Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 65 : Bertemu Keandra


__ADS_3

“Gila kamu ya, Kean? Tingkahmu tambah enggak jelas!”


Episode 65 : Bertemu Keandra


“Nanti kalau aku pergi rapat, kamu tunggu di sini saja. Jangan ke mana-mana takutnya kamu nyasar terus hilang,” ucap Rafael yang masih sibuk di depan laptopnya. Sedangkan di sofa seberang, Fina sedang asyik menikmati satu kotak eskrim.


“Kenapa bisa hilang? Ini hotelmu, dan semua pekerja di sini pasti juga tahu kamu, kan? Jadi, aku cukup bilang aku mau bertemu kamu, pasti langsung beres?” balas Fina yang sengaja menjeda suapannya.


“Menghubungi apalagi bertemu denganku juga enggak bisa sembarangan, Fin,” balas Rafael yang masih belum menatap Fina.


“Kan aku cukup bilang, aku istrimu?” balas Fina belum mau menyerah.


Seketika itu, Rafael menghentikan rutinitas jemarinya di atas papan tik. “Oh, iya, ya ... kamu kan istriku. Ya, cukup katakan itu kepada mereka, pasti mereka tahu.”


“A-apa, maksudmu? Maksudmu, kamu lupa kalau aku istrimu? Kamu lupa kalau kamu sudah menikah? Duh, Rafael ... katanya kamu maunya mesra? Tapi masa iya, kayak gini saja sampai dilupain?” protes Fina.


“Otakku enggak sampai ke situ, Fina. Bentar dulu. Ini ada urusan sangat penting!” omel Rafael tak mau kalah.


“Terus, apa gunanya kamu ngajak aku ke sini? Kamu mau bikin aku gendut, gitu, dengan semua makanan ini?” Fina cemberut menatap tak bersemangat semua makanan enak yang sudah memenuhi mejanya. Ada es krim, rujak, salad buah, juga aneka camilan yang baginya sangat berlebihan jika dihabiskan hari itu juga.


“Kalau kamu bosan, mending kamu tidur,” usul Rafael.


“Enggak sih. Aku enggak bosen. Aku mau diam. Takut kamu salah tik.” Fina memilih fokus menghabiskan es krimnya tanpa berkomentar lagi.


Dan diamnya Fina sukses membuat Rafael menyeringai jail. Di mana diam-diam, Rafael juga melirik ke Fina yang ada di belakangnya. Benar, Fina benar-benar fokus makan.


“Dasar bayi!” gumam Rafael.


“Raf, kamu enggak haus, atau mau makan sesuatu?” tawar Fina beberapa saat kemudian.


“Mmm ... aku haus. Tolong ambilkan minum, ya!” balas Rafael yang memang masih sibuk bekerja.


Fina segera meninggalkan sofa tempatnya duduk. Ia berjalan ke ujung belakang ruang kebersamaan mereka selaku tempat keberadaan dus air minum kemasan botol yang biasanya Rafael minum. Ia meraih satu botol kemudian mengelapnya dengan tisu basah, sebelum mengeringkannya menggunakan tisu kering, dan terakhir membuka tutupnya hingga ia memberikannya kepada Rafael.


“Makasih,” ucap Rafael yang langsung menerima kemudian menerimanya tanpa menatap atau sekadar melirik Fina.


Sadar Rafael sangat sibuk, Fina pun kembali ke sofanya. Fina takut, jika ia sampai bertanya, kenyataan tersebut bisa membuat fokus Rafael buyar.


“Sekitar sepuluh menit lagi, aku akan rapat. Kalau kamu bosan, kamu bisa jalan-jalan biar Otoy yang mengawal,” ucap Rafael yang kali ini sengaja balik badan demi menatap Fina.


Fina yang masih menikmati es krim, berangsur mengerucutkan bibir. “Aku enggak mau dikawal, ah. Biar Otoy kawal kamu saja. Toh, buat apa juga aku dikawal? Kan pentingan kamu,” ucapnya. “Jangan khawatir, ... aku bakalan tunggu di sini, kok.”


Kali ini giliran Rafael yang mengerucutkan bibir. “Kamu yakin?” tanyanya memastikan.


“Tentu. Demi menjadi istri yang baik!” balas Fina yang sampai tersenyum garing dan sukses membuat Rafael menertawakannya.


“Jangan pernah tersenyum seperti itu lagi kepadaku!” keluh Rafael.


“Kenapa?” balas Fina yang kali ini menjadi tertawa lepas layaknya Rafael.


