Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
26. Ragu Yang Mengembang


__ADS_3

Canggung.


Dengan sangat kebetulan, Binar terbangun saat Riswan masuk kamar untuk tidur.


Pria itu tampak bingung. Mereka juga setuju untuk tidur bersama sejak malam itu, namun mereka dalam posisi saling merajuk. Riswan terpaksa mengusung bantal dan selimut kembali ke sofa sambil berulangkali mendengus.


Binar sendiri juga ragu, haruskah menahan suaminya itu? Atau membiarkannya seolah-olah tidak tahu?


"Mau kemana? Tidur aja di sampingku," kata Binar acuh tak acuh. Ia tak bisa mengabaikan pria itu.


Sembari mengubah posisi tidurnya ke arah berlawanan dengan keberadaan Riswan, Binar bersuara lagi, "Daripada capek."


Riswan yang sedang memeluk bantal pun diam memandangi punggung Binar. Ia amat tergoda tidur di sana. Membayangkan empuknya kasur itu mengistirahatkan penat. Tapi bagaimana dengan harga dirinya?


"Nggak usah," ketus Riswan seraya beranjak menuju sofa.


Hal yang membuat Binar bangkit dari tidurnya, mengikuti Riswan dengan ekor mata.


"Sekalian aja pisah kamar!" serunya.


Riswan mendengus pelan, tampak enggan meladeni Binar dan dramanya yang tak berkesudahan. Pria itu menyeret ekor mata malas. Menjatuhkan pandang pada Binar yang sudah memasang wajah kesal.


"Katanya mau mempertahankan rumah tanggalah, nggak akan cerailah, terus kenapa tidur di sana?!"


Apa sih yang ada di pikiran Binar? Riswan mencoba menerka alur kepala perempuan itu dalam diamnya. Namun semakin dipandang rautnya kian berubah, tiba-tiba butir air matanya merebak.


"Paman itu kalau marah bilang, kesel juga ngomong aja. Gimana mau jujur dan saling terbuka kalau paman diem aja?!" protes Binar sambil mengendalikan suaranya yang bergetar.


Terus terang, Binar tidak bisa tidak merasa bersalah. Sepanjang hari ia hanya memikirkan kalimat Riswan. Memutar raut wajah pria itu tanpa jeda.


Riswan murka pada gagasannya.


Padahal memang bukan begitu maksud Binar. Ia hanya cemburu buta, ingin dirayu dan diyakinkan. Perihal pernikahan mereka, Binar mau validasi yang jelas. Agar kepastian ada di pihaknya.


Namun siapa sangka jika Riswan malah mengijinkan? Gagasan mencari suami baru itu disepakati dengan sindirian. Hal yang mengusik Binar, membuat dadanya sesak seharian.


Riswan membuang napas berat, lantas menghirupnya lagi perlahan-lahan. Hari sudah terlalu larut untuk berdebat. Ia sangat lelah dan tak ingin memperumit keadaan.

__ADS_1


Pria itu beranjak dari sofa, menuju ranjang peristirahatan. Mata lelah bercampur kantuk itu teduh menatap Binar. Riswan duduk di tepian kasur sambil menepis air mata Binar dengan jemarinya.


"Aku nggak marah," bisiknya. "Udah malem, aku nggak mau bertengkar."


Binar membalas tatapan Riswan, "Maaf. Aku nggak niat ngomong gitu," cicitnya memelas.


Lagi-lagi Riswan membuang napas berat. Pria itu meraih Binar dalam peluknya seraya merebahkan badan.


Lengan kanan Riswan menjadi bantalan kepala Binar, sementara tangan kirinya mengelus lembut perut buncit sang istri pelan. Kepala mereka saling bersandar, sementara tubuhnya bersentuhan.


Kehangatan yang Riswan salurkan menelusupi benak Binar. Mereka memejamkan mata. Meninggalkan malam yang hanyut di peradaban.


***


Dua wanita itu belum saling bicara. Mereka setia pada wine meski siang buta meraja. Sampai seulas senyum dari sang pengundang mengembang, wanita dengan gaun mini itu membuka percakapan.


"Sulit ya membesarkan remaja?" tanyanya, "Yah, walau harus aku akui, anakmu punya selera yang bagus. Riswan jadi menikah karena kecerobohan kecil itu."


Lawan bicaranya mendengus, "Sebetulnya apa tujuanmu, Rhea? Aku tak tertarik membahas Binar apalagi Riswan," sahut Tria ketus.


Mantan pacar Riswan itu tiba-tiba menghubunginya. Meski bersahabat lama dengan Riswan, sejujurnya Tria tak begitu dekat dengan Rhea. Wanita itu jarang mau berkumpul atau membaur dengan teman-teman Riswan, dan punya obsesi tinggi pada pendidikan.


