
“Kata siapa? Aku ada di sini dan siap membantumu, Fin! Menikahlah denganku, dan aku akan memberimu segalanya termasuk pengobatan bapakmu!”
Episode 15 : Kecewa
Raswin terkena tetanus. Persis seperti dugaan beberapa dokter yang menangani di puskesmas.
“Satu detik saja pak Raswin telat dibawa ke sini, kami tidak tahu apakah pak Raswin masih bisa ditolong, atau tidak,” jelas dokter yang menangani.
Fina, Rina, berikut Murni yang menyimak, menjadi bergeming kebingungan. Apalagi setelah itu, dokter juga mengatakan perihal biaya pengobatan yang jumlahnya tidak sedikit. Mereka harus menyiapkan dana dalam jumlah besar. Karena satu malam di ruang ICU saja, bisa tembus hampir tiga juta. Belum sejenis obat yang harus Raswin dapatkan. Karenanya, dokter sampai menyarankan Fina menggunakan kartu jaminan kesehatan untuk biaya pengobatan Raswin, agar tidak terlalu keberatan untuk urusan biayanya.
“Makasih, Dok!” ucap Fina ketika dokter yang menjelaskan perihal keadaan Raswin pamit.
“Sama-sama, Mbak. Tetap sabar dan tolong bantu doanya ditambah lagi agar pak Raswin lekas sembuh,” balas dokter sebelum berlalu dari hadapan mereka.
“Bagaimana, Mbak? Uang puluhan juta, bisa kita dapat dari mana? Belum lagi tetanus bapak juga sampai menyerang jantung?” keluh Rina, sesaat setelah ia meminta Murni untuk mengikuti Raswin yang dipindah ke ruang ICU. Raswin harus di rawat di ruangan yang sangat steril untuk pengobatan tetanusnya.
Fina yang sebenarnya tak kalah bingung, mencoba menyikapi segala sesuatunya dengan tenang. Terlepas dari itu, hingga detik ini ia masih menggantungkan harapannya kepada Rafael.
“Bagaimana pun caranya, asal bapak sembuh, Mbak bakalan terus usaha, Rin!” tegas Fina.
“Siapa yang akan Mbak minta bantuan buat dapat uang sebanyak itu, Mbak? Mbak mau minta bantuan Mas Bian dan keluarganya? Atau malah si gila Ipul?” tanya Rina tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya.
Fina langsung menggeleng cepat. “Jangan sebut mereka lagi! Mbak sudah dendam kusumat sama mereka!”
“I-iya, Mbak. Gara-gara mereka, kita jadi begini ...,” sesal Rina dengan nada suara yang dipenuhi kesedihan.
“Seumur hidupku, bahkan sampai aku mati, aku akan mengingat semua luka dari mereka. Dan akan kupastikan, mereka menderita di atas kebahagiaanku!” tegas Fina.
Melihat kesungguhan Fina di mana tangan wanita muda itu juga sampai mengepal kencang, Rina yakin Fina tak hanya sangat marah, karena kakak perempuannya itu benar-benar terjebak dalam lingkaran dendam.
Rina tak menyalahkan keputusan Fina. Karena jika saja ia berada di posisi Fina, ia bahkan akan melakukan balas dendam lebih sadis kepada Bian terlebih Ipul. Jangankan Fina, Rina saja yakin tidak bisa melupakan kejahatan keduanya, bahkan meski Rina sudah mati. Luka yang Bian berikut Ipul torehkan terhadap Fina sekeluarga sudah sangat fatal!
***
Sepanjang malam terjaga untuk Raswin, Fina juga menunggu kabar dari Rafael yang seharusnya sudah menghubunginya. Fina bahkan sampai terus menatap serius ponselnya dan berharap ada pemberitahuan baru di sana. Sayang, ponselnya benar-benar sepi. Yang menghubunginya hanya sebatas Weni yang begitu rutin menanyakan kabar lanjutan perkembangan kesehatan Raswin.
