
Entah sudah berapa kali Adrian melirik Binar. Pria itu tampak ragu memilih kata. Takut kalau-kalau perempuan di sampingnya menyalak. Apalagi usai pertengkaran sengit dengan Riswan.
Binar pun menyadari kekhawatiran Adrian. Bagaimanapun, suasana ini menyesakkan mereka berdua sepanjang perjalanan pulang. Meski otak Binar tak pernah sudah memikirkan Riswan, yang memutuskan untuk tinggal demi Rhea.
"Pak Adrian juga kenal Rhea?" tanya Binar memecah keheningan.
Pesawat berada di atas ambang ketinggian. Kelas bisnis yang hanya dihuni mereka berdua membuat Adrian langsung mendengar suara lirih Binar.
Sembari terkekeh ringan Adrian menjawab, "Sebatas tahu aja."
"Memangnya seromantis apa hubungan mereka?" Binar gigih bertanya.
"Uhmmm..." gumam Adrian dengan sangat hati-hati sebelum bicara, "Seperti sepasang kekasih pada umumnya, Binar. Lagipula saat itu mereka masih sangat muda."
"Apa menurut pak Adrian juga sama? Mereka masih saling mencinta sampai sekarang."
Senyum getir Adrian menjelma, "Mungkin," sahutnya sambil memandangi awan dari jendela, "Tapi Riswan bukan tipe orang yang mengkhianati keputusannya, Binar."
"Secinta apapun dia dengan Rhea, walau sulit melupakannya dan begitu ingin kembali menjalin romansa. Riswan teguh pada keputusan yang telah dibuat," papar Adrian panjang lebar.
Pria itu lebih dari sekadar mengenal Riswan.
"Sekalipun keputusannya bulat, tidakkah itu berarti paman Riswan mengkhianati dirinya? Kita juga tidak tahu pasti sampai kapan paman bisa menahan diri dari Rhea."
"Kenapa kamu sulit mempercayai Riswan?"
Binar mendesah pelan, memandang perut buncitnya, "Gimana bisa percaya? Paman selalu abu-abu terhadap pernikahan kita."
Percakapan mereka terjeda. Pada akhirnya mereka menyibukkan diri masing-masing dengan kegiatan. Adrian dengan pekerjaan, dan Binar menjelajahi awan sambil menyiasati musik yang mengalun mesra.
Ia tak memikirkan apa-apa, kecuali Riswan Darmawangsa.
***
"Temani aku di sini, Riswan. Menginaplah," ujar Rhea sembari meraih jemari Riswan yang berdiri di hadapannya.
Wanita itu membuat bibirnya terlihat pucat. Berakting lemas, seakan-akan telah sekarat. Mata sayunya menatap Riswan melas, dengan suara sendu yang dibuat-buat.
"Aku janji akan makan lebih banyak," imbuhnya, "Aku tak bisa hidup tanpamu, Riswan, jangan pergi sekarang."
Riswan menepis tangan Rhea. Pria itu duduk di hadapan sang wanita seraya menyodorkan seperangkat alat makan. Pandangannya tertawan pada Rhea yang hanya memperhatikan, ia bersuara kemudian.
__ADS_1
"Makanlah. Dokter bilang kau kekurangan asupan," titah Riswan, "Akan aku temani sampai kau menghabiskan semua."
Rhea terdiam. Ia menatap makanan dan Riswan bergantian. Pria itu bersikeras untuk meninggalkan Kalimantan. Demi alasan bisnis yang tidak masuk akal.
"Kau masih mencintaiku, kan?" tanya Rhea langsung pada intinya.
Bahkan perlakuan dan perhatian Riswan pun tak mampu mengelaknya. Pria itu sama sekali tidak berubah. Memperlakukan Rhea seperti masih berstatus sebagai belahan jiwa.
"Jawab, Riswan. Apa perasaanku salah?" desak Rhea meminta jawaban.
Seketika itu Riswan langsung mengalihkan pandang. Embus napas beratnya menjadi suara tunggal yang memenuhi ruangan.
"Kenapa tidak kembali padaku dan menceritakan kejadian sebenarnya?" sahut Riswan balik bertanya, "Alih-alih menikahi banyak pria, kenapa bukan pulang padaku saja?"
"Kau bisa apa?" tukas Rhea tanpa jeda. Selagi membicarakan masa silam, mereka perlu meluruskan perkara.
Lagi-lagi Riswan terdiam sejenak. Rhea benar, memangnya, Riswan bisa apa? Melawan Greg Darmawangsa demi wanita? Mana bisa?
"Kalau saat itu aku datang padamu, Riswan. Kau bisa apa? Kita sama-sama tahu sekuat apa Greg Darmawangsa. Mana bisa melawannya hanya demi cinta?"
"Minimal kita bisa mencari jalan keluar bersama," jawab Riswan sambil menyeret ekor mata pada Rhea, "Paling tidak kita masih punya kesempatan berjuang, bukan saling melukai hanya karena salah paham."
"Jadi maksudmu sekarang sudah tidak ada kesempatan?" Rhea gencar menuntut kepastian. Dia mau Riswan, cukup satu pernyataan saja ia mampu menggalahkan rencana.
