
“Kamu tahu, Kak? Berjuang mendapatkan pasangan orang, ibarat kita nekat memeluk beton panas. Kita akan terluka dan luka itu akan meninggalkan bekas yang sangat kentara!”
Episode 69 : Resepsi
Rina masih terduduk di lantai dengan sebelah tangan berpegangan pada dinding lorong di sana, ketika gadis itu menyadari Keandra sudah tidak ada. Pria yang di matanya begitu sempurna itu berlalu begitu saja. Tanpa pamit, apalagi balasan dari apa yang Rina sampaikan.
“Apakah aku salah?”
“Apakah aku sudah keterlaluan?”
Rina terus saja bertanya-tanya. Namun tadi, Keandra pergi setelah Rina meminta pria itu untuk minta maaf secara khusus kepada Sunny dan Sandy.
“Kamu tahu, Kak? Berjuang mendapatkan pasangan orang, ibarat kita nekat memeluk beton panas. Kita akan terluka dan luka itu akan meninggalkan bekas yang sangat kentara!”
Mengingat kata-kata itu, Rina jadi memukuli mulutnya sendiri. “Ya ampun ... bisa-bisanya aku berbicara seperti itu! Harusnya aku bisa lebih halus lagi apalagi Kak Kean yang sedang down banget!” sesalnya tiada henti.
Rina tak mau menyerah. Gadis itu segera menyusul kepergian Keandra. Tadi, idolanya itu mengenakan setelan jaket levis warna hitam berikut celana panjang yang dikenakan. Sedangkan di dalam jaket, sebuah kaus putih polos tampak menyertai tubuh bidang Keandra, lantaran pria itu tidak menutup ritsleting jaket yang dikenakan.
Rina terus berlari menyusul Keandra ke arah lorong kepergian pria itu. Tak tahu jika di dalam ruang resepsi Fina dan Rafael, gadis itu sedang menjadi bahan perbincangan.
“Tadi dia bilang mau nyamperin kamu ke kamar hotelmu?” ujar Fitri memberi informasi.
“Tapi dari tadi enggak ada yang datang kecuali Rafael. Tapi, Raf, ... kamu yang tadi keluar paling terakhir dari kamar, ... tadi ada lihat Rina, enggak?” Fina menatap cemas suaminya. Namun Rafael yang balik menatap cemas justru menggeleng.
“Enggak ada yang datang. Tapi bentar. Aku biang ke orang-orang hotel.” Rafael segera merogoh dan mengeluarkan ponsel dari saku sisi celananya.
Ponsel yang tetap ia bawa tetapi sedari awal sengaja ia diamkan, demi menghindari gangguan mengingat ia sedang menjalani acara sangat sakral.
Di altar pelaminan, Rafael dan Fina sudah ditemani keluarga besar mereka yang menggunakan pakaian senada. Warna ungu muda menyertai penampilan mereka tanpa terkecuali jas yang dikenakan Raswin, Raden, dan juga burhan.
Hilangnya Rina dari kebersamaan cukup menohok Fina. Suaminya, bahkan keluarga besar Rafael terlihat begitu mencemaskan Rina juga. Kenyataan ini begitu menegaskan betapa berharganya arti keluarga bagi mereka. Bahkan, sesi salaman dengan tamu undangan yang terlihat dari kalangan atas, sengaja ditunda hingga Rina ditemukan.
Ini mengenai saudara kandung Rafael yang sempat Rafel wanti-wanti pada Fina, untuk tidak membahasnya kepada Mey dan Burhan. Mereka yang berdiri di sebelah Rafael, sedangkan keluarga Fina berdiri di sebelah Fina. Di acara yang begitu akbar layaknya sekarang, pasti Rafael dan keluarganya tidak benar-benar bahagia. Pasti mereka sampai menjadi gamang, lantaran bagian dari mereka ada yang tidak datang, bahkan karena suatu masalah dan tentunya sangat sensitif.
Rafael baru saja menempelkan ponselnya ke sebelah telinga, ketika pandangannya tak sengaja terempas ke ujung karpet merah dan membuatnya mendapati Rina di sana.
“Itu Rina,” ucap Rafael yang kemudian mengakhiri telepon keluar yang dilakukan.