Paginya, Fina yang terbangun, setelah sempat ketiduran padahal awalnya ia masih setia menunggu kabar dari Rafael, buru-buru memastikan ponselnya. Akan tetapi, semuanya masih sama. Tak ada pemberitahuan baru. Rafael benar-benar tidak menghubunginya!
Fina terheran-heran. Benarkah Rafael tidak berniat membantunya? Bukankah Rafael pria baik yang bahkan telah membantunya cuma-cuma? Namun, kenapa sekarang Rafael justru tidak peduli? Atau jangan-jangan, sopir yang ia titipi pesan justru lupa menyampaikan pesannya? Namun, masa iya? Bukankah kemarin malam saja, sopir itu begitu peduli sekaligus bersemangat menerima titipan pesan darinya untuk Rafael? Sebenarnya, apa yang terjadi?
Rasa kecewa tak bisa Fina hindari. Dengan keadaannya yang sekarang dan benar-benar sulit, membuatnya tidak bisa bersikap tenang apalagi sabar layaknya biasa.
__ADS_1
“Tuhan ... aku selalu ikhlas membantu siapa pun. Namun, kenapa di saat aku benar-benar butuh, orang-orang yang kuharapkan justru menutup mata dan hati mereka?” batin Fina yang menjadi berderai air mata saking nelangsanya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Rina dan Murni masih terjaga. Ia yakin, diamnya keduanya tak hanya karena memikirkan Raswin berikut biaya pengobatan, melainkan Rina dan Murni yang sampai belum makan hanya demi mengirit pengeluaran.
Tanpa berucap bahkan menanyakan keadaan Raswin yang masih ditangani dengan intensif--beberapa alat bantu seperti infus, ventilator, kateter, berikut mesin EKG terpasang di tubuh Raswin--Fina berlalu dari kebersamaan. Dan mendapati itu, Rina bergegas menyusul sesaat setelah pamit kepada Murni. Murni yang terjaga seorang diri untuk Raswin yang sedang terpejam. Keadaan Raswin masih jauh dari stabil. Jangankan makan, berbicara saja masih susah.
***
Fina sudah meninggalkan pintu ruang rawat Raswin sekitar lima meter ketika Rina menyusul. Dan Rina menutup pintu dengan hati-hati, sesaat sebelum meninggalkannya.
“Mbak ...?” panggil Rina di mana seketika itu juga, Fina berangsur berhenti melangkah. Hanya sebatas itu, lantaran Fina tetap diam tanpa melakulan perubahan berarti. Pun meski Rina menyul dan sudah berdiri di hadapannya.
Melihat Fina yang sekarang, Rina yakin Fina tidak baik-baik saja. Fina terlihat sangat kecewa sekaligus marah.
“Mbak harus cari uang ...,” ucap Fina, tepat ketika Rina baru membuka mulutnya dan baru akan memulai obrolan.
Rina menatap cemas Fina yang menjadi sangat tidak bersemangat. Akan tetapi, bukannya membantu, ia justru menjadi menangis di tengah hatinya yang kadung terenyuh. Tentang kesehatan Raswin, biaya pengobatan, juga luka Fina sendiri. Ketiga hal tersebut sampai membuat Rina menyalahkan Tuhan. Menganggap Tuhan tak adil dalam memberikan cobaan kepada mereka. Karena jika memang Tuhan tidak akan memberikan cobaan melewati batas kepada umatnya, kenapa sampai sekarang, mereka masih harus merasakan cobaan?
“Jangan nangis, Rin ... Mbak juga bingung. Bagaimana caranya mendapatkan banyak uang dalam waktu cepat.” Fina benar-benar tak bersemangat. Menatap Rina yang menangis terisak-isak di hadapannya saja, tidak. Tatapan kosongnya tetap turun menembus lantai berwarna putih susu di sekitar mereka.
