Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
36. Pesta Tahunan Sekolah


__ADS_3

Tangan kanan Binar menggamit lengan kiri Sean. Dengan pakaian senada, mereka berhasil mencuri pandangan seluruh tamu pesta. Takjub, kagum, cibir, sinis, hujat, hingga hinaan tercurah lewat puluhan pasang mata yang menatap.


Namun Sean tak sedikitpun mengikis senyuman. Lelaki itu bersikap ramah pada siapapun yang mereka lintasi di sepanjang lajur pesta. Mengabaikan kepalsuan yang disuguhkan rekan sejawat, Sean malah menenangkan Binar di sisinya.


"Mau cake keju atau cokelat?" bisik Sean, "Bayinya lebih suka yang mana?"


Binar tersenyum salah tingkah dibuatnya, "Aku suka cokelat, bayinya suka keju, kamu pilih yang mana?" timpal Binar balas menggoda.


"Oke. Kita turutin kamunya dulu aja, para bayi bisa makan sendiri nanti kalo udah besar."


Tawa Binar makin renyah.


Tidak bercanda. Sean sungguh mengatakan pada seisi sekolah yang bertanya-tanya, bahwasannya Binar memang mengandung buah hatinya. Menepis tudingan miring yang mengatakan Binar hamil dengan om-om tua. Menumbuhkan gosip baru yang menggemparkan seisi sekolah.


Gila! Ternyata Binar hamil anak Sean.


Begitulah kurang lebih headline perbincangan di pesta. Tapi yang dibicarakan malah duduk tenang di hadapan Binar. Menyuguhkan semua menu makanan yang ada.


"Tadi udah makan belum di rumah?" tanya Sean seraya memperhatikan seluruh menu-menu itu dengan wajah sumringah.


Akan tetapi Binar yang merasa tidak nyaman dengan situasi ini meringis kaku. Ia dibuat amat canggung.


"Kamu gapapa? Gimana nasibmu besok di sekolah?" Binar balas bertanya, perempuan itu tidak bisa tidak cemas.


"Sekolah nggak punya alasan ngeluarin aku, Binar. Mana buktinya?"


Jawaban yang membuat Binar terenyak. Dulu, ketidakadilan itulah yang sempat ia perjuangkan. Lelaki yang menghamili perempuan tak pernah punya bukti sekalipun gosip beredar luas. Lelaki tak akan kena imbas sekalipun menghamili jutaan wanita.


Berbeda dengan perempuan seperti Binar. Ia langsung terdepak begitu testpack menyatakan kehamilan. Perut yang membesar tak pernah bisa disembunyikan, dan seluruh dunia menganggapnya sebagai aib menjijikkan.


Tetapi detik ini, siapa sangka jika nasib itu ada untungnya juga? Sean melindungi Binar dengan memanfaatkan ketidakadilan sosial-masyarakat. Lelaki itu malah mengambil posisi Riswan, berani menjadi pihak yang menerima kecaman.


"Itu yang kamu pertanyakan di depan kepala sekolah, guru, dan staff, kan? Biar aku coba. Bisa apa mereka kalo nggak ada buktinya? Seandainya aku bener-bener dikeluarkan, berarti kamu menang, Binar."

__ADS_1


Sean menatap Binar lekat, "Lelaki juga bisa dihukum karena menghamili perempuan."


"Kalo sampai akhir nggak ada tindakan?"


"Berarti kamu benar, dan mungkin aku akan pegang prinsip itu sebagai acuan yang juga kuperjuangkan di masa depan."


Seketika Binar terdiam. Dirinya dan Sean memang sepeduli itu pada ketimpangan-ketimpangan sosial. Mereka sering berdiskusi soal kehidupan masyarakat. Memahami aturan tak tertulis ala anak SMA.


Tapi Binar tak pernah menduga jika lelaki itu sampai bertindak demikian. Menjadikan diri sendiri sebagai eksperimen guna mencari pembuktian. Apa yang Sean pikirkan? Untuk apa mempertaruhkan masa depan demi kepuasan sesaat?


"Terus kalo beneran dikeluarkan?" Binar bersuara gamang, ia membalas tatapan Sean dengan penuh kehati-hatian, "Masa depan apa yang bisa diperjuangkan? Kamu lihat sendiri kan aku sehancur apa?"


Seulas senyum hambar milik Sean mengembang. Lelaki itu membuang pandang pada menu-menu makanan yang belum disentuh oleh Binar. Namun tak butuh waktu lama, Sean berani menjejakkan kembali matanya pada sang perempuan.


