
“Menurut berbagai informasi yang aku baca, memanjakan pasangan itu ibadah lho,”
Episode 61 : Baikan
Seharian marah-marah bahkan mengabaikan Rafael, yang ada hati Fina menjadi hampa. Fina merasa kesepian lantaran bukannya benar-benar lega atas keputusannya memberi Rafael pelajaran agar pria itu lebih bertanggung jawab pada hubungan mereka, yang ada Fina justru merasa bersalah.
Fina merindukan Rafael. Dan Fina benar-benar tidak bisa lebih lama lagi untuk tidak membalas apalagi mengabaikan pria itu. Terlebih jika Fina kembali membaca deretan pesan yang Rafael kirimkan hari ini kepadanya. Semua pesan-pesan yang dikirimkan oleh pria itu, begutu sarat perhatian.
Fina sadar, apa yang Rafael lakukan, karena pria itu ingin memperbaiki kesalahan yang telah dibuat. Hanya saja, jika teringat bagaimana kerasnya Rafael membentaknya pagi tadi, hati Fina kembali terasa sangat sakit. Fina cemburu pada Sunny yang nyatanya begitu berarti bagi Rafael. Anehnya, jika Sunny begitu berarti untuk Rafael, kenapa Rafael tidak menikahi Sunny saja? Kenapa Rafael justru menikahinya?
Bahkan hanya karena teringat bagaimana Rafael membentaknya tadi pagi, Fina yang kembali merasa sakit, juga sampai berlinang air mata. Fina segera menyeka air matanya sambil membaca ulang pesan-pesan WA yang Rafael kirimkan.
Kafur : Jangan lupa makan.
Kafur : Kamu boleh saja belum bisa memaafkanku, tapi kamu jangan sampai lupa makan.
Kafur : Sepertinya, mulai sekarang kita harus sama-sama siap. Kamu siap menjadi tabungan sekaligus tong sampah untukku, dan aju juga akan melakukan hal serupa.
Kafur : Masih hanya dibaca?
Kafur : Video call, yuk?
Kafur : Kamu sudah pulang, kan? Jangan lupa tidur siang. Oh, iya. Di laci nakas sebelah kanan tempat tidur, ada beberapa kotak suplemen makanan dan vitamin. Kamu baca dulu, mana yang perlu kamu minum. Itu bagus buat kesehatan.
Dan semua pesan-pesan itu, tidak ada yang Fina balas.
Kini, Fina sedang menunggu kepulangan Rafael. Sebenarnya, sejak pukul setengah dua, sepulang Fina dari rumah sakit, wanita itu sudah menunggu kepulangan Rafael. Fina berharap Rafael pulang cepat. Namun sepertinya pria itu benar-benar akan pulang sesuai waktu yang telah disampaikan. Pukul setengah lima, Rafael bilang akan mengusahakan pulang sebelum waktu itu tiba. Namun hingga kini, meski waktu yang dijanjikan telah lewat, Rafael tak kunjung pulang.
Di sudut tempat tidur sebelah kanan, Fina duduk selonjor sambil menyandarkan punggung ke sandaran tempat tidur. Fina sudah begitu semenjak kepulangannya dari rumah sakit. Menatap situasi luar melalui jendela di ujung kamar, sejauh matanya memandang.
Di luar sana matahari masih sangat terik, meski sudah pukul setengah lima lewat tiga menit sesuai waktu yang Fina dapati di ponsel yang Fina genggam menggunakan tangan kanan. Kembali, Fina memastikan ponselnya. Menyalakan aplikasi ponselnya untuk memastikan kabar terbaru dari Rafael. Namun pria itu tidak mengabarinya lagi. Karena yang ada, Rafael berdiri di balik pintu kamar yang sedikit dibuka. Ya, akhirnya Rafael pulang.
Sebelah tangan Rafael menenteng tas kerja, sedangkan sebelahnya lagi menahan gagang pintu. Pria itu terpaku menatap Fina yang juga mengalami hal serupa. Di mana, di menit selanjutnya, kecanggungan mendadak melanda.
Rafael berangsur masuk ke kamar dengan hati-hati kemudian menutup dan menguncinya. Rafael masih merasa serba salah lantaran nyatanya, Fina masih mendiamkannya. Rafael sadar, dirinya yang salah dan Fina berhak marah kepadanya. Hanya saja, tadi, awal mula ia mengetahui skandal yang menimpa Keandra ternyata menyeret Sunny dan berimbas pada kenyamanan di hotelnya, selaku bekas Sunny bekerja dan langsung menjadi sasaran awak media, Rafael yang patah hati beruntut, tidak tahu lagi harus meluapkannya pada siapa, selain Fina.