"Kau mencintaku, Riswan, dan itu fakta."
"Apa kau mencintaiku juga?"
"Tentu saja."
"Apa kau mencintaiku dengan rasa cinta yang sama?"
Giliran Rhea yang mengijinkan hening menjelma, "Cinta bukan sesuatu yang mudah berubah, Riswan. Kau tahu betul alasannya."
"Aku pemain wanita, Rhea."
"Aku tahu, sejak acara pertunangan yang gagal itu, kan? Sudah jelas kau mencintaku dan melampiaskan semua pada ******. Kita masih punya kesempatan, Riswan. Kita bisa mulai dari awal."
Senyum Riswan mengembang hambar. Kalimat panjang yang dituturkan oleh Rhea berdesakan di kepalanya. Kenapa semua terdengar begitu mudah?
"Mulai dari awal?" ringis senyumnya menjadi kecut seketika, "Awal yang mana? Saat kita pertama kali pacaran, atau usai bertunangan?"
__ADS_1
Mata Rhea berkaca-kaca. Ia mengambil punggung tangan Riswan yang tergeletak di meja. Elusan lembutnya ia daratkan, meraya memelaskan nada bicara.
"Manapun asal denganmu, Riswan, aku siap."
Kali ini Riswan tak menepisnya. Membiarkan ibu jari wanita itu mengelus punggung tangannya perlahan-lahan. Mereka hanyut dalam sunyi yang mengakuisisi dunia. Sesak menjamah relung jiwa.
"Aku mencintaimu, Rhea, amat sangat. Kau memiliki ruang di hatiku yang tak pernah kuijinkan disentuh wanita lain di alam semesta. Kau benar, kau selalu jadi pemenangnya," tutur Riswan dalam satu tarikan napas. Membuat iris mereka bertaut kian dalam.
"Tapi aku pemain wanita," imbuhnya mempertegas.
"Aku tidak keberatan, Riswan. Sekalipun kau meniduri ribuan ******, aku bersumpah bisa menerimamu seutuhnya. Cintaku tak pernah berubah. Jadi ayo kita kembali bersama," pinta Rhea dengan air mata yang sudah banjir membasahi pipinya.
Lagi-lagi senyum Riswan yang aneh itu mengembang. Bahasa tubuh yang tak mampu Rhea terjemahkan. Sampai jemari Riswan membalas sentuhan Rhea, pria itu menggenggam punggung tangan Rhea dengan telapak tangan.
"Sayangnya aku yang keberatan."
Satu kalimat dari Riswan itu membuat bola mata Rhea membulat. Sudut bibir Riswan ditarik kian lebar.
"Aku tak akan bermain-main dengan pernikahan seperti yang kau lakukan, Rhea. Bermain wanita tidak sama artinya dengan mempermainkan pernikahan."
Dengan mulut yang tanpa sadar terbuka, Rhea berusaha mencari kesungguhan dari ucapan Riswan. Pria itu tampak tenang. Memperjelas raut wajahnya dengan penuh keyakinan.
"Kalau memang rasa cintamu padaku itu masih tetap sama, tak berbuah sedikitpun sejak kita pertama kali berkencan, maka..." Riswan sengaja menggantungkan kalimatnya di udara. Menghirup napas lantas mengembuskannya susah payah.
Telapak tangan lainnya ikut menggenggam tangan Rhea, tepat sebelum kalimatnya dilanjutkan, "Tolong ikhlaskan pernikahanku sebagaimana aku merelakan empat pernikahanmu yang lainnya."
Suara Rhea tercekat di tenggorokan. Pemaparan Riswan bukan bagian dari rencananya membuat adegan pingsan. Rhea sengaja merayu agar mereka lekas bercinta. Menumbuhkan kembali hasrat tanpa gangguan seorang Binar.
Sia-sia. Genggam erat Riswan membuatnya makin tak bisa berkata-kata. Apalagi mata Riswan yang dibalut kaca tampak retak membentuk butir bening yang merebak.
"Tidak ada kesempatan, Rhea. Kita bukan lagi awal, tapi akhir dari kisah cinta masa silam yang gagal."
Usai menandaskan kalimat itu, Riswan beranjak. Pria itu menatap Rhea lekat sebelum melengangkan langkah dari ruangan. Namun tanpa disangka-sangka, Rhea yang enggan menyerah pada penolakan itu ikut mengejar.
Memeluk Riswan dari belakang erat-erat.
Rhea menyandarkan pipinya pada punggung Riswan. Menahan geliat Riswan yang berusaha meloloskan diri dari sana. Rhea mengaitkan dua tangannya erat, agar lengannya gagal ditepis oleh Riswan.
"Aku bersumpah tak akan mempermainkan pernikahan kita," cicitnya. Riswan bahkan bisa merasakan air mata wanita itu membasahi punggungnya.
Akan tetapi kekuatan Riswan jauh lebih kuat. Pria itu menarik paksa dirinya dari dekapan Rhea. Ia berbalik sambil menjauhkan dirinya.
__ADS_1
"Dan aku sudah lebih dulu bersumpah untuk melindungi pernikahanku dengan Binar. Kita mustahil bersama, Rhea, dan itu fakta."
Riswan purna meninggalkan ruangan.