Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 39 : Belum Ada Titik Terang


__ADS_3

“Jika terus bersama, kami enggak akan terjebak dalam banyak kejadian konyol, kan?”


Episode 39 : Belum Ada Titik Terang


“Apakah ini juga yang membuat Sunny tidak mau menikah denganku? Karena perbedaan keyakinan di antara kami ...?” batin Rafael dengan kedua tangan yang kembali tersimpan di saku sisi celana yang dikenakan.


Rafael memang tidak mungkin kembali pada orang tuanya dengan kabar buruk perihal hubungannya dan Fina. Akan tetapi, Rafael juga tidak mungkin kembali dengan kenyataannya yang mendadak pindah keyakinan hanya untuk menikahi Fina, meski selama ini, dirinya tidak percaya agama. Namun, ... Rafael juga tidak mau terjebak dalam perjodohan, sedangkan bersama Fina, Rafael sudah mulai merasa nyaman.


Kali ini, sambil menghela napas pelan, Rafael menatap serius Fina yang masih tertunduk bingung. Begitu banyak kesedihan yang terlihat sedang wanita itu pikirkan. Akan tetapi, kesehatan Fina menjadi prioritas


Rafael terlepas dari polemik perbedaan keyakinan yang menjerat mereka. Dan jika saling menghormati kepercaan tidak bisa mengantarkan mereka pada pernikahan, mau tidak mau salah satu dari mereka harus mengalah. Salah satu dari mereka


harus meninggalkan dan mengikuti keyakinan yang disepakati.


“Baiklah ...,” ucap Rafael akhirnya lantaran Fina begitu keras kepala tidak mau menjalani pemeriksaan kesehatan, sebelum Rafael memberikan kepastian perihal masa depan hubungan mereka.


“Kamu, ... kamu begitu ingin menikah denganku?” lanjut Rafael sambil memiringkan kepalanya, dalam menatap Fina.


Fina yang refleks menengadah, menatap Rafael dengan wajah terkejut. “K-kok, ... begitu? Bukannya kamu yang ngebet minta nikah bahkan secepatnya?” balasnya tak mau dipandang sebelah mata apalagi


disalahkan. Terlebih, yang dari awal sibuk mengajak menikah memang Rafael, kan?


Rafael yang langsung menepis tatapan Fina berikut anggapan wanita itu, menjadi berdeham. Rafael sengaja jual mahal. “Ya sudah ... kalau begitu, kamu ikut agamaku saja.” Ia mengatakannya tanpa menatap


Fina.


Rafael benar-benar ingin melihat tanggapan Fina, terlepas dari Rafael sendiri yang ingin melihat seberapa dalam Fina mengenal agama.


Tiba-tiba saja, Fina menjadi lemas dan gemetaran. “Enggak ada pilihan lain?” tanyanya yang tiba-tiba saja juga menjadi merasa sangat bersedih.


Fina memang tidak begitu mengenal agama. Namun sejauh ini, ia cukup paham perihal dasar-dasar dalam agamanya. “Aku hanya meminta itu, lho, Raf ... selebihnya, aku enggak akan menuntut apa pun. Aku akan bekerja menjadi istrimu sesuai kemauanmu,” ucapnya sambil menunduk lemas.


Tatapan Fina mengamati kedua punggung kakinya yang mengenakan sepatu flat warna hitam. Sepatu flat yang juga membuatnya merasa sangat nyaman karena bahan berikut harga sepatu pemberian Rafael itu, diyakininya sangat mahal tak ubahnya sandang pakaian yang kali ini ia kenakan. Terlebih sejauh ini, Rafael memang selalu memberinya yang terbaik.


Namun, apakah untuk urusan perbedaan keyakinan, pria itu juga bisa memberinya yang terbaik?


“Bukankah kita masih memiliki waktu? Kita bahas ini besok saja. Dan bukankah sebentar lagi, kamu harus memimpin rapat?” ucap Fina.


Sebenarnya, Fina tidak bisa menerima keputusan Rafael perihal pria itu yang meminta Fina untuk mengikuti keyakinan sekaligus agama Rafael. Fina tahu, apa yang ia rasakan juga sama, denga apa yang Rafael rasakan. Namun, ... Fina juga tidak mau jika seandainya Rafael sampai menjadi mualaf, pria itu melakukannya dengan terpaksa. Jadi, maksud Fina mengatakan masih memiliki waktu, karena Fina juga ingin Rafael kembali memikirkan keputusan yang akan diambil, tanpa harus buru-buru dan nantinya bisa menyesal.


