Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
12. Sesaknya Pikiran


__ADS_3

Gemericik air dari toilet kamar membangunkan Binar. Aroma sabun menyeruak dari dalam sana. Binar menggeliat singkat, lantas terduduk dan mendapati pakaian Riswan telah siap.


Tak lama kemudian pria itu keluar. Mengenakan handuk yang hanya dibebat pada pinggang, sembari mengeringkan rambut dengan kain kecil yang terkalung di lehernya.


Sontak Binar pun mengalihkan pandang. Berbanding terbalik dengan Riswan yang biasa saja. Toh pria itu sudah memepertontonkan tubuhnya bukan hanya pada satu atau dua wanita. Riswan hanya berjalan santai mengambil pakaian.


"Tumben sudah bangun," celetuknya sambil mulai berpakaian.


Binar tak mengalihkan pandangannya sedikitpun. Ia bahkan mengindari bayangan Riswan dari kaca yang terpantul.


"Soal kakek," sahut Binar dengan nada yang sengaja dibuat menggantung.


"Ada apa dengan kakek?" sahut Riswan acuh tak acuh.


Pria itu sudah mengenakan kemeja. Masih dengan handuk yang sama, kali ini ia berjalan menuju meja rias. Riswan mengeringkan rambutnya, suara hairdryer menjadi jeda keheningan.


"Kenapa kakek?" tanya Riswan lagi setelahnya. Pria itu fokus mencatok beberapa helai rambut agar tampak mengembang, lantas memasang jam tangan.


"Seingatku kakek bukan orang yang rewel apalagi sampai merepotkan," sambungnya diikuti aktifitas memasang celana, "Toh, sudah banyak pelayan juga."


Riswan telah berbusana sempurna.


Namun tak kunjung mendapat respon dari Binar, pria itu menyambar dasi di nakas. Riswan kemudian sengaja mengisi kelengangan singkat itu untuk mengambil beberapa berkas penting yang harus ia bawa.


Dia terpaksa membagi waktunya; antara pekerjaan dengan adegan curhat Binar.


"Kemarin, kakek mengomeliku," kata Binar usai berdetik-detik mempertimbangkan kalimat yang cocok untuk berbincang dengan Riswan.


"Dia nggak percaya kalau aku hamil anakmu, dan menilaiku sebagai ****** yang sudah tidur dengan lelaki manapun. Dia takut aku menularkan penyakit *** secara turun-menurun," jelasnya dalam satu tarikan napas.


Kalau boleh jujur, Binar selalu berharap. Jika suatu hari nanti, dirinya ingin menikahi suami yang mengayomi rumah tangga. Mendamaikan Binar dengan keluarga pihak pria. Atau sekadar saling terbuka untuk membicarakan hal-hal kecil seperti ini tanpa rahasia.


Kehidupan rumah tangga bukan dilakukan sehari dua hari saja, tapi selamanya. Dan Binar terbiasa menyaksikan kedua orang tuanya yang selalu meluangkan waktu untuk bertukar cerita.

__ADS_1


Kegiatan sederhana yang mengeratkan hubungan keluarga. Binar juga ingin mewujudkan rumah tangga yang demikian.


Meski fantasinya terhadap pernikahan ternyata terlalu mewah. Sepertinya bukan begitu yang Riswan harapkan.


Pria yang masih sibuk dengan rutinitas pagi sebelum pergi kerja itu bahkan belum memberikan jawaban. Riswan kian gigih mondar-mandir memeriksa kelengkapan berkas kala Binar sudah menoleh dan mengikuti pergerakannya.


"Kamu dengerin nggak sih?" keluh Binar kemudian.


Masih dengan dasi yang dikalungkan sekenanya, Riswan berhenti sejenak menghadap sofa. Pria itu tampak asik berselancar pada ponsel pintar. Menyebabkan Binar berdecak sebal.


"Paman!" teriaknya.


"Ya terus kamu maunya gimana?" jawab Riswan asal.


Tanpa melayangkan lirikan, pria itu malah menuju ke almari mencari kaos kakinya.


"Padahal kamu sendiri yang bilang kalau bayi itu anak kita dan malah nantang tes DNA. Kenapa masalah begitu aja dibikin gelisah?" sambungnya.


Riswan sudah menemukan benda itu dan langsung memasangnya di sofa. Mereka tak saling melihat sekarang. Baik Binar maupun Riswan hanya mengandalkan indra pendengar.


Ia terlalu muak dengan respon Riswan yang acapkali menyederhanakan problematika yang dialaminya.


"Ya kan faktanya nggak benar, Binar. Tinggal kamu bantah sudah beres dong masalahnya."


