Menikahi Putri Kecil Bestie

Menikahi Putri Kecil Bestie
15. Resiko Hamil Muda


__ADS_3

"Sebagai dokter umum, sementara ini saya hanya bisa mengatakan bahwa kondisi tubuh nona Binar kehilangan banyak cairan. Infus bisa sangat membantunya," papar sang dokter tenang.


"Namun untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Sebaiknya nona Binar segera dibawa ke spesialis kandungan secepatnya. Dikhawatirkan gejala pusing dan mual berlebih merupakan pertanda preeklamsia, atau peningkatan tekanan darah dan kelebihan protein dalam urine yang menyebabkan komplikasi berbahaya."


"Kondisi tersebut harus segera ditangani, Pak Riswan. Takutnya mengancam nyawa ibu dan janin jika dibiarkan begitu saja."


Riswan yang sejak tadi berdiri di samping ranjang membuang napas kasar. Ia kemudian melirik Binar yang sadar dalam pembaringan, perempuan itu masih tampak tidak berdaya.


"Kamu denger sendiri, kan?" ujar Riswan ke Binar sebelum mengalihkan pandang pada dokter pribadinya, "Sudah dua lali dia begini, Dok. Apa ada pengaruh dari faktor usia?"


Sang dokter tersemyum ramah, "Usia nona Binar memang krusial, banyak bahayanya. Tapi sejauh ini saya hanya bisa menyarankan untuk atur pola makan, rutin memberi asupan gizi seimbang agar badan tidak lemas dan sakit semua."


"Tuh, kan. Atur pola makan! Bukan makan sekali terus banyak setelah itu nggak makan apa-apa!" omel Riswan.


Binar yang tak berkutik hanya diam. Riswan persis seperti orang tua yang memarahi anaknya pasca minum es sembarangan. Otomatis Binar pasrah, menunduk lemah karena tiada sisa tenaga untuk berdebat.


"Terima kasih, Dok, atas waktunya," sambung pria itu sambil menjabat tangan si dokter, "Mohon maaf mendadak."


"Bukan masalah, Pak. Kebetulan saya banyak longgar. Mari, Pak Riswan, saya permisi."


Sang dokter berlalu. Binar menghindar pandang dari Riswan ke sisi lain pria itu. Ia tak mau tatapan mereka bersitemu. Malas betul, Riswan pasti sudah siap dengan kalimat panjang yang tak acuh.


"Dengar, aku harus kembali ke kantor," kata Riswan diikuti dengus, "Aku sudah suruh kepala pelayan untuk atur jadwal makanmu jadi patuhi saja itu. Satu lagi, guru untuk keperluan pendidikanmu sudah siap. Pastikan lekas sembuh sebelum periode ajar-mengajar.


Tentu Binar tidak menanggapi Riswan. Perempuan itu hanya bicara dengan dirinya dalam bungkam. Mengejek pria yang tadi tampak peduli di hadapan dokter pemeriksa, sementara sekarang sudah mau beranjak pergi meninggalkannya.


"Soal spesialis kandungan, mending datang dengan Adrian. Lebih efektif karena dia berpengalaman," imbuhnya.

__ADS_1


"Cih, mending nikah dengan Adrian aja sekalian. Jadi istri kedua," cibir Binar kesal.


Dipikir bagaimanapun Binar juga tidak berpengalaman. Dia juga baru pertama kali hamil dan menjadi istri seseorang. Tapi bukan berarti Binar bisa mengirim orang untuk pemeriksaan kandungan, kan?


"Oh, kamu pengen punya suami dua?" sahut Riswan tak kalah sarkas.


"Adrian juga lebih suportif dan perhatian," Binar ketus menjawab.


Riswan memincingkan senyuman, "Oh, ya? Maksudmu aku nggak sportif dan perhatian? Pekerjaanku juga bukan buat isi perutku saja, Binar! Menurutmu bayi itu kalo lahir mau hidup pakai apa?!"


"Iya!" bentak Binar dengan bibir bergetar. Kekuatannya mulai berkuasa, Binar berani menatap Riswan. "Dia memang lebih segalanya dibanding paman!"


"Adrian saja masih punya waktu buat keluarga. Dia banyak cerita soal anak dan istrinya bahkan saat bekerja. Kamu, pernah? Yang ada setiap hari isinya cuma kerja, kerja, kerja dan urusan kantormu itu yang nggak ada selesainya!"


Sekali lagi Binar membuang pandangan, meninggalkan Riswan dengan sebujur tubuh yang mengeras.


