Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 31 : Makan Malam Bagian 2


__ADS_3

“Kalau kalian memang sudah mengenal lama, kenapa kalian baru muncul sekarang? Ini, bukan karena Rafael sengaja menghindari perjodohan, kan?”


Episode 31 : Makan Malam Bagian 2


Fina dan Rafael belum sadar, jika interaksi yang mereka lakukan begitu menarik perhatian ketiga orang di hadapan mereka.


Di meja berbentuk bundar itu, kendati kedua tangan Raden, Mey, juga Burhan mulai menggerakkan garpu berikut pisau untuk memotong steak, tetapi pandangan mereka begitu asyik menangkap setiap apa yang Fina dan Rafael lakukan.


Di lain sisi, Rafael baru saja berhasil memotong steak untuk pertama kalinya, ketika Fina kembali berbisik, “bisa, enggak, aku dikasih makanan yang lebih praktis?”


Demi menjaga nama baik Fina, Rafael sengaja mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu kendati fokusnya tertuju pada steak yang sedang ia potong. Ia mendengar dengan saksama setiap bisikan yang Fina lakukan.


“Makan saja steaknya, pasti kamu suka. Ini steak terenak dari koki pilihan,” balas Rafael yang juga berbisik.


“Masalahnya, aku belum pernah memotong steak apalagi kalau harus pakai garpu dan pisau. Aku takut malu-maluin!” balas Fina masih berbisik juga, dengan wajah menahan gugup sekaligus takut.


Fina tidak mau memaksakan diri melakukan hal yang belum pernah Fina lakulan, apalagi jika harus melakukannya di hadapan keluarga Rafael. Termasuk mengenai memotong dan memakan steak. Fina tidak mau coba-coba karena takut hanya membuat malu. Fina takut hanya membuat kesalahan fatal layaknya tokoh miskin yang ada di komik juga drama di layar kaca.


Rafael menghela napas pelan karena pasrah. “Ya sudah. Biar aku yang potong. Nanti kamu makan steak punyaku saja. Aku potongkan dulu.” Mau tidak mau, ia memang harus lebih peka bahkan mengalah demi keberhasilan misinya menghindari perjodohan.


Meski Rafael memasang wajah jutek, tetapi Fina merasa lega terhadap keputusan pria itu. “Ya sudah, makasih.”


“Mm ... tetap waspada. Ketiga orang di hadapan kita sangat berbahaya. Mereka lebih berbahaya dari virus korona.”


Peringatan dari Rafael sukses membuat jantung Fina kembali berdentam kacau. Dan ketika ia memastikannya, menatap ketiga orang di hadapannya ... apa yang Rafael katakan benar-benar terbukti. Ketiganya yang tengah memotong sambil menyantap setiap potongan steak, terus memperhatikan kebersamaannya dan Rafael.


“Kenapa mereka sampai memperhatikanku seperti itu?” gumam Fina yang memilih menenggak sedikit air putih yang tersaji di hadapannya demi mengurangi rasa gugupnya.


Karena masih merasa gugup, Fina memilih mengalihkan tatapannya pada Rafael. Pria itu memotong steak dengan begitu cekatan sekaligus rapi. Rafael terlihat sangat andal. Dan ketika semuanya sudah terpotong, Rafael tak lantas memberikan piring berisi steaknya kepada Fina sesuai janji pria itu.


Rafael meraih satu potong steak menggunakan garpu kemudian mencoba menyuapkannya kepada Fina. Ia menuntun wanita itu untuk membuka mulut kemudian menerimanya, melalui tatapan berikut gerakan wajah yang ia lakukan.


Apa yang Rafael lakukan sukses membuat Mey, Raden, termasuk Burhan, menatapnya tak percaya. Mereka sampai refleks terdiam. Mereka bahkan tidak melanjutkan kunyahan mereka lantaran perlakuan manis Rafael kepada Fina, tak ubahnya kejutan tak terduga. Karena ternyata, Rafael yang selama ini, hanya sibuk bekerja dan tak pernah sekalipun menggandeng wanita, bisa bersikap manis layaknya sekarang.

__ADS_1


Fina tak langsung menerima suapan Rafael karena wanita ayu itu justru refleks menoleh ke depan memastikan tanggapan ketiga orang di sana. Namun, lantaran Raden sampai mengulas senyum dan mengangguk kepada Fina--seolah memberi persetujuan, Fina pun berangsur mendekatkan wajah pada steak yang Rafael suapkan. Fina menerima suapan Rafael sambil tersenyum simpul.


Sambil menunduk dan menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi di depan mulut, Fina mengunyah pelan-pelan, mencoba menikmati rasa steak yang sukses membuatnya terdiam saking enaknya. Dan dengan bersemangat, Fina menatap Rafael sambil tersenyum sekaligus mengangguk.


Rafael balas tersenyum. Senyum simpul yang membuat pria itu terlihat sangat tampan dan sukses membuat Fina gugup.


“Kok Rafael kalau lagi senyum kayak gitu, ... tampan banget, sih? Duh ... bahaya!” batin Fina sambil berusaha mengendalikan kegugupannya. Ia segera menerima piring dari Rafael berisi steak yang sudah selesai dipotong, sedangkan pria itu mengambil piring milik Fina.


Setelah drama romantis yang Rafael ciptakan usai, Raden berdeham sambil tersenyum puas. Kemudian pria tua itu melahap potongan steak yang sempat ia diamkan menancap di garpu.


Pun dengan Mey dan Burhan yang sampai saling lirik.


“Kalau kalian memang sudah mengenal lama, kenapa kalian baru muncul sekarang? Ini, bukan karena Rafael sengaja menghindari perjodohan, kan?” tanya Mey hati-hati.


