Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 60 : Pelajaran Untuk Rafael


__ADS_3

Catatan : Seperti biasa, jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Kalau enggak bisa vote, tolong tinggalkan like dan komennya biar ceritanya enggak tenggelam 🤝🤝🙏


***


“Kenapa dari dulu kamu enggak nikah sama Sunny saja biar aku bisa berjodoh sama Sandy!”


Episode 60 : Pelajaran Untuk Rafael


“Mai oli wan ... mai oli wan Dek Fina ... lihatlah sayangmu ini menangis. Lihat betapa besar aku mencintaimu mai oli wan! Banyaknya air yang jatuh saat hujan turun saja kalah dengan banyaknya air mata sekaligus cintaku yang jatuh, hanya untuk mencintaimu seorang!”


Di video, Ipul menangis-manis bak orang depresi. Namun setelah itu, Ipul mengambil cermin kecil yang digunakannya untuk bercermin. Tak hanya untuk memastikan air matanya yang dilap tuntas, melainkan juga untuk memastikan agenda menyisir rambut menggunakan sisir kecil, benar-benar sempurna. Ipul menyiris rambutnya yang basah menjadi belahan tengah yang begitu mengkilap.


Di belakang rumah selaku keberadaan kandang sapi dan kerbau, Ipul melakukan siaran video langsung. Fina paham situasi di sana. Ada beberapa karung besar yang berisi rumput selaku makanan pokok kambing-kambing di sana. Dan kendati tampilan Ipul sekeluarga kumal, tetapi tidak dengan suasana kandang berikut kambing dan kerbau-kerbaunya. Semuanya bersih dan tertata rapi. Karena boleh dibilang, daripada merawat diri, keluarga Ipul jauh


lebih menjaga kambing dan kerbau-kerbau mereka.


“Ini gimana ini buat stopnya? Duh ... bentar-bentar. Bentar dulu, yah, gaes. Diclos dulu. Kesalahan teknis ini,” ucap Ipul tiba-tiba.


Tak lama setelah itu, setelah terlihat kebingungan bahkan panik, sambungan siaran langsung yang Ipul lakukan mendadak berakhir.


Mendapati semua itu, Fina menggeleng tak habis


pikir. Tentang Ipul yang tergila-gila kepadanya, berikut semua tingkah norak pria itu yang ingin tampil gaul, tetapi justru semakin membuat Ipul terlihat kampungan.


Tak mau menyia-nyiakan waktu, Fina segera beranjak dan berniat memastikan keadaan keluarganya. Namun ketika Fina baru akan bangkit, ponselnya kembali mendapat pemberitahuan dari apliikasi Instagram. Ipul kembali melakukan siaran langsung.


“Nih orang beneran enggak ada kerjaan, ya?” cibir Fina. Kendati demikian, Fina juga tetap menonton acara siaran video langsung yang dilakukan Ipul.


Kali ini, Ipul sampai mengenakan kacamata mata hitam tebal sekaligus kalung rante yang selalu menjadi aksesori andalan pria itu.


“Ehm ... hello, gaes ... kembali lagi dengan saya, Den Bagus Saeful yang selalu mencintai mai oli wan dek Fina.”


“Kayak gini, jadi tambah ganteng, ya? Hensem Hahaha ... bilang yes, nanti aku kasih kambing satu!”


“Oke, langsung saja, ya, gaes ... sejujurnya saya wawancara begini, karena saya sedang mencari mai oli wan Dek Fina yang dibawa kabur Kafur ... ibaratnya, saya akan mengadakan sayembara!”


“Mai oli wan ... di mana pun dikau berada ... duh, ... kok jadi sedih lagi, ya ...?”


“Dek Fina ... Dek Fina, kenapa kamu tertipu sama Kafur yang hanya modal janji dan penampilan, Dek?”


“Lihat Dek Fina ... kambing-kambing sama keboku saja aku urusin, apalagi kalau Dek Fina mau menikah sama aku?”


“Semua ini buat kamu, Dek ... lihat, mereka semua semok di atas rata-rata. Enggak ada yang kurus dan semuanya terurus!”


“Dek Fina ... di mana pun kamu berada, cinta dan hatiku akan selalu menyertaimu. Tunggu aku datang ke Jakarta, ya!”


“Aku bakalan jemput kamu, mengakhiri kejahatan si Kafur!”


“Dan buat siapa pun yang menonton lip strimping


... lip sripping, ya pokoknya itu ya, susah diucapkan hahaha ....”


“Pokoknya, yang bisa menemukan mai oli wan Dek Fina ... kalian akan saya beri hadiah tanda tangan sekaligus foto bareng bersama kambing dan kebo-kebo sekalian!” Ipul mengakhiri ucapan panjang lebarnya dengan terbahak-bahak.