Rafael segera mengantongi kembali ponselnya dan sampai meninggalkan kebersamaan, demi menyusul Rina yang sedang berjalan cepat melewati hamparan karpet merah, menuju altar pernikahan.
“Kamu nyasar?” sergah Rafael.
Rina yang terlihat belum baik-baik saja, loyo dan seperti kehilangan banyak tenaga, sampai berpegangan pada sebelah lengan Rafael.
Rina menunduk seperti orang kelelahan setelah melakukan kerja yang menguras banyak tenaga. “Bentar, Mas ... aku lemes banget ....”
“Lemes kenapa? Kamu habis ngapain, sih? Tuh, ... ibu sama Mbakmu hampir nangis ketakutan. Ayo ke mereka.” Rafael sampai menuntun Rina untuk berdiri tegap. Rafael juga membiarkan Rina untuk terus berpegangan kepadanya. Mereka melangkah menuju kebersamaan.
Fina yang terlihat paling cemas dari semuanya sampai meninggalkan kebersamaan dan berdiri di depan anak tangga terakhir sebelum altar pelaminan.
“Kamu nyasar?” tanya Fina. Pertanyaan yang persis dengan pertanyaan Rafael. Tanpa direncanakan, karena biar bagaimanapun, suasana di resepsi teramat bising bahkan riuh, terlepas dari musik di sana yang terdengar menggema.
Yang Rina dapati, tadi yang sedang bernyanyi itu artis. Salah satu artis dari China yang juga membawakan lagu Mandarin.
“Aku enggak nyasar.” Rina mulai bercerita, dan semuanya telah mengerumuninya.
__ADS_1
“Terus, kamu dari mana?” tanya Fina lagi.
Rafael segera merangkul pinggang Fina lantaran Murni sudah mengambil alih dan merangkul Rina.
“Kenapa kamu lemes gini? Kamu enggak enak badan?” tanya Murni sambil meraba kening berikut leher Rina.
Rina segera menggeleng. “Enggak ... sebenarnya tadi aku ketemu Keandra ....”
Pengakuan Rina refleks membuat Rafael dan Fina terdiam, sebelum akhirnya, keduanya juga menjadi bertatapan. Lain halnya dengan Mey yang menjadi antusias.
“Kamu beneran ketemu Keandra? Apa kamu sengaja undang dia, Raf?” sergah Mey yang menatap Rina berikut Rafael, silih berganti.
Ketika Rina mengangguk, Rafael langsung menggeleng tegas.
“Tapi aku lupa minta foto bareng, Tan ...,” sesal Rina yang langsung nyambung dengan Mey.
“Mama ini, ... sudah ada menantu, juga, masih saja mikirin Keandra!” tegur Burhan.
Meski dengan suara lirih, tetapi teguran Burhan terdengar sangat tegas.
Rafael menahan senyumnya sambil menuntun Fina untuk menjauhi kebersamaan. “Benar, kan, dugaan kita, kalau yang ketemu Keandra itu mama apa Rina, hasilnya fatal. Tuh, Rina saja lemes begitu. Apalagi kalau dia yang tadi siang jadi kamu? Masuk ke kamar Keandra?”
Rafael sampai cekikikan di telinga Fina meski pada akhirnya, pria itu juga sampai melayangkan ciuman lembut di bibir Fina.
Mey sampai meminta Rina untuk berdidi di sisinya lantaran wanita itu sangat penasaran dengan cerita lengkap pertemuannya dengan Keandra. Bahkan saking antusiasnya, Mey tidak mau menundanya, kendati Rina bahkan Burhan sudah mengusulkan untuk melakukannya, setelah pesta usai. Nanti, ketika mereka sudah pulang.
Jadilah, Raden mengelah berdiri di sebelah Raswin agar posisi mereka tidak rancu. Ibaratnya, Raden dan Rina bertukar posisi.
Yang Fina khawatirkan, di hadapannya, di jajaran meja paling depan juga sampai dihiasi gelas wine yang memiliki kaki kecil sekaligus panjang. Itu tidak akan dikonsumsi oleh Rafael apalagi mereka, kan? Namun, sepertinya apa yang Fina takutkan mustahil. Sebab pesta besar layaknya orang dari kalangan Rafael pasti ada saja minuman yang menyertai.
