
“Menikahlah denganku!”
Episode 17 : Minta Tolong
Rafael menyadari, Fina sampai gemetaran mendekapnya. Jelas, Fina ketakutan atas apa yang baru saja ia lakukan. Sayangnya, menurut Rafael yang selalu menganggap semua pemikiran termasuk keputusannya benar, Ipul pantas mendapatkan semua itu.
“Sebelum diantar ke kantor polisi, aku akan memberinya pengobatan gratis!” tegas Rafael terdengar dingin.
Perlahan, Fina berangsur membuka matanya. Ia juga sampai mengendurkan dekapannya terhadap lengan Rafael. Di mana tak lama setelah itu, ia berangsur menarik wajah berikut tubuhnya dari tangan Rafael tanpa benar-benar melepaskan lengan pria itu.
Fina menjadi merem-melek, mencuri-curi pandang, memastikan keadaan Ipul. Sungguh, meski Fina fobia darah, tetapi melihat Ipul yang sekarat dengan wajah berlumuran darah, cukup membuatnya terhibur. Bahkan Fina ingin bersorak-sorai dan kalau boleh sampai jingkrak-jingkrak. Namun, fobia darah yang Fina idap tetap saja tidak bisa dihalau meski ia baru sebentar melihat keadaan Ipul. Fina benar-benar mendadak lemas tak bertenaga.
“Raf ... aku lemas. Aku enggak bisa lihat darah banyak,” keluh Fina yang kemudian melipir dan duduk di bangku tunggu yang keberadaannya ada di depan ruang rawat Raden.
Rafael menatap heran Fina yang sampai duduk memunggungi keberadaannya berikut Ipul. “Fina fobia darah? Aneh sekali? Dia itu wanita yang tiap bulannya selalu mendapat tamu bulanan berupa darah, kan?” pikir Rafael.
Meski sempat menatap cemas Fina, tetapi Rafael memilih menyeret sebelah lengan Ipul dan mengantarnya ke perawat terdekat. Tak butuh waktu lama untuknya menemukan perawat. Sebab di koridor seberang stelah tikungan saja, ada perawat yang berjaga.
Rafael menyerahkan Ipul kepada kedua perawat wanita tersebut tak ubahnya menyerahkan ayam yang baru saja disembelih. “Tolong urus ala kadarnya saja. Mengenai biaya, saya yang tanggung,” ucap Rafael datar dan memang sampai tidak menatap kedua perawat yang dihadapi. Rasanya malas dan memang tak rela jika harus memberikan perawatan layak kepada Rafael yang jahatnya kebangetan.
Kedua perawat tersebut menjadi kebingungan menatap Rafael berikut keadaan Ipul yang terlihat memprihatinkan.
“Ini, ... korban kecelakaan, Pak?” tanya salah seorang perawat mencoba memastikan.
Rafael merengut. “Enggak tahu. Orang ini memang enggak jelas. Sudah tolong diobati ala kadarnya saja.”
Kedua perawat itu langsung bekerja. Salah satu dari mereka mengambil kotak P3K dari rak obat yang kebetulan ada di belakang meja kerja perawat itu sendiri, sedangkan perawat yang satunya langsung memastikan wajah Ipul.
“Kok bau busuk, ya?” bisik perawat yang baru saja menghampiri Ipul sambil membawa kotak P3K, kepada rekan yang sudah lebih dulu menangani Ipul.
Kedua perawat itu saling berkode mata. Sedangkan Rafael yang sampai mendengarnya memilih tetap diam. Namun, tidak dapat Rafael pungkiri, tubuh Ipul memang bau busuk sampah. Entah apa yang terjadi kepada Ipul sebelumnya. Atau mungkin, Fina kembali menuang sampah kepada Ipul layaknya kejadian hari kemarin?
***
Tak sampai satu jam, akhirnya Rafael dan Fina kompak menghela napas lega sambil berjalan meninggalkan pelataran kantor polisi yang posisinya memang tepat di seberang puskesmas. Hanya saja, Fina merasa ada yang berubah dari seorang Rafael. Rafael yang sekarang sangat kontras dari Rafael yang kemarin sebelum ia meninggalkannya. Rafael yang sekarang cenderung pendiam dan bersikap dingin.
“Rumahnya dekat sama kamu?” tanya Rafael tanpa menatap Fina yang sebenarnya sedang diam-diam menatap wajah Rafael sambil menerka-nerka.
Fina segera mengangguk. “Dekat. Tetangga.”