"Mau pulang?" dua kata yang mengandung kalimat tanya itu menjadi alternatif Sean.


Tanpa banyak bicara Binar langsung mengangguk sepakat.


Binar yakin, Sean pasti dilanda dilema. Pertanyaan Binar boleh jadi membuatnya merasa goyah. Ada ketakutan yang muncul usai sejauh ini melangkah. Pada akhirnya Sean juga tak seberani itu untuk menanggung dosa menghamili perempuan sebelum nikah.


Selagi Binar berkecamuk dalam dada, lengan seseorang merengkuh pinggulnya. Bahasa tubuh yang membuat Binar terkesiap. Ia langsung menatap Sean yang berada tepat di sisi kanan.


"Aku siap menerima kehancuran yang sama, Binar. Bahkan meski dua kali lipat lebih banyak pun nggak masalah."


Sampai menuju mobil yang dikemudikannya, Sean tak melepas rengkuhan itu dari Binar. Memperkuat asumsi-asumsi soal benih dalam kandungan. Dalam satu malam, Sean menjadi calon ayah si kembar.


***


Laju kendaraan diatur dengan kecepatan normal. Sepanjang perjalanan, mereka tak saling bicara. Sean fokus mengemudi, sementara Binar membuang pandang pada jendela.


Waktu seakan dibekukan. Mereka tetap pada posisi itu sejak awal perjalanan sampai mansion keluarga Darmawangsa. Sean memarkir mobilnya pada sayap kiri agar tak jauh dari pintu utama. Dan Binar masih mematung meski telah sampai beberapa menit silam.


Nyaris tengah malam.

__ADS_1


Mesin kendaraan mati dan embus napas menjadi satu-satunya suara. Dua remaja yang mengamali malam panjang. Menelan kecam alih-alih makanan mewah di pesta tahunan sekolah.


"Terima kasih, Sean. Lengkap sudah tiga tahun aku datang ke pesta," ujar Binar.


"Aku sama sekali nggak kepikiran bisa datang," sambungnya.


"Makasih banyak, Sean. Nggak ada kamu mungkin aku juga nangis sendirian di kamar. Meratapi nasibku tanpa seorang pun yang menenangkan," Binar menoleh pada Sean.


"Kamu adalah apa-apa yang selalu aku syukuri, Sean. Terima kasih."


Di dalam mobil dengan pencahayaan minim, Sean menyerahkan sebujur tubuhnya menghadap Binar. Telapak kanan Sean menggenggam tangan Binar, sementara yang lain menangkup pipinya. Mata mereka saling menjamah, tenggelam dalam makna senada.


"Menikahlah denganku, Binar," bisik Sean parau. Harap dan putus asa melebur dalam satu suara.


Tak beranjak dari penjara mata Sean, Binar menggenggam telapak Sean di pipinya. Semua ucapan Sean terdengar menggiurkan bagi Binar. Perlakuan kecilnya, gambaran-gambaran masa depan yang ia janjikan, terasa begitu nyata.


Sebagai perempuan normal, Binar terbawa perasaan.


Lagipula, segala yang ada pada diri Sean pernah membuatnya kecanduan. Ia tak bisa menipu diri yang sempat menaruh hati pada Sean. Sesuatu yang menggelitik dalam jiwa itu masih ada, rasa suka yang pernah teredam oleh status sahabat.


"Menikahi janda beranak dua?" tanya Binar lebih terdengar seperti bicara dengan diri sendiri, "Menurutmu apa anggapan mereka soal kita?"


"Aku nggak peduli, Binar," wajah Sean kini berjarak satu jengkal.


Mereka bisa saling merasakan embus napas yang tertanggal pada kulit wajah. Telapak tangan turun dari pipi menuju ceruk leher Binar. Sentuhan yang membuat Binar memejam.


"Menikahlah denganku, Binar," bisikkan Sean menjelma jadi desah, hidung mereka menempel sempurna.


Jemari Sean yang sejak tadi menggenggam tangan Binar pun mulai menyusuri punggung Binar. Menari mesra dengan gerakan menggoda. Binar yang terlanjur hanyut dalam buai pun tak menolak.


Membuat Sean dengan berani mendaratkan kecup pada sudut bibirnya.


"Ceraikan Riswan, Binar. Kita pasti bisa bahagia bersama," bisiknya tepat sebelum kecupan itu menjelma kian dalam.

__ADS_1


__ADS_2