
"Ada yang bisa dibantu, Nona?"
Kepala pelayan yang sejak tadi mengamati pergerakan Binar akhirnya mendekat. Wanita paruh baya itu merupakan pegawai paling tua yang bekerja di sana. Ia bertugas mengatur keperluan rumah tangga.
Seringkali Binar mendengar percakapannya dengan Greg Darmwangsa. Wanita itu merancang menu harian, membagi tugas para pegawai, sekaligus mengaplikasikan seluruh titah Greg tanpa pengecualian.
Bahkan meski hanya Greg dan Binar yang ada di rumah. Pelayan bekerja selayaknya ada ribuan orang di sana. Kehidupan mewah yang kadang kala terasa berlebihan bagi Binar. Mengingat ia terbiasa melakukan segala sesuatu sendirian.
"Aku mau bantu siapin makan malam, boleh?" tanya Binar kemudian.
Walau secara teknis ia sering ditinggal Ned dan Tria pergi ke luar kota, Binar tidak mahir memasak. Selama ini ia mengandalkan kemudahan aplikasi pesan antar. Jadi itikad baiknya itu merupakan bagian dari usaha yang lumayan luar biasa.
Lagipula Binar sudah bertekad menyesuaikan diri dengan lingkungan. Barangkali, dengan begitu hati Greg sedikit tercuri olehnya.
"Tidak perlu khawatir, Nona. Chef yang bekerja untuk kami sudah andal dan lulus sertifikasi Internasional. Bahan pokoknya juga terseleksi sebelum masuk dapur keluarga Darmawangsa, jadi..."
"Bukan begitu," sela Binar sambil menggaruk tengkuknya, "Aku bukannya mau inspeksi atau apa, cuma bantu. Maksudku, ikut memasak. Aku mau belajar masak sekalian kalau nggak keberatan."
Ia salah mengira kalau Binar berniat memeriksa kualitas makanan serta koki-koki di sana. Padahal sama sekali tidak, ia hanya ingin terjun pada prosesi persiapan makan malam.
Wanita itu pun terdiam sejenak. Tampak sibuk mempertimbangkan sesuatu dalam pikiran. Apakah Binar mengajukan permintaan yang melanggar aturan?
"Saya bisa panggilkan pelayan supaya menemani Nona mencari kegiatan," cetusnya.
"Aku cuma ingin masak," Binar meringiskan senyuman, "Nggak boleh ya? Maksudku, pasti nggak boleh kan dimasak sembarangan?"
Binar menundukkan kepala. Dugaannya benar, barangkali makanan yang tersaji di meja bukan masakan yang diolah sembarang orang. Ia tidak punya kompensi mumpuni sehingga layak untuk dipersilahkan ikut memasak.
Sekali lagi menyuguhkan senyum hambar, Binar memilih untuk lekas beranjak.
"Nggak perlu pelayan juga," sambungnya, "Aku bisa cari kegiatan lain tampa ban..."
"Silahkan," tukas wanita itu tiba-tiba berubah pikiran. Tanpa ekespresi, ia menatap lekat kepada Binar.
"Nona bisa bantu mengolah beberapa menu bersama chef yang di ujung sana," jelasnya menunjuk koki dengan rambut panjang yang terikat, "Mari saya antar."
Ciri khas utama kepala pelayan itu adalah tidak pernah menunjukkan air muka. Sekalipun diperhatikan dengan saksama, ia tidak pernah benar-benar ramah atau marah. Wajahnya datar, seakan emosi telah diangkat dari bagian dirinya.
__ADS_1
"Sebelah sini," ujarnya seraya membungkukkan badan, "Saya undur diri untuk mengurus keperluan lainnya, Nona. Pelayan Nona akan menunggu di depan jika butuh bantuan."
Binar hanya mengangguk singkat. Wanita itu lengang beberapa detik kemudian. Chef perempuan yang ramah menyambutnya dengan bersahabat. Binar dibimbing membuat hidangan, termasuk sajian utama.
Tentu Binar meniru dan mempraktekkannya dengan maksimal. Walau masih terbata-bata, sering kali salah, bahkan mengalami gosong di bagian-bagian yang seharusnya matang. Perempuan itu masih bersemangat.
Dia bisa membayangkan reaksi Greg dan Riswan yang bangga pada satu kemajuannya. Mereka pasti menikmati hidangan yang disiapkan oleh Binar dengan segenap jiwa. Perempuan itu amat tidak sabar, senyum rekahnya pun tak hengkang walau hanya sekejap.
***
Telapak tangan Binar meremas sudut kursi ketika Greg menyecap masakannya. Pria tua itu mengunyah daging iga panggang dengan saus lemon itu perlahan-lahan. Menambah ketegangan di dalam diri Binar kian meningkat.
