
Mondar-mandir Binar dibuat gamang. Bagaimana baiknya ia mengungkap permintaan maaf? Segala curiga yang dicurahkannya terhadap Intan dan Riswan terbukti tidak benar. Ia salah menilai Riswan.
Apalagi, ia justru menjadi pihak yang menodai pernikahan mereka. Perempuan itu tak berhenti mengutuk dirinya, andai Binar tak tergoda dengan ciuman Sean, pasti rasa bersalahnya tak berlipat ganda.
Satu sisi ke sisi lain rumah di susurinya. Binar menghindari kamar, mustahil ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa di hadapan Riswan. Sembari mengigit jemari, ia bersikeras menimbang. Kepalanya tak henti mengolah kata yang tepat agar adegan maaf itu tampak mulus dan sempurna.
Akan tetapi, ia mendengus berat. Binar merengek pada akal sehatnya yang enggan bekerja. Perempuan itu gagal menemukan sepatah kata, barangkali solusi terbaiknya memang berlututu dan mengaku salah.
Di tengah bisingnya isi otak, kepala pelayan mendekat. Ragu-ragu sejenak, wanita itu tampak serius membaca gelagat Binar terhadap kehadirannya. Hal yang membuat Binar memutar bola mata, perempuan itu sedikit berdecak.
"Ada apa?" spontan saja, kalimat tanya itu terdengar ketus sekenanya.
Wanita itu menyodorkan amplop cokelat, "Ada paket untuk nona, pengirimnya tanpa identitas. Mohon dipertimbangkan lagi sebelum membuka."
Sepersekian detik Binar mengulas ingatan. Sudah lama ia tak berkawan dengan marketplace untuk memesan sebuah barang. Tidak pula ia menggunakan alat komunikasi kuno berupa surat. Jadi, apa isinya? Binar amat penasaran.
"Terima kasih," Binar lekas-lekas menyambar amplop itu dari kepala pelayan.
Masih mencurigai gelagat Binar, kepala pelayan itu tak langsung beranjak. Ia mengamati pergeragan Binar yang makin tampak mencurigakan. Tentu, Binar yang menyadari pengamatan tajam dari si kepala pelayan itu sontak mengubah lagak.
"Aku perlu bicara dengan paman, terima kasih sudah di antar," ia berusaha meyakinkan.
Namun bukannya kamar, Binar menuju ruang belajar. Sulit dimunafikkan, amplop cokelat itu mengundang kecemasan di relung Binar. Isinya menggugah rasa penasaran. Ada yang tidak beres sekarang.
Perempuan itu membuka isi amplop buru-buru dengan rasa ingin tahu yang membuncah. Dan benar saja, betapa terkejutnya ia begitu mendapati isinya. Lutut Binar sontak melemas, sementara sang tangan yang mencengkram foto itu bergetar tak karuan.
***
Ia memijat pelipisnya, melepas kacamata yang bertengger pada hidung seraya mendesah amat panjang. Riswan tak bisa lepas dari bayang-bayang Binar dan Sean yang datang berduaan untuk sesi pemeriksaan kandungan. Secara teknis, Binar bahkan tak pernah memintanya datang.
__ADS_1
Ya, Binar tak pernah mengajak Riswan menghadiri sesi konsultasi kandungan. Jangankan memberi ajakan, basa-basi atau sekadar berbagi jadwal pun tidak dilakukan. Lantas bagaimana bisa perempuan itu mengajak lelaki lain untuk menyambangi si kembar?
Riswan tidak habis pikir dibuatnya.
Sejak mendengar kabar bahwa anak dalam kandungan Binar merupakan bayi kembar, Riswan tak pernah menaruh curiga terhadap buah hati mereka. Jelas, keluarga Darmawangsa mewarisi darah kembar dari kakek kandungnya yang telah lama meninggal. Bayi itu memang bibit asli Riswan.
Tapi mengapa Binar bersikap seolah-olah si kembar adalah milik Sean? Apakah perempuan itu serius ingin menemukan suami baru dan mengajukan perceraian? Kepala Riswan nyaris pecah dibuatnya.
Belakangan ini ia memang lebih banyak bergantung pada Adrian untuk mengurus pekerjaan. Prahara rumah tangga membuatnya tak punya energi lagi untuk mengurus Wangsa Group lebih banyak. Ia memilih menaikan gaji Adrian dibanding stres sendirian.