Meringis kian hambar, Riswan ikut mengalihkan pandang. Pria itu tak mengira Binar akan berkata demikian. Dia telah berusaha semaksimal mungkin sebagai kepala keluarga sekaligus menjalankan bisnis sendirian.


Riswan tak menuntut apa-apa dari Binar. Ia hanya berharap perempuan itu bisa menjaga kesehatan. Bahkan sebisa mungkin Riswan tetap mencari guru kenamaan agar Binar bisa melanjutkan mimpi dan cita-cita. Tapi apa dia bilang?


"Suami seperti Adrian?" sinis Riswan, "Kamu masih boleh menemukannya sekalipun kita sudah menikah!"


Seperti biasa, Riswan yang lebih dulu meninggalkan pertengkaran. Pria itu membanting pintu kamar dengan kasar. Sementara Binar memejam dengan sebutir air mata.


***


Binar terbangun kala kepala pelayan menggugah. Wanita itu telah menyiapkan menu sesuai titah Riswan. Tanpa banyak drama, Binar berusaha menelannya. Meski mual datang seiring hidangan itu menyusup pada kerongkongan.

__ADS_1


Padahal belakangan ini kehamilannya hampir seperti tidak terasa. Apakah benar gara-gara kebanyakan makan? Binar tidak yakin karena rasa mual yang ditimbulkan amatlah berlebihan. Ia mulai khawatir pada penjelasan dokter barusan.


Sembari melahap makanan, Binar berselancar pada mesin pencarian. Ia menelaah lebih banyak tentang gejala dan dampak yang ditimbulkan oleh preeklamsia.


Berdasarkan hasil dari website yang dia temukan. Kondisi ini diduga terjadi akibat kelainan perkembangan dan fungsi plasenta, yaitu organ yang berfungsi menyalurkan darah dan nutrisi untuk janin (Alodokter).


Salah satu faktor yang dapat meningkatkan resiko preklamsia tidak lain adalah karena usia ibu hamil masih di bawah 20 tahun atau lebih dari 40 tahun. Dokter pribadi Riswan benar, kondisi tersebut perlu segera ditangani guna mencegah komplikasi atau berkembang sehingga mengancam nyawa ibu hamil dan janinnya.


Sontak Binar pun menyentuh perutnya. Cemas kian menjamah relung jiwa. Bagaimana jika ia terlambat memeriksakan diri ke dokter kandungan? Bagaimana jika dia terancam kehilangan nyawa?


Binar meletakkan alat makan. Perempuan itu kembali membaca beberapa gejala yang juga terjadi dalam dirinya. Selera makan telah hilang, ganti menjadi kegusaran yang membabi-buta dalam jiwa.


Namun tak sampai usai menamatkan bacaan, Binar merasakan sensasi dahsyat pada kantung kemihnya. Belakangan ia memang sering buang air tanpa aturan. Mondar-mandir puluhan kali hingga sulit ditahan.


Masih memegang poselnya, perempuan itu buru-buru lari supaya tidak buang air kecil sembarangan. Bagaimanapun karpet bekas muntahnya tadi baru dicuci para pelayan, ia tak boleh menyebabkan keributan serupa.


Sialnya belum sempat ia membuka ****** *****, air seni itu sudah membeludak. Betapa terkejutnya Binar ketika bercak darah ikut mengalir bersamaan. Sekarang apa lagi masalahnya? Sayup-sayup Binar mengulang kalimat Riswan di kepala.


Apa yang terjadi dengannya? Apakah jatuh dari ranjang menyebabkan dia pendarahan? Tubuh Binar lemas seketika. Perempuan itu langsung duduk bersandar pada dinding toilet memandangi darah itu dengan nanar.


Ia memegangi perut yang tidak memberikan reaksi apa-apa. Apakah janin dalam perutnya sudah tidak bernyawa? Air mata Binar berdesakan. Ia menahan tangis dengan telapak tangan agar tidak menggema di dalam sana.


Tangan yang gemetar hebat dipaksa untuk menekan panggilan. Nada masuk yang teramat panjang itu menyiksa batinnya. Binar terus berdoa sambil memanggil nama yang tertera pada layar. Perempuan itu langsung terisak begitu panggilan tersebut diangkat.


"Paman," panggilnya Binar. Nada lirih yang tak kunjung mendapat jawaban. Ia tahu Riswan menanti kalimat selanjutnya, "A-ku, keguguran."


Sosok di balik telpon bungkam seribu bahasa, sementara Binar telah meraungkan tangisan.

__ADS_1


__ADS_2