Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
21. Keluarga Alvero


__ADS_3

"Dia bicara apa?" celetuk Tria.


Wanita itu memijat tengkuk dan kepala bagian belakang. Menjeda aktifitasnya berselancar pada ponsel pintar. Ia melirik pada Ned yang masih serius membalas pesan.


"Maksudku Rhea," sambungnya, "Kenapa juga tiba-tiba kembali ke Indonesia?"


Ned meletakkan ponsel lantas menatap istri tercinta. Ia mendengus singkat, bersandar malas pada punggung sofa. "Tidak banyak, hanya tanya soal Riswan. Aku dengar dia bangkrut total."


"Bangkrut bagaimana?" Tria membelalak "Seingatku bisnis Rhea terkenal. Brand fashionnya sudah dipasarkan ke seluruh benua Eropa."


"Imagenya buruk, Tria. Dia menguras habis harta mantan suami-suaminya."


Tria mengernyit heran, "Dan kau sengaja mengirim wanita itu pada Riswan? Kau membuat neraka untuk Binar, Sayang!"


"Aku hanya mengujinya, dan kau lihat sendiri kalau dia masih berharap," ketus Ned geram, "Lagipula, aku sengaja mencari alasan untuk membawa Binar pulang, meski harus memberinya neraka."


Jawaban suaminya membuat Tria mendengus kasar. Ada benarnya juga. Mustahil jika mereka tiba-tiba menarik kembali ucapan, dan merebut Binar yang telah diusir dari rumah.


Mereka mau kembali hidup bersama Binar. Menjadi orang tua adalah pekerjaan tanpa batas. Dan bagi mereka, sudah cukup sampai di sini saja hukuman yang layak Binar terima.


Cara Ned terbilang efektif untuk mengembalikan putri tunggal mereka. Meski disaat yang sama, Tria mengaku keberatan. Yah, bagaimanapun Binar masih terlalu muda untuk menanggung luka itu sendirian.


"Terus apa rencanamu selanjutnya?" tanya Tria. "Kau akan membiarkan Riswan terbuai oleh Rhea?"


"Bukankah kehancuran serupa juga pantas untuk Riswan rasakan?" sinis Ned kesal. Bagaimanapun juga, Riswan telah menghamili Binar...


"Dia telah merusak putri kita, Sayang. Riswan tak berhak sedikitpun atas kebahagiaan, apalagi harta warisan Darmawangsa yang baru diterima. Aku tidak rela," cecarnya.


Tria menunduk dalam, Ned seratus persen benar. Untuk apa memedulikan Riswan sementara hidup keluarga mereka berantakan?


Mereka memang telah bersahabat sangat lama. Kekhawatiran seperti itu memang wajar mengusik alam bawah sadar. Tapi hubungan mereka telah berubah total, kan? Tria harus membiasakan diri untuk tak memikirkan sudut pandang Riswan.


Wanita itu menarik napas sebanyak-banyaknya. Yakin atas kebijakan yang telah ditetapkan sang belahan jiwa.


"Lalu bagaimana kita menemukan Binar?" tanyanya lagi memecah keheningan.


Dengan tenangnya, Ned meraih ponsel sambil menunjukkan layar. Pria itu mempertontonkan titik lokasi yang ditandai oleh gelembung merah. Seulas senyumnya mengembang, ia tampak sumringah.


"Aku sudah menemukannya. Binar menggunakan m-banking yang kubuat untuk tinggal di penginapan. Aku yakin dia tidak akan kemana-mana, jadi biarkan dia menenangkan diri sejenak."


***

__ADS_1


Sembari berulang-ulang mengusap perutnya perlahan, ekor mata Binar mengikuti segerombolan murid berseragam.


Dari pelataran tempatnya menginap, ia bisa mendengar gerlak canda yang disuarakan oleh mereka. Tak lupa keluhan-keluhan sepele soal tugas sekolah, atau nilai jelek yang diberikan oleh guru garang. Binar seolah ikut dalam perbincangan.


Beberapa di antara mereka, ada yang tampak bimbang memilih menu jajanan. Pedagang dengan rombong dan sepeda motor yang beragam, terlalu menggiurkan bagi perut kosong mereka. Aktifitas klasik yang selalu terjadi saat pulang sekolah.


Meski dulu tidak ada pedagang seperti itu di sekolahnya, Binar suka mengamati mereka. Nyaris tiga hari ia tak pernah absen menghadiri prosesi masuk dan pulang sekolah. Penginapan ini sangat sempurna, Binar merasa dirinya menjadi remaja seutuhnya.


Ia tak begitu peduli pada beberapa siswa-siswi yang selintas membicarakannya. Terkadang mereka berbisik sambil menerka-nerka usia Binar. Pemandangan yang sudah biasa, sebanding dengan kepuasannya mencuri kegiatan mereka.


Lagipula, perut Binar sudah tidak bisa lagi disembunyikan. Dokter Intan benar, mengandung bayi kembar membuat perut Binar lebih cepat membesar. Tubuhnya perlu banyak penyesuaian, dan ia tak punya tenaga untuk memikirkan penilaian orang.