Riswan hampir memasang kembali kacamata kalau saja Binar tidak mendorong pintu ruang kerjanya dengan kasar. Sorot mata perempuan itu bagai kilat yang menyambar-nyambar. Dalam kondisi seperti ini, tidakkah seharusnya Riswan yang marah?
"Minimal bisa ketuk pintu, kan?" protes Riswan malas, ia lebih terdengar seperti mengeluhkan sikap Binar. "Aku sudah pusing seharian dan kamu malah bersikap seenaknya. Tolonglah, Binar, dewasalah."
Sulit diterka maknanya, Binar meringis tajam, "Apa paman menganggapku sebagai remaja bodoh kekanakan yang mudah diperdaya?"
Pria itu mengurungkan niat dari segala aktifitas. Kesabarannya musnah, pertanyaan Binar itu sukses memantik emosinya. Selagi mereka bicara, maka ijinkan Riswan meluapkannya juga.
"Licik darimananya?" seringai Binar gigih menyerang tanya. Perempuan itu sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah. Membuat Riswan membuang muka sembari meringiskan senyum kecutnya.
"Sean," tukas Riswan langsung pada inti masalah, "Setelah berciuman mesra, jangan pikir aku tidak tahu kalau kalian datang ke pemeriksaan kandungan bersama, Binar. Maksudnya apa? Mau melantik dia sebagai ayah baru buat si kembar, iya?"
"Kalau iya, kenapa?"
*Brakh*
Riswan menggeberak meja kerjanya. Mata pria itu memerah, lurus menatap lekat pada sang istri yang membalasnya tanpa jera. Perang manik mata itu menyuguhkan suasana sesak. Mencekam individu yang bahkan mencoba melintas di depan ruang kerja Riswan.
"Nggak lucu, Binar. Biasakan untuk nggak menjadikan pernikahan ini sebagai candaan."
__ADS_1
"Siapa yang bercanda?"
"Keterlaluan, Binar. Aku yakin Ned dan Tria tak pernah mengajarimu bersikap demikian."
Binar melempar tiga lembar foto penuh tekanan. Membuat lembar-lembar itu berserakan di hadapan Riswan. Potongan gambar yang sukses membuat Binar setengah mati terperangah.
Bola mata Riswan terasa lepas memandanginya. Bagaimana bisa foto kebersamaan dia dengan Rhea diabadikan dalam bentuk gambar biadap? Bahkan pelukan Rhea kala itu dibuat sedemikian rupa hingga tampak begitu sensual dan mesra. Bagaimana bisa?
Siapa tokoh yang berani mencuri adegan itu darinya? Mereka tengah berada di Kalimantan, dan Riswan yakin tak banyak orang yang mengenali mereka di sana. Jadi, bagaimana bisa foto itu bisa tercipta?
"Nggak bisa ngelak, ya? Panik ketahuan?" cibir Binar belum beranjak dari sana, "Rumah tangga kita gagal, Paman. Jadi berhentilah bersikap seolah kamu adalah suami yang menjaga kesakralan pernikahan."
"Demi Tuhan, aku nggak selingkuh, Binar."
"Ya, terus itu apa? Imajinasi pengirimnya? Atau halusinasi yang berusaha dijadikan nyata? Nggak, kan? Apa untungnya ngedit foto kamu sama Rhea? Cari alasan yang masuk akal dong kalo mau ngelak!"
"Siapa pengirimnya?"
Pertanyaan Riswan sengaja Binar gantungkan. Perempuan itu mengulur waktu dengan mengadu pandangan mereka. Lantas memilih jawaban menyimpang di luar dugaan Riswan.
"Kita cerai, Paman," tukasnya sekali telak.
Kalimat yang membuat Riswan spontan langsung bangkit dari duduknya, "Jaga ucapanmu, Binar!" satu peringatan tegas keluar dari mulutnya.
Usai mempermainkan pernikahan, segitu mudahnya kah Binar mengajukan perceraian? Tidak masuk akal.
"Aku sudah muak!" imbuh Binar tepat sebelum beranjak meninggalkan ruangan.
"Binar! Binar!!!"
__ADS_1
Sialnya panggilan Riswan gagal mencegah. Sekalipun mengejar, Riswan lebih dulu ditinggalkan Binar mengenakan taksi online yang melesat. Tak habis akal, pria itu langsung melajukan kemudinya juga. Ia menekan pedal gas secepat yang ia bisa.
Dalam hati, Riswan tak berhenti berdoa. Satu harapan yang belakangan ini tak lekang ia panjatkan kepada Yang Maha Kuasa. Semoga saja pernikahan mereka masih bisa diselamatkan.