja hal yang sulit bagi Riswan untuk mengakui kepergian Greg Darmawangsa. Rumah utama menyimpan banyak memori di antara mereka. Binar tak bisa memaksakan kehendak, meski berdasarkan laporan Riswan belum makan, ia memutuskan untuk menuntun pria itu menuju kamar.
Tanpa menuntut kesadaran yang empunya, Riswan menuju toilet dan membersihkan badan. Hari belum cukup larut namun pria itu langsung merebahkan badan. Tenggelam di balik selimut memunggungi keberadaan Binar.
Perempuan itu membuang napas singkat. Ia tak berhak menggempar Riswan dengan omelan panjang lebar pada situasi seperti sekarang. Binar memutuskan ikut berbenah, memanfaatkan sisa pakaian yang sengaja ia tinggal di sana.
Tentu bukan tanpa usaha, Binar langsung bergerak membuatkan susu protein dan masakan yang telah ia pelajari selama kelas. Akan tetapi meski harum makanan itu mengundang pujian para pelayan, Riswan sama sekali tak tergoda menyentuhnya. Pria itu lebih tergiur memejam, sembunyi di bawah alam mimpi yang boleh jadi menampilkan sosok Greg Darmawangsa.
Hal yang bisa Binar berikan adalah uluran lengan di pinggang Riswan. Meski jarang mereka terhambat perut yang kian membesar, perempuan itu tak ingin menyerah menyampaikan bahasa kepedulian. Binar ingin bilang bahwa dirinya ada di sana, siap hadir menemani Riswan meski di titik terkelam.
Namun hari berangsur malam. Binar yang mulai pegal dengan posisi itu akhirnya memilih duduk bersandar pada kepala ranjang, sambil membelai lembut rambut Riswan. Kalau diperhatikan sedikit lebih keras kepala, maka Binar bisa melihat betapa pria itu tampak begitu lelah.
__ADS_1
Riswan tak pernah tampak sepayah ini sebelumnya.
Wajah yang sedikit lebih menyusut, serta rahang bawah yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. Binar bahkan bisa menemukan beberapa sisi kulitnya yang berkerut. Riswan seperti tidak terurus.
Apa yang terjadi pada pria itu selama Binar tidak pulang? Mungkinkah ia melalui penderitaan? Atau labirin panjang yang tidak kunjung menampakkan titik terang? Entahlah, sebab itu yang Binar rasakan saat mereka tidak bersama.
Hubungan suami istri yang samar-samar. Antara iya dan tidak bukanlah hitam putih yang dapat disimpulkan dengan cara sederhana.
Riswan yang mulai terganggu dengan sentuhan Binar itu berherak. Kelopak matanya yang masih lengket itu perlahan-lahan terbuka. Dan bukannya menghindar, Binar malah mendekatkan bibirnya menuju daun telinga Riswan. Sengaja berbisik selembut mungkin agar pria itu mau sepakat.
"Makan dulu, ya?"
Dengus napas panjang Riswan terdengar. Bukannya menjawab, pria itu malah membalikkan badan ke arah Binar seraya melebarkan lengan. Riswan memeluk pinggang sekaligus perut Binar, kemudian pipinya disandarkan pada buncit yang langsung menendang girang. Riswan mengecup mereka.
"Kalau begitu susu proteinnya aja diminum, ya?" Binar masih mengelus puncak kepala pria itu selagi mengajukan penawaran.
Senyum tipis Riswan mengembang, "Sebentar, aku mau peluk mereka sedikit agak lama."
Seakan paham dan mengenali sang ayah, perut Binar ribut dengan tendangan-tendangan. Binar lebih senang mengartikannya sebagai cara mereka menghibur Riswan. Mereka cerdas membaca sinyal yang perasaan Binar kirimkan.
"Aku belum tanya jenis kelamin mereka ke dokter Intan, yah walau dia gemas ingin buru-buru kasih tahu ke mama dan papa," Binar membuka cerita sederhana, ia bahkan terkekeh mengingat adegan ribut mereka yang amat penasaran.
Tak memberikan jawaban, Riswan malah beranjak menuju kaki Binar. Jemari pria itu menyentuh telapak kaki Binar, khusyuk menyusuri jari-jarinya dengan tatapan yang sulit diterka, "Kenapa, Paman?" tanya Binar penasaran.
__ADS_1
"Bisa bengkak begini, Binar? Intan bilang apa?"
Dengan santainya, lagi-lagi Binar tertawa, "Lebay kamu, Binar, namanya juga hamil tujuh bulan, kembar pula, wajar kalau bengkak. Begitu katanya," jelasnya sambil meniru gaya bicara Intan.
Riswan mengurut punggung kaki Binar, dan menjalar naik menuju betisnya yang sama-sama membengkak. "Ini juga?" selidih Riswan antara takjub dan khwatir dengan perubahan tubuh Binar. "Sakit nggak kalau jalan?"
"Lama kelamaan juga terbiasa, Paman. Untungnya si kembar nggak rewel lagi seperti awal kehamilan."
Sejujurnya, Binar tak menyangka jika kepergian Greg Darmawangsa membuat Riswan begitu emosional. Sebab pria itu telah menatapnya dengan air mata yang telah menggenang. Riswan merangkak hingga wajah mereka sejajar berhadapan, ia menangkup wajah Binar.
"Maafkan aku, Binar," cicitnya pelan, "Maaf membuatmu kesulitan membesarkan mereka sendirian berbulan-bulan. Aku, aku, maksudku, andai aku tau kalau kehamilan bisa membuatmu mengalami hal seperti ini..."
"Sttt..." Binar menghentikan rancau kacau itu dengan telunjuk tangannya, "Nanti si kembar dengar, bisa sedih mereka."
Masih dengan irama sentuhan yang sama, Binar meraih pipi Riswan juga, "Aku lebih suka dengar ucapan terima kasih daripada maaf. Jadi boleh nggak kalau paman bilang makasih aja?"
Kini jemari Riswan menyusuri puncak kepala Binar, rekah senyumnya disuguhkan bersama satu anggukan. Riswan kemudian mengecup kening Binar dengan tempo yang sangat lambat. Bergantian dengan ujung hidung sebelum menjamu bibir Binar.
Persis seperti yang biasa Riswan lakukan, telapak tangannya aktif membelai lembut perut Binar yang telah menjadi jauh lebih tenang. Cecap dengan tempo lambat yang tak mudah memburu napas. Mereka sama-sama rutin menjeda hanya untuk sekadar mencicipi rasa manis di antara kekenyalan.
"Terima kasih, Binar," bisik Riswan sebelum mencubit ceruk leher Binar dengan giginya, "Terima kasih telah mengandung keturunan Darmawangsa."
Perempuan itu kian melayang kala Riswan menuntun tubuhnya menelentang. Ia bahkan melupakan sakit kelenjar pada gundukan dada kala pria itu bermain-main di sana. Satu kecupan kembali Riswan tanggalkan pada perut bagian bawah, tepat sebelum ritual lenguh mereka saling bersahutan.
__ADS_1
"Terima kasih, Binar, terima kasih," dan parau Riswan yang tak pernah berhenti itu, senantiasa mengiringi getar tubuh mereka tiap menjapai titik surgawi.