Fina sengaja mendekap lengan Rafael erat, di mana ia juga cukup berjinjit, demi bisa berbisik tepat di sebelah telinga pria itu. “Itu minuman, kamu jangan ikut minum, lho ....”
Fina mengangguk cepat, membenarkan balasan Rafael. “Iya. Wine!”
Rafael langsung menatap cemas Fina. Dan tak lama setelah itu, ia juga berangsur menggeleng. “Tapi sepertinya aku enggak bisa janji. Kalaupun aku enggak minum, tapi teman-temanku pasti maksa dan bakalan jebak aku.”
Fina balas menatap cemas Rafael dengan kenyataannya yang tak lagi berjinjit. Seperti apa yang Fina duga sekaligus memenuhi pikirannya, apa yang Rafael katakan memang yang akan terjadi. Namun, Fina juga tidak bisa berbuat banyak apalagi sampai bertingkah kolot. Apalagi, resepsi yang sedang berlangsung memang mengusung tema internasional, di mana, beberapa orang bule juga tampak menjadi bagian tamu yang memenuhi meja bagian paling depan, selaku meja yang dikhususkan untuk tamu super VIP.
“Yang penting kamu sama keluargamu enggak minum. Biar aku saja,” bisik Rafael yang sebenarnya menjadi serba salah. Apalagi, ia akan melakukannya di depan keluarga Fina.
“Serba salah, sih, Raf ... tapi aku enggak rela,” balas Fina yang bahkan sampai tidak menatap Rafael.
“Ya nanti aku pasti akalin buat menghindar. Tapi kalau benar-benar enggak minum, memang susah,” balas Rafael lagi yang masih berbisik tepat di sebelah telinga istrinya.
Fina, mendapati banyak keresahan dari apa yang Rafael lakukan. Bahkan Fina yakin, suaminya itu jauh lebih serba salah dari Fina sendiri.
“Ya sudah, kita tanggung dosanya bareng-bareng,” balas Fina.
Rafael menjadi tersenyum geli mendengarnya. “Apaan, sih?”
“Raf,” balas Fina yang awalnya ingin menjelaskan.
“Iya, aku tahu,” balas Rafael yang kali ini menatap Fina dengan tatapan yang dipenuhi cinta.
Fina menjadi tersipu dibuatnya dan memilih untuk menundukan wajahnya.
__ADS_1
“Acaranya hanya sampai pukul delapan malam, biar besok, kita bisa sahur dengan cukup santai,” lanjut Rafael lagi dan masih dengan berbisik.
Fina mengangguk-angguk mengerti, seiring ia yang merasakan sebelah tangan Rafael semekin menggenggam sebelah tangannya dengan erat. Padahal jauh di pikirannya, Fina sedang memikirkan beaok mereka akan sahur pakai apa? Namun karena genggaman tangan Rafael, pikiran itu langsung buyar.
Fina pun memutuskan untuk menyampaikan semua keresahannya kepada Murni. Ia melakukannya sambil berbisik dan sampai menekapkan sebelah tangannya ke sebelah wajahnya ketika melakukannya. Perihal wine yang akan sangat sulit Rafael hindari. Kenyataan yang sangat membuat Rafael terbebani, terlepas dari Rafael sendiri yang menjadi sangat tidak enak kepada keluarga Fina.
Murni mengangguk-angguk mengerti setelah mendengar semua itu. “Iya ... iya, Ibu ngerti. Ibu enggak kuno banget kok Fin,” ucapnya sambil berbisik juga.
“Syukurlah kalau begitu, Bu. Tolong sampaikan juga ke bapak, ya, Bu Oh, iya ... kata Rafael, nanti acaranya selesai jam delapan biar kita masih bisa sahur dengan santai,” balas Fina masih berbisik juga.
“Iya ... iya, pasti Ibu sampaikan ke bapak. Tapi nanti kalian pulang ke mana?” balas Murni.
Perihal pulang, Fina tidak bisa memastikannya karena ke mana pun Rafael pergi, tentunya, Fina juga akan mengikuti.
