Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 71 : Rafael Mabuk


__ADS_3

“Aku harap, alasan perutmu sakit, karena ada bayi di dalamnya ....”


Episode 70 : Rafael Mabuk


Rafael masih melakukan semuanya dengan tergesa. “Jika dalam sepuluh menit saya tidak memanggil kalian, kalian boleh istirahat,” pesannya sebelum masuk kamar.


“Baik, Tun ....” Ketiga pelayan Fina berikut Otoy, segera mengangguk mengerti sembari membungkuk hormat melepas kepergian Rafael.


Rafael memasuki kamar hotelnya dengan sebelah tangan yang kerap memijat kepalanya, terlepas dari langkahnya yang sudah cukup sempoyongan.


***


Fina baru saja menurun gaunnya, ketika seseorang justru membuka pintu dari luar. Kenyataan tersebut membuat Fina kalang kabut, bahkan sekalipun Rafael yang menjadi dalang dari terbukanya pintu.


“Rafael, tutup pintunya, aku sedang lepas gaun!” omel Fina yang asal menarik selimut dari atas kasur untuk berlindung.


Teriakan Fina yang luar biasa kencang, sukses membuat Rafael syok. Rafael yang sudah setengah mabuk, sampai menutup pintu dengan cepat, dan kemudian menahannya menggunakan kedua tangan berikut tubuhnya yang sampai menyandar.


Di tengah napasnya yang memburu, Rafael mendapati Fina menutupi tubuh menggunakan selimut yang bahkan sebagiannya masih menutupi kasur.


“Kamu kalo teriak bikin telingaku rusak, tahu, Fin! Aku nyaris mati muda gara-gara jantungan dengar teriakan kamu!” gerutu Rafael.


Fina yang hanya diam, mengerjapkan matanya beberapa kali. Lain halnya dengan ketiga pelayan Fina berikut Otoy yang masih terjaga di depan pintu. Keempatnya langsung terkikik dan menekapkan sebelah tangan mereka pada mulut, sesaat setelah mendapati Rafael kocar-kacir menutup pintu hanya karena diteriaki oleh Fina.


“M-maf,” tukas Fina singkat.


Rafael tak menjawab. Namun pria itu tidak bisa berhenti menatap Fina. Membuat Fina dilanda gugup sekaligus tegang dalam waktu yang bersamaan.


“Sudah dilanjut. Jangan ditutup-tutupi ... aku mau lihat ...,” ucap Rafael sambil tersenyum sendu.


“Iihh!” Fina mendengkus sebal.


Dan balasan Fina membuat Rafael tersipu. Rafael berangsur melangkah, mendekati Fina sambil sesekali mengernyit. Ada kalanya, Rafael juga memukul-mukul asal punggung kepalanya demi meredam pening yang sudah sibuk menyerang di sana.


“Kamu mabuk?” ujar Fina yang segera menarik tuntas selimut dari atas kasur untuk menutupi tubuhnya hingga melilit pundak.


Rafael mengangguk-angguk sambil menatap sendu Fina. “Sedikit ... belum benar-benar mabuk. Aku masih bisa mendengar suaramu dengan baik.”


Bagi Fina, tampang Rafael kali ini tak ubahnya bayi. Pun meski cara berbicara suaminya itu sudah terdengar meracau.


Fin segera menyusul Rafael yang sebenarnya sudah ada di hadapannya. Fina bermaksud menuntun Rafael untuk berbaring. Namun apa daya, tubuh Rafael justru tersungkur menimpa Fina hingga mereka terjatuh bersama ke atas kasur.


“Ya ampun ...,” gumam Fina di tengah napasnya yang menjadi memburu. “Rafael, ... tubuhmu berat,” keluhnya.


“Heum, aku tahu ...,” gumam Rafael sambil mengangguk-angguk dan kemudian menarik diri dari atas tubuh Fina.

__ADS_1


Rafael tengkurap di sebelah tubuh Fina yang masih berbaring. Kemudian, kedua tangan Rafael membingkai wajah Fina.


“Kamu bau alkohol,” ucap Fina yang kemudian menekap hidung dan mulutnya.


Dan sekai lagi, Rafael yang masih menatap dalam Fina, menjadi mengangguk-angguk. “Fina, ... apakah kamu tahu, malam ini kamu terlihat sangat cantik?” racau Rafael yang kemudian menciumi wajah Fina.


“Kenapa hanya malam ini? Aku kan memang cantik! Aku sudah ditakdirkan cantik Raf!” omel Fina yang masih menekap mulut berikut hidungnya meggunakan kedua tangannya.


“Iya ... kamu memang sangat cantik,” saut Rafael sambil berusaha menyingkirkan tangan Fina dari mulut wanita itu.


“Fina ... aku mau bibirmu ... tolong singkirkan tanganmu, aku mohon,” racau Rafael lagi dan sukses membuat Fina menahan tawa tanpa menyingkirkan kedua tangannya layaknya apa yang Rafael minta.


“Kamu enggak boleh mencium bibirku jika kamu sedang mabuk!” tegur Fina.


“Tapi aku enggak mabuk!” elak Rafael sambil menatap serius Fina.


