Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
20. Rhea, Yang Begitu Dicinta


__ADS_3

"Istrimu belum pulang?"


Wanita itu menyeruput wine miliknya perlahan-lahan. Musik melagu perlahan, mengisi hening yang menjeda percakapan mereka. Rhea mengedar pandang, menarik napas dan mengembuskannya lagi kemudian.


"Sudah berapa tahun, ya? Sepuluh atau sebelas? Tempat ini belum banyak berubah, aku jadi nostalgia."


Ia melirik Riswan yang belum beraksi apa-apa. Membuat Rhea memangku dagu dengan telapak tangan menagamtinya, "Kau marah denganku, Wan?"


Senyum Rhea lalu mengembang, "Dekat denganmu begini aku jadi ingat pertama kali memanggilmu Awan. Kalau diingat-ingat lagi, geli juga." kekehnya.


"Ada perlu apa?" tanya Riswan dengan nada hambar, "Jangan bilang kalau kau menelpon hanya untuk mengenang masa silam."


Rhea menyibak rambut panjangnya, membuat leher jenjang serta lengan yang tak berbalut apapun itu terekspose jelas.


"Aku merasa bersalah, Riswan. Mabuk sembarangan dan membuat rumah tanggamu retak, aku perlu andil untuk meluruskan kesalahpahaman."


Riswan membuang pandang, "Tidak ada yang perlu diluruskan, Rhea. Semalam memang tak terjadi apa-apa."


Wanita itu menarik diri sembari mendengus pelan. Ia menggoda gelas winenya dengan memutar-mutar sisa minuman. Jeda waktu yang panjang membuat Rhea kembali meletakkannya, dan memainkan jemari pada bibir gelas. Dia menatap jajaran minuman keras di hadapannya.


"Kau tahu, tiap kali cerai, aku selalu berandai-andai ke masa lalu. Kalau saja aku tidak kabur dan berjuang denganmu, apa cinta sejati masih bisa menjadi milikku?"


Riswan menelan saliva susah payah. Getar dari suara Rhea membuatnya terenyak. Bagaimanapun, hubungan mereka yang kandas tak lepas dari ketidakmampuan Riswan memperjuangkan Rhea.


Mereka sama-sama masih belia, dan seandainya Rhea kembali ke Indonesia sedikit lebih awal. Maka mungkin saja, jawaban dari pertanyaan wanita itu adalah 'iya'.


Riswan tak pernah melupakannya.


"Aku sangat bersyukur, Wan. Kau masih mau datang dan mendengar curhatku sampai malam. Padahal aku sudah sering keguguran, tapi baru kali ini dicerai langsung begitu gagal program hamil yang kedua. Parah sih memang," paparnya ditutup gerlak.


"Anyway, salamat atas pernikahanmu ya, Wan. Mungkin lebih baik aku tidak datang dan merusak hidupmu yang sekarang."


Rhea melirik Riswan yang ternyata telah menjatuhkan pandang. Jarak mereka bertatap amatlah dekat. Deru napas bahkan dapat menyentuh pipi mereka.

__ADS_1


Aroma wine di bibir Rhea, berpadu dengan parfum yang terpancar dari tubuhnya. Semerbak khas yang tersimpan rapi dalam benak Riswan. Segala hal dari seorang Rhea, pernah menjadi candu yang amat Riswan rindukan.


Berpuluh wanita sudah ditidurinya. Ratusan lainnya dijadikan pelampiasan hasrat untuk bercumbu dan saling menyecap. Tak ada yang seperti Rhea, Riswan tak pernah menemukan satu wanita pun yang menyerupainya.


"Kenapa baru kembali sekarang?" bisik Riswan dalam, suaranya mengulum indra pendengaran Rhea.


Sentuh lembut wanita itu menyusuri pipi Riswan. Ia memajukan wajah hingga hidung mereka nyaris bersentuhan, "Apa aku terlalu terlambat?" desahnya.


Hanya tinggal satu dorongan untuk membuat bibir kenyal mereka bersentuhan. Riswan memejam, ia mulai menghirup sebanyak mungkin udara yang diembuskan Rhea.


Akal sehatnya tertawan. Riswan terbawa suasana. Sebujur tubuhnya masih mendamba. Tak peduli meski Rhea sudah empat kali menjanda.


Jemari tangan kiri Rhea meraba-raba. Namun gema degup jantung menggugah kesadaran Riswan. Pria itu menarik diri dari sana, membuat sang lawan meringiskan senyuman.


Tidak. Sebesar apapun gejolak hasrat menginginkannya. Walau dorongan nafsu menuntut Riswan untuk melahap habis diri Rhea. Ia mencoba untuk tetap waras.


Sekalipun matanya sudah berkabut ingin memuja. Meski harus mengepalkan telapak tangan untuk menahan birahinya. Riswan tak bisa mengabaikan bunyi degup yang bermain-main di kepala.


Buah hatinya bernyawa. Ia tak ingin dikenal sebagai ayah yang bejat suatu saat. Riswan juga telah bersumpah di hadapan Tuhan. Mengikrarkan janji suci berupa pernikahan.


