Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
51. Rumah Kaca


__ADS_3

Riswan enggan melepas gamitan tangan mereka barang sedetik. Usai dipaksa makan dan menelan susu protein tinggi, Riswan mengajak Binar berkeliling.


Ada seberkas kerinduan yang menyusupi relun Binar. Rumah ini terasa begitu asing dan akrab disaat bersamaan. Ia menikmati adegan ini tanpa berkomentar, hingga Binar mulai menyadari arah tujuan Riswan.


Rumah Kaca


Bangunan paling belakang dari rangkaian mansion mewah ini sudah seperti singgasana paten bagi Greg Darmawangsa. Bola mata Riswan berlarian sebelum masuk ke dalam sana. Sekali lagi ia mengeratkan genggam guna meyakinkan tekad.


Aneka jenis tumbuhan ada di sana. Baik sekedar hias yang tugasnya hanya dipuja mata, ada juga obat-obatan dan sayur yang biasa diolah kepala pelayan. Greg amat mencintai tumbuhan, dan dengan berlebihan Riswan menambahkan sebait kata sebelum senyum getirnya mengembang.


"Andai bisa dibawa ke pelaminan, mungkin kakek Greg akan menikah dengan tanaman."


Mata Riswan mulai berair. Greg tidak pernah bosan mengabsen tanamannya tiap Riswan datang kemari. Entah apa yang melatat belakangi pria tua itu sampai segila ini pada bibit-bibit yang bahkan masih berupa benih. Riswan tak sempat mengintrogasi.


"Aku pindah sesaat setelah tau kalau kakek Greg adalah dalang dari kepergian Rhea. Baru-baru ini juga aku tau kalau Rhea diusir dengan cara yang nggak bermoral, dibuang pakai kapal angkut barang ke negar orang," mengalir begitu saja alur cerita Riswan.


"Kenapa sampai segitunya?" Binar menimpali tanya, meski ada begidik ngeri andai itu terjadi padanya.


"Rhea yatim piatu, Binar, miskin, hidup di yayasan. Dia sekolah tinggi berkat beasiswa yang kakek berikan, mau ditaruh mana muka kakek Greg kalau sampai hubungan kami tersebar di kalangan pembisnis dan investor grup Wansa?"


Yang anehnya, membicarakan Rhea bukan lagi suatu hal yang merisaukan bagi Binar. Ia tak pernah mengira bahwa wanita licik itu ternyata punya banyak nestapa. Tak heran kalau dia juga berulangkali bilang kalau berhasil mendapatkan Riswan Darmawangsa adalah keberuntungan.


"Sudah tau begitu paman masih tetap pacari dia?"


"Cinta, Binar. Umur segitu kan sulit betul diatur orang tua."


"Oh, nyindir nih ceritanya?"

__ADS_1


Binar berlagak merajuk, melipat kedua tangan dengan bibir mengerucut. Tak terpancing Riswan malah melengkungkan senyum. Pria itu menagan gemasnya sambil merengkuh pinggul Binar supaya lekas melaju.


"Kami semua masih terlalu muda untuk bisa berpikir jernih, Binar. Apalagi keluarga Darmawangsa pernah mengalami teror besar-besaran sebelumnya. Kakek Greg hanya ingin melindungiku dan bisnis bersamaan."


"Teror besar?" Binar lebih tertarik pada poin itu alih-alih Rhea. Ini adalah pengalaman pertama berbincang santai dengan Riswan.


Riswan berhenti sebuah meja yang biasa digunakan Greg mengenyam tugas. Ia kemudian mendudukkan Binar di meja, dan dirinya menarik bangku kursi sebelum memulai cerita.


"Aku juga punya ayah dan ibu, Binar dan kakek Greg adalah adik bungsu kakek kandungku yang usianya baru menginjak kepala lima saat tragedi teror itu berlangsung," jelas Riswan membuka cerita. Jemarinya mengelus puncak perut Binar, seolah mengajak buah hati mereka mengenal sejarah kaluarga.


"Saat itu kakek punya banyak musuh di berbagai lini bisnis hingga pemerintah. Oknum-oknum nakal menyerang keluarga kami dengan tindak kecelakaan buatan. Ayah, ibu, kakak dan kakekku meninggal di lokasi kejadian. Aku yang kebetulan sedang ikut Greg selamat dari maut, yang rupanya menyisakan kami sebagai penerus Darmawangsa."


"Paman punya kakak?" fakta yang baru Binar dengar.


"Itu serunya, Binar. Sebagai orang yang lahir lima menit lebih awal, dia ngeyel minta dipanggil kakak," seulas senyum Riswan mengembang, "Kakek kandungku juga kembar, aku menjadi generasi beruntung yang mewarisi gennya juga."