Fina yang masih menahan tawanya, berangsur mengangguk-angguk. “Tapi kamu sudah cukup mabuk!” balasnya meyakinkan.


Rafael mengangguk-angguk mengerti. “Oh, iya, ... tadi katanya perutmu sakit?”


Kali ini tujuan Rafael adalah perut Fina. Meski masih terbungkus selimut, tetapi Rafael berangsur merabanya dan kemudian merebahkan wajahnya di sana.


“Aku harap, alasan perutmu sakit, karena ada bayi di dalamnya ....”


“Kamu mau bayi?” tanya Fina hati-hati.


Meski tidak menjawab, tetapi Fina mendapati Rafael yang masih berbaring di perutnya, mengangguk-angguk. Selain itu, Rafael juga rutin meraba perut Fina.


Fina, refleks tersenyum mendapati semua itu. Fina benar-benar merasa bahagia. Itu juga yang membuatnya berangsur bangun dan mencoba untuk duduk.


“Bikin, yuk?” ucap Rafael tiba-tiba sambil memandangi Fina penuh harap.


“Bikin apa?” balas Fina bingung.


“Ya bikin anak. Memangnya mau bikin apa lagi?”


Awalnya, Fina hanya tersipu. Namun lama-lama, Fina menjadi tertawa dan susah payah mengendalikannya. “Sini, aku cium kamu!” ucapnya yang kemudian mencium kening Rafael sangat lama.


Rafael masih membaringkan wajahnya di pangkuan Fina. Dan meski sadar Rafael tidak sepenuhnya sadar, tetapi Fina merasa sangat senang mengobrol dengan Rafael dalam keadaan pria itu yang seperti sekarang. Sebab apa yang Rafael katakan sekaligus lakukan kali ini benar-benar murni tanpa kebohongan apalagi sandiwara.


“Bibir, Fin ...,” rengek Rafael yang masih bertingkah layaknya bayi.


“Iya, tapi nanti. Karena sekarang kamu masih mabuk dan bau alkohol. Aku siapin kamu air hangat buat berendam, ya? Besok puasa dan kamu juga harus mandi junub dulu,” bujuk Fina yang susah payah membantu Rafael untuk bangun.


“Mandi bareng saja, ya? Ibadah lho ...,” tawar Rafael.

__ADS_1


“Sudah, ayo ... aku antar kamu ke kamar mandi,” balas Fina yang akhirnya berhasil memapah Rafael.


“Mandi bareng, Fin!” rengek Rafael lagi.


“Ya ampun Rafael ... Authornya enggak bakalan mau nulis adegan begitu!” omel Fina lagi.


“Ya sudah disuruh ditulis mand bareng saja, pasti pada ngerti!”


“Hus! Ada yang masih di bawah umur!”


“Aku?”


“Kamu? Kamu mah sudah tua! Diam dan duduk di sini. Aku isi bak dulu.”


Fina menjelma menjadi seorang ibu yang langsung cekatan mengurus Rafael. Fina juga melakukan semuanya sambil terus menjawab pertanyaan Rafael yang tak hentinya bertanya, layaknya bocah.


“Fina, aku mencintaimu ....”


“Iya, aku tahu, kamu tulus ke aku.”


“Tapi kamu, ... mencintaiku juga, enggak?”


“Tentu! Kalau enggak, buat apa aku mau urusin kamu.”


“Aku sayang kamu Fina ....”


“Iya, aku tahu!”


“Jadi kamu jangan cemburu-cemburu lagi ke Sunny, ya?”


Karena nama Sunny disebut, Fina pun ingin mengetahui posisi wanita itu sebelum sampai menjadi istri Sandy. Akan tetapi, Fina juga ragu, lantaran takut terluka jika pada kenyataannya, Sunny sempat menjadi sosok spesial dalam hidup Rafael.


“Jangan bahas Sunny atau wanita lain lagi. Aku cemburu. Aku wanita pencemburu. Aku enggak rela kalau kamu bahas wanita lain, apalagi kalau kamu sampai memuji dan membandingkannya denganku!” tegas Fina yang tiba-tiba saja menjadi sebal sekaligus nelangsa.


Fina bahkan sampai menitikkan air mata. Karena sekali lagi Fina tegaskan, Fina cemburu jika Rafael harus membahas wanita lain apalagi sampai dibanding-bandingkan dengannya. Dan Fina tidak mau berbagi Rafael dengan wanita mana pun!


“Aku mencintaimu, Fina ... enggak ada yang lain!” tegas Rafael yang kali ini mendekap erat Perut Fina. Fina yang masih berusaha melepas kancing kemeja suaminya, setelah sebelumnya sudah berhasil melepas jas yang Rafael kenakan.


“Semoga, kamu selalu begitu,” batin Fina yang kemudian mencium kepala Rafael.


Bersambung .....


Selain minta dukungan like, komen, dan vote, buat kalian yang berkenan, kalian juga bisa share cerita ini biar lebih banyak yang baca, yaaa. Terima kasih banya. Akhirnya sudah up lagi, dan nanti malam tinggal Up yang Selepas Perceraian ♥️


Author mau masak biar bisa move on dari Rafael 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2