
Riswan terkesiap, ia membelalakkan mata, "Apa?" pekiknya. "Ulangi sekali lagi kau bilang apa?!"
"Binar sudah pulang. Aku dapat kabar dari mata-mata yang kubayar," Adrian menegaskan kalimatnya.
Kantung mata hitam, rambut berantakan, lengkap dengan bulu-bulu halus yang memenuhi janggutnya. Riswan dan pemandangan baju yang tak ganti sejak beberapa hari lalu itu sangat mengganggu Adrian. Begitulah akhirnya ia berinisiatif untuk menyewa orang.
Perkaranya bukan soal Rhea. Pria itu bahkan mengaku sedang bisnis di luar negeri pada sang mantan. Bukan juga soal Greg Darmawangsa, sebab ia mendekam di apartemen sejak lama. Ini tentang Binar.
Entah apa yang terjadi pada Riswan, namun ia tampak merenungi suatu hal. Tentu Adrian sudah mencoba bertanya, tetapi pria itu tak menghiraukan. Riswan hanya menyebut Binar dan Binar, perempuan itu berhasil menguasai pikiran Riswan.
"Apa dia baik-baik saja?" Riswan mendesak, "Kandungannya bagaimana? Aman, kan?"
Sejak ingatannya pulih, tak sedetik pun Riswan berpaling. Binar menjadi komposisi penting, dan ketidakmampuannya menemukan perempuan itu amat menyiksa hati.
Adrian mengangguk tipis, "Kelihatannya baik. Ned yang menjemputnya sendiri."
Tak mau berlama-lama menerka, Riswan beranjak. Pria itu meninggalkan Adrian yang masih berusaha mencegahnya bertindak gegabah. Tapi siapa yang peduli soal itu semua? Riswan ingin menjemput istrinya sekarang juga!
Ia menekan pedal gas sembarangan. Melaju ugal-ugalan di tengah padatnya lalu-lalang. Riswan kalut bukan kepalang. Bayangan percintaan mereka malam itu tak bosan menghantuinya.
Mungkinkah selama ini alam bawah sadarnya mengagumi Binar? Sejak kapan perasaan itu tumbuh menjanjah nafsu lelakinya?
Persetan!
Tidak mungkin.
Keinginannya terhadap Binar pasti tak lebih dari nafsu sesaat. Ia akan memastikannya langsung saat bertemu Binar. Malam itu adalah kesalahan, dan ia hanya terbawa suasana.
Ketuk demi ketuk kasar ia layangkan. Kali ini Tria yang menyambutnya.
Dengan mata sembab dan sendu yang sulit dijelaskan, wanita itu sengaja menahan pintu lebih lama. Seolah memberi isyarat bahwa Riswan boleh menyampaikan maksud kedatangannya.
"Ijinkan aku bertemu Binar," tukasnya lantang sebelum Tria berubah pikiran. "Dia istriku, Tria. Tolong..." cicitnya.
Tria meringiskan senyuman, "Selagi aku masih waras dan bisa bicara dengan tenang. Bisakah kau menjawab pertanyaanku, Riswan?"
Riswan terdiam.
Ia bisa melihat murka di manik mata Tria. Kebencian, dendam, dan amarah menjadi padu yang tak terhindarkan. Senyumnya menjelma jadi cibiran.
"Apa yang kau pikirkan saat kalian melakukannya?" tanya Tria tanpa menunggu kesepakatan Riswan.
Pertanyaan yang tak pernah luput dari kepala Tria. Apa yang Riswan pikirkan? Senafsu itukah sampai gagal mengendalikan diri dan menyetubuhi Binar? Tidak masuk akal.
Riswan hanya menelan saliva.
Apa, ya?
Kalimat tanya yang sama juga menuntun Riswan datang ke kediaman Alvero tanpa pertimbangan. Ia ingin memastikan jawabannya setelah bertemu dengan Binar.