“Kita tidak memiliki banyak waktu. Karena ketika aku kembali ke Jakarta, otomatis lusanya orang tuaku juga akan langsung ke sini. Sedangkan besok juga, kita akan menemui mantanmu untuk menyelesaikan


semua urusan kalian,” ucap Rafael dengan wajah berikut suara yang datar. Rafael menjadi tak bersemangat.


“Jangan memikirkan hal lain termasuk rapat. Semua itu masih bisa kuatasi. Sekarang kamu cek kesehatan dulu. Aku akan memikirkan ini sambil menemanimu cek kesehatan.” Rafael masih berusaha meyakinkan Fina.


“Kenapa harus begitu buru-buru?” keluh Fina. “Kenapa kita harus buru-buru menikah?”


“Karena sampai sekarang pun, orang tua dan kakekku masih curiga. Mereka masih meragukan hubungan kita.” Rafael mengatakan itu penuh keyakinan.


“Setelah itu?” tanya Fina dan memang sangat ingin tahu. Ia menatap Rafael penuh kepastian.


Dengan dahi yang menjadi berkerut samar, Rafael menatap Fina dan berkata, “setelah menikah?”


Fina segera mengangguk tanpa mengakhiri tatapannya pada Rafael.


Rafael menunduk sambil mengangguk-angguk, mencoba membaca apa yang akan terjadi setelah ia menikah. Ia menerka-nerka. “Sepertinya mereka akan langsung meminta anak, dan berpikir, seolah-olah anak bisa dimiliki dengan mudah, layaknya kita sedang mendonload lagu bajakan di situs web!”


Balasan Rafael membuat Fina tertunduk loyo seiring ia yang juga refleks mengembuskan napas panjang dan berakhir dengan mendesah. “Tapi, Raf ... pernikahan juga butuh banyak persiapan, kan?” sanggah Fina kemudian.


“Apakah ada kesulitan yang terlihat dari kehidupanku? Bahkan hanya dalam sehari saja, keluargaku bisa menyiapkan pernikahan super mewah!” cibir Rafael.


Fina mendengus dan refleks menelan ludah sambil menepis wajah Rafael yang tiba-tiba saja menjadi sangat menyebalkan.

__ADS_1


“Orang kaya selalu bebas, Fina ... kamu rasakan saja setelah nanti kita menikah!” cibir Rafael yang malah pamer.


“Tapi kayaknya enggak juga, deh? Karena nyatanya,


... kamu sampai kesulitan cari jodoh!” cibir Fina tak mau kalah.


Andai saja Rafael tidak ingat, jika Fina merupakan patner masa depan sekaligus wanita yang ia yakini akan menjadi istri yang baik, pria itu sudah menoyor Fina lebih keras dari sebelumnya. Dan kini, tanpa merasa bersalah sedikit pun, wanita itu justru berlalu bak manusia tak berdosa.


Fina kembali ke tempat pendaftaran dan Rafael yang sempat tertinggal segera menyusul bersama rasa kesal yang sebisa mungkin Rafael tahan.


“Jika terus bersama, kami enggak akan terjebak dalam banyak kejadian konyol, kan?” batin Rafael gemas sendiri pada tingkah Fina yang sewaktu-waktu begitu mudahnya membuatnya jengkel. Namun, Rafael sudah telanjur menyayangi Fina tanpa bisa benar-benar melepasnya.


***


Sepanjang pemeriksaan, meski Rafael cenderung diam terjaga dan mendampingi, tetapi pria itu menyimak setiap penjelasan dokter yang menangani Fina.


Karena efek stres, Fina mengalami siklus datang bulan yang tidak teratur dan bahkan sampai menimbulkan sakit yang luar biasa.


“Gimana enggak stres? Orang tiap hari camilannya mahluk jadi-jadian sekelas Ipul?” batin Rafael yang duduk di sebelah Fina.


“Semua wanita akan mengalami hal semacam ini, tetapi dalam kadar yang tentunya tidak sama,” jelas dokter. “Kunci utamanya jangan stes. Jaga pola istirahat dan makan. Makanlah makanan yang bergizi dan seimbang. Banyak-banyak menonton acara lucu atau perbanyak baca yang lucu.”