Dan kali ini Ipul menepukkan kedua tangannya dengan


pandangan lurus ke arah kamera. “Oke, gaes ... sampai sini dulu karena saya juga harus angon sekaligus ngarit, sebelum mereka semua saya jual buat beli mobil menyusul mai oli wan ke Jakarta. Tapi jangan bilang Pae sama Bue, ya. Ini rahasia!”


“Oh, gaes, sebelum berpisah ... omong-omong, kegantenganku sudah di atas rata-rata. Ngalahin Keandra, lah, ya? Tapi kalian jangan sedih meski aku


tinggal ngarit dan angon, ya? Aku pastikan, bakalan sering siaran langsung, wawancara begini, biar kalian enggak rindu.”


“Serius, gaes. Aku enggak bohong. Karena seperti kata Dilan, rindu itu berat. Melebihi berat dari berat badan


kebo-keboku. Ya wis ... salam mai oli wan dek Fina mai kesayangan.”


“Sampai jumpa dan jangan lupa temukan Dek Fina segera! Karena hadiah tanda tangan dan foto bersama sudah menanti Anda-Anda!”


“Semprul Ipul, dia pikir aku buronan, apa, sampai dibuatkan sayembara segala! Tapi kok, dia enggak nyadar kalau aku juga nonton, ya? Apa Ipul belum ngerti fitur-fitur di aplikasinya?” Fina menghela napas sambil menggeleng tak habis pikir.


Dan tiba-tiba saja, Fina kembali teringat bentakan Rafael. “Sudahlah. Jalani saja.” Fina pasrah dengan hubungannya dengan Rafael. Namun perlu Fina tegaskan, ia tidak akan memaafkan Rafael begitu


saja. Terlebih, pernikahan mereka ada karena Rafael yang terus meyakinkan bahkan memaksanya.


***


Ketika Fina baru membuka pintu, ternyata Rina sudah


ada di balik pintu dan nyaris mengetuk pintu lantaran tangan kiri yang tidak memegang ponsel, sudah menggantung di udara.

__ADS_1


“Kamu sudah siap-siap antar bapak cek-up, Rin?” ujar Fina.


Rina yang masih menatap bingung Fina, segera mengangguk. “Mbak baru bangun?”


Fina juga berangsur mengangguk, meski raut bingung yang Rina suguhkan, cukup membuatnya terganggu. “Ada apa?” Dan Fina yang teringat keadaan lehernya segera menggunakan kedua tangannya untuk menutupinya.


“Ada yang mau ngomong,” ucap Rina sambil memberikan ponselnya kepada Fina.


“S-siapa?” balas Fina yang berangsur mundur.


Selain ragu, Fina juga terlihat takut.


“Ambil saja!” balas Rina cukup memaksa dan meletakkan ponselnya di tangan kanan Fina.


Sekilas, Fina mendapati sebuah jas berwarna abu-abu dengan dasi yang nyaris berwarna senada. Dengan kata lain, itu Rafael. Sialnya, Rina sudah kabur dan sampai lari.


“Oh, iya, Mbak ... di bawah sudah ada orang yang siap dandanin Mbak, kalau Mbak sudah mandi! Satu jam lagi kita pergi ke rumah sakit!” seru Rina yang langsung kembali buru-buru kabur.


Sudah Fina duga, Rafael pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kata maaf darinya. Jadi, kalaupun kali ini Fina menghindar, Rafael pasti akan melakukan cara lain. Kendati demikian, Fina tidak langsung mengajak Rafael berkomunikasi. Fina memutuskan untuk kembali masuk ke kamar dan sengaja sampai mengunci pintunya.


“Apa lagi, sih? Mau sibuk memikirkan hidup orang lagi?” omel Fina benar-benar marah.


“Enggak usah sibuk mengurus hidup apalagi rumah tangga orang, kalau hidup sama rumah tanggamu saja enggak kamu urus!” Fina benar-benar meluapkan kemarahannya.


“Lagipula Sunny sudah punya Sandy, suami super idaman! Enggak usah dipusingkan. Bahkan kalau aku diminta jadi istri kedua Sandy, aku mau-mau saja, karena pria kayak dia itu langka!” Kali ini, Fina benar-benar lega.


Fina sengaja mengatakan semua hal yang bisa


membuat Rafael marah. Fina juga sengaja membangga-banggakan Sandy, yang


sebenarnya memang suami idaman, bagi Fina. Fina yakin, dengan begitu, Rafael yang pencemburu pasti akan langsung marah.


