
Mentari belum menunjukkan sinar, namun Binar sudah tuntas menyiapkan segala keperluan Riswan. Pakaian, hingga hal detail seperti dasi dan kaos kakinya yang sering kali ketinggalan. Pria itu bahkan masih tidur pulas di sofa ketika Binar sudah beranjak dari sana.
Si kembar memberi energi positif dalam dirinya. Hari ini ia membangun rencana. Kalau tidak memasak, mungkin bisa mencoba bercocok tanam. Greg sering melakukannya.
Pria tua itu pasti senang kalau tahu Binar mengandung dua keturunan Darmawangsa. Membayangkan Greg bersikap ramah padanya saja, Binar sudah senang bukan kepalang. Bagaimana kalau nyata?
Binar menantikannya. Waktu ketika Greg tidak lagi menganggapnya bocah, melainkan istri sah Riswan. Walau terkesan serakah, ia ingin diperlakukan layaknya wanita dewasa. Sebab bagaimanapun, Binar sudah menjadi calon ibu sekarang.
Tanpa ragu, Binar mengintip dapur yang sudah ramai pemasak. Semerbak sedap tercium dari sana. Binar memejam sambil menikmatinya, namun kepala pelayan buru-buru menghalangi pandangan Binar.
"Tidak, Nona," tandasnya mempertegas.
"Aku hanya mencium aroma masakan. Lagipula aku ingin membuat susu untukku sekalian kopi untuk paman," sahut Binar dengn nada memelas. Ia mencoba mengusik iba darinya, seperti beberapa hari silam.
"Tuan muda tidak minum kopi, Nona. Kalau soal susu, sebentar lagi bisa saya antarkan," sahutnya bulat. Ia lebih patuh pada titah Greg sekarang.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, Riswan tidak minum kopi, ya? Sejak kapan? Bukannya Tria sang ibunda sering menyuguhkan kopi ketika Riswan datang? Binar terheran.
"Ada lagi yang bisa dibantu, Nona?" tanya kepala pelayan itu membuyarkan lamunan.
"Oh, terima kasih. Susunya nanti saja, kalau sarapan."
Kabur dari sana, Binar mengintip ruang kerja Riswan. Jelas bekas cangkir kopi buatannya sudah tidak ada. Ia hanya iseng mencari tahu kesenangan pria itu agar bisa memesan sesuatu pada kepala pelayan.
Binar teguh ingin menyajikan menu spesial untuk Riswan. Meski bukan hasil masakannya, minimal pria itu merasakan perhatian kecil dari Binar.
Apalagi Binar sempat mengatakan hal yang buruk pada Riswan. Sekalipun ia menyesali pernikahan, bukan berarti hal tersebut layak diperdengarkan pada Riswan, kan? Ia jadi tidak enak.
Pandangannya menyusuri seisi ruangan. Rapi, nyaris tak ada satu buku pun yang meleyot ke kiri atau kanan. Kebiasaan itu memang tercermin dari cara Riswan berdandan. Sempurna.
Binar baru berjalan ke sisi lain ruangan ketika daun pintu terbuka. Sontak ia menoleh pada asal suara. Menyaksikan sosok Riswan mengintip di sana.
"Cari apa?" tanyanya.
Pria itu sudah berpakaian lengkap. Menyisakan jas yang sepertinya sengaja belum dikenakan. Lantas ia berjalan menuju meja kerja, membaca berkas-berkas itu sekilas.
__ADS_1
"Aku pikir kamu masak," Riswan kembali membuka suara. Menggugah diri Binar yang masih mematung di tempat, "Nggak perlu masak, Binar. Bahaya. Cari kegiatan lain yang nggak melelahkan."
Tentu Riswan bukan memandangnya, tapi berkas-berkas di sana. Pria itu fokus mencari sesuatu yang ia butuhkan. Sementara Binar masih gigih mengamatinya dalam diam.
"Mungkin pekan depan gurunya mulai mengajar. Dia lulusan pendidikan matematika di Amerika, sudah tersertifikasi mengajar. Sementara satu mata pelajaran dulu, kita bicara lagi setelah sesi konsultasimu dengan bimbingan konseling yang sudah aku jadwalkan."
"Bimbingan konseling buat apa?"
Riswan menemukan lembar yang dicarinya, lantas menatap mata Binar, "Ketertarikan karir sekaligus jenjang ke Universitas. Aku nggak mau kamu sembrono terhadap masa depanmu hanya karena telah menikah."
Riswan mempersiapkan semua. Hal-hal yang menyangkut Binar, aman di bawah kendalinya. Ia tak mau usaha Ned dan Tria membesarkan anak mereka sia-sia. Binar wajib punya masa depan cerah.
Kalimat itu menjelma bagai perasaan aneh dalam relung Binar. Masa depan? Dua kata yang menyimpan sejuta ketidakpastian. Setelah semua kekacauan ini, dia jadi lupa tujuan hidupnya. Memangnya selama ini apa yang dia inginkan?