“Selama ini kamu makan apa, sih? Batu? Kok sampai kekurangan gizi begitu?” cibir Rafael sambil menatap heran Fina.


Fina menatap sebal Rafael yang sedari awal memasuki ruang pemeriksaan, sibuk bersedekap tak ubahnya bos besar. “Makan batu? Raksasa saja enggak doyan batu, kali, Raf!” cibirnya.


Sedangkan yang terjadi pada dokter yang menangani, wanita yang kiranya berusia di awal empat puluh tahun itu hanya mesem sambil tersenyum geli. Dokter tersebut memandang lucu kebersamaan kedua sejoli di hadapannya dan baginya cukup menggemaskan.


***


Tak beda dengan Rafael dan Fina yang sedang dipusingkan oleh perbedaan keyakinan, Rina juga tak kalah bingung lantaran Ipul justru tak kunjung pulang dan malah mengekor padanya.


Tadi, sepulang dari mushola, Rina tidak sengaja berpapasan dengan Ipul yang nyatanya belum pulang meski kedua orang tua pria itu sudah pulang.


Rina yang merasa geram refleks balik badan. “Kamu ini, yah, Pul! Jadi orang enggak sadar diri banget! Dan satu lagi, siapa juga yang cemburu sama kamu?! Sudah sana pulang!”


“Aku enggak mau pulang, karena aku takut, mai oli wan Dek Fina, kangen sama aku!”


Ipul terus bersikeras dan kenyataan itu membuat Rina stres berat.


Rina yang masih mendekap mukena, menjadi garuk-garuk kepala yang juga mendadak gatal lantaran terlalu stres menghadapi Ipul.


“Pul ... mbak Fina itu sudah mau menikah!” ucap Fina mencoba memberikan pengertian pada Ipul sesederhana mungkin agar pria itu lebih mudah mengerti.


“Pria kafir itu enggak mungkin menikah sama mbakmu, Rin!” sanggah Ipul cepat.


Wajah Rina menjadi mengkeret menatap bingung


Ipul. “Lambemu(mulutmu) kalau ngomong jangan asal! Memangnya kamu tahu, maksudnya kafir


itu apa? Jangan asal ngomong deh nanti malah dikira pencemaran nama baik!”


“Pencamaran nama baik apa, sih, Rin? Kamu sayang sama aku, begitu?”


“Ipul ... Ipul ... kambing-kambingmu saja, kalau—ngembe—mikir dulu. Eh kamu malah ... ya Alloh ....” Rina sadar, seharusnya ia tidak menanggapi Ipul yang kewarasannya saja masih dipertanyakan. Karena selain membuang-buang waktu, pasti berurusan dengan Ipul hanya akan membuatnya semakin kesal.


Ipul yang terlihat geregetan karena Rina tak kunjung mengerti pun berkata, “pria itu beda agamanya sama Fina dan kita! Mau jadi apa, mbakmu, kalau kamu tetap dukung sama pria kafir itu?”


“Lah ... memangnya situ oke?” balas Rina tanpa mempermasalahkan keluhan Ipul. “Tapi, kalau mas Rafael memang bukan islam, pantes sih. Dari wajah sama kulitnya saja sudah kelihatan kalau dia masih


chinese kental, unyu-unyu gitu!” batin Rina.


“Kasihan mbak Fina ... padahal mereka kelihatan cocok, dan mas Rafael juga baik banget,” gumam Rina yang mendadak terkejut lantaran sebelah tangan Ipul tiba-tiba saja menggandeng sebelah tangannya.

__ADS_1


Rina refleks menjengit dan mengipratkan gandengan Ipul. “Ih, jijay! Semprul kamu Pul! Najiz mughaladhah, kan, jadinya! Ihh!”


Rina meraung-raung sambil menatap jiji bekas gandengan Ipul.


“Kamu ini, yah, Rin! Ayo bilang ke orang tuamu kalau si Rafael itu kafir!” tegur Ipul kesal.


“Iiih! Jadi orang sibuk banget urusin urusan orang, sih?! Daripada kamu sibuk urus urusan orang, mendingan kamu mandi yang bersih biar enggak dekil bau busuk begitu!” Rina sampai bergidik ngeri. Sial, di koridor keberadaan mereka, suasana terbilang sepi. Hanya berisi dirinya dan Ipul.