"Kamu bisalah kasih pemahaman ke kakek Greg supaya nggak semena-mena. Maksudku, oke lah kalau soal kebejatanku yang hamil di luar nikah. Tapi orang tuaku nggak pantes direndahin sampai segitunya!"


Sungguh, Binar berharap Riswan sudi bersikap sebagai suami yang melindungi harkat dan martabat keluarga Binar. Apapun kondisi yang menimpa mereka. Sekalipun pernikahan ini adalah hasil paksaan. Tidakkah sudah selayaknya jika Riswan bersikap demikian?


"Lagian kita sama-sama tahu, Paman. Siapa yang berperan sebagai 'pemain ***' sungguhan," tandas Binar geram.


Telah menjadi rahasia umum, bahwa Riswan adalah tukang jajan perempuan. Bahkan Binar menghafal beberapa wajah ****** itu di luar kepala. Meski tak menyaksikannya dengan mata kepala, Binar bisa membayangkan ranjang panas yang senantiasa mengisi malam-malam Riswan.


Kenyataan bahwa keperawanan Binar direnggut oleh pria yang sudah menjejaki banyak wanita saja sudah menyedihkan. Apalagi ditambah tuduhan sebagai perempuan murah? Dia bahkan tak pernah berkencan!

__ADS_1


Binar tidak terima. Ia sengaja mengusik Riswan agar tak lagi meremehkan perasaannya.


Pria yang belum bersuara lagi itu lantas menyambar jas kerja. Ia menuju daun pintu tanpa menoleh pada Binar.


"Setelah menikah aku nggak pernah melakukannya," jelasnya disambung dengus berat, "Jadi abaikan saja ucapan Greg. Mungkin memang begitu caranya cari perhatian."


"Maksudmu dengan meremehkan seseorang? Nggak masuk akal!"


"Mau bagaimanapun dia tetap seseorang yang berjasa di kehidupanku, Binar. Aku bersumpah akan menghormati Ned dan Tria selayaknya orang tua, jadi tolong perlakukan Greg seperti orang tuamu juga."


Riswan menyambar gagang pintu dan melesat. Pria itu hilang dalam hitungan detik saja. Meninggalkan Binar yang masih enggan beranjak. Perempuan itu memeluk tubuhnya, tenggelam di antara lekuk tangan.


Sekarang, bagaimana baiknya Binar melanjutkan kehidupan?


Barangkali akan lebih mudah jika ia berlutut di hadapan Ned dan Tria sampai mendapat ampunan. Mustahil kalau dua manusia itu tak tergerak rasa iba. Binar masihlah putri tunggal kesayangan.


Tapi setelah itu apa?


Ia telah menikah dengan Riswan Darmawangsa. Mengandung anak turunnya yang sah. Suatu saat masalah baru akan muncul mengusiknya. Hak asuh anak bisa menjadi debat sengit yang paling potensial.


Greg juga bukan pria tua yang sederhana. Jika tes DNA membuktikan kebenaran Binar, maka masalah generasi penerus Darmawangsa akan menantik pertikaian. Ned dan Tria tidak punya kapasitas yang cukup untuk melawan Darmawangsa.


Kemungkinan besar, Binar dipaksa merelakan hak asuh pada Riswan.


Salah mengambil keputusan saja, bisa-bisa Binar dipaksa berpisah dengan anak yang telah dikandungnya sembilan bulan. Pertimbangan yang berat.


Mustahil ia siap menanggung resiko semacam itu di masa depan.


Mungkin sebetulnya, Binar hanya butuh waktu sedikit lebih lama untuk beradaptasi dengan keadaan. Binar harus kuat bertahan. Dia tidak boleh gegabah dan merusak susu sebelanga, terlebih hanya karena tersinggung dengan omelan Greg Darmawangsa.


Anggaplah kalau tindakan itu merupakan strategi si tua bangka untuk membuat Binar menyerah. Greg sengaja mengusiknya, supaya angkat kaki dan tidak mengganggu kehidupan keluarga Darmawangsa. Iya, pasti begitulah rencananya.


Biar Binar tunjukkan kalau dirinya adalah remaja tangguh nan kuat. Sekalipun tak mendapat dukungan penuh dari Riswan. Seharusnya Binar bisa melakukan apapun demi janin dalam kandungan.

__ADS_1


Pikiran Binar sesak akan berbagai pertimbangan. Dia memutuskan untuk tak mengikuti perasaan dan mengandalkan logika.


Ia mencoba abai terhadap semua tingkah laku Greg maupun Riswan. Belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan rumah tangga yang baru ia pijak. Binar percaya, ia mampu melewati ini semua.


__ADS_2