Jadi, apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba malah bahas Binar?


Rhea menyecap winenya sebagai penjeda, "Bukankah kau juga mengingkari hubungan mereka? Aku hanya ingin tahu, Tria, kau lebih memihak pada putrimu atau Riswan."


"Kurasa kau tak berhak mendapat jawaban," sinis Tria.


Namun Rhea bukan tipe wanita yang mudah tertohok hanya dengan satu kalimat. Ia malah terkekeh renyah mendengar reaksi Tria.


"Aku mau Riswan, Tria," sahut wanita itu kemudian, "Hanya dia tujuan hidupku sekarang."


"Tidakkah kau memilih orang yang salah? Kita bukan sekutu dalam hal ini, Rhea."


Ia mengangguk-anggukkan kepala sepakat, "Sebagai gantinya, kau bisa mendapatkan Binar. Putrimu itu akan kembali menjadi remaja yang tak pernah menikah dan memiliki anak. Mungkin semua akan kembali seperti sedia kala, sebab ia akan bebas dari status janda."


"Bagaimana? Apa kita masih belum berada di pihak yang sama?" desak Rhea.

__ADS_1


Dalam hening itu, Tria mencerna. Andai dia berpihak pada Rhea, kehidupan keluarganya mungkin bisa menjadi seperti semula. Binar bisa melanjutkan pendidikan, hidup sebagaimana remaja pada umumnya.


Tetapi ia harus berani mengabaikan Riswan. Pura-pura bodoh terhadap keluarga Darmawangsa yang boleh jadi kelak akan dilanda petaka. Tria juga harus merelakan calon cucunya, pergi jauh dari hidup Riswan dan menukarnya untuk buah hati tercinta.


Tria harus bagaimana? Seharusnya resiko yang ditanggung itu sepadan dengan yang ia dapatkan. Binar adalah segala-galanya, dan hanya dengan mendapatkan putri kecilnya-lah Tria bisa melanjutkan kehidupan.


"Kau pasti berdebat dengan dirimu di kepala," ejek Rhea, "Kalau dipikir-pikir, kalian bertiga memang cocok bersahabat. Sama-sama punya banyak pertimbangan."


Wanita itu tentu tak gegabah. Sama seperti gertakannya terhadap Greg dan Riswan, dia tidak buru-buru menagih jawaban. Dengan licik ia ingin mengadu manusia-manusia itu dari dalam. Lantas memetik puncak kemenangannya tanpa susah payah.


"Aku tak mendesakmu, Tria, tapi juga tidak bisa menunggu lama," sambung Rhea dengan santainya.


Tria pribadi masih berusaha memutar otak. Kalau kira-kira penawaran ini diberikan pada Ned juga, pilihan apa yang akan diambil suaminya? Pria itu pasti mengambil peluang di dalam peluang. Memutar kelicikan Rhea sebagai licik yang lebih parah.


Tapi apa?


Dalam jeda berdetik-detik itu ia tak mampu berkata-kata.


"Selain Binar, apa yang aku dapatkan dari keuntunganmu menjadi bagian Darmawangsa?" cetus Tria.


Ia mengisi ulang wine pada gelasnya yang nyaris kosong sempurna, mencari kata yang tepat guna mencari titik lemah rencana Rhea.


"Toh, kalau dipikir ulang, tidakkah lebih menguntungkan jika Binar tetap menjadi istri Riswan? Aku malah bisa mendepakmu dengan mudah," paparnya pantang.


Mendengar hal tersebut Rhea makin tertawa keras, ia sampai memukul-mukul meja marmer di hadapan mereka.


"Kau pikir Binar baik-baik saja di sana? Lagipula, apa kau tak curiga pada Greg Darmawangsa? Aku bisa saja memanfaatkan pria tua itu untuk mencuri Riswan dan menelantarkan Binar."


Rhea menarik napas, "Terserah kau saja, Tria. Berpihak padaku sama artinya dengan menyelamatkan Binar. Aku siap bernegoisiasi ulang soal harta Darmawangsa demi cucumu yang masih dalam kandungan."


Kalimat itu dituntaskan Rhea dengan senyum yang tak memudar. Wanita itu lantas meneguk habis minumannya.


"Aku menunggu keputusanmu, Tria, boleh juga kau diskusikan dengan Ned kalau sulit menemukan jawaban."


Ia meraih tas jinjingnya, memberi tepuk singkat pada pundak Tria sebelum menghilang dari pandangan.


Dalam kesendiriannya, Tria tak berhenti menelaah. Menghitung keuntungan atas keberpihakan yang akan ia pilih nantinya. Akan menjadi tokoh seperti apa dirinya di kehidupan Binar dan Riswan?

__ADS_1


Entahlah, Tria juga penasaran.


__ADS_2