Ya, Rafael patah hati beruntut. Karena nyatanya, Sunny yang lima tahun ia kejar untuk dijadikan istri sebelum akhirnya ia bersama Fina, justru menikah dengan Sandy sahabat Rafael sendiri. Sudah patah hati karena Sunny justru menikah dengan pria lain, nyatanya yang menikah dengan Sunny justru sahabat Rafael sendiri, terlepas dari Sandy yang Rafael ketahui akan menikah dengan Maya, tunangan pria itu.
Anehnya, selain tidak bisa datang ke pernikahan Sandy, karena di hari yang sama Rafael harus pergi ke kampung untuk memastikan keadaan Raden, di kampung, Rafael yang sudah berulang kali mencoba menghubungi Sunny justru bertemu Fina. Semua hubungan itu berjalan tanpa Rafael rencanakan. Benar-benar mengalir begitu saja.
Dan setelah mencuci tangan, wajah berikut kaki, Rafael bersiap untuk menemui Fina. Ia harus meminta maaf kepada Fina, di mana ke depannya, ia juga harus hati-hati untuk meluapkan perasaan apalagi amarahnya.
***
Sebenarnya, Fina sudah sangat ingin menghampiri Rafael, meminta maaf kepada pria itu, dan juga segera memperbaiki hubungan mereka detik itu juga. Hanya saja, entah kenapa, tubuh Fina justru mendadak tak bertenaga. Namun kini, Fina yang baru saja berhasil berdiri, dikejutkan oleh kehadiran Rafael. Pria itu melangkah tidak bersemangat.
“Sejak kapan, di tempat tidur kita ada tembok Berlin?” ucap Rafael sambil menatap bingung tumpukan bantak yang membatasi tengah-tengah tempat tidur mereka.
__ADS_1
Fina mendengkus sambil menepis tatapannya pada Rafael. Kemudian, ia yang melirik deretan bantal berikut bantal guling yang sengaja ia pasang sebagai pembatas antara dirinya dan Rafael di tempat tidur, berangsur terduduk lesu sambil menghela napas.
Rafael segera merebahkan tubuhnya di kasus seberang Fina. Mereka tersekat tumpukan bantal. Namun karena Fina hanya diam, Rafael pun melirik wanita itu, kemudian mencoba mengakhiri kegilaannya.
Rafael nyaris menarik semua tumpukan bantal di tengah-tengah tempat tidur mereka, tetapi Fina langsung melarangnya.
“Jangan dibongkar,” ucap Fina tak ubahnya menggerutu.
Fina melakukan itu dengan wajah cemberut. Rafael menyaksikannya sendiri. Ada kesedihan, kemarahan berikut kemanjaan yang menyertai ekspresi Fina sekarang. Jadilah, Rafael segera bangun kemudian loncat melalui pembatas yang ia sebut tembok Berlin.
Rafael melangkah dengan hati-hati, kemudian mengambil posisi duduk dan justru tiduran di pangkuan Fina.
Dengan sebelah tangan yang meraih kepala Fina tanpa menatapnya, Rafael yang terpejam pun berkata, “Fina ... Fina ... pijitin kepalaku, dong ... pusing banget serius.”
Fina yang masih merengut pun berangsur memijat-mijat kepala Rafael menggunakan ke dua tangannya. Awalnya, Fina memang tidak menatap wajah Rafael, tetapi lama-lama, Fina menatap wajah itu juga. Wajah yang biasanya selalu banyak menampung banyak ekspresi meski lebih sering dihiasi keseriusan dan kemarahan.
“Masih marah juga?” ucap Rafael masih terpejam.
Fina bergumam sambil terus memijati kepala Rafael.
“Menurut berbagai informasi yang aku baca, memanjakan pasangan itu ibadah lho,” lanjut Rafael.
“Namun bukan berarti saat di rumah kamu minta dimanjakan, tetapi kalau di luar kamu bebas marah-marah bahkan sampai bentak-bentak,” balas Fina masih cuek tetapi sukses diam lantaran sebelah tangan Rafael membekapnya.
Fina berangsur menurunkan tatapannya untuk menatap Rafael. Pria itu sudah menatapnya dalam. Ada banyak penyesalan berikut luka yang menghiasi tatapan pria itu.
“Jangan bahas itu lagi. Iya, aku tahu aku salah. Tapi aku jadi suka suasana seperti ini karena nyatanya, kamu terus marah. Kamu cemburu?” ucap Rafael dengan nada yang begitu lirih.
“Tapi kalau marah-marah terus, kapan baikannya?” lanjut Rafael. “Bahkan kamu sampai bikin tembok Berlin begini?”