Sementara itu Riswan yang baru turun dari kamar mengamati hidangan singkat. Dengan jas yang disampirkan pada lengan, pria itu terlihat seperti baru saja berganti pakaian.
"Aku dengar, kau yang masak," celetuk Greg menahan Riswan yang nyaris beranjak. "Buat apa?" tanyanya.
Dibanding pertanyaan, kalimat Greg lebih terdengar seperti cibiran. Binar yang semula tertawan pada Riswan langsung mengalihkan pandang. Ia mencurahkan perhatian pada Greg seutuhnya.
"Belajar, Kek. Mengisi waktu luang."
Pria itu meletakkan alat makan, lantas menyeka sudut bibirnya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Riswan. Ia sengaja mencuri jeda ketegangan yang menyelubungi Greg dan Binar.
"Batam?" spontan Binar ikut andil dalam percakapan. Perempuan itu kaget bukan kepalang. "Sekarang?" tanyanya lagi memastikan.
Giliran Riswan yang mengalihkan pandang pada Binar. Pria itu tampak amat malas meladeninya. Walau Binar hanya mengajukan satu pertanyaan.
"Iya."
"Kenapa baru bilang? Aku kan bisa bantu siapin perlengkapanmu sebelum berangkat," protes Binar.
"Cuma semalam. Nggak usah berlebihan."
Sontak Binar bangun dari duduknya, "Kalau begitu aku bungkus makanan itu sebentar, ya? Lumayan buat cemilan di perjalanan."
"Nggak perlu, Binar," keluh Riswan diiringi dengus kasar.
Reaksi yang membuat tubuh Binar seperti dibekukan. Perempuan itu menatap lekat manik mata Riswan. Isyarat dengan makna yang terlampau jelas, Riswan jengah dengannya sekarang.
__ADS_1
"Ini aku yang masak lho, Paman," Binar memulai perdebatan.
Bagaimanapun Binar telah mencurahkan seluruh hatinya saat memasak. Suka tidak suka, ia masih berharap Riswan mau mencoba. Itu seperti pujian baginya.
"Memangnya siapa yang suruh masak?" ketus Riswan, "Mendingan kamu istirahat dan jaga kesehatan. Nggak ada yang lebih penting dari dua hal itu, Binar!"
"Cuma incip apa susahnya sih?" cecarnya enggan mengalah.
Debat sengit itu sukses membuat Riswan memutar bola mata. Telunjuk dan ibu jarinya mencomot daging panggang tanpa banyak bicara. Pria itu mengunyah singkat sebelum menelannya dalam sekejap.
Makanan yang dimasak Binar berjam-jam, hanya secuil masuk perut Riswan.
"Puas?" tukasnya.
Pria itu kemudian pergi meninggalkan Binar dan Greg bersama keheningan. Sama seperti tindakan yang di lakukannya pagi ini sebelum pergi kerja, Riswan menghilang dari jangkauan mata.
Dalam hari yang sama, Riswan berhasil memporak-porandakan hatinya. Memberi tekad, sekaligus menghancurkannya juga.
Binar memejam mata sambil menelan saliva. Ia berusaha mengendalikan diri ketika Greg sudah melambaikan tangan sebagai pertanda.
Seorang pelayan yang bertanggung jawab mengurus meja makan pun bergerak sigap. Perempuan muda yang menunduk patuh sembari menanti ucapan Greg selanjutnya.
"Bereskan saja!" titah Greg mengakhiri prosesi makan malam, "Buang semua dan antar saja makan malamku ke kamar. Lain kali jangan ijinkan Binar menyentuh dapur dengan berbagai alasan."
Membelalak tak percaya, Binar sontak membantah, "Jangan dibuang!"
Suara melengking Binar sukses menghambat pergerakan Greg yang sudah berdiri di tempat. Pria tua itu langsung melirikkan tatapan sinis nan tajam.
"Biar aku yang habiskan!" sambung Binar tegas, tanpa keraguan.
Hampir tujuh puluh persen makanan yang tersaji adalah hasil jerih payahnya. Binar turut serta penuh selama proses memasak. Mana mungkin ia merelakan makanan itu ke tempat sampah?
Jawaban Binar membuat sang pelayan bimbang. Sekalipun Greg Darmawangsa adalah tetua di sana, status Binar juga merupakan nona muda yang harus dipatuhi olehnya. Mereka saling diam, sampai lakon tunggal mengambil keputusan.
"Terserah dia. Biar dia saja yang bereskan sisanya."
Greg ikut melengang.
__ADS_1
Nanar tatap Binar beralih pada meja makan. Nyeri menyeruak dalam batinnya. Menu makan malam itu bahkan sama sekali tidak berkurang. Kini usaha apa lagi yang bisa dia lakukan untuk bertahan?