
“Jika Masnya benar-benar menghargai Mbaknya, ... seharusnya tanpa harus dipaksa, Mas menikahi Mbaknya sekarang juga,”
Episode 41 : Harus Menikah
“Kenapa, ... senyum-senyum begitu?” ucap Rafael tiba-tiba.
Pertanyaan Rafael sukses membuat kebahagiaan sekaligus kedamaian yang sempat menyelimuti kebersamaan, sirna digantikan rasa sebal.
“A-aku senyum, kan ... gara-gara balas kamu. T-tadi kamu yang senyum duluan!” elak Fina mengatakan yang sebenarnya.
Rafael langsung memasang wajah sebal, dan memang sengaja jual mahal. Terlebih, apa yang Fina katakan memang benar. Rafael dulu yang tersenyum kepada wanita itu.
“Bagaimana ceritanya, aku senyum duluan ke kamu, sedangkan aku enggak merasa?” elak Rafael.
“Sudahlah, ... enggak usah dibahas! Aku enggak mau ribut sama kamu, apalagi ini sudah waktunya orang istirahat. Lagi pula, ... kenapa juga, kamu kembali ke sini, dan bahkan terkesan sengaja mengikuti aku?” balas Fina sambil melipat mukenanya.
Rafael menunduk pasrah. “Aku hanya ingin memastikan secara langsung, kamu belum berubah pikiran dan masih mau memberiku kesempatan,” balasnya masih jual mahal.
Fina yang baru saja menggulung lipatan mukenanya menggunakan sajadah pun menatap bingung Rafael di tengah dahinya yang menjadi berkerut samar. “Berubah pikiran bagaimana, maksudnya?” ucapnya kemudian sambil berusaha berdiri.
Fina kesulitan berdiri dan mungkin karena ia telah duduk dalam waktu lama. Bahkan karenanya, langkah Fina sampai tertatih dengan cukup membungkuk sambil menyeringai kesakitan.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Rafael yang menjadi mencemaskan keadaan Fina.
Rafael sengaja melangkah cepat demi menyusul Fina. Namun, ia tak lantas memasuki mushola lantaran takut, ada peraturan khusus yang harus ia lakukan sebelum melakukannya.
Rafael sengaja berhenti dengan jarak tiga meter di depan mushola, meski dirinya benar-benar mencemaskan Fina. “Kayaknya kamu asam urat, deh ... baru duduk agak lama saja langsung sakit begitu,” ujarnya.
“Kakiku kesemutan semua,” keluh Fina masih menyeringai saking ngilunya.
“Y-ya pelan-pelan ... aku enggak mungkin asal masuk ke situ, kan?” balas Rafael lagi masih menunggu.
Fina merasa, di kedua kakinya seperti banyak benda berat yang menindih, hingga untuk digerakkan saja, sulit bahkan butuh proses dalam melakukannya.
Langkah Fina tak ubahnya robot yang nyaris kehabisan daya batre. Kaku dan pelan. Itu juga yang membuat Rafael segera meraih sebelah tangan Fina, di mana, wanita itu juga langsung berpegangan erat pada Rafael. Fina mencengkeram sebelah lengan Rafael di tengah tubuhnya yang sampai menjadi terhuyung.
“Kalau rutin minum air putih, pasti enggak begitu parah. Ini karena kamu kurang cairan. Kuat jalan, enggak?” tegur Rafael lagi.
“Bentar ... bentar jangan jalan dulu. Beneran sakit ini ....” Fina berangsur jongkol dan berangsur memijat-mijat kedua kakinya, silih berganti.
Fina kembali merasa aneh atas perubahan sikap Rafael yang menjadi begitu memedulikannya. Setelah sempat mengelak tersenyum lebih dulu bahkan terkesan ingin mengajaknya ribut, kenapa kali ini, Rafael begitu peduli tak ubahnya pasangan yang sesungguhnya?
__ADS_1
Karena kali ini, Rafael memperlakukannya dengan sangat baik. Dan ketika Rafael memperlakukan Fina layaknya sekarang, hati wanita itu menjadi hangat diselimuti banyak ketenangan.
“Ehm!”