Sebelah tangan Rafael tak hentinya membelai bibir berikut dagu Fina. Membuat Fina kelabakan sendiri. Sembari menghela napas, Fina berangsur meraih tumpukan bantal dan ia letakkan di atas tubuh pria itu untuk menutupinya.
Rafael menertawakan ulah Fina. “Besok ikut aku ke hotel, ya?” ucap Rafael kemudian seiring sebelah tangannya yang meraih tengkuk Fina, dan menuntun wanita itu untuk menundukan wajahnya.
Rafael melayangkan ciuman di kening, hidung, berikut bibir Fina.
“Belajar makan nasi, yuk? Nanti aku masakin dalam banyak fariasi. Nasi goreng? Tim? Bakar?” tawar Fina yang akhirnya menatap Rafael seutuhnya. Ia yang masih menatap Rafael dengan jarak dekat juga tak segan membelai wajah pria itu.
Rafael menggeleng. Menjadi tak bersemangat dan bahkan meringkuk memunggungi Fina.
“Raf ....”
“Hm ... biarkan aku tidur dulu.” Rafael membenarkan posisi kepalanya di pangkuan Fina.
“Tapi habis tidur, makan nasi, ya? Dikit? Belajar dikit-dikit ...,” bujuk Fina masih berusaha.
“Mmm ... enggak janji.”
__ADS_1
“Ayolah ... cuma dikit, kok.”
“Mm ... lihat nanti.”
“Ya sudah. Nanti kamu makan nasi. Dan sekarang, aku juga mau tidur bentar. Harus pasang alarm.” Fina menjadi jauh lebih bersemangat.
Fina meraih ponselnya, memasang alarm dan membiarkan tubuhnya ditarik Rafael, hingga mereka sama-sama berbaring, seiring Rafael yang sampai mendekap erat tubuh Fina.
“Padahal aku punya banyak cerita yang ingin aku ceritakan sama kamu,” lirih Fina sambil menyemayamkan wajahnya di wajah Rafael yang sudah terpejam.
“Nanti ... setelah kita bangun sebelum acara makan malam bersama orang tua kita,” balas Rafael yang tetap terpejam.
Fina menyaksikannya. Rafael terlihat sangat kelelahan.
“Hari ini, aku telah berhasil memecahkan rekor,” lanjut Rafael.
Fina mengernyitkan dahi, menatap tidak mengerti suaminya. Nanun ketika Rafael berangsur membuka matanya, dan melirik serakan bantal di belakang pria itu, Fina menjadi mengerti apa yang Rafael maksud.
“Aku sukses meruntuhkan tembok Berlin. Ini beneran rekor dalam sejarah!” ucap Rafael yang kemudian disambut tawa tertahan oleh Fina.
“Pejamkan matamu dan tidurlah, sebelum aku berubah pikiran,” lanjut Rafael sambil menatap Fina penuh peringatan. Dan melalui anggukan kepalanya, Rafael meminta istrinya itu untuk tidur.
“Baiklah ... aku sudah memasang alarm pukul setengah enam,” balas Fina yang berangsur terpejam.
“Tapi sepertinya aku sudah enggak ngantuk,” ucap Rafael kemudian.
“Lho, bagaimana ceritanya?” balas Fina yang akhirnya kembali membuka mata dan menatap bingung Rafael.
Rafael, menatap Fina dengan senyum yang mengandung banyak isyarat. Senyum yang juga membuat Fina menjadi merinding. Fina tahu apa maksud Rafael, tetapi wanita itu segera menutup wajah Rafael menggunakan kedua tangannya.
“Nanti malam saja. Aku enggak mau kamu ninggalin banyak bekas di leherku lagi, sedangkan beberapa jam lagi, kita akan makan malam bersama keluarga kita,” ucap Fina.
“Aku janji enggak akan ninggalin bekas lagi,” kilah Rafael.
Fina menghela napas berat. “Rafael ... nanti malam saja!” keluh Fina.
“Oke, baiklah ... daripada sama sekali enggak dapat jatah ... eh, kita baikan, kan?”
“Memangnya, kapan kita bertengkar? Kenapa harus baikan?”
Rafael tersenyum geli menanggapi balasan Fina yang sudah terpejam, di mana istrinya itu terlihat sangat mengantuk dan bahkan kelelahan.
“Sepertinya, aku benar-benar sudah mencintaimu?” batin Rafael sambil memandangi wajah istrinya sendiri seiring senyum lembut yang menghiasi wajahnya.
Bersambung ....
Selamat pagi menjelang siang.
__ADS_1
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa 😍
Like, komen, Author tunggu biar ceritanya enggak tenggelam. Syukur-syukur sama vote, karena cerita mai oli wan ini, Author ikutkan kontes 😂😂😂