Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 72 : Di Sepertiga Malam (lagi)


__ADS_3

“Dicium, dong, akunya ... masa iya aku cuma didiemin? Aku kan bukan patung apalagi tugu?”


Episode 72 : Di Sepertiga Malam (lagi)


Fina terbangun ketika dering pemberitahuan di ponselnya terdengar. Fina yakin itu bukan alarm yang sudah ia pasang, tepat pukul tiga dini hari nanti. Namun yang Fina herankan, kenapa ponselnya sampai berdering di tengah waktu yang tidak seharusnya? Jadi, demi meredam rasa ingin tahunya, Fina pun meraih ponselnya dari nakas untuk memastikan.


Yang membuat Fina tak percaya, ternyata tadi pemberitahuan dari aplikasi Instagram. Dan yang semakin membuat Fina tidak percaya, ternyata Fina masih mengikuti akun Instagram Ipul.


Sebenarnya, ada alasan khusus kenapa Fina balas mengikuti akun Ipul? Sebab Fina takut, manusia rese itu sampai menebarkan fitnah lagi layaknya biasa. Jadi, ketika itu sampai terjadi, Fina akan langsung mengkonfirmasi layaknya kejadian selama ini, sebelum Fina menikah dengan Rafael.


Namun kini, setelah Fina menjadi istri Rafael, Fina merasa tidak perlu mengikuti akun Ipul lagi. Bahkan, Fina merasa tak perlu lagi menggunakan akun media sosial. Pun meski selama memakainya, Fina tidak pernah mengunggah foto pribadi termasuk foto keluarganya, layaknya pengguna pada kebanyakan.


“Tapi, ... Ipul bikin ulah apa lagi, ya? Kemarin sayembaranya saja belum ada kabar?” gumam Fina yang pada akhirnya penasaran.


Fina benar-benar nekat mengikuti siaran langsung yang dilakukan Ipul.


“Jadi gini, Gaes ... saya sedang bergairah ke rumah mai oli wan. Lihat Gaes ... ini rumah mai oli wan ... jadi, saya ke sini sengaja lihat-lihat demi mengobati kerinduan hati, setelah kemarin sempat bergairah ke makam buat nyekar leluhur, Gaes ....”


“Bergairah ...? Berziarah ...? Gila saja si Ipul. Kesannya rumahku rumah pahlawan atau malah pemuka agama!” rutuk Fina dalam hatinya.


Di tengah suasana yang terbilang remang-remang bagoan gelap, hanya mengandalkan lampu teras yang bahkan menyala redup, Ipul memfokuskan kameranya ke rumah Fina yang di kampung.


Sebenarnya, tak hanya suasananya yang gelap, mengingat waktu yang berlangsung nyatanya masih pukul dua pagi lewat tiga menit. Sebab Ipul yang melakukan siaran langsung juga sampai tidak terlihat. Terlebih, Ipul mengenakan pakaian panjang berwarna gelap. Benar-benar hanya gigi dan sorot mata pria itu yang kadang terlihat.


“Lihat Gaes ... ini bangku dan meja berikut kursi di teras ini juga sangat berjasa untuk hubunganku dengan mai oli wan. Ibaratnya, mereka-mereka ini saksi bisu hubungan kami. Karena di sini, kami sering sayang-sayangan ....”


Lanjutan Ipul yang sampai tersenyum malu-malu, sukses membuat emosi Fina mendidih. “Sebenarnya apa sih maunya Ipul?!” gumamnya di tengah napasnya yang sampai memburu.


Dada Fina naik turun dengan cepat. Dan mau tidak mau, demi meredam kemarahan sekaligus menghindari semua itu, Fina memilih untuk mematikan ponselnya, sebelum kembali menyimpannya di nakas.


“Kalau Ipul terus begitu, nama baikku benar-benar tercoreng!” batin Fina yang sampai takut, perihal Ipul sampai diketahui dan membuat keluarga Rafael menjadi berpikir jelek kepadanya.


Kemudian, fokus Fina menjadi teralih pada Rafael yang masih tidur meringkuk menghadap padanya. Rafael masih terlihat begitu pulas. Fina menjadi tidak tega untuk membangunkannya. Namun, Fina ingin mengajak Rafael salat malam, sebelum akhirnya menjalani sahur pertama mereka.


“Kok lihat wajah Rafael yang seperti ini, emosiku langsung hilang, ya?” batin Fina sembari membelai wajah Rafael menggunakan kedua tangannya. Fina menatap suaminya itu dengan jarak yang begitu dekat.


“Raf, bangun ...,” bisik Fina tepat di sebelah telinga Rafael.


Rafael sama sekali tidak merespons. Membuat Fina kembali mengulangi bisikannya. Bahlan di usaha Fina yang ke lima, semuanya masih sama. Rafael tidak melakukan perubahan beraryi hingga Fina menjadi curiga.


“Raf? Kamu masih tidur apa pura-pura, sih?” keluh Fina akhirnya.


Dan tak lama setelah itu, Rafael berangsur membuka matanya sambil menahan tawa.