Apa yang ia rasakan terhadap remaja yang baru umur delapan belas?! Riswan pun penasaran.
__ADS_1
"A-ku..."
"Dia putriku, Riswan!" Tria mendorong pundak Riswan dengan jari telunjuk berulang-ulang, "Tega sekali kau membuatnya hamil bayi kembar!"
"Sudah berapa kali kalian melakukannya?" cecar Tria menarik kerah baju Riswan. Bola matanya seperti hampir mencuat, ia menyombongkan kemarahan, "Jawab, Riswan! Sejak kapan kalian melakukan itu di belakang kami berdua?!!" teriaknya.
Hanya satu malam.
Tapi Riswan tidak yakin berapa kali persisnya mereka melakukan.
Mustahil kan jika Riswan menjawab demikian? Bisa-bisa wanita itu makin menggila dan menghajarnya detik ini juga. Riswan pun menunduk pasrah, membuat Tria menarik diri sambil menjambak rambutnya.
"Kenapa? Banyak, ya?" ejeknya sarkas.
"Bukan begitu, Tria. Aku mabuk, dan..."
"Mabuk? Kau merampas masa depan anakku dalam keadaan mabuk?!!"
Riswan menjatuhkan dirinya hingga berlutut. Ia tak punya pilihan lain kecuali menyentuh iba wanita itu. Mengambil jalan pintas agar lekas mendapat restu.
"Aku tidak pantas mendapat maafmu, Tria. Tapi ijinkan aku membawanya pulang. Aku bersumpah tak akan menyakitinya, dan kejadian seperti tempo hari tidak akan terulang."
Tria membuang pandang. Wanita itu tak mengira Riswan akan bertindak demikian.
"Kalau begitu berlututlah. Kita lihat sampai kapan kau bisa melakukannya!"
Bantingan pintu kembali ia terima. Riswan tak bergerak sedikitpun dari posisinya. Pria itu juga keras kepala, ia tidak akan beranjak seincipun sampai mereka mengijinkannya bertemu Binar.
Mengintip dari daun pintu kamar, Binar terenyak. Siapa yang berani mengharapkan kehadiran Riswan? Binar bahkan tak sampai hati membayangkannya.
Mulai gelisah, Binar mondar mandir. Bagaimanapun, pria itu masih suaminya. Meski telah menorehkan luka dalam dengan berkhianat, Riswan tak pantas diperlakukan demikian.
Apalagi Ned dan Tria bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Mereka tetap menyantap menu hidangan seperti biasa, berdebat masalah bisnis, bercanda, hingga malam tiba mengistirahatkan keduanya. Mereka sempurna mengabaikan keberadaan Riswan.
Dari sela-sela jendela rumah, Binar mencuri-curi pandang.
Pria itu masih di sana. Setia berlutut sembari menundukkan pandang. Ia tampak pasrah, mengikhlaskan nasibnya. Hati Binar kian tak kuasa, bagaimana jika Riswan tiba-tiba jatuh pingsan?
Ia takut Greg menuntut keluarganya.
Dengan gerakan pelan yang penuh kehati-hatian, ia membuka pintu rumah. Membuat Riswan langsung mendongak. Iris mata mereka bertemu pada satu titik yang sama.
"Binar," bisiknya.
Nada serak yang terdengar amat putus asa itu mengiris relungnya, "Masuklah. Jangan bersuara."
Mati rasa, kaki Riswan terasa lemas. Binar berusaha membantunya bangkit namun langsung ia tolak. Lebih baik Riswan merangkak, dibanding membebani tubuh Binar yang mengandung buah hati mereka.
Di kamar Binar. Riswan duduk di lantai, bersandar pada tepian ranjang.
__ADS_1
Matanya berkelana, sementara Binar mengambil sesuatu di dapurnya. Berada di ruangan ini membuat kenangan malam itu kian kuat. Hingga suara mereka yang bersahutan bisa terdengar jelas olehnya.