Suara dehaman dari depan, mengusik kebersamaan Fina dan Rafael. Seorang pria yang mengenakan jubah putih lengkap dengan peci hitam yang menghiasi kepalanya tak ubahnya mahkota.
“Mbak sama Masnya, malam-malam, lagi ngapain, ya?” tanya pria itu menatap curiga Fina dan Rafael silih berganti.
Fina dan Rafael refleks terdiam bingung seiring kedua mata mereka yang menjadi sibuk mengerling. Kemudian, dengan dahi yang menjadi sama-sama berkerut, Fina berhenti memijat kakinya. Fina berangsur berdiri dan masih dibantu Rafael yang sampai merangkul punggungnya.
Rafael cukup mengangkat Fina melalui rangkulan punggung yang dilakukan, hingga wanita itu bangun dengan cukup mudah.
“Seperti yang Bapak lihat, ... menurut Bapak, ... bagaimana?” balas Rafael dengan santainya dan memang tak mau ambil pusing apalagi ia merasa tidak kenal dan memang tidak memiliki urusan dengan pria tersebut.
“Mas dan Mbaknya, sudah menikah?” lanjut si pria.
Fina dan Rafael hanya saling mengerling tanpa bisa benar-benar menjawab.
Namun, Rafael yang merasa dihakimi, memilih untuk mengankihi dengan berkata, “dalam waktu dekat. Dalam waktu dekat kami akan menikah. Masih dalam tahap persiapan akhir.”
“Astagfirullahaladzim ....” Pria dewasa yang kiranya berusia di akhir tiga puluh tahunan itu mengeleng sambil menatap tak habis pikir Rafael.
Bagi Rafael, cara berpikir pria di hadapannya sangatlah sempit. Namun tidak bagi Fina yang mulai merasa kurang nyaman. Fina bahkan merasa apa yang dialaminya dan Rafael kini bertanda buruk.
Seperti apa yang Fina takutkan, dugaannya memang benar. Pria di hadapannya menganggap buruk kebersamaannya dengan Rafael.
“Tapi kami enggak ngapa-ngapain, lho, Pak. Saya baru sholat malam, dan dia hanya membantu saya karena kaki saya sakit,” jelas Fina berusaha meyakinkan.
Lain halnya dengan Fina yang masih mau berusaha, Rafael yang telanjur kesal pun sampai tidak sudi menatap pria di hadapannya.
“Bagaimanapun keadaannya, kita enggak tahu apa yang telah terjadi termasuk bagaimana pemikiran orang lain terhadap kita, kan? Hanya Alloh yang benar-benar tahu dan Maha Adil. Jadi, tidak mungkin juga saya atau pun orang lain yang melihat kebersamaan Mas dan Mbaknya, juga bisa memikirkan seperti apa yang kalian harapkan,” balas si pria dengan banyak keyakinan kebenarannya.
Kali ini, Rafael menelan ludah yang tiba-tiba saja terasa begitu kasar.
“Tapi demi Alloh, Pak ... kami enggak ngapa-ngapain!” Fina masih berusaha meyakinkan.
“Fina ... cukup!” ucap Rafael kemudian sambil menatap pria di hadapan mereka dengan banyak kemarahan.
Si pria balas menatap Rafael sambil kembali menggelang tak habis pikir. Sedangkan yang terjadi pada Fina, wanita itu sampai menangis saking terpukulnya berada dalam keadaan sekarang yang membuatnya sangat tersudut. Bahkan, ... apa yang Fina alami kali ini jauh lebih membuat wanita itu malu ketimbang dipulangkan Bian setelah sepekan usia pernikahan.
“Ya Alloh ... kenapa cobaan yang datang begitu bertubi?” batin Fina sambil menunduk dan menyeka air matanya menggunakan jemari yang tidak mendekap perlengkapan sholatnya.
__ADS_1
“Jika Masnya benar-benar menghargai Mbaknya, ... seharusnya tanpa harus dipaksa, Mas menikahi Mbaknya sekarang juga,” jelas si pria penuh penuntutan sekaligus kepastian.
