
"Soal kejadian di Kalimantan..."
"Fine, Binar," tukas Sean langsung menyela.
Lelaki itu tak begitu berselera membahas penolakan Binar. Malam itu ia terpaksa pulang sendirian. Niat hati untuk merebut Binar dari suaminya gagal dalam sekejap.
"Maaf," bisik Binar menuntaskan ucapan. Perempuan itu sampai menunduk dalam, membuat Sean ikut merasa bersalah.
"Hei," ia mendekat, meraih pundak Binar yang layu dirundung duka, "Wajar, aku yang salah. Istri memang seharusnya patuh pada suaminya, kan?"
Tiada jawaban.
Pertanyaan Sean itu malah dijawab oleh isak tangis yang sayup-sayup terdengar. Binar telah berderai air mata. Sesak pilu yang hanya ditepis oleh punggung tangan.
"Is everything okay?" tanya Sean sambil menangkup wajah Binar, "What happened?"
Dengan gerakan lembut, Sean ikut mengusapi air mata Binar. Sambil sesekali ikut menyusun helai-helai rambutnya yang berjatuhan. Sean menyalirkan kenyamanan pada Binar yang terbuai tangisan.
"Sekarang aku mesti gimana, Sean?" cicitnya serak, Binar bersuara di antara nada bicara yang amat sesak, "Pernikahanku gagal total."
Tanpa ragu lagi, Sean meraih Binar dalam peluknya. Perempuan yang tengah duduk di kursi itu dengan mudah jatuh pada dada bidang Sean. Lelaki yang menyangga tubuh pada lutut itu juga mengelus-elus pundak Binar.
"Paman lebih memilih tante itu dibanding aku dan calon anak kami, Sean," raungnya menjadi kian gila.
Untung dada bidang Sean menyumbat tekanan suara. Membuat teriak emosional Binar tertawan pada dekap erat dari Sean. Binar kehilangan kendalinya.
"Apa lagi yang bisa aku lakukan?!" isak pilu serta napas yang sesunggukan menyempurnakan nestapa, Binar meraih pinggul Sean guna memperdalam pelukan.
"Aku pengen sekolah lagi kayak biasanya. Aku kangen kita main-main sampai petang. Aku benci keputusanku, Sean! Aku benci diriku yang gagal melindungi kehormatanku sebagai perempuan!"
"Aku harus gimana lagi sekarang?" rintihnya, "Masa depanku terlanjur hancur berantakan!!"
Kemarahan yang diluapkan Binar membuat Sean terenyak. Perempuan itu meluapkan beban di pundaknya begitu saja. Sean sampai membisikkan kata yang sama berulang-ulang, agar Binar bisa menjadi lebih baik usai memuntahkan semua.
"Menangislah, Binar, menangislah sampai puas. Habiskan air matamu sekalian."
***
__ADS_1
Setelah sedikit lebih tenang, Binar mengajak Sean berkeliling pelataran mansion milik Darmawangsa. Masih dengan mata sembabnya, Binar mengedarkan pandang. Sementara Sean menatap langkah kaki merek yang seirama.
"Maaf, bajumu jadi basah," celetuk Binar membuka percakapan.
Sontak Sean menggaruk tengkuknya, ia terkekeh ringan. "Ini nggak gratis, Binar. Kamu perlu bayar jasa bersandar padaku kapan-kapan."
Tentu saja Binar langsung tergerlak, "Semoga aku punya cukup uang buat melunasinya."
"Orang tuaku juga punya banyak uang, Binar. Nggak butuh aku sama yang begituan," ejek Sean sukses membuat Binar makin terbahak-bahak.
"Baiklah Tuan Muda Yang Mulia Sean, jasa bersandar itu bisa dibayar pakai apa?" sahut Binar dibuat bernada, seolah-olah mereka tengah berbincang dengan bahasa kerajaan.
Hal yang membuat Binar nyaman berada di sisi Sean adalah kemampuan lelaki itu menenangkan. Tanpa bertanya atau merasa penasaran, Sean selalu mencari cara untuk Binar tertawa. Apalagi sisi Sean yang belakangan lebih ekspresif menunjukkan kasih sayang. Hati Binar tidak bisa tidak dibuat koyak.
Sean jauh berbeda dibanding Riswan.
"Nggak cuma jasa bersandar, Binar, aku juga mau menagih biaya tambahan untuk jasa mengantarmu ke Kalimantan."
Langkah Binar tertahan. Pergerakan yang membuat Sean mau tak mau ikut berhenti seketika. Kini mereka sama-sama bisa mengakses wajah. Saling memandang berdetik-detik lamanya.
"Kenapa?" Sean bertanya heran.
"Siapa yang bercanda?"