“Mbak hanya guru honorer yang gajinya enggak seberapa bahkan turunnya enggak pasti ... sedangkan orang yang sempat Mbak harapkan justru bikin Mbak kecewa ....” Fina yang tertunduk mendapati air matanya berjatuhan. Ya, kecewa. Rasa itu tak hanya ia tanamkan kepada Rafael termasuk Ipul berikut Bian sekeluarga, sebab ia juga mulai kecewa kepada Tuhan.
“Kata siapa? Aku ada di sini dan siap membantumu, Fin! Menikahlah denganku, dan aku akan memberimu segalanya termasuk pengobatan bapakmu!”
Suara itu sukses mendidihkan emosi Rina yang seketika itu juga menjadi balik badan, memastikan apa yang ada di belakangnya selaku sumber suara. Rina menatap marah bahkan jijik, sosok yang tidak lain Ipul itu. Perjaka tua berkulit hitam dengan perawakan ceking itu tersenyum dengan bangga menatapnya berikut Fina layaknya biasa. Hanya saja, kali ini, senyum Ipul seolah karena merayakan kemenangan. Pria itu bergaya sarkastis.
Gigi-gigi Rina bertautan kencang seiring kedua tangannya yang menjadi mengepal kencang. “Jaga ucapanmu, Pul! Gila boleh, tapi jangan kebangetan! Langkahi dulu mayatku, kalau kamu mau berurusan sama mbak Fina!” tegasnya.
“Dasar orang gila! Enggak tahu malu! Sudah sibuk memfitnah bahkan kamu terus berusaha menabrak mbak Fina, masih saja mengharapkan mbak Fina! Apa yang kamu lakukan ibarat orang gila yang memakan kotorannya sendiri, Pul! Mikir!” tambah Rina. Sayangnya, Ipul masih menanggapinya dengan santai. Benar-benar kenyataan yang sangat menjengkelkan. Rina bahkan nyaris mencabik-cabik Ipul andai saja Fina tidak menahan sebelah tangannya dari belakang.
Ipul menjadi terkekeh-kekeh. “Sudah, lah, Rin!” ujarnya sambil menunduk untuk beberapa saat, sebelum kembali menatap Rina dan Fina. “Mbakmu saja sadar diri, kok. Memangnya kalian belum tahu, kalau sekarang, orang-orang rumah percaya, kalau Fina wanita enggak bener? Wanita gampangan? Ah ... janda gatel!”
Menyadari Ipul semakin menggila, Fina menahan kedua tangan Rina dari belakang, kuat-kuat. Namun, Rina tak kehabisan akal dalam menuangkan amarahnya. Rina menggunakan kakinya untuk menendang perut Ipul hingga pria itu cukup terempas.
Tubuh Ipul terduduk di lantai. “Kurang ajar, kamu Rin! Aku laporin polisi, ya, kamu!” ancamnya sambil menyeringai kesakitan.
“Kamu mau melaporkanku ke polisi? Enggak salah?! ... justru, aku lah yang bakal melaporkanmu ke polisi!” balas Rina tak gentar. Kemarahannya benar-benar sedang memuncak tanpa bisa ditahan lagi. Andai saja ada benda tajam, Rina pasti juga sudah menggunakannya untuk menghabisi Ipul.
Fina menghela napas pelan kemudian melepaskan tahanannya terhadap Rina. “Cekik sekalian juga enggak apa-apa, Rin! Bungkam mulut busuknya pakai kotoran biar dia bisa merasakan kebusukan mulutnya,” ucapnya pelan sekaligus tak bersemangat.
Tak mau membuang-buang kesempatan, Rina langsung mengambil tong sampah di sebelah Ipul. Rina menuangkan berikut menutupkannya hingga setengah tubuh Ipul tertutup tong sampah menyerupai ember tersebut.
“Rin ... Rin! Gila saja, masa aku masuk tong sampah lagi! Aku enggak bisa napas, Rin!” keluh Ipul yang masih terduduk sambil mencoba melepas tong sampah dari kepala hingga dadanya.