Rafael mengerutkan dahi. “Sejak kapan dia gila begini?” ucapnya yang kemudian menatap Fina. Mereka masiu melangkah pelan.
“Semenjak aku baru masuk SMA. Dia marah karena cintanya aku tolak bahkan sampai sekarang,” balas Fina tak bersemangat dan sarat kesedihan.
__ADS_1
“Memangnya dia enggak punya orang tua apa kekuarga? Enggak ada keluarga yang negur?” lanjut Rafael makin penasaran sekaligus heran.
“Ya mereka sama saja. Dia anak laki-laki satu-satunya jadi dimanjain banget!” balas Fina meyakinkan.
“Aku juga anak laki-laki satu-satunya, tapi ya biasa saja! Kalau mau lebih gila, harusnya aku!” balas Rafael sewot.
Mereka sudah meninggalkan pelataran kantor polisi dan kali ini berjalan di sekitar jalan, kembali ke puskesmas.
“Raf, aku enggak bisa lama-lama. Mengenai pesan yang aku kirim ke kamu,” ucap Fina kemudian.
Rafael mengernyit lantaran merasa tidak mengerti dengan apa yang Fina maksud. “Pesan apa? Aku saja belum lama ngaktifin ponsel. Memangnya, kamu punya nomor ponselku? Dan kenapa juga, semalam kamu pergi tanpa pamit?”
“Pesan yang aku titipkan ke sopir ambulans lho, Raf?” balas Fina memastikan.
“Sopir ambulans bagaimana?” balas Rafael makin bingung.
“Sebentar. Aku tanya langsung ke orangnya. Siapa tahu ada!” sergah Fina yang melangkah lebih cepat dan bahkan meninggalkan Rafael. “Kamu jangan pergi, aku butuh bantuan kamu lagi. Ini sangat penting!” pesan Fina yang kemudian berlari.
Rafael menghela napas dalam dan memang menyusul kepergian Fina. Yang Rafael dengar, petugas ambulans yang dititipi pesan oleh Fina, mengalami tabrak lari malam itu juga, sedangkan saat ini, sopir tersebut masih menjalani penanganan intensif di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit Raswin dirawat.
“Wah ... kasihan sekali ... ya sudah, Sus. Terima kasih banyak,” ucap Fina kemudian sebelum pamit sambil sedikit membungkuk pada ketiga suster yang iantanyai di ruang pendaftaran.
Rafael yang turut menyimak juga menundukkan kepalanya tanpa berkomentar. Namun ketika Fina kembali menghampirinya, ia langsung bertanya, “bapakmu di rujuk ke kabupaten?”
Rafael termenung untuk beberapa saat sambil mengerutkan dahi.
Menyadari Rafael langsung duduk di bangku tunggu tak jauh dari taman, Fina pun berhenti melangkah. “Bapakku sakit tetanus. Dan tetanusnya sudah parah. Sudah sampai menyerang jantung dan ginjalnya.”
Lantaran Rafael terlihat kurang menyimak, Fina pun berkata, “Raf, aku serius. Fokus, dong! Aku, ... dengan segenap kesadaranku sampai membuang jauh-jauh rasa maluku hanya untuk berbicara kepadamu!” Fina terdiam sejenak sebelum akhirnya tiba-tiba bersimpuh di hadapan Rafael sambil tertunduk tanpa berani menatap pria tersebut.
“Hei! Apa yang kamu lakukan! Jangan begini!” sergah Rafael kebingungan. Ia mendapati beberapa orang yang melintas langsung menjadikan kebersamaannya dengan Fina sebagai fokus perhatian.
“Aku mau minta tolong! Tolong pinjami aku uang buat biaya pengobatan bapakku! Demi Tuhan, aku bakalan ganti, atau setidaknya jadi budakmu seumur hidupku juga enggak apa-apa asal kamu mau bantu!” Fina masih bersimpuh tanpa menatap Rafael, meski kali ini, ia sampai menahan kedua kaki Rafael.
Sambil bersedekap, Rafael berkata. “Fina ... ini peringatan keras. Jangan begitu dan duduk yang benar. Semua orang memperhatikan kita. Jika kamu tetap begitu, aku pastikan, aku enggak akan bantu kamu. Sepeser uang pun enggak bakal aku kasih!” tegas Rafael kejam. Ia bertindak tak ubahnya bos dingin. Pun meski ia bersikap tenang berikut memasang senyum. Semua itu tetap membuatnya terlihat mengerikan.
“Duduk. Di sebelahku. Apa yang kamu lakukan bikin reputasiku kebanting. Seolah-olah aku ini orang yang sangat kejam!” lanjut Rafael.