“Aku mendengar suara Ipul ... sst, kepalaku masih pusing?” Sebelah tangan Rafael refleks memijat kepala bagian belakangnya.


Fina segera mengambil sebotol air mineral dari nakas sebelah punggung Rafael. Ia membukanya kemudian menuntun Rafael untuk minum.


Rafael segera duduk dan membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran tempat tidur. Ia menerima dan membiarkan Fina membantunya minum.

__ADS_1


“Kamu ingat apa yang terjadi kemarin malam setelah kamu kembali dari acara resepsi?” tanya Fina sembari meletakkan kembali botol air mineralnya di nakas.


Rafael yang mengeryit hanya untuk menatap Fina berikut mengingat apa yang terjadi seperti apa yang Fina tanyakan, berangsur menggeleng. “Hal terakhir yang aku ingat, aku ke kamar dan kamu tiba-tiba teriak. Lalu, tak lama setelah itu, tubuh kita jatuh ke kasur. Setelah itu, aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi?”


Fina yang duduk di sebelah dan sampai menghadap Rafael, menjadi tersenyum geli. Sebab, Fina teringat ketika Rafael masih mabuk. Pria itu menjadi seperti bayi yang tak hentinya merengek, terlepas dari Rafael sendiri yang menjadi selalu berucap jujur.


“Memangnya apa yang terjadi?” tagih Rafael dan sukses mengalihkan fokus Fina.


Fina kembali menatap Rafael kemudian menggeleng. “Enggak,” ucapnya sambil menahan senyum.


“Terus, ... kenapa aku bisa sudah ganti baju dan sepertinya, aku sampai sudah mandi?” tanya Rafael lagi dan terlihat sangat penasaran.


“Berarti kamu beneran mabuk? Ya sudah, mandi junub lagi. Nanti aku bantu,” balas Fina yang masih susah payah mengatur senyumnya.


Balasan Fina kali ini membuat Rafael refleks tersenyum. “Mandi bareng?” ucapnya bersemangat.


Fina langsung terdiam dan menatap tak percaya Rafael. “Kamu, mabuk enggak mabuk sama saja, ya?” ucapnya sambil menggeleng tak habis pikir seiring senyumnya yang juga kembali tersambung.


Kendati rasa kesalnya telah terlipur oleh Rafael, tetapi Fina merasa perlu membahas tentang Ipul. Bagi Fina, Rafael harus tahu, terlepas dari Rafael sendiri yang juga harus memberikan solusi.


“Ya sudah. Ayo bangun. Aku mau kita salat malam lagi sebelum sahur,” balas Fina yang kemudian menuntun Rafael untuk bangun.


Rafael juga mengerahkan sisa tenaganya untuk bangun dengan tetap membiarkan Fina membantunya.


“Gara-gara mabuk, aku merasa kecolongan,” ucap Rafael yang akhirnya berhasil bangun dan berdiri.


Fina segera jongkok dan memasangkan sandal hotel untuk Rafael. “Kenapa?” ucapnya sambil menengadah.


Fina hanya menggeleng tak habis pikir sambil menuntun Rafael ke kamar mandi. “Lagian enggak ada yang minta kamu buat mabuk, kan? Bayangkan kalau kemarin kamu enggak bareng teman-temanmu? Tapi ya sudah, lah ... sudah terjadi. Buat pelajaran saja, ke depannya jangan sampai begitu lagi.”


“Heum ... maafkan aku. Dan kamu enggak usah ikut menanggung dosanya. Apa-apaan, masa iya, kamu ikut menanggung dosanya juga?” balas Rafael lagi.


“Nah, ... itu sudah sadar!” ujar Fina membenarkan.


“Memang aku sudah enggak mabuk,” balas Rafael.


“Ya ... aku mengerti,” balas Fina mengangguk-angguk.


“Tapi omong-omong, apa yang membuatku jadi cepat sembuh dari mabuk kali ini?” ujar Rafael lagi yang masuh terlihat sangat penasaran.


“Kalau aku bilang, aku melelepkan, menenggelamkan kamu ke bak rendam, kamu percaya?” balas Fina yang sengaja menggoda.


Rafael dibuat tak percaya atas kenyataan itu. Fina menenggelamkannya ke bak rendam? “Bedebah, Fin ... kamu tega banget? Durhaka itu!” cibirnya.


Fina terkikik-kikik sambil menekap mulutnya menggunakan sebelah tangannya yang bebas tidak menggandeng Rafael. “Enggaklah. Aku beneran urus kamu. Kamu pikir, yang mandiin kamu sampai keramasin kamu siapa? Aku bahkan sampai ngeringin kepala kamu, karena aku enggak mau kamu sampai masuk angin!” balas Fina meyakinkan.


“Wah ... bakalan ada yang minta tanbahan uang bulanan dong?” balas Rafael yang justru menjadi menggoda Fina.


“Uang bulanan apa?” balas Fina tidak begitu mengerti dengan apa yang Fina maksud.