Lambat laun, kerumunan itu kian berkurang. Siswa-siswi yang buyar, telah pulang. Sebagian dijemput keluarga, sisanya pulang bersepeda. Meninggalkan Binar dengan bising kepala yang kembali bermunculan.


Kebersamaan Riswan dengan wanita yang tak dikenalinya dalam satu kamar. Membuat Binar menitihkan air mata. Sekarang, apa yang harus Binar lakukan?


Pulang ke rumah Ned dan Tria? Mana bisa? Ia telah diusir dari sana.


Tidak mungkin juga kalau tiba-tiba pulang ke rumah utama. Ia enggan melihat Greg apalagi Riswan. Hatinya amat terluka.


Lebih aneh lagi jika ia terus di penginapan. Pemiliknya pasti curiga. Sekalipun memiliki kartu tanda penduduk, Binar masihlah remaja yang butuh perlindungan wali sah.


Bisa-bisa urusannya makin panjang. Ia tak mau melibatkan pihak kepolisian dan warga setempat.


Ini bukan halusinasi, kan?


Ia mengucek-ngucek mata, memastikan pengelihatan. Ada angin apa gerangan? Mengapa pria itu datang sendirian?


"Mau menginap di sini sampai kapan?" tanya Ned menyadarkan Binar.


Ternyata kehadiran sang ayah bukanlah khayalan. Ned sungguh menghampirinya.


"Papa..." rengek Binar manja. Kebiasaan yang selalu ia lakukan tiap kali mereka bersama. "Aku boleh pulang, ya?" rintihnya nanar.


Ned membuang napas pelan, diikuti dengan kedip mata yang tampak bijaksana. Tak ada kemarahan, pria itu sepenuhnya menyambut Binar.


"Sudah makan?"


Binar hanya menggeleng singkat.


Sekali lagi dengus Ned terdengar. Pria itu masuk ke penginapan sambil meninggalkan titah, "Tunggu di sini sebentar. Biar papa bereskan barang-barangmu di dalam."

__ADS_1


Ia tak sempat menjawab kalau tidak ada barang. Namun sang ayah sudah lebih dulu raib dari pandangan. Binar hanya tertegun diam, ternyata rasa sayang Ned tak pernah berkurang.


Pria itu, selalu mencintainya.


Seharusnya malah Binar yang berhutang maaf pada kedua orang tuanya. Ia tak lebih dari anak durhaka yang sudah bejat. Walau enggan mengakuinya sebagai kesalahan, tidakan Binar tetap salah. Tak ada alasan yang patut membenarkan tindakannya.


Sepanjang perjalanan, Ned tidak banyak bicara. Binar hanya tahu kalau pria itu sesekali mencuri pandang pada perutnya. Entah apa yang ada di pikiran Ned, Binar sama sekali tak bisa menerka.


Kalau mau dipikir lebih dewasa. Wajar jika saat itu Tria mengatakan jijik pada hubungan Binar dan Riswan. Akal sehat mana yang bisa membayangkan hubungan badan antara sahabat karib dengan putri mereka?


Binar membuang napas panjang kala pikiran itu melintas di kepala.


"Kamu mikir apa, Binar?" Ned memecah keheningan, "Riswan ngapain sampai kamu kabur segala?"


Meski terbilang dekat, canggung rasanya membicarakan masalah ini dengan sang ayah. Binar terdiam sejenak. Mengolah kata yang tepat untuk menduskusikannya.


"Beri tahu papa dan jangan mencoba berdusta, Binar. Mungkin kita bisa saling membantu untuk menyelesaikannya."


Namun, "Tidak ada, Pa," Binar memilih tersenyum hambar, "Mungkin bawaan hormon, jadi aku lebih sensitif dan emosional."


Ya, mau bagaimana?


Ia memang remaja yang menikah karena insiden satu malam. Tapi bukan berarti Binar boleh mengumbar masalah rumah tangga pada orang tuanya, kan? Perkara dia dan Riswan bukanlah hal yang pantas didiskusikan pada sang ayah.


Apalagi soal perselingkuhan Riswan. Tidak, sebagai seorang istri sudah seharusnya Binar menjaga kehormatan suaminya. Namun, apa yang bisa dia harapkan?


Kembali bersama Riswan?


Memaafkan tabiat buruknya, memulai dari awal, dan hidup bersama?


Perempuan mana yang mau diselingkuhi lagi untuk kali kedua?


Toh, pemain wanita bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan sehari dua hari saja. Apa Binar sanggup bertahan? Atau mengakhiri semua cukup sampai di sini saja dan membiarkan si kembar tanpa ayah?


TIDAK!


Bagaimana jika keluarga Darmawangsa merebut mereka?


"Kamu boleh cerita apapun ke papa dan mama, Binar. Kami juga sahabat Riswan, dan tak akan ikut campur dengan keputusanmu terhadap pernikahan yang telah kamu lakukan."


Ucapan Ned masih setia membuatnya terdiam.

__ADS_1


Selanjutnya apa? Masihkah ada harapan bagi pernikahan mereka?


__ADS_2