“Fina, ... aku diam bukan berarti aku bisa menerima semua kemarahanmu, ya! Aku diam karena aku sadar, aku salah. Tapi kamu juga tidak seharusnya memiliki pemikiran ingin menjadi istri ke duanya Sandy, terlebih


kamu sudah menikah dan menjadi istriku!” balas Rafael tiba-tiba dan menatap kesal Fina.


Rafael sampai mendelik-mendelik, ekspresi khas pria itu ketika sedang sangat marah.


“Kan, langsung sukses rencanaku!” batin Fina. “Kamu pikir aku enggak marah, tiba-tiba kamu bentak-bentak, bahkan kamu menyalahkanku tanpa sebab yang jelas?” balas Fina cepat. “Kenapa dari dulu kamu enggak nikah sama Sunny saja biar aku bisa berjodoh sama Sandy!”


“S-sandy, lagi ... Sandy lagi!” uring Rafael yang sampai terlihat geregetan.


“Capek bagaimana, kamu kan baru bangun tidur,” balas Rafael masih mengomel.


“Tapikan aku masih sakit. Tambah sakit malah gara-gara kamu!” Fina masih meledak-ledak.


“Memangnya kamu masih sakit? Bukannya tadi demammu sudah turun?” balas Rafael yang langsung cemas tanpa ada kekesalan lagi.


Nada bicara Rafael benar-benar dipenuhi kepedulian layaknya tatapannya sekarang.


“Sudah, enggak usah pura-pura peduli. Sana urus istri orang saja biar kamu puas! Aku mau mandi, terus dandan cantik, siapa tahu ketemu pria kayak Sandy, terus kami jodoh!”


“Heh! Fina, apa maksudmu!”


Fina tahu, Rafael belum selesai bicara sekaligus marah-marah, tetapi Fina sengaja mengakhiri sambungan panggilan video mereka. Pun meski di detik berikutnya, Rafael kembali mencoba menghubungi ponsel Rina maupun ponsel Fina. Fina sengaja abai untuk memberi Rafael pelajaran.


“Awas saja nanti kalau pulang!” gerutu Fina yang kemudian melempar ponselnya maupun milik Rina, ke tengah-tengah kasur, sesaat sebelum ia masuk ke kamar mandi.


Namun, belum lama masuk ke kamar mandi, Fina mendadak kembali keluar dan buru-buru mengambil ponselnya hanya untuk mengubah nama kontak ponsel Rafael, menjadi : Kafur.


“Dasar Kafur! Bayi tua! Bayi bangkotan! Awas saja nanti kalau pulang!”


***


Kafur : Fin, angkat teleponnya. Serius, ya. Di sini aku sedang mengurus urusan sangat penting, tapi kamu bikin pikiranku kacau.


Kafur : Fin, cepat balas!


Fina, dengan penampilannya yang sudah rapi, mengenakan gaun selutut berlengan panjang warna putih, sedangkan rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, terlihat layaknya nyonya besar. Kali ini,


meski Fina kembali dirias natural, tetapi tidak dengan bibirnya yang dipoles gincu berwarna merah maroon, hingga kesan seksi bahkan berani menyertai kecantikan wajah Fina.


Dan Fina memutuskan untuk membalas Rafael agar pria itu fokus bekerja.


-Aku sedang di perjalanan, antar bapak cek up.


Sudah, lupakan saja. Tapi bukan berarti aku sudah memaafkanmu, ya!-


Tak lama setelah Fina mengirim pesan tersebut, Rafael langsung melakukan panggilan video. Namun Fina tidak langsung menjawab lantaran ia memastikan suasana sekitar lebih dulu.

__ADS_1


Fina yang duduk di kursi penumpang paling belakang bersama Rina, mendapati adiknya sedang serius menonton siaran ulang, acara Keandra. Rina sampai mengenakan headset dan kenyataan tersebut diyakini Fina aman jika ia berbincang dengan Rafael.


Kata pertama yang Rafael ucapkan ketika Fina menjawab panggilan video adalah, “gila kamu!”


“Kamu benar-benar bikin aku gila!” ulang Rafael.


Rafael tidak terlihat marah, hanya kesal dan terlihat jelas ingin diperhatikan oleh Fina. Fina yang masih diam bahkan menepis tatapan Rafael dengan tatapan sinis.


“Kamu sudah makan?” tanya Rafael kemudian dengan nada suara yang menjadi turun drastis.


Fina masih cemberut tanpa membalas Rafael.


“Aku masih memiliki waktu lima menit sebelum pergi memimpin rapat,” sambung Rafael lagi.