__ADS_1


Rafael hanya menggelemg lemah sambil menahan senyum, menatap geli Fina yang nyatanya masih sangat lugu.


“Celana yang aku pakai tadi mana? Di sakunya ada kartu nama klien penting, lho. Enggak sampai kamu buang, kan?” ucap Rafael tiba-tiba dan langsung membuat Fina terjaga.


“Masa, sih? Aku enggak sampai buka-buka saku, sih. Coba bentar,” balas Fina yang buru-buru memastikan.


Di meja depan jendela kamar, Fina menaruh semua pakaian kotor yang sampai Fina lipat rapi tanpa terkecuali pakaian kotor Rafael. Sedangkan untuk jas Rafael berikut gaun milik Fina, telah Fina gantung menggunakan hanget di pintu-pintu lemari pakaian yang tersedia di depan tempat tidur.


Fina masih ingat perihal pesan Rafael, jika tak semua pakaian pria itu bisa dicuci dengan air. Karena ada bahan tertentu yang tidak boleh terkena air dan memang harus dicuci kering khusus, yang nantinya akan dilaundy. Jadi kalaupun memang pakaian kotor atau bekas dipakai, Fina juga akan memperlakukannya dengan khusus.


Rafael pun berangsur menyusul kepergian Fina setelah ia sempat membasuh wajahnya di wastafel. “Bagaimana? Ketemu?” ucap Rafael.


Fina berangsur menoleh dan kemudian balik badan. Ia merengut sambil memberikan kotak hati berwarna merah yang ia temukan di saku kanan celana bahan milik Rafael. Dan bagi Fina, harusnya, satu-satunya benda yang Fina temukan di saku Rafael itu berisi perhiasan.


“Enggak ada kartu nama. Cuma ini!” ucap Fina.


“Masa, sih?” balas Rafael yang terkesan meragukan Fina.


Rafael pun membuka cepuknya dan kemudian bersimpuh di hadapan Fina. Cepuk tersebut berisi sepasang cincin yang satu di antaranya memiliki diameter lebih kecil.


“Aku sadar ini enggak ada keren-kerennya. Karena seharusnya, aku melakukan ini ketika kita awal naik altar pelaminan,” ucap Rafael sambil menyodorkan cepuk berikut isinya kepada Fina.


“M-maksudnya?” balas Fina masih tak mengerti. “Apa?” ia menatap bingung Rafael.


“F-fina, kita belum sempat bertukar cincin. Masa iya, kita kalah dari Ipul yang bahkan sudah memenuhi jarinya dengan cincin?” ujar Rafael serius.


Dan melalui gerakkan wajah, Rafael menuntun Fina untuk menerimanya. Fina menjad tersipu sekaligus terharu. Namun, setelah sampai menyelinapkan kedua sisi anak rambutnya ke belakang telinga, Fina berangsur meyodorkan jemari tangan kanannya kepada Rafael.


Rafael pun segera memasangkan cincin putih berdiameter lebih kecil di cepuk pada jari manis kanan Fina.


“Pas?” ucap Fina tak percaya.


Rafael mengangguk. “Heum. Aku sudah mengukur diameter jari manis tangan kananmu,” ucapnya yang kemudian meminta dipasangkan cincinnya juga.


“Tapi menurutku, ini lebih romantis daripada kamu harus bersimpuh kepadaku di hadapan banyak orang,” ujar Fina sambil memasangkan cincin milik Rafael.


“Kok gitu?” balas Rafael penasaran.


“Malu saja, kalau harus pamer kemesraan di depan banyak orang,” balas Fina meyakinkan.


“Pantas aku sampai lupa kasih ini ke kamu. Ternyata, kamu memang lebih suka jika aku memberikannya ketika kita hanya berdua?” ujar Rafael mengira-ngira dan langsung disambut senyum lepas oleh Fina yang juga sampai mengangguk semringah.


“Dicium, dong, akunya ... masa iya aku cuma didiemin? Aku kan bukan patung apalagi tugu?” goda Rafael yang sukses membuat Fina tertawa lepas.


Fina tidak mengerti, kenapa di setiap di sepertiga malam kebersamaannya dengan Rafael, selalu saja disertai banyak kejutan sekaligus kebahagiaan? Kemarin, saat mereka harus menikah, tepatnya satu minggu yang lalu, mereka juga dipersatukan tepat di sepertiga malam. Dan sekarang, untuk ke dua kalinya, Pemilik Kehidupan mengizinkan Rafael untuk mempertegas hubungan mereka secara simbolis, melului cincin yang telah Rafael siapkan.


Benar-benar luar biasa! Batin Fina yang sampai mendekap dan bergelendot manja kepada Rafael.


Bersambung ....

__ADS_1


Pesan Author cuma satu : Tolong ramaikan cerita ini. Karena perfotmanya turun dan levelnya juga. Kebanting. Sedih banget serius 😭😭😭. Like komennya, yaaa. Sudah senyum-senyum nulis ceritanya, kalau ingat performa turun rasanya pengin hiatus 😔😔😔😔


__ADS_2