Tentu saja. Riswan kaget bukan kepalang. Wanita yang begitu ia cinta. Bertahun-tahun menghilang dan mendadak muncul di depan pintu apartemennya.


Riswan belum punya cukup kesadaran untuk langsung mengelak. Rhea tiba-tiba menyerangnya dengan pelukan, dan hampir menyambar bibirnya. Tapi percumbuan itu belum terlaksana, kan? Riswan menepis Rhea hingga nyaris terjungkal ke belakang.


"Aku sudah menikah," Rhea meniru suara Riswan sambil tertawa, "Kau menolak pelukanku hanya karena telah menikah. Kocak, seolah-olah aku melakukan kesalahan besar."


"Jadi, yang barusan itu penolakan juga?" sambungnya mempertegas, "Atau hanya perlu waktu untuk memikirkan banyak hal?"


Tidak ada jawaban. Riswan membuang pandangan jauh ke arah yang berlawanan dengan posisi Rhea. Ia agak dilema, desakan Rhea masih terdengar menggiurkan bagi Riswan.


Oh, tolong jangan menghakimi Riswan. Baginya selalu hanya ada satu wanita. Seonggok manusia yang memegang kepemilikan atas ruang spesial di hatinya. Siapa yang tidak tergoda?


Kesempatan ada di depan mata. Toh Binar juga mengaku menyesal telah menikahinya. Mereka bisa memilih jalan masing-masing jika kelak berpisah

__ADS_1


Tidak ada ruginya.


"Rumit, Wan. Kau selalu banyak pertimbangan. Padahal sudah tahu jawabannya."


Rhea mendengus kasar. Wanita itu mengemasi barang, lantas membopong tas jinjingnya. Riswan masih setia membuat Rhea bermonolog ria. Sama seperti bar ini, pria itu juga tak banyak berubah.


"Aku tak akan melarikan diri darimu lagi sekarang. Jadi mari pikirkan perlahan-lahan, tentang kakek Greg dan rumah tanggamu yang baru berjalan. Aku siap menunggu perlahan-lahan."


Menuntaskan kalimat dalam satu tarikan napas, Rhea beranjak. Meninggalkan Riswan yang terkesiap. Hanyut dalam logika yang gagal menyiasati maksud Rhea.


Sebetulnya, apa yang Rhea harapkan? Riswan telah menjadi suami orang sekaligus calon ayah. Apanya yang ditunggu perlahan-lahan?


Terlalu banyak rintangan jika ingin menunaikan cinta mereka. Sekalipun Riswan tak bisa menipu dirinya yang juga berharap banyak. Ia ingin ikut menyepakati ide Rhea.


Tapi, bagaimana bisa?


Ia menyambar sisa wine milik Rhea. Meneguknya habis tepat di bekas lipstik sang wanita. Tubuhnya gemetar, ia membisikkan erang kala nafsu merambat menuju puncak kepala.


Riswan menggigit bibir bawah. Jakunnya naik turun kala membayangkan pelukan sang belahan jiwa. Sebelas tahun menuju dua belas, dan selama itu pula Riswan menghalusinasikan wanita-wanita lain adalah Rhea.


Cinta Riswan kepada Rhea bukanlah rasa yang bisa diukur oleh otak manusia. Rhea adalah segalanya. Riswan bahkan telah memaafkan segala kesalahan wanita itu tanpa diminta.


Sembari mencengkram gelas wine lebih kuat, replika diri Riswan menyesuri tiap inci tubuh Rhea. Menanggalkan bekas kemerahan pada jenjang lehernya. Lantas turun perlahan pada keindahan dada.


Namun pengaruh wine membuat ingatannya samar-samar. Dalam proyeksi kepala itu, Riswan malah melihat mata sayu Binar menatapnya. Perempuan itu meneriakkan nama Riswan pada tiap lenguhan.


Riswan memejam, memanggil memori untuk memutar adegan itu lebih jelas. Ranjang panas yang sempat terlupa. Malam panjang kala dirinya dilanda mabuk berat.


Binar menarik kepalanya mendekat, memudahkannya ******* habis ****** perempuan itu dengan leluasa. Sementara pinggul mereka terus bergoyang. Bergerak dengan tempo yang cepat dan tidak beraturan.


Antara dirinya dan Binar, ia menyadari suatu hal. Bahwa terhadap senggama mereka, tak ada sosok Rhea di sana.


Ia bisa dengar dirinya meraungkan nama Binar saat mencapai puncak pelepasan. Pada tiap hentak hingga tubuhnya purna terlunglai lemas, hanya Binar yang terlantun oleh Riswan.

__ADS_1


Tahta yang selama ini hanya dihuni oleh Rhea.


Kini, ingatan malam itu telah menjadi milik Riswan juga. Tak sedetikpun dari percumbuan mereka terlewat olehnya. Nyatanya, di antara ketidaksadaran itu Riswan selalu sadar, bahwa memang dengan Binar-lah ia bercinta.


__ADS_2