“Pokoknya jangan,” pinta Rafael lagi.


“Dasar, aneh!” cibir Fina yang kemudian meraih majalah lain, lantaran majalah sebelumnya, sudah selesai ia baca.


***


“Kalau aku keluar dari sini, buat lihat-lihat di sekitar depan, enggak apa-apa, kan?” ucap Fina yang sengaja mengantar kepergian Rafael hingga ambang pintu.


Rafael yang sampai menoleh dan menatap Fina berangsur mengangguk, di mana Otoy yang terjaga juga segera mengambil alih bawang bawaan Rafael. Ada beberapa map selain sebuah laptop.

__ADS_1


“Baiklah. Dah ...,” balas Fina.


Rafael mengangguk-angguk sebelum kepergiannya.


Fina segera kembali ke sofanya. Ia duduk-duduk di sana sambil mengamati suasana di sana yang pada akhirnya memang membuatnya bosan. Fina pun mencoba mengalihkan rasa bosan tersebut dengan berbaring, di mana Fina juga berniat untuk tidur. Namun sekali lagi, rasa bosan yang Fina rasa masih jauh lebih kuat dari apa yang Fina upayakan untuk mengakhirinya. Jadilah, Fina memutuskan untuk keluar.


Suasana di luar memang membuat Fina takjub dengan kemewahannya, meski hanya berupa dinding berikut ornamen dari lorong yang Fina lalui. Kemudian, Fina sengaja menepi ke hamparan sekat kaca selaku bagian dinding di hadapannya. Namun siapa sangka, setelah berdiri dan mengamati pemandangan dari sana, jantung Fina mendadak seperti melesak. Dan itu terjadi lantaran Fina memang fobia ketinggian, sedangkan ternyata, kini Fina ada di tempat yang sangat tinggi.


“Ini aku sebenarnya di lantai berapa? Ya Alloh tinggi banget?!” keluh Fina sambil mengelus-elus dadanya demi meredam kinerja jantungnya yang menjadi berdentam tidak wajar.


Kemudian, Fina memutuskan turun menggunakan tangga darurat. Tangga darurat yang ternyata menghantarkannya pada lantai keberadaan kamar hotel.


“Wah ... ini kamar untuk menginap?” Fina melongok suasana di sana melalui anak tangga terakhir tanpa benar-benar berniat turun.


Namun, lantaran tiba-tiba terdengar suara sirine disertai salah satu pintu di sana yang menyeruakkan asap dari dalam, Fina pun segera berlari menghampiri.


“Ya ampun, kebakaran!” Fina terus menggedor pintu kamar hotel tersebut. Pun meski semua penghuni kamar lainnya langsung berbondong-bondong ke luar dan membuat suasana semakin genting sekaligus kacau.


“Wooy, buka pintunya!” teriak Fina masih berusaha.


Tak lama setelah itu, ketika seseorang akhirnya membuka pintu dari dalam, Fina justru merasa usahanya hanya sia-sia. Semua itu terjadi lantaran dari balik pintu yang Fina hadapi, justru Keandra yang muncul dan terjaga di sana.


Pria yang kadung membuat Fina kesal atas cara Keandra mencium Sunny di depan umum, terlihat begitu berantakan. Susunan rambut yang awut-awutan, juga wajah Keandra yang tak ubahnya zombie saking pucatnya. Dan andai saja Fina tidak teringat wajah Rina berikut Mey yang begitu mengagumi sosok di hadapannya, tentu Fina sudah memaki habis-habisan pria tersebut.


Keandra langsung terdiam menatap Fina. Awalnya, Keandra hanya menatap wajah Fina. Namun tak lama setelah itu, Keandra juga sampai mengamati penampilan Fina seutuhnya.


Fina mengenakan gaun selutut warna hijau toska, selain sebuah kardigan warna putih, selaras dengan sepatu flat yang dikenakan. Dengan rambut panjang sepunggung warna legam yang tergerai, penampilan wanita itu terlihat cukup manis atas keberadaan jepit kecil bak ranting pohon berwarna hijau, yang menarik ke samping kanan bagian poninya. Dan entah atas dasar apa, melihat kedua mata bermanik mata warna cokelat di hadapannya, hati Keandra berangsur menjadi lebih tenang.


“Kau ...?” ujar Fina dengan napasnya yang cukup terengah-engah.


Keandra mengernyit, mencoba menangkap maksud Fina yang baginya tidak hanya memiliki raut manis, ... melainkan juga cantik. Kali ini, selain menunjuk-nunjuk kepadanya, Fina yang belum ia kenali jati dirinya juga terlihat sulit untuk menuangkan apa yang ingin dikatakan. Puncaknya, beberapa saat setelah itu, Fina sampai menepuk kepalanya menggunakan kedua tangan.