Mendengar itu, jantung Fina seolah terlepas dari posisi sebenarnya. Ia menatap pria di hadapannya berikut Rafael dengan pandangan tak bercaya di tengah air matanya yang kian rebas.
“Baik! Tapi sampai sekarang, saya belum memeluk agama islam! Jadi tolong, bantu saya untuk masuk agama islam juga. Dan setelah ini, jangan memandang rendah wanita yang ada di sebelah saya lagi!” balas Rafael. Meski ia berbicara dengan nada lirih, tetapi kemarahannya justru semakin mendidih.
“Alhamdullilah. Baiklah. Kebetulan, saya bersama beberapa sahabat saya dari pesantren, sedang menjaga sahabat yang sedang dirawat di sini. Jadi saya akan langsung menghubungi dua orang dari mereka untuk menjadi saksi.”
“Ya ... lakukan secepatnya. Terima kasih!” balas Rafael masih belum bisa meredam kekesalannya.
“Mas dan Mbaknya tunggu di sini. Saya akan memanggil sahabat saya dulu,” sergah si pria yang kemudian bergegas pergi.
“Ya, pergilah. Kami akan menunggu di sini!” balas Rafael dan kali ini tanpa menatap si pria yang pergi dengan langkah tergesa.
“Tapi, Raf ... bagaimana aku menjelaskan sama orang tuaku, sedangkan--”
“Kamu enggak usah menjelaskan apa-apa. Biar aku yang urus semuanya!” tegas Rafael masih terlihat sangat marah.
Fina menunduk loyo seiring tubuhnya yang sampai menunduk dan membuatnya jongkok. Fina melipat kedua tangannya di atas lutut dan menyandarkan wajahnya di sana.
Rafael menatap tak tega Fina yang sampai terisak-isak. “Apakah seharusnya aku memang enggak ke sini? Namun ... kenapa tadi, aku begitu ingin ke sini?” batainnya yang kemudian menghela napas dalam sambil terpejam pasrah.
“Sebenarnya ini cobaan atau malah jawaban dari doa-doa yang baru kupanjatkan?” batin Fina tak kalah pasrah.
Fina dan Rafael benar-benar tidak menyangka, jika perubahan yang begitu drastis bisa menghampiri mereka tanpa diduga layaknya sekarang. Terlepas dari itu, Fina menghargai tanggung jawab Rafael yang tetap tidak meninggalkannya di tengah kenyataan yang tentunya juga menyudutkan pria itu.
Dan sekali lagi, Fina masih tidak percaya. Dia akan menikah untuk yang ke dua kalinya dalam sebuah paksaan tanpa disertai persiapan?
Meski Fina telah mengabarkan perihal pembatalan pernikahan kepada Bian yang nyatanya sudah Rafael daftarkan ke pihak pengadilan, tetapi sungguh, Fina tetap saja sulit percaya, jika dalam hitungan menit ke depan, ia akan kembali menikah.
Bersambung ....
Catatan : Ada beberapa pembaca yang meninggalkan komentar buruk ketika sudah sampai di titik ini dengan alasan, ceritaku ini menjelekkan agama lain.
Duh, begini, yaaa. Perihal adegan menggrebek, dinikahan karena berduaan, itu kejadian yang lazim. aku nulis ini karena aku cek lapangan dan itu tetangga Author sendiri. Dan sekarang pasangan itu sudah punya anak 2. Maaf, setting trmpat memang aku samakan dengan kampungku meski aku enggak nyeritain secara detail. Aku asli orang kampung dan aku juga islam.
Satu lagi, perihal panggilan Kafir memang sangat sensitif. Tapi masa iya kalian langsung mikir karya ini menjatuhkan agama lain atau menyikut agama lain? Fakta di lapangan ada. Saling umpat kata tersebut, dan di sini, tokoh yang mulai begitu kan Ipul. Sedangkan kalian tahu, sosok Ipul ini diragukan kewarasannya.
Jadi, tolonglah jangan mikir aku menjatuhkan atau menyikut-nyikut agama. Dan jika Rafael enggak masuk Islam, dia enggak bakalan bisa nikahin Fina. Namun jika pemikiran ini salah, tolong diluruskan. Karena yang aku tahu, memang begitu.
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.