
“Seburuk-buruknya aku di mata kamu, sebenarnya aku sayang lho, sama kamu. Kalau enggak, ... buat apa aku begini? Bahkan gara-gara kamu, aku jadi melakukan banyak hal yang sebelumnya, belum pernah aku lakukan.”
Episode 58 : Di Jakarta
Rafael terbangun dengan posisi pria itu yang masih mendekap Fina, ketika suara pintu samping bagian tengah mobil, terdengar.
Mereka sudah sampai di Jakarta. Di rumah Impian Rafael, yang sudah Rafael siapkan jauh-jauh hari. Rumah pribadi Rafael yang sempat pria itu impikan untuk ditinggali bersama Sunny. Namun, semuanya benar-benar berubah, semenjak Fina tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dan bukankah, semuanya berawal dari saling mrmbutuhkan bahkan Rafael hanya sebatas meminta Fina untuk bekerja menjadi istrinya, tetapi, kenapa mereka justru menjadi sedekat sekarang?
Rafael menatap bingung kenyataannya. Ia yang mendekap erat tubuh Fina, sedangkan wanita tersebut juga tidur begitu pulas, dan tetap bertahan, meski satu-persatu penghuni mobil tanpa terkecuali Rina yang ada di sebelah mereka, berangsur turun.
Rafael sengaja tidak membangunkan Fina. Ia membopong wanita itu, bahkan hingga mereka masuk ke rumah.
Suasana di dalam rumah megah Rafael tampak temaram lantaran lampu rumah hanya dinyalakan di beberapa sudut saja, dan itu lampu yang menyalanya redup.
Rona kagum terus terpancar dari cara Raswin, Murni, berikut Rina sembari mengamati suasana rumah Rafael. Karenanya, Rafael sengaja memimpin langkah, agar keluarga Fina tidak semakin mati gaya. Terebih ketika baru akan menginjakkan kaki di anak tangga menuju pintu masuk beranda rumah, Rafael sampai mendengar perbincangan lirih dari belakangnya.
“Pak, ... Bu ... jangan malu-maluin, lho ... nanti sandalnya jangan langsung dicopot kayak yang di televisi-televisi. Lihat Mas Rafael saja. Kalau Mas Rafael lepas sepatu, kita ikut. Nah, kalau enggak, kita juga ikut,” bisik Rina yang berdiri di antara Murni dan Raswin.
Rina sengaja menggandeng orang tuanya sembari memberi aba-aba. “Si Mbak Fina kok anteng banget tidurnya, ya? Enggak biasanya. Tuh tuh, lihat. Bikin susah Mas Rafael saja.”
“Hus! Mbakmu kayaknya sedang enggak enak badan. Tadi saja tubuhnya sudah hangat pas tidur di pangguan Ibu,”
Rafael yang sengaja menyimak, berangsur melepas sepatunya ketika pria itu baru masuk ke ruang pertama di rumah tersebut. Di ruangan yang tidak begitu luas itu, ada sofa besar berwarna hitam yang begitu mengkilap, bersanding dengan meja kaca yang cukup panjang.
Ornamen di rumah Rafael yang dindingnya sampai mengenakan walpaper warna putih gading, masih kental dengan gaya tionghoa. Masih banyak hiasan patung Budha di sana tanpa terkecuali di tengah-tengah meja yang ada di ruang pertama rumah Rafael dan baru saja mereka tinggalkan.
Dua orang ART di sana, membawa Raswin dan Murni ke kamar yang sudah disediakan. Pun dengan Rina yang nyatanya juga mendapat jatah kamar sendiri. Kamar Rina berada di seberang kamar Raswin dan Murni. Sedangkan Rafael yang masih menggendong Fina, menaiki tangga menuju lantai atas, sesaat setelah pria itu pamit dari kebersamaan.
“Kalau Ibu dilepas sendiri di rumah ini, kayaknya Ibu bisa nyasar, Rin!” bisik Murni.
“Kalau gitu, Ibu jangan pada jalan jauh-jauh kecuali di depan kamar atau kamarku,” pesan Rina sebelum perpisahan mereka.
Ketiganya berpisah, mengikuti tuntunan ART yang menuntun mereka lantaran Rafael sudah menugaskan orang untuk membantu mereka.
Dan ketika masuk kamar, Murni dan Raswin bahkan Rina, dibuat tak percaya dengan kamar yang akan mereka tempati. Sungguh, kehidupan mereka yang mendadak berubah dalam sekejap, tak ubahnya mimpi dalam cerita di layar kaya yang kerap menghiasi televisi. Terlebih di kamar mereka juga sampai dilengkapi kamar mandi sekaligus bak rendam berukuran besar.