Suasana kebersamaan mendadak menjadi diselimuti ketegangan. Rafael dan Fina refleks terdiam. Fina bahkan refleks menelan steak yang seharusnya masih ia kunyah, sebelum akhirnya menoleh pada Rafael. Pria itu menatap serius Mey.


“Usia mereka terpaut sepuluh tahun. Aku tahu, awal mereka pacaran, karena Rafael sempat membawanya ke rumah yang ada di desa.” Raden berseloroh dengan santainya sambil menikmati wortel rebus yang sampai disantapnya menggunakan tangan kosong.


“Waktu itu, ... Fina masih pakai seragam SMA. Masih sangat lucu,” tambah Raden yang kali inj sampai senyum-senyum. “Nah, kalau dulu Fina masih sangat lucu, sekarang dia sudah siap memberi kalian cucu! Ha ha ha ... akhirnya, sebentar lagi aku punya cicit!”


Rafael menatap tak habis pikir tingkah Raden yang terlihat seperti orang stres saking bahagianya membayangkan akan segera menimang cicit. “Semuanya masih harus berproses. Kakek pikir punya anak tinggal donload bahkan asal comot!” cibirnya.


Ketika Fina melirik Rafael, pria itu kembali terlihat judes tak ubahnya wajah Burhan. Dan Rafael menjadi tak bersemangat sambil terus memotong steaknya.


“Meski Papa enggak sepenuhnya setuju dengan pendapat Kakek, tetapi melihat usiamu, ... anak memang harus dikedepankan.” Burhan angkat suara sambil terus menyantap steaknya. Ia sama sekali tidak menatap siapa pun termasuk Fina maupun Rafael yang sedang dimaksud.


Raden tersenyum puas atas komentar Burhan yang ada di sebelah Mey. Anaknya itu, meski cuek dan terlihat garang, tetapi selalu sependapat dengannya.


“Tugasmu sekarang hanyalah menikah dan punya anak. Sedangkan mengenai pekerjaan, enggak perlu kamu pusingkan lagi!” tambah Burhan masih dengan gaya dinginnya.


Maksud menikah dan punya anak, langsung menjadi kedua hal yang mengusasi pikiran Fina dan Rafael. Keduanya sampai menjadi risau atas kenyataan tersebut. Mereka harus menikah dan mempunyai anak secepatnya, padahal di balik itu, masih banyak misi yang harus mereka selesaikan.


“Baiklah.” Rafael mengambil keputusan. Sekali lagi, karena ia tidak mau terjebak dalam perjodohan.

__ADS_1


Fina refleks menatap tak percaya pria di sebelahnya. Dengan wajah dingin dan terlihat jelas sedang tertekan, pria itu memotong sekaligus menyantap steaknya dengan sangat cepat. Lain halnya dengan Fina yang menjadi kehilangan selera makan, meski sebenarnya, steak yang ada di hadapannya rasanya sangat enak.


Rafael yang tidak sengaja melihat Fina menjadi menendang sebelah kaki wanita itu.


Fina terkesiap dan refleks menengadah menatap Rafael. Dan tak lama setelah itu, Rafael yang bisa melihatnya tanpa harus membuatnya benar-benar menatap Fina, berkata, “makan. Habiskan.”


“Aku jadi enggak selera. Apalagi, misi kita masih sangat banyak. Dibungkus saja, enggak apa-apa, kan? Nanti, pasti aku habiskan, kok,” balas Fina dengan polosnya.


Rafael menatap Fina tak percaya sambil terus mengunyah steak di dalam mulutnya. “Dibungkus ...? Kamu pikir berkat kenduri? Ingat, Fina ... kamu akan menikah denganku, bukan Ipul!” cibirnya pelan. “Kalau kamu menikah sama Ipul, baru makananmu dibungkus ....”


Fina merengut sebal lantaran Ipul selalu dikait-kaitkan oleh Rafael dalam hubungan mereka. Sedangkan Rafael yang menyadari Fina menjadi tertunduk, menusuk steak di piring Fina kemudian menyuapkannya.


Mendapati itu, Fina tak kuasa menolak. Ia menghela napas pelan kemudian menyambut suapan Rafael.


Tak lama setelah Fina menerima suapannya, Rafael langsung berbisik tepat di sebelah telinga Fina. “Ingat, ... kita ini patner masa depan. Jadi, baik buruknya semua yang kita hadapi, mari kita lewati bersama!”


“Harus begitu, ya?” batin Fina pasrah sambil menatap Rafael dengan raut sedih.


Beruntung, acara makan malam kali ini tidak sampai disertai bibit bobot layaknya cerita di drama-drama. Dengan kata lain, selain mungkin karena Rafael sudah menceritakan semuanya tentang Fina, keluarga Rafael memang sudah sangat ingin melihat Rafael berkeluarga dan memiliki anak.


“Jadi, kapan kamu akan menemui orang tua Fina?” ucap Mey sebelum meminum segelas air putih yang tersaji di hadapannya.


Mey yang hampir menuntaskan steaknya, menatap Fina dan Rafael silih berganti.


Fina yang juga sedang menuntaskan steaknya, segera melirik Rafael dan menunggu kepastian pria itu.


“Besok. Hari besok juga.” Rafael mengatakannya tanpa keraguan sambil balas menatap Mey. Kemudian, ia yang baru saja menyisihkan garpu berikut pisaunya karena sudah selesai makan dan sampai membuat piringnya bersih, meraih sekaligus meminum segelas air putih yang tersaji di hadapannya.


“Hari besok juga? Berarti, ... besok juga Rafael akan menemui keluargaku?” batin Fina memilih menjadi penyimak yang baik tanpa berani berkomentar jika pertanyaan yang dilayangkan bukan untuk dirinya.


Bersambung ....


Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini.

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2