Fina tak hanya mendorong, karena Fina juga sampai menutup pintu kamar Keandra dari luar, dengan memaksa.


“Apakah wanita itu salah satu fansku?” pikir Keandra yang menjadi penasaran.


Bagi Keandra, cara Fina memperlakukannya terbilang berbeda. Kasar, aneh, tetapi, wanita itu juga seperti memiliki misi bahkan mungkin tujuan terselubung. Jadi, demi mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, Keandra membuka pintunya dengan hati-hati. Ia sengaja hanya membuka sedikit, sebatas untuk mengintip.


“Ibu Fina, ... Ibu, di sini?” sergah seorang pria yang mengenakan setelan jas hitam lengkap dengan tanda pengenal warna cokelat. Tanda pengenal warna cokelat selaku atribut resmi pekerja hotel dan menghiasi saku jas bagian dada sebelah kanan.


“Wah ... orang ini mengenaliku? Ini pasti ulah Rafael!” batin Fina.


“Fina ...? Namanya Fina? Dan ... sepertinya dia sangat dihormati oleh pekerja di sini?” pikir Keandra yang sampai memiringkan kepalanya demi memahami apa yang sebenarnya terjadi. Perihal status wanita bernama Fina, juga tujuan Fina sendiri yang tiba-tiba memaksanya untuk kembali masuk ke kamar hotel tempatnya menginap.


Keandra baru menyadari jika suasana kini menjadi dihiasi sirine kebakaran yang tak hentinya menguing. Dan mungkin, sirine tersebut menyala karena asap pekat dari televisi akibat ulahnya. Asap pekat yang juga membuat suasana kabarnya menjadi semakin suram.


“Ini ... ini hanya kecelakaan. Jadi begini, Pak ...?” Fina mencoba membaca nama di tanda pengenal yang menghiasi dada sebelah kiri pria yang ada di hadapannya.


“Nama saya Tio, Bu. Panggil saja Tio,” jelas si pria.


“Ah, iya ... Pak Tio.” Fina mengangguk-angguk mengerti. “Begini, Pak. Bisa matikan suara sirinenya sesegera mungkin?” pintanya kemudian.


Tio mengernyit menatap bingung Fina. “Memangnya kenapa, Bu?”


“B-biar enggak memicu keributan. Pasti seisi hotel jadi panik. Tolong segera, Pak. Soalnya yang menginap di dalam,”


“Di dalam menjadi sumber kebakaran dan bahkan asapnya sampai keluar begini?” sanggah Tio cepat tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


“Bukan kebakaran. Ini hanya lilin ulang tahun yang tidak sengaja membakar kertas ucapan ulang tahun! Tadi, teman saya yang menginap di sini sedang merayakan ulang tahun, dan saking asyiknya tertawa, kami sampai kecolongan, karena kertas ulang tahun yang saya berikan kepadanya justru terbakar oleh lilin yang masih menyala.” Fina berusaha meyakinkan Tio.

__ADS_1


“Kurang lebih begitu ceritanya, Pak Tio ... jadi tolong cepat minta ke pihak yang mengurus untuk mematikan sirinenya. Seisi isi hotel bisa semakin kacau, kalau terus dibiarkan.”


“Baiklah, Ibu Fina.”


Karena kini saja, beberapa orang masih sibuk berhamburan keluar dari kamar hotel masing-masing. Membuat suasana yang sudah bising akibat sirine tanda kebakaran, menjadi semakin kacau berpadu dengan seruan takut dari setiap penghuni hotel yang berlari menyelamatkan diri.


Keandra berhenti mengintip. Ia berangsur menutup pintu dan terdiam merenung di tembok sebelah pintu.


Tak lama kemudian, ketika seseorang membuka pintu kamar hotel Keandra dari luar, seruan sirine juga menjadi tak lagi terdengar. Dan Fina yang ada di balik pintu, segera masuk di tengah napasnya yang menjadi semakin terengah-engah. Ya, semua itu terjadi lantaran Fina semakin marah kepada Keandra yang baginya terlalu sibuk bertingkah.


“Gila kamu ya, Kean? Tingkahmu tambah enggak jelas!” cibir Fina sesaat setelah menutup pintu dengan hati-hati.