“Gila Mbak Fina ... jadi ratu, dia! Bisa-bisanya Mbak Fina sampai nikah sama Mas Rafael yang kaya raya begini, ya?” gumam Rina sambil guling-guling di kasur empuknya, sesaat setelah ART yang membantunya, pergi lengkap dengan menutup pintu kamar Rina.
Di atas tempat tidur bernuansa putih tersebut, Rina yang tidur terentang di tengah-tengah kasur, juga sampai membayangkan. “Andai, ... aku juga kayak mbak Fina ... nikah sama Keandra ... tapi, ... buat sampai ke titik ini saja, mbak Fina juga enggak mudah. Dia harus mengemban banyak rasa sakit bahkan fitnah, termasuk dari aku dan ibu ketika akhirnya mbak Fina pamit ke Jakarta.”
Dan Rina tidak yakin, dirinya bisa seperti Fina andai saja ia diberi kesempatan untuk menjalani apa yang ia bayangkan ; menikah dengan Keandra.
***
Fina terbangun ketika Rafael hanya tinggal melewati empat anak tangga yang tersisa. “Raf, kita sudah sampai?” tanyanya dengan suara berat.
Fina bahkan tidak berniat benar-benar membuka matanya, lantaran selain merasa sangat pusing, ia juga tidak bisa menepis rasa kantuk yang terus menyerangnya, begitu saja.
“Kamu sudah tidur dari kemarin, masih saja ngantuk?” ujar Rafael tanpa melakukan berarti. “Aku pikir, mataku lebih sipit dari kamu, ... kenapa kamu justru lebih boros kalau urusan tidur?” gumam Rafael.
“Jadi dengan kata lain, menurutmu orang yang hidungnya besar juga lebih boros udara dalam bernapas, ketimbang yang hidungnya kecil? Jiaahh ... body shaming ini namanya.” Bahkan untuk kali ini, Fina masih meringkuk berikut kedua matanya yang masih terpejam damai.
__ADS_1
“Berani berkomentar lagi, aku buang tubuhmu ke bawah, ya. Aku lempar ke bawah, mau?” ancam Rafael hanya untuk menakut-nakuti Fina saja.
“Kalau memang iya kamu mau melakukannya, ... berarti kamu siap-siap jadi duda, Raf ....”
“F-fina ...!”
“Aku serius! Jangan mengajakku berdebat, sedangkan kepalaku sakit begini. Enggak fair. Serius, ini puyeng banget.”
“Kebanyakan tidur kamu ....”
“Kayaknya aku masuk angin, deh .... gara-gara subuh kemarin aku keramas ....”
Rafael terus melangkah dan hanya begitu bahkan meski pada akhirnya, Fina kembali meringkuk tidur dalam bopongannya. Pun meski tak lama setelah itu, tiba-tiba kedua tangan Fina mengguncang-guncang kemeja lengan panjang bagian dada yang Rafael kenakan.
“Apa lagi? Jangan banyak gerak kenapa? Tubuhmu makin berat, tahu, enggak? Janan sendiri kalau begitu, ya?” omel Rafael.
Fina segera menggeleng. “Serius, Raf ... kepalaku pusing banget. Tapi ... ini di mana? Rumah ini, kan?” balas Fina yang sampa memaksa kedua matanya untuk mengamati suasana sekitar.
“Bukan, bukan rumah. Ini gua ... gua Hira tempat Nabi Muhammad SAW, menerima wahyu, kan?” balas Rafael masih terdengar asal.
“Lama-lama aku bisa beneran gila, kalau terus ngikutin kamu, deh ... aku serius, Raf ... ini di rumah siapa? Dan aku juga serius kalau kepalaku juga pusing banget,” keluh Fina yang untuk menggenggankan tangannya saja sudah tidak sanggup.
Kini, Rafael sudah sampai membawa mereka ke sebuah kamar. Pria itu segera menggunakan sikutnya untuk menyalakan lampu kemudian berjalan lagi dan membawa Fina ke kasur megah berukuran besar yang ada di sana.
“Ini rumahku ... rumah pribadi. Bukan rumah orang tuaku,” ucap Rafael kemudian yang langsung menyaut sebotol air mineral dari nakas kemudian memberikannya kepada Fina.