__ADS_1
Belum puas dengan usaha yang dilakukan, Rina mendorong tubuh Ipul, kemudian menendang kepala pria itu hingga Ipul terguling-guling di lantai.
“Ya Alloh, Rin! Sakit, Rin ....”
Ketika Rina semakin menggebu dalam menyiksa Ipul, sampai-sampai beberapa orang yang melintas berbondong-bondong melerai, Fina justru tidak peduli lantaran pikirannya telanjur memikirkan bagaimana dirinya bisa cepat mendapatkan uang dalam jumlah banyak?
“Kalau Rafael enggak merespons, aku akan mendatanginya dan memohon. Daripada aku hutang ke keluarga Bian apalagi Ipul, lebih baik aku menjadi budak Rafael seumur hidupku!” batin Fina yang kemudian langsung bergegas menahan Rina. Ia membawa adiknya untuk menjauhi Ipul.
“Mbak, aku belum puas menyiksa Ipulnya!” protes Rina
Di belakang Rina dan Fina, tampak Ipul yang dibantu empat orang ibu-ibu untuk bangun. Sayangnya, hanya sebatas itu. Sebab keempat ibu-ibu tersebut tampak jijik dan tak mau membantu lebih. Keempatnya berangsur bubar setelah sampai menyarankan Ipul untuk mandi.
“Jangan di sini, Rin. Kita ke sana, biar Ipul enggak lihat!” Fina sengaja buru-buru mengajak Rina mengobrol di lorong rumah sakit yang tidak bisa terjangkau pandangan Ipul.
Fina menuntun Rina ke lorong seberang sambil sesekali melihat apa yang Ipul lakukan. Seperti dugaannya, Ipul tampak mencari-cari dengan tubuh yang hanya sebatas dibersihkan asal, padahal beberapa nasi bercampur bumbu kuning, menghiasi kepala berikut sebagian wajah pria itu.
Setelah kompak memastikan apa yang Ipul lakukan, Fina dan Rina bertatapan.
“Kenapa, Mbak? Sepertinya ada hal rahasia yang ingin Mbak sampaikan?” tanya Rina.
Fina yang nyaris menyandarikan punggungnya pada tembok di belakangnya segera mengangguk. “Kamu Mbak tugasin jaga bapak sama ibu. Mbak mau cari pinjaman uang!” Fina mengangguk setuju, menuntun Rina untuk melakukan hal serupa.
Rina yang kebingungan segera disikut oleh Fina.
“Bilang iya, apa susahnya, sih? Kamu harus jaga bapak sama ibu!” omel Fina.
“Tapi, Mbak mau cari pinjaman uang ke mana, Mbak?” keluh Rina cemas
“Nanti, kalau Mbak sudah dapat, Mbak pasti cerita, kok! Mbak langsung pergi. Tolong doakan Mbak!” ucap Fina yang langsung melangkah tergesa. Di mana, tak lama setelah itu, ia juga sampai berlari.
“Sukses, Mbak!” lirih Rina sambil melepas kepergian Fina
“Ya! Aku akan menemui Rafael dan meminta bantuannya. Dan jika dia tetap tidak peduli, aku akan melakukan segala cara agar dia mau meminjamiku banyak uang!” batin Fina semangat.
Demi kesehatan Raswin berikut kebahagiaan keluarganya, Fina berusaha menyisihkan perihal rasa kecewa yang sempat menyiksanya. Semoga, usahanya meminta bantuan Rafael, tidak sia-sia.
Bersambung ....
Hallo, semuanya, apa kabar? Semoga sehat selalu, ya ^^. Berhubung anak Author masih sakit efek imunisasi dan demamnya tembus 40 derajat, maaf kalau Author updatenya bakalan telat.
Tetap ikuti dan dukung ceritanya. Dan yang sudah baca, tolong jangan pelit like dan komentar kalian, ya. Karena like dan komentar kalian, sangat menentukan nasib cerita ini di Mangatoon atau Noveltoon.
__ADS_1
Salam sayang dan semoga sehat selalu,
Rositi.