Tiba-tiba Rswan teringat pertanyaan Tria, 'Apa yang ia pikirkan saat melakukannya dengan Binar?'
Pertanyaan itu menggema, bersama dengan langkah Binar yang masuk dengn secangkir teh dan camilan
Ekor matanya menyimak tiap gerak-gerik Binar. Perempuan itu ikut duduk di sampingnya meski berualang kali meng-aduh pada perut yang sulit diajak kerjasama.
"Makanlah," titah Binar seraya sibuk memposisikan diri agar lebih nyaman, "Ngapain diam saja? Kalau aku nggak keluar gimana?" imbuhnya.
Mata Riswan tak beranjak. Ia menyusuri garis mata, hidung, hingga bibir Binar. Perempuan itu ikut memandangnya beberapa saat kemudian. Memudahkan Riswan untuk menamatkan tatapan.
Binar memang sempurna. Tumbuh sebagai remaja yang menawan. Ia mewarisi keindahan milik Ned dan Tria.
'Apa yang dia pikirkan?' Bisik Riswan meminta jawaban. 'Apa yang dia pikirkan saat melakukannya dengan Binar?' Ulangnya tak henti bertanya.
"Bersikap begini bukan berarti aku memaafkan paman, ya! Aku cuma kasihan, dan bagaimanapun kita masih berstatus suami istri yang sah. Jadi..."
"Pulanglah, Binar," Riswan menyela omelan Binar.
Ia tidak tahan. Amarah yang diikuti bibir manyun itu membuat akal sehatnya tertawan. Riswan bahkan susah payah menelan air liurnya, ingatan percumbuan mereka bagai kabut di kepala.
"Aku bersumpah malam itu tak terjadi apa-apa. Dia hanya kisah lama, dan kamu adalah istriku sekarang. Jadi, kumohon pulang lah, Binar," sambung Riswan meyakinkan.
"Bagaimana aku bisa percaya?" Binar mencurahkan seluruh perhatian, menatap lekat manik Riswan, serta memungut kejujuran di sana.
Riswan menyingkirkan camilan yang menghalangi mereka. Ia mendekatkan wajah pada Binar. Jemarinya menyentuh pipi perempuan itu pelan, lalu mengelus-elus bibir Binar.
"Aku mengingat malam itu, Binar. Bahkan perasaan itu masih kurasa detik ini juga," suara paraunya mendesah pelan, "Kita sama-sama mendamba."
Sesuatu dalam diri Riswan kian bergejolak kala jemari Binar menyusuri dagunya. Ia memejam singkat seraya menikmati desir yang menyusup relung jiwa.
'Apa yang dia pikirkan?' Tanya Riswan pada diri sendiri yang tak kunjung mendapat kepastian.
"Bagaimana jika aku masih nggak percaya?" tanya Binar bersikeras. Lembut sentuhnya terasa menggoda.
Mata sayu Binar memenjarakannya. Mengunci Riswan agar tidak kembali memejam.
"Apa malam itu aku menyebut nama wanita lain?"
Pertanyaan Riswan dijawab Binar dengan satu gelengan, diikuti sentuhan yang turun menjamah.
Riswan mendongak, menggigit bibir bawah agar suaranya tak menggugah Ned dan Tria.
Binar menanggalkan kecupan pada pipinya.
Detik itu juga Riswan mendaratkan kecup pada bibir Binar. Dibumbui gigitan kecil tiap kali ia menjeda napas. Riswan seperti singa yang kelaparan, ia sudah lama tidak bermain dengan wanita manapun sejak menikah.
Lidah mereka berdansa.
Andaikata Tria kembali bertanya, "Apa yang Riswan pikirkan saat mereka melakukannya?"
__ADS_1
Maka jawabannya tidak ada.
Sebab ia tak memikirkan apapun kecuali menikmatinya. Binar telah mencuri segala kewarasan Riswan.