“Terus, Rina sama orang tuaku ke mana?” tanya Fina lagi sembari menerima air minum kemasan botolnya dari Rafaek. Ia menatap serius pria itu yang sepertinya mulai kesal lantaran ia terlalu banyak bertanya.
“Tentu mereka sudah di kamar. Masa iya, aku menelantarkan mereka?” omel Rafael.
Mendapati Fina yang bahkan sampai terkesan tidak kuat membuka mata, pun meski kali ini wanita itu sudah duduk di atas kasur, membuat Rafael menjadi mencemaskan wanita itu.
Rafael segera duduk, sedangkan kedua tangannya meraba kening berikut leher istrinya. “Kamu beneran sakit? Panas lho tubuhmu?”
“Tolong panggilin Rina, ya, Raf. Aku harus segera kerokan, kalau enggak hasilnya fatal,” gumam Fina yang kemudian memilih meringkuk. Terlebih selain pusing, tubuhnya juga sudah mulai meriang dan terasa panas dingin.
“Bentar, aku ada obat pereda demam sekaligus pusing.” Rafael beranjak menuju keberadaan kopernya yang sempat ia bawa ke rumah Fina. Di sana ada perlengkapan obat dan salah satunya seperti yang baru saja ia katakan kepada wanita itu.
“Enggak mempan, Raf ... serius enggak mempan. Kalau masuk angin, aku cukup sekaligus wajib kerokan, kalau enggak ya enggak sebuh. Bisa nyerang ke lambung. Kembung, diare bahkan muntaber, kemudian tifus ... sudah jangan ngajak aku ngobrol apalagi debat. Aku beneran enggak kuat.”
Rafael yang sudah mengambil dua buah kapsul kecil berwarna kuning dan orange, menjadi menatap bingung Fina. “Harus kerokan?” lirihnya memastikan.
“Hm ... tolong panggilkan Rina sebentar,” saut Fina yang masih saja terpejam.
Fina benar-benar tak berdaya hanya karena masuk angin. Tak hanya pusing berlebihan berikut tubuhnya yang menjadi meriang. Sebab wanita itu juga sudah mulai merasa mual berikut perutnya yang juga turut kembung.
“Kenapa harus Rina? Biar aku saja ... enggak lucu kalau jam segini aku minta bantuan orang buat ngerokin istriku sendiri,” gumam Rafael yang kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana sebelah kanan yang dikenakan.
Mendengar itu, Fina memaksa kedua matanya untuk memastikan apa yang sedang Rafael lakukan.
“Cara kerokan yang aman ...,” gumam Rafael yabg serius melakukan pencarian di laman youtube.
“Gila saja, ... mentang-mentang orang kaya, dia enggak tahu cara kerokan?” cibir Fina lirih. “Sudah deh, Raf ... panggilkan Rina saja. Serius, rasanya sudah enggak karuan banget tahu. Jangan jadikan aku bahan eksperimen,” keluhnya.
__ADS_1
“Oke, aku tahu. Dikeroknya searah!” sergah Rafael bersemangat. “Aku butuh koin dan minyak angin!” Rafael benar-benar mengabaikan teguran Fina yang memintanya untuk tetap memanggilkan Rina.
Karena sebenarnya, Fina masih merasa sangat malu, jika harua membiarkan Rafael melihat tubuhnya tanpa sehelai kain pun. Itu juga yang membuatnya bersikeras meminta dipanggilkan Rina.
“Sudahlah Fina, jangan banyak protes. Kalau aku bisa, kenapa harus meminta orang lain? Kenapa, kamu malu? Hei ... semenjak kita menikah, ini ... itu ... itu, semua yang ada pada dirimu sudah menjadi milikku!”
Fina yang benar-benar pasrah segeramengangkat sebelah tangannya, menandakan jika ia menyerah. “Ya sudah ... tutup matamu dulu. Aku mau buka baju.”
Bukannya melakukan apa yang Fina minta, Rafael justru terlihat begitu bersemangat, buru-buru duduk di sebelah Fina dengan sebuah uang logam lengkap dengan sebotol minyak angin yang pria itu genggam.
“Tutup mata! Ribet bener, sih?” keluh Fina.
“Apa salahnya? Cepat buka baju. Aku suka kalau lihat kamu buka baju!” balas Rafael masih bersemangat.
Fina yang kadung kesal, meraih sebuah bantal di sisinya, kemudian melemparkannya ke wajah Rafael. “Dasar bayi bangkotan!” Ia melakukan itu dengan susah payah, lantaran ia memang sudah tidak bertenaga.