“Kok gitu banget sih, kamu, Rin? Alasanku enggak mandi kan biar hemat air.”


Rina tak mengindahkan Ipul dan buru-buru pergi. Sial beribu sial, melarikan diri dari Ipul bukanlah perkara mudah. Beruntung, Fina dan Rafael melintas di belakang mereka di mana Fina sampai melemparkan


sebelah sepatu yang digunakan untuk menimpuk kepala Ipul.


“Mbak Fina ... Ipul ngeselin banget! Tadi dia samai pegang-pegang tangan aku!” keluh Rina yang sampai nyaris menangis sesaat lari dan bersembunyi di balik punggung Fina.


“Kelakuanmu, yah, Pul! Kamu ini benar-benar enggak pernah kapok, ya?!” hardik Fina sangat geram.


Rafael menahan sebelah pundak Fina dan membuat wanita itu tak jadi maju menghadapi Ipul. “Ini Cilacap kota dan di dekat sini ada kantor polisi. Kamu mau saya panggilkan polisi buat jemput kamu? Kamu


enggak lupa, kan, ... bahwa sekali saja kamu berulah, kamu bisa ditahan lagi?”


Meski Rafael bertutur lirih, tetapi pria itu juga terlihat sangat kesal.


Ipul yang sempat gelagapan pun berkata, “telepon saja. Aku enggak takut!” tantangnya mantap.


Jawaban Ipul sukses membuat ketiga orang di sana tercengang. Namun Rafael yang telanjur geram segera merogoh ponsel di saku sisi celana sebelah kanan. Dan ketika Rafael sibuk dengan ponselnya, Ipul langsung bergegas bahkan lari tunggang-langgang ketakutan.


Seperginya Ipul, Fina, Rina, termasuk Rafael yang sudah ingin memasukkan Ipul ke dalam botol, menghela napas lega.


"Raf ... bukankah kamu harus memimpin rapat?" tegur Fina dengan sebuah kantong obat yang menghiasi tangan kanannya.


Rafael yang awalnya melepas kepergian Ipul pun refleks menatap Fina kemudian mengangguk. "Iya. Kamu jangan lupa obatnya biar enggak kekurangan gizi."


Fina tidak membalas Rafael dan hanya mendengkus kesal.


Rina yang hanya diam, menyimak kedekatan Rafael dan Fina yang terbilang jauh dari perkiraannya. Fina dan Rafael sudah sangat dekat, karena nyatanya, keduanya sampai saling ledek. Sama sekali tidak ada kecanggungan yang terlihat.


"Ya sudah, aku pamit dulu ...," ujar Rafael kemudian.


Rafael menatap Fina kemudian Rina sebelum kepergiannya. Dan baik Fina maupun Rina, keduanya kompak melepas kepergian Rafael.


"Mas Rafael mau balik ke Jakarta, Mbak?" tanya Rina yang kemudian mengakhiri tatapannya pada kepergian Rafael. Ia menatap Fina dengan wajah ingin tahu.


Fina menggeleng sambil menatap sang adik penuh pengertian. "Belum. Mas Rafael baru akan kembali ke Jakarta setelah masalah di sini selesai."


Rina mengangguk-angguk paham.


"Rin ... mengenai apa yang Ipul ceritakan tentang Mbak dan Mas Rafael, kamu jangan cerita dulu ke bapak sama ibu, karena kami masih mencari solusi. Untuk sekarang memang masih belum ada titik terang. Tapi secepatnya, kami pasti kasih kejelasan," tambah Fina kemudian.


"Semoga kalian jodoh, ya, Mbak ... sayang, kan, kalau sampai enggak jadi ...," balas Rina sangat berharap.


Melihat Rina yang sampai murung, Fina menjadi bertanya-tanya. Apakah di mata orang lain, ia dan Rafael cocok bahkan sangat cocok? Kenapa Rina harus sesedih itu?


Bersambung ....


Semuanya, tolong kasih bintang 5. Rate dan kasih bintang 5 soalnya kemarin ada yang jail turunin bintangnya. Padahal Author sudah berusaha up sehari 2 kali. Ada saja yang jail. Tolong banget, ya. Sebelum pergi dari cerita ini, kasih rate 5 bintang 😩😩🙏


Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.


Salam sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2