Ia bahkan tak menduga Riswan sempat memikirkan masa depannya.
"Nggak keluar?" celetuk Riswan yang tanpa Binar sadari sudah sampai di ambang pintunya.
"Eh?" gagap Binar menyadarkan dirinya, "A-aku, iy-a."
***
Denting sendok bersahutan. Usai kehebohan yang dilakukan Binar, baru kali ini mereka kumpul bersama. Tentu Binar waspada, menyiapkan mental sebelum pria tua itu bicara.
Tampak khusyuk menikmati hidangan, Greg kemudian meneguk air mineral. Pria itu berdehem singkat kala kembali mengangkat alat makan. Tak sedikitpun pandangannya beranjak.
"Jadi gimana? Apa penyakitnya?" tanya pria tua itu datar.
"Nggak ada masalah," sahut Riswan tanggap.
Mereka membangun percakapan tanpa saling memandang. Fokus menikmati menu makanan di hadapan mereka.
Sementara Binar yang menantikan kalimat selanjutnya memilih untuk menjeda adegan sarapan. Ia menyecap susu perlahan-lahan, sambil mengamati Greg dan Riswan bergantian. Mustahil jika pria tua itu menyudahi kalimatnya.
"Kehamilan rewel begitu pasti karena faktor usia. Banyak keluhan yang dilebih-lebihkan. Seandainya dia lebih matang dan belajar dulu soal persiapan kehamilan, pasti tidak merepotkan," sambung Greg telah mengangkat kepala.
__ADS_1
Bukan kepada Riswan, ekor matanya langsung menyorot lurus pada Binar, "Bukan hanya waktu yang terbuang, tapi juga tenaga. Harusnya..."
"Aku tidak keberatan, Kek," tandas Riswan menyela.
Entah sejak kapan pria itu sudah mencurahkan segala perhatian pada Greg yang menyerang Binar. Riswan menajamkan tatap. Raut yang persis sama seperti saat Riswan melamar Binar.
"Tentu saja kau tidak keberatan, Riswan. Semua ini karena kecerobohanmu bercinta sembarangan!" bentaknya.
Binar bisa merasakan atmosfer di sekitarnya berubah. Para pelayan yang berjaga tak jauh dari sana tampak saling bertukar isyarat dalam keheningan. Aib keluarga yang ditutup rapat langsung terbongkar. Lirik sinis yang penuh penghakiman pun sontak tertuju padanya.
Jauh dalam benak, Binar ingin menghindar. Bersembunyi dari hujat yang diungkap lewat ekor mata. Ia menunduk dalam, sambil menutup perut buncitnya yang telah mencuri perhatian.
"Tolong jangan mengatakan hal yang tidak-tidak, Kek. Terlebih di hadapan Binar," sahut Riswan tegas. Amarah yang tertahan pada dada membuat rahangnya mengeras.
"Kenapa? Aku bicara fakta, Riswan. Kedepannya pun masalah kehamilan seperti itu akan terus bertambah. Dia juga ceroboh dan tidak menjaga kesehatan, bagaimana bisa melahirkan dengan selamat?"
"Kalau bisa?" Binar angkat suara, "Apa kakek akan berhenti merendahkan dan mengakuiku sebagai istri paman Riswan?"
Gemuruh batin Binar membuncah. Ia muak dengan segala ucapan Greg yang semakin keterlaluan. Mata bengisnya menatap Greg tajam, namun pria tua itu malah tersenyum kecut menyambutnya.
"Baru berapa bulan saja sudah sekarat. Aku lebih suka bukti dibanding omong kosong belaka," tukasnya.
Tak gentar melayangkan kemarahan, Binar siap mengucapkan sumpah serapah ketika Riswan lebih dulu menyentuh pundaknya. Binar bahkan tak menyadari Riswan telah berdiri di sana. Mengajak Binar menyudahi makan pagi yang penuh pertikaian.
"Mulai hari ini Binar makan di kamar," ujar Riswan mengeraskan suara, sengaja agar pelayan-pelayan mereka menerimanya sebagai perintah.
"Aku harap kakek paham kalau ucapan pedas kakek bisa merusak selera makan seseorang," imbuhnya.
Mereka nyaris meninggalkan ruang makan. Namun Riswan yang sudah merengkuh Binar itu behenti tiba-tiba. Sambil menoleh pada Greg Darmawangsa, ia melanjutkan sepatah kata.
"Dan asal kakek tahu, bayi kami kembar. Identitas yang sudah sangat jelas tanpa perlu tes DNA. Binar mengandung keturunan Darmawangsa."
"Jadi mohon kerjasamanya," mereka berlalu kemudian.
Greg Darmawangsa menjadi satu-satunya tokoh yang tersisa di meja makan. Pria itu masih mengeja kalimat Riswan di kepala. Ia paham betul keterkaitan antara gen kembar dengan keluarga Darmawangsa.
__ADS_1
Tanpa perlu tes tambahan, mau tidak mau Greg wajib sepakat.