Tak lama setelah itu, suasana yang awalnya terang benderang, mendadak menjadi gelap. Alunan lagu A Thausand Years yang dipopulerkan oleh Cristina Perri, menyertai sebuah layar besar yang menghiasi setiap sisi ruang resepsi, dan mendadak menyala.
Layar besar yang juga menjadi satu-satunya sumber penerangan di sana. Dan deretan foto kebersamaan Fina dan Rafael yang sempat Fina dapati ketika akan memasuki ruang resepsi, mendadak memenuhi layar-layar di sana. Semua mata penghuni di sana kompak menjadikan kenyataan tersebut sebagai fokus perhatian, seiring suasana yang mendadak berubah menjadi sangat romantis.
Sebagian besar dari mereka tanpa terkecuali Mey dan Rina, menatap takjub foto-foto tersebut. Meski ketika agenda Rafael dan Fina yang tersiram air di tepi jalan, semuanya kompak tertawa sambil bertepuk tangan.
“Keren ....”
“Bisaan, ya? Sampai rela kesiram air kotor!”
“Enggak apa-apa. Sekali-kali biar lebih greget!”
Namun, Fina sekeluarga menjadi berkaca-kaca menyaksikan semua itu. Khususnya, Mey dan Murni yang sampai sibuk menyeka air mata mereka layaknya apa yang Fina lakukan. Hanya saja, ketika Fina dibantu Rafael dalam mengelapnya, keduanya hanya melakukannya sendiri.
“Rafa, foto-fotonya masih kurang greget,” ujar Burhan.
Pandangan Fina berikut Rafael sekeluarga, langsung tertuju pada Burhan.
“Kurang greget bagaimana, Pa?” ujar Rafael penasaran.
“Ya iya ... masih kurang greget, ... harusnya sampai ada adegan jatuh ke jurang apa jatuh dari pesawat, biar lebih drama!” balas Burhan dengan santainya dan sukses menguras tawa dalam kebersamaan mereka.
***
Sesi salaman dengan mempelai telah dibuka. Dan ketika sesi salaman dikhususkan untuk teman-teman Rafael, pihak keluarga Fina dan Rafael menepi dan duduk di kursi yang sudah disediakan di atas altar pelaminan.
Sebagian besar dari teman-teman Rafael sudah berkeluarga. Bahkan dari mereka ada yang sampai membawa anak-anak mereka. Ada yang sudah punya tiga anak meski umurnya masih kecil-kecil dan jaraknya terpaut pendek. Juga ada yang masih belum memiliki momongan karena masih ingin berpacaran.
“Jujur, ya, Fin ... dari tadi mataku sakit lihat kamu dekat-dekat Rafael. Kamu tuh terlalu cantik ... kamu terlalu istimewa, tetapi kenapa kamu justru menikah sama Rafael?!” goda salah satu teman pria Rafael dan sukses membuat Rafael menghela napas hingga dada bidang Rafael terangkat. “Kayaknya Rafael main guna-guna, ya?”
Fina tak kuasa menahan tawanya. Namun ia melakukannya sambil mendekap sebelah lengan Rafael.
“Sekali lagi kamu berani menggoda istriku, aku blacklists kamu ya!” omel Rafael dan sukses membuat teman-temannya yang lain ikut tertawa.
Dan ternyata, masih ada beberapa teman Rafael yang lajang tanpa terkecuali teman Rafael yang berani menggoda Fina dan bahkan kali ini sampai bisik-bisik pada Fina meminta buket pengantinnya.
“Lemparnya ke aku. Eh, itu adikmu, ya, Fin? Kok cantik, sih? Bolehlah, dikenalin siapa tahu jodoh?”
Rafael sampai menoyor temannya itu lantaran sampai berani menggoda Rina. Kenyataan yang semakin menguras tawa di antara mereka.
Bersambung .....
__ADS_1
Sebenarnya, Author belum pengin nulis bersambung, tapi karena Author harus beres-beres rumah dan tuntasin naskah Selepas Perceraian, Author harus menulisnya juga 😂😂😂
Seperti biasa, terus ikuti dan dukung ceritanya. Like, komen sama votenya Author tunggu ♥️