Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
28. Mengantar Kepergian Riswan


__ADS_3

"Apa lagi yang kurang?" ketus Binar acuh tak acuh memandang Riswan.


Walau sejak tadi hanya bungkam, tak sedetik pun perempuan itu baranjak dari sisi Riswan. Binar ikut mondar-mandir membantu persiapan keberangkatan. Ia tak mau melepas kepergian Riswan dengan pertengkaran.


"Cukup deh, lagian nggak perlu bawa sebanyak ini juga. Kalau kurang tinggal beli aja di sana," sahut Riswan menimbang-nimbang isi kopernya.


"Ya kalau bisa dibawa kenapa harus beli?" tanya Binar sambil berjalan mengambil beberapa hal sepertinya akan dibutuhkan oleh Riswan.


Acara mengemas ini mengingatkannya pada rekereasi sekolah. Binar enggan melewatkan satu benda pun agar memudahkan perjalanan Riswan. Lagipula akan sangat menyebalkan bukan jika ada yang tertinggal?


"Sudah beres, jadwal penerbangannya dua jam lagi, kan? Kita berangkat sekarang aja, nunggu di sana," ajak Binar.


"Astaga, Binar... masih dua jam," keluh Riswan membiarkan Binar mengambil alih barang-barangnya.


"Terus kalo macet gimana? Belum nanti kendala lainnya. Ngeremehin hal kecil-kecil kayak gini tuh yang bikin masalah," protes Binar persis seperti ibu terhadap sang anak.


Perempuan itu menjajarkan satu koper, tas tenteng dan persiapan makanan untuk bekal Riswan. Sementara sang tersangka hanya memutar bola mata malas.


"Jangan bilang bakal beli tiket lagi kalo telat. Katanya kerja bukan cuma isi perut paman aja, kenapa boros banget gitu kayaknya?"


"Bukan boros, Binar. Ambil gampangnya aja."


Namun pembelaan Riswan tiada guna. Perempuan itu malah menunjukkan kalau dirinya sudah memesan taksi online menuju bandara, "Sudah aku pesan," jelasnya.


"Aku dijemput Adrian," elak Riswan.


Tentu kalimat itu bukan pembelaan bagi Binar. Ia bersikeras ikut mengantar Riswan dan menyaksikan kepergian pria itu dengan mata kepala. Toh tidak ada yang melarang juga, ia bebas bertindak sebagai istri sah yang banyak maunya.


"Biar dia ngerjain yang lain aja, beres kan? Ini juga sudah ada susu protein tinggi dengan kepingan cokelat. Jadi nggak usah repor-repot cari makan setelah sampai sana."


Riswan baru berganti pakaian ketika sudah berlarian menyambut taksi online pesanannya. Perempuan itu antusias meminta bantuan pelayan untuk membawa barang-barang Riswan. Ia sama sekali tak peduli pada reaksi sang suami yang hanya geleng-geleng kepala, padahal kemarin Binar merengek manja tak mau ditinggal.

__ADS_1


Perjalanan menuju bandara hanya perlu lima belas menit waktu perjalanan. Tiada kemacetan, pun masalah yang Binar gadang-gadang akan terlaksana. Pada akhirnya mereka duduk diam di kursi tunggu tanpa sepatah kata.


Binar mengamati sekitar, sementara Riswan membaca beberapa laporan kinerja perusahaan lewat ponsel pintar.


"Aku nggak usah nyusul, Paman. Pastiin aja semua kerjaan selesai dan pulang dengan selamat," celetuk Binar kemudian.


"Maaf juga soal kemarin. Aku nggak pernah bisa mastiin kapan emosiku meledak-ledak, Paman. Kadang semua terjadi begitu aja," sambungnya.


Tak menoleh pada Riswan, Binar tahu pria itu membuang napas. Ia meletakkan ponselnya, dan fokus memandang Binar. Tatapan lembutnya bisa Binar rasakan, Riswan selalu menyajikan pandangan itu ketika ia cari perhatian.


"Nggak masalah," tuturnya seraya menyibak anak-anak rambut Binar ke belakang telinga, "Aku cuma berharap kamu bisa percaya ke aku sepenuhnya, Binar. Apapun yang terjadi aku nggak akan mengkhianati pernikahan kita."


Binar tak memberi jawaban.


Bagaimana bisa?


Bagaimana ia bisa percaya pada ucapannya jika perjalanan hidup Riswan saja dipenuhi banyak wanita?