Rafael terkikik sambil menyingkirkan bantal dari wajahnya, kemudian menepikannya.
“Tutup matamu ....”
“Iya ... iya. Tapi aku mau ngintip. Sedikit!” Rafael benar-benar bahagia lantaran ulah jailnya sukses membuat Fina uring-uringan.
“Rafael ...!”
“Baiklah ... baiklah ... aku balik badan,” ujar Rafael yang sebenarnya sudah terpejam, tapi memang terkadang akan mengintip.
“Seburuk-buruknya aku di mata kamu, sebenarnya aku sayang lho, sama kamu. Kalau enggak, ... buat apa aku begini? Bahkan gara-gara kamu, aku jadi melakukan banyak hal yang sebelumnya, belum pernah aku lakukan.” Meski masih menahan tawa, tetapi Rafael serius dengan ucapannya.
“Mmm ....” Dan meski Fina sudah nyaris sekarat karena kewalahan menahan masuk angin, tetapi apa yang baru saja Rafael katakan, sukses membuatnya tersipu. Bahkan Fina seperti di terbangkan ke atas awan seiring hatinya yang juga menjadi berbunga-bunga.
Rafael tahu, tak selamanya ungkapan cinta juga akan dibalas dengan hal serupa, karena terkadang, rasa malu bahkan gengsi membuat yang bersangkutan justru melakukan hal yang tidak seharusnya. Seperti dirinya, ... bahkan mungkin Fina.
Jadi, meski mereka acap kali terlibat dalam perdebatan sekaligus perselisihan, sebenarnya mereka juga saling menyayangi. Menjaga dan selalu ingin memberikan yang terbaik.
Dan ketika drama kerokan usai, Rafael yang sampai menyelimuti tubuh Fina dengan selimut tebal di tempat tidur mereka tanpa terlebih dulu membiarkan wanita itu memakai bajunya kembali, juga terpaksa krmbali membangunkan Fina yang sudah terpejam jauh lebih damai.
“Minum obat dulu, biar langsung sembuh!” Rafael susah payah membangunkan Fina. Membuka mulut wanita itu kemudian memasukkan paksa obatnya lantaran Fina menolak minum obat.
Selain sibuk menggeleng, Fina juga nyaris mundur. itu juga yang membuat Rafael mencubit hidung Fina dan melakukannya cukup lama.
“Beres! Selamat istirahat! Aku juga mau istirahat!” ucap Rafael dengan bangganya.
Fina mendengkus sebal melepas Rafael yang segera pergi, masuk ke lorong sebelah. Dan tak lama setelah itu, Fina yang sudah setengah sadar mendengar suara air mengucur dari sana.
Mungkin dua puluh menit kemudian, Rafael yang sudah berganti pakaian dengan kepala pria itu yang juga masih setengah basah, keluar dari lorong yang sama. Sedangkan di atas kasur, Fina yang meringkuk dalam gulungan selimut, benar-benar sudah terlelap.
Rafael tersipu mendapati kenyataan tersebut. Ia terus melangkah dan memilih merebahkan tubuhnya persis di hadapan Fina, kendati di kasur belakang Fina, jauh lebih luas dan bahkan bisa membuat Rafael guling-guling dengan bebas, jika memang pria itu mau.
“Wanita seperti ini, ya, yang gampang bikin aku emosi, tapi gampang juga maafinnya ....” Rafael meringkuk, membuatnya mendekap Fina dengan dagunya yang sengaja ia letakkan di atas kepala wanita itu. “Selamat tidur. Masih banyak hal yang harus kita lakukan setelah ini,” bisiknya di tengah kenyataannya yang telah terpejam.
Bersambung ....
Yuk, like dan komennya jangan ketinggalan. Vote juga, yaaa. Karena semakin rame, semakin naik juga performa ceritanya. Serius, pas dua episode sebelum ini. Like tertinggi pertama di cerita ini yang tembus 200, langsung bikin level ceritanya naik satu peringkat.
__ADS_1
Yuk diserbu lagi biar Authornya tambah semangat. Vote juga, yaaa. 😂😂. Di episode selanjutnya, Ipul yang masih galau bakal ngadain siaran langsung buat cari mai oli wan Dek Fina, via FB 😂😂😂😂
Sambil menunggu lanjutan cerita ini, kalian juga bisa baca cerita Author yang “Selepas Perceraian” soalnya Author juga lagi kebut cerita itu 😂