Fina menyandarkan punggungnya pada pintu, dan kenyataan tersebut membuatnya berdiri bersebelahan dengan Keandra. Diamatinya suasana kamar Keandra yang masih dipenuhi asap. Jadilah, sambil menekap hidung berikut mulutnya menggunakan sebelah tangan, ia meninggalkan Keandra yang masih diam.


Fina segera membuka lebar-lebar jendela berikut pintu demi memperbaiki sirkulasi udara.


“Bukannya memperbaiki diri, kegilaanmu justru semakin menjadi?” cibir Fina yang kembali menghampiri Keandra dan masih menekap mulut berikut hidungnya.


Televisi yang pecah dan menjadi sumber asap. Sedangkan di lantai bawahnya ada pecahan botol wine dan gelas wine, selain korek api, rokok yang isinya sampai terserak, juga dua buah ponsel yang layarnya sampai pecah. Semua itu membuat tatapan Fina terhadap Keandra, menjadi semakin miris saja.


“Jika Fina memang fansku, kenapa dia harus marah-marah dan bahkan ... terkesan ingin menerkamku hidup-hidup? Kenapa Fina terlihat semarah itu, jika pada kenyataannya, dia juga sampai menutupi kesalahanku dari pekerja hotel ...?” pikir Kenadra.


Tak lama setelah itu, ponsel di kardigan Fina berdering. Fina segera meraih ponsenga terlebih itu merupakan dering tanda telepon masuk. Ketika Fina memastikan, nama Kafur bergerak naik-turun di layar ponselnya.


“Urus sendiri semua ini. Awas saja kalau kamu kembali berulah apalagi di hotel ini!” cibir Fina sambil menatap tajan Keandra, sebelum berlalu meninggalkan pria itu.


Fina benar-benar tidak menyangka, kedatangannya ke hotel untuk menemani Rafael, justru membuatnya bertemu Keandra. Di mana, Keandra juga kembali berulah bahkan lebih parah. Bisa hancur reputasi hotel Rafael jika semua pengunjung bertingkah layaknya Keandra!


Sembari menjawab telepon masuk dari Rafael, Fina mendadak kepikiran Keandra yang Fina tafsir sedang mengalami tekanan batin yang begitu kuat. “Ah, masa bodo sama orang kayak dia!” batin Fina yang memilih fokus dengan telepon Rafael.


“F-fina ... kamu di mana?” sergah Rafael dari seberang dan terdengar ketakutan.


“Aku di anak tangga. Tangga darurat!” balas Fina yang sampai berlari dalam menaiki anak tangga yang dilalui.


“Kamu baik-baik saja, kan?” balas Rafael yang masih saja ketakutan. Bahkan, Fina bisa mendengar napas Rafael yang sampai terengah-engah.


“Sebentar lagi aku sampai!” sergah Fina yang sampai ngos-ngosan karena lari dan terburu-buru.


Tak lama kemudian, setelah sukses melalui semua anak tangga, Fina sampai di lorong keberadaan ruang kerja Rafael. Di mana, Fina juga mendapati suaminya tengah berdiri di depan sana. Rafael berdiri di ruang kerjanya yang pintunya dibiarkan terbuka sempurna.


Fina segera melambaikan sebelah tangannya yang tidak memegang ponsel sambil memasang senyum termanisnya. Tak disangka, Rafael begitu mencemaskannya.


Dan dengan mata yang berkaca-kaca, tanpa terlebih dulu menyinpan ponsel yang masih digenggam menggunakan tangan kanan, Rafael segera melangkah cepat menghampiri Fina.


“Aku baik-baik saja. Jangan secemas itu,” ujar Fina berusaha menenangkan. Namun nyatanya, Rafael tetap memeluknya dengan sangat erat.


Dan tadi, Fina menyaksikan sendiri. Kedua mata Rafael sapai basah. Rafael menangis dan itu karenanya? Memang terbilang berlebihan, tetapi mungkin itu wujud dari ketulusan Rafael yang begitu mencemaskannya.


“Semua ini gara-gara Keandra!” batin Fina yang berangsur membalas pelukan Rafael.


Bersambung ....


BTW, tadi Author baca komen ada yang nanya resepsi. Cus, Author sebar undangan mereka. Soalnya, di episode selanjutnya memang ada resepsi, kok. 😁😁😁


Yuk, diramaikan. Like, komen, sama votenya, Author tunggu 😍😊😆


Tetap ikuti dan dukung ceritanya. Oh, iya, Jangan lupa baca cerita Author yang judulnya : Selepas Perceraian. Di sana sudah banyak episode masuk season 3 😍


Salam sayang dan semoga sehat selalu,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2