Ia bukan perempuan yang bisa abai pada masa lalu dan menatap kedepan. Bayangan soal Riswan yang telah tidur dengan banyak wanita sulit untuk dimunafikkan. Binar diselubungi gelisah, bagaimana jika suatu waktu Riswan hilang akal dan melakukan kebiasaan itu lagi di belakangnya?


"Kamu nggak bisa ya?" ejek Riswan pada dirinya sendiri sembari membuang pandang, "Pasti sulit kan punya suami dengan masa lalu liar?"


Binar mengangguk samar, tanda sepakat itu ia tunjukkan agar Riswan memahami gulananya juga.


"Aku cuma takut kecewa, Paman. Aku nggak mau posisi jatuhku ketinggian," giliran Binar yang menoleh pada Riswan, "Harapan bukanlah sesuatu yang boleh ditelakkan sembarangan, Paman. Apalagi pada pernikahan tanpa pondasi jelas seperti yang kita lakukan sekarang."


Pria itu ikut menoleh padanya, membuat jarak mereka hanya terpisahkan oleh dua hidung yang nyaris bersentuhan.


"Pondasiku jelas, Binar. Aku nggak menyepelehkan pernikahan ini sejak awal," tandas Riswan.


"Kalo begitu ya pondasiku, Paman," tukas Binar seraya menunjuk kehadiran seseorang dari arah Riswan. Reaksi yang membuat pria jtu mengernyit heran.

__ADS_1


Tapi tak butuh waktu lama untuk menjawabnya, sosok yang dilihat Binar muncul beberapa detik kemudian. Wanita itu mencolek pundak Riswan, sambil menyuguhkan senyum lebar.


"Aku mencarimu, Riswan, tapi katanya kau ada perjalanan bisnis ke Kalimantan," ujar Rhea mencairkan suasana.


Tak niat beranjak dari sana, Binar hanya membuang muka. Sementara Riswan mendadak kikuk dan bingung dengan kehadiran Rhea. Sungguh, pria itu sama sekali tidak menduganya.


"I-iya, ada perlu apa sampai ke bandara segala?" sahut Riswan memaksakan senyuman. Pria itu melirik Rhea singkat, sambil mencuri pandangan ke arah Binar dengan perasaan gamang.


"Kita bicara di tempat lain boleh?" tanya Rhea membuat Riswan lantas menoleh pada Binar. Respon yang membuat Rhea tergerlak. Wanita itu pandai membaca gelagat lantas ikut menatap Binar.


"Binar, boleh ya pinjam Riswannya sebentar?"


Tentu Binar langsung mengangguk sepakat. Riswan hanya meminta ijin lewat sentuhan. Dua manusia itu menghilang beberapa menit kemudian.


Detik berganti menit, menit beranjak jadi jam. Keberangkatan Riswan telah diumumkan oleh petugas bandara. Pria itu buru-buru mengambil barangnya di sekitar Binar, memberi salam perpisahan lewat kecup singkat.


"Maaf, aku pergi dulu, Binar," teriaknta.


Ruang itu menyisakan Binar dan Rhea, serta kerumunan kecil dari manusia-manusia yang melepas kepergian. Mereka sama-sama menamatkan kepergian Riswan. Sampai salah satu di antara mereka mengambil inisiatif untuk buka suara.


"Apa kau tahu apa yang menyebabkan hubungan kami kandas?" tanya Rhea mengalah. Wanita itu mencuri perhatian Binar.


"Kau kabur dari pesta pertunangan. Tidakkah itu sudah jelas?"


Rhea tergerlak, menertawakan jawaban Binar dengan nada mengejeknya, "Sialnya bukan, Binar. Sepertinya kau memang tidak tahu apa-apa."


Wanita itu mendekat, berdiri tepat di hadapan Binar. "Greg Darmawangsa," begitu katanya. "Si tua bangka itu yang mengusirku agar tak menghadiri pertunangan."


"Menurutmu," jeda Rhea sembari membungkuk hingga wajah mereka sejajar, "Bagaimana mungkin Riswan bisa memaafkan dirinya?"


Alis wanita itu terangkat sebelah. Seraya menyeringai tajam, ia terkekeh ringan. Keraguan dari raut Binar membuatnya gembira, Rhea berhasil mengaduk-aduk perasaan Binar.

__ADS_1


"Jangan mengharapkan cinta pada seseorang yang belum sudah dari masa lalunya, Binar. Kau tak akan pernah memenangkan hati Riswan."


Kalimat itu sengaja Rhea tinggalkan sebagai renungan. Mendiamkan Binar di bandara hingga berpuluh detik lamanya. Perempuan itu bukan hanya dilanda gusar, melainkan terancam gagal menyelamatkan kehidupan.


__ADS_2