Sentuh Riswan dijawab tendengan dari balik rahim Binar, pria itu terekekeh ringan meski terdengar sumbang. Barangkali dalam benaknya, ia tengah berdoa agar bayi kembar mereka tak mewarisi kemalangan yang sama.


"Kematian keluarga kami tidak hanya sebatas kecelakaan, Binar. Kebetulan adik pertama dan kedua kakekku yang berada di atas Greg Darmawangsa malah dibuat seprrti bencana. Kakek Greg menggila, kami gagal menyelidiki sebab akibat karena terlalu panik menyembunyikan diri dari bahaya."


Kini jemari Binar yang tergoda menyisir rambut Riswan, "Terus?" tanyanya.


"Mungkin saat sudah waktunya umurku masuk sekolah dasar, barulah kakek Greg bertekad untuk kembali membangkitkan Wangsa Group hingga sebesar sekarang."


"Kakek Greg pasti sangat menyayangi paman," ujar Binar seraya melabuhkan telapak tangan pada pipi Riswan, dan disambut pria itu dengan kecupan.


"Tentu saja. Dia juga menyarankanku untuk mempertahankan pernikahan kita," kalimat Riswan diikuti oleh ciuman yang beralih pada punggung tangan. Sekelebat percintaan mereka semalam muncul di benak Binar.

__ADS_1


"Apa kakek Greg tau kalau paman masih mencintai Rhea?"


Riswan menghentikan aktifitasnya, manik matanya melebur dengan milik Binar Alvero yang menantikan jawaban.


"Tentu saja," ia sengaja menggantungkan kalimat berdetik detik sebelum menuntaskan kata, "Kakek juga tahu betul yang aku cintai sekarang."


Riswan bangkit dan menyambar bibir yang sejak tadi dibasahi air liur berulang-ulang. Sebagai mantan penggila wanita ia sudah terlalu lama berpuasa. Tiap menatap Binar ia tidak bisa tidak tergoda, ia semakin gigih menarik pinggul Binar mendekat.


Tangan kanan Riswan menyentuh perut Binar lembut, sementara kirinya berjuang mengakses sentuhan. Riswan menggalkan bekas kemerahan tak berjarak pada tiap cumbunya. Menerbangkan kewarasan Binar ke ambang batas manusia.


Perempuan itu tak lagi peduli berapa banyak mereka melakukan. Matanya setia memejam, membiarkan semilir angin mentuh kulit tanpa busana. Binar tak punya malu dihadapan ribuan tanaman dalam rumah kaca. Ia berani melolong kala getar menyambar-nyambar.


Masih dengan kabut penggelap mata, giliran Binar mendorong Riswan. Pria itu terduduk di atas kursinya pasrah kala sang istri mengambil alih permainan. Ia naik dan mulai bergoyang. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah erang panjang.


Matahari yang ragu-ragu masuk di antara dedaunan itu menyoroti peluh tubuh mereka. Teriak lega kembali terdengar sebelum disumpal oleh cecap yang kian menggila. Balum saatnya bagi Riswan untuk sudah. Pria itu mendorong tubuh buncit nan mungil itu ke sudut rumah kaca.


Sambil sesekali kulit mereka tersentuh daun yang usil menggoda, atau kupu-kupu yang kadang kala berusaha hinggap namun gagal tergoncang goyangan. Keduanya sungguh tak peduli meski para pelayan diam-diam mencuri siluet pemandangan mereka. Tak ada yang lebih penting kecuali pencapaian kali ketiga.


Napas memburu yang tak lagi beraturan. Tersenggal-senggal begitu yang dinanti sampai ke puncak kepala. Mereka sama-sama mendongak, meneriakkan nama masing-masing sebelum merosot jatuh ke atas tanah.


Riswan duduk bersandar sambil menyelonjorkan badan, menjadikan dirinya sebagai kursi untuk Binar bersandar. Jemari Riswan masih menggoda perut dan dada bergantian. Lantas mencium dalam ujung pundak Binar sambil membuat pertanda.


"Aku mencintaimu, Binar," bisik Riswan pelan. Amat pelan hingga sang perempuan mengira kalau suara itu hanya desah tertahan dari hasrat yang masih merasa kurang.


"Capek, Paman. Istirahat sebentar."


Kini pria itu memeluknya dari belakang. Berlantun sedikit lebih keras hingga merasuk hangat ke seluruh jiwa, "Aku mencintaimu, Binar, dan berhenti memanggilku paman."

__ADS_1


Seketika Binar langsung melingak, dan ia mendapat lumayan yang jauh lebih panas dibanding sebelum dan sebelumnya.


__ADS_2