Merasa bingung dengan alur perbincangan, Binar memilih mencari jawaban dalam diam. Ia mencuri segala gelagat yang Sean tunjukkan. Berusaha menerka maksud dan tujuan lelaki itu tiba-tiba membicarakan soal hutang.
"Keberatan?" Sean kembali mengajukan tanya.
Binar yang tak kunjung mampu mencerna pun membuang senyuman, "Nggak masalah keberatan atau gimana, tapi aneh aja kalo kamu serius menganggapnya hutang."
Detik beralih menit dan wajah serius Sean tak berubah. Lelaki itu menunjukkan kesungguhan ucapan. Ia menatap lekat manik mata Binar, membuat tokoh yang berhadapan dengannya kikuk seketika.
"Sean, Please. Nggak lucu! Ekspresimu apa-apaan sih?" keluh Binar salah tingkah.
Siapa yang kuat ditatap intens tanpa sepatah kata? Mereka tidak sedang berdebat, atau menggelar sesi adu mulut seperti yang biasa Binar dan Riswan lakukan. Sean menunjukkan tatap aneh yang tidak biasa, memancing kupu-kupu hinggap pada relung jiwa.
"Masih ingat soal pesta tahunan sekolah?" tanya Sean kemudian. Masih dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
__ADS_1
Binar mengangguk gamang, "I-yaa?? Terus, apa hubungannya sama pesta tahunan sekolah?"
"Datanglah sebagai pelunasan jasa antar ke luar kota, dan selesaikan sesi pesta sampai tengah malam untuk melunasi pakaianku yang kamu buat basah."
Satu tarikan napas Sean membuat Binar terdiam, lelaki itu mendekatkan diri satu langkah, "Gimana?" tanyanya menutup penawaran.
"Dalam keadaan hamil begini mana bisa?" tolak Binar tanpa pertimbangan, "Aku nggak mau jadi trending topik di sana."
Tentu Binar masih cukup waras. Siapa yang mau mendengar cibiran khas anak remaja? Bahkan sekalipun Binar mampu dan siap menguhadapinya, bagaimana dengan Sean?
Sean bergerak mendekat. Meraih pergelangan yangan Binar dengan tatap lembut yang berbeda dari sebelumnya. Ia menyuguhkan senyuman, mengais kepercayaan diri Binar yang tersisa.
"Datanglah sebagai pasangan dansaku, Binar. Aku tak memikirkan perempuan lain kecuali kamu sejak menerima undangan," paparnya memperjelas.
"Dengar, aku hamil dan sudah menikah. Aku ingatkan lagi supaya kamu nggak lupa," sanggah Binar pada gagasan Sean.
"Aku nggak lupa, dan itu bukan masalah. Kamu berhutang padaku, Binar. Bayarlah dengan cara setimpal," desak Sean gigih memperjuangkan keinginan.
Binar mengacak rambut singkat, "Ini bukan soal bayar hutang atau gimana, Sean. Harga diriku dipertaruhkan! Malah kamu juga bisa kena imbasnya!"
"Aku siap nanggung imbasnya, aku bahkan nggak peduli harus kena imbas, jadi... tolong, Binar, datanglah. Aku bersumpah akan melindungimu sepanjang acara."
Siapa yang tidak ingin menghadiri pesta tahunan sekolah?
Mendengar ajakan Sean saja, Binar sudah tegoda. Ia tak pernah melewatkan momen berharga itu dalam hidupnya. Dan selama dua tahun terakhir, pesta tersebut dihadiri Binar bersama Sean.
Terlalu banyak momen remaja yang mereka habiskan bersama. Binar bisa memahami perasaan kehilangan yang Sean rasakan. Sahabat terbaik yang mendadak raib karena hamil di luar nikah.
Sean mungkin saja kesepian. Lelaki itu bahkan berani mengambil resiko bahaya demi bisa bersama Binar. Namun, Bagaimana mungkin Binar sepakat?
Ia tidak punya cukup keberanian untuk berhadapan langsung dengan rekan-rekan satu sekolah. Cibir sinis yang dipadu dengan tatap penuh penghakiman. Ketakutannya lebih besar dari rasa ingin menghadiri pesta.
"Gaun pesananku sebentar lagi datang. Aku harap kamu pakai baju itu sebagai balasan kebaikanku menemanimu jalan-jalan."
"Tapi, Sean..."
"Bilang saja kalo kamu hamil anakku, Binar. Nggak ada yang tau juga kalo kamu sudah menikah."
__ADS_1
Lelaki itu menanggalkan belaian singkat pada puncak kepala Binar usai menamatkan kalimat. Tanpa menanti jawaban dari sang perempuan, ia langsung beranjak. Membuat Binar membeku di tempat.