“Maaf ...,” ucap Fina yang kemuduan beranjak. Tanpa menatap Rafael, ia duduk di sebelah pria itu. Di bangku kayu menyerpai jeruji yang menghiasi taman dan beberapa di antaranya sedang digunakan untuk bersantai oleh pengunjung puskesmas.
“Bicara yang jelas. Apa maumu!” tegas Rafael kemudian sambil melirik sinis Fina lantaran ia masih kesal dengan keputusan Fina yang tiba-tiba memohon bahkan sampai bersimpuh di depan tempat umum.
Kedua tangan Fina yang ada di pangkuan, menjadi saling remas. “Tolong, ... bantu aku, pinjami aku uang.”
__ADS_1
“Apa jaminannya?” balas Rafael cepat sambil melirik sinis Fina.
Fina tidak bisa menjawab dan berangsur menoleh, menatap Rafael. Hal tersebut terjadi lantaran ia memang tidak punya barang berharga bahkan tanah luas layaknya orang kampung pada kebanyakan. Fina berasal dari keluarga biasa yang hidupnya pas-pasan.
“Jangan menatapku dengan wajah melas seperti itu. Sudah-sudah, ... lebih baik kamu menunduk saja. Mana masih pakai pakaian kemarin. Bahkan tubuh termasuk kepalamu juga sampai bau Ipul!” omel Rafael.
Sambil menunduk, Fina berkata, “Dari tadi dia berusaha nyempil meski aku sudah duduk di dekat nenek-nenek. Orangnya kan memang maksa begitu.”
Tampang melas Fina membuat Rafael iba. Sifat dermawannya tumbuh begitu cepat. Belum lagi, selain penyakit tetanus yang memang harus ditangani secara intensif, Raden juga sudah wanti-wanti Rafael untuk mengurus biaya bapak Fina. Pun meski hubungannya dan Fanny hanya sebatas pura-pura. Rafael merasa memiliki andil untui bertanggung jawab, karena begitulah dirinya.
“Omong-omong, statusmu sekarang apa? Kamu ... maaih terikat pernikahan?” tanya Rafael hati-hati sambil sesekali melirik Fina dengan keadaannya yang masih bersedekap.
Fina tak lantas menjawab. Ia menghela napas sangat dalam kemudian menggeleng. “Aku terpaksa menikah, menjadi mempelai pengganti sahabatku karena satu hari sebelum pernikahan, calon istri sahabatku justru menikah dengan ayah dari anak yang sedang dikandung.
Sayangnya, bukannya bernasib manis atau setidaknya sama-sama belajar menerima kenyataan, sahabatku ini malah berubah drastis. Dengan segala keyakinannya yang belum bisa melupakan mantannya, dia mengembalikanku ke orang tuaku, satu minggu dari pernikahan.”
“Sudah dikhianati masih frustrasi?” ujar Rafael tak habis pikir.
“Bahkan setelah menceraikanku, dia sampai mencoba bunuh diri dan overdosis. Orangnya ada di puskesmas ini, kok,” balas Fina dengan santainya. Baginya, memikirkan Bian apalagi mengasihani pria itu hanya membuang-buang waktu.
“Sirius?! Kayak apa orangnya? Tapi, ... kalau dipikir-pikir, kenapa orang di kampungmu gila semua? Sudah jadi sifat kalian, ya?” balas Rafael penasaran sekaligus heran.
“Ya enggak semua begitu, kali!” cibir Fina.
Senyap untuk beberapa saat. Fina yang memilih diam sambil menunduk. Juga Rafael yang memang diam tapi tampak berpikir.
“Kalau begitu ...?” ucap Rafael tiba-tiba.
Fina langsung menoleh dan menatap Rafael.
“Menikahlah denganku!” tegas Rafael tanpa keraguan dan sukses membuat Fina tak bisa berkata-kata saking tidak percayanya.
Atas dasar apa, Rafael yang ia mintai bantuan justru mengajaknya menikah? Bahkan Fina sampai tidak menemukan keraguan dari suara berikut tatapan Rafael yang menjeratnya dengan sangat serius. Terlepas dari itu, yang Fina minta itu pertolongan agar Rafael meminjaminya uang, bukan malah pernikahan!
Bersambung ....
Selamat pagi dan selamat beraktifitas. Have a nice day, ya! Hari ini, Author tinggal nulis lanjutan Selepas Perceraian sama Menjadi Istri Sah! yang tayang di WP! Huh, senangnya rasanya >,<
Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya!
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1