“Kamu berbakat banget bikin aku semakin merasa bersalah, ya?” sambung Rafael lagi.


Fina hanya melirik sebal Rafael sebelum kembali menepis tatapan pria itu.


“Aku usahakan sebelum pukul setengah lima, aku sudah pulang,” sambung Rafael lagi yang menjadi sibuk berbicara sendiri.


“Aku enggak minta kamu pulang cepat!” balas Fina cepat dan masih tidak sudi menatap Rafael.


“Jangan lupa, nanti malam orang tuaku akan datang.” Rafael mengingatkan.


“Datang ya datang enggak ada urusannya—” ucap Fina berhenti lantaran dari depan, Murni telah menegur sambil menatap tajam Fina.


Murni sampai menggeleng tegas. Dan Fina sadar, Murni melarangnya bersikap cuek kepada Rafael.


“Kamu sudah makan?” lanjut Rafael lagi.


Fina melirik Murni yang masih menatapnya penuh peringatan. Jadi, mau tidak mau, Fina juga mulai membalas Rafael. Tentunya, masih sekadar asal membalas, di mana Fina juga belum sudi menatap pria itu.


***


Mungkin sekitar satu jam kemudian, Fina yang sedang duduk menunggu Rina, Murni, dan juga Raswin yang kompak ke toilet, dikejutkan oleh kehadiran seorang pria muda, yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Pria itu


membungkuk dengan sebelah tangan yang mencengkeram perut sebelah kiri. Dan karena pria tersebut juga, bangku tunggu yang Fina duduki menjadi goyang-goyang.


“Bisa-bisanya aku terkena magh? Malu-maluin. Padahal pola makan sama istirahatku oke?” uring si pria sembari mengamati kantong kecil yang Fina dapati berisi beberapa resep obat dalam kantong kecil yang terpisah.


Fina yakin, pria itu baru saja berobat.


“Tapi stres bisa bikin lambung kita bermasalah, lho,” ucap Fina sambil menatap prihatin pria di sebelahnya.


Pria di sebelah Fina dan tidak lain Daniel, adik angkat Keinya dan Kainya, menatap bingung Fina. “Kamu berbicara denganku?” tanyanya memastikan.


“Ya iya, ... masa iya, aku ngobrol sama tembok apalagi obat seperti apa yang kamu lakukan?” balas Fina. “Cepat minum obatmu. Ada obat sebelum makan, yang harus sampai dikunyah dulu, kan?” lanjutnya.


Daniel menatap bingung Fina. “Kamu kasih aku saran, sejenis perhatian, tapi nada bicaramu sewot begitu?”


Fina mengerutkan dahi dan menanggapi Daniel dengan serius. “Efek marah ke Rafael, bikin semua kena dampaknya,” batinnya.


“Hahaha ... santai. Aku hanya bercanda biar enggak terlalu stres. Thank’s, ya!” Daniel susah payah menahan senyumnya. Ia sampai menekap mulutnya menggunakan sebelah tangan.


Fina mengangguk-angguk bingung. “Orang ini


aneh banget. Masa iya, tiba-tiba ketawa begitu? Padahal aku biasa-biasa saja,”


batin Fina bingung sendiri.


Sadar pria di sebelahnya akan membuka salah satu bungkus tablet obat, Fina yang memiliki sebotol air mineral berukuran kecil pun meletakkannya di sebelah lutut pria itu, meski tak lama setelah itu, Fina juga memilih bergegas pergi.


“Ini?” ujar Daniel menatap Fina penuh kepastian.


“Iya, buat kamu. Kamu mau minum obat, kan? Masa iya, enggak pakai air minum? Tapi maaf, aku anti aroma obat magh. Maaf, ya,” ujar Fina yang buru-buru melangkah sembari menenteng tas tangan berwarna


putih di tangan kanannya.


Tiba-tiba saja, senyum tulus merekah di bibir padat Daniel yang melepas Fina dengan tatapan penuh rasa kagum. “Tuhan tahu banget kalau aku sedang patah hati, gara-gara Itzy mau menikah sama Ben,” gumamnya.


“Ini ke toiletnya sekalian ngontrak apa bagaimana, kok pada lama banget?” gumam Fina sambil terus melangkah menuju toilet.


Bersambung ....


Yang belum tahu,


Sunny, Sandy, dan Keandra, ada di novel Author judulnya : Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh)


Sedangkan tokoh Daniel, ada di novel : Selepas Perceraian.

__ADS_1


Jangan lupa ikut sayembara yang diadakan Ipul, ya. Lumayan, hadiahnya tanda tangan sama foto bareng kambing dan kerbau 😆😆😆😆


__ADS_2