Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 21 : Patner Masa Depan


__ADS_3

“Kita sepakat jadi patner. Patner masa depan.”


Episode 21 : Patner Masa Depan


“Tetap tidak mau juga?!” bentak Rafael makin tak habis pikir.


Rafael benar-benar bingung, apa yang sebenarnya ada di pikiran Fina? Apa yang sebenarnya menyusun otak Fina, sampai-sampai, wanita itu begitu bodoh dan tetap saja dihantui keraguan? Apakah tampang berikut keseriusannya masih kurang untuk wanita biasa sekelas Fina? Lantas, apa yang harus ia lakukan agar Fina percaya dan mau menerimanya?


“Jangan memaksaku untuk mengambil keputusan, Raf. Kepalaku benar-benar pusing ... enggak bunuh diri saja sudah untung ....” Fina berlinang air mata seiring tubuhnya yang berangsur merunduk. Ia jongkok sambul terisak-isak. Sesengggukan pun turut melanda atas luka yang telanjur membuatnya sangat nelangsa.


Rafael bergeming dibuatnya. Jangan bunuh diri saja sudah untung? Ah, iya ... Rafael lupa perihal beban finansial terlebih mental Fina yang begitu berat. Namun, mau sampai kapan Fina terpuruk dalam kesedihan yang tentunya tidak akan pernah berakhir sebelum Fina sendiri yang berusaha mengakhirinya?


Rafael berangsur jongkok, mencoba menyelaraskan posisinya dengan Fina seiring emosinya yang berangsur stabil. Ia menarik dompetnya dari tangan Fina, kemudian menghantamkan benda yang panjangnya sekitar dua puluh senti berbahan kulit tersebut, pada kening wanita itu.


“Rafael sakit apalagi dompetmu berat!” keluh Fina yang refleks mengerang kesakitan dengan sebelah tangan mengelus-elus bekasnya.


“Berhentilah menjadi manusia bodoh! Mau sampai kapan kamu terus seperti ini? Dan apa yang membuatmu tetap menolakku setelah semua yang kulakukan untukmu?” omel Rafael dengan suara yang tidak setinggi sebelumnya.


Fina menatap Rafel penuh keseriusan di tengah air matanya yang masih saja berlinang sedangkan kedua tangannya berangsur mendekap lutut. “Karena kamu memiliki semuanya. Itu mengerikan ... sudah lupakan saja.” Fina menepis tatapan Rafael.


“Apakah aku seburuk itu, sampai-sampai, semua wanita menolakku?” Rafael menghela napas dan menertawakan dirinya sendiri.


Fina menatap Rafael. Sebenarnya, dengan keadaan mereka yang sudah kuyup dan bahkan kotor tetapi justru jongkok sambil mengobrol di tepi jalan, sudah sukses membuat yang melihat khususnya yang melintas di sekitar jalan, menatap bahkan menganggap keduanya aneh. Akan tetapi, dengan keadaan keduanya yang sama-sama kalut, baik Rafael maupun Fina sama sekali tidak peduli. Sebab, pikiran berikut keinginan mereka sedang, benar-benar di atas segalanya tanpa terkecuali harga diri yang selama ini selalu berusaha mereka lindungi.


“Menikahlah dengan wanita lain. Menikah dengan wanita yang kamu cintai!” omel Fina yang masih terisak-isak.


Rafael menggeleng sambil menunduk dan terlihat begitu putus asa. “Kita enggak hanya sama-sama butuh, Fin. Tapi kita juga memiliki tujuan sekaligus alasan sama.”


“Ya enggak, lah! Jelas-jelas kita beda. Aku susah di segalanya, sedangkan kamu hanya bingung karena akan dijodohkan!”


“Jadi, kamu berharap aku hanya membayarmu? Mengajakmu jadi pasangan virtual?” balas Rafael terheran-heran.


Fina kembali menepis tatapan Rafael. “Demi Tuhan, ini orang sebenarnya kerasukan setan apa, kenapa begitu ngotot minta aku buat nikah sama dia?” batinnya.

__ADS_1


Bagi Rafael, menikah dengan Fina bukan masalah besar meski bibit bobot mereka sangat bertolak belakang. Karena selain merasa nyambung setiap mengobrol termasuk ketika berdiskusi dengan Fina, di mata Rafael, Fina tipikal wanita sederhana sekaligus pekerja keras tak beda dengan Sunny yang telah membuatnya jatuh cinta. Terlebih, terlepas dari itu, Raden juga dengan mudahnya setuju dan langsung peduli kepada Fina sekeluarga. Jadi, meski kini tidak ada cinta di antara mereka, tetapi pernikahan yang mereka jalani akan sama-sama menguntungkan. Rafael yang tentunya tidak akan terlibat dalam perjodohan dan bisa hidup dengan lega, juga ... Fina yang bisa memiliki segalanya termasuk membalas sakit hati atas ketidakadilan yang selama ini dirasakan oleh Fina sekeluarga.


Berbeda dengan Rafael, Fina justru telanjur trauma dengan kehidupannya. Mengenai kesulitan yang menimpa keluarganya, maupun mengenai perkara asmara. Perihal fitnah tiada henti dari Ipul, juga pernikahan sekaligus perceraian tak terduganya dengan Bian.


“Sini,” ucap Rafael kemudian yang tiba-tiba menyalami tangan kanan Fina.


“Ini maksudnya apa? Kenapa tiba-tiba ngajak salaman?” tanya Fina terheran-heran.


“Kita sepakat jadi patner. Patner masa depan.” Rafael mengembuskan napas panjang seiring rasa lega yang menjadi menyelimutinya.


“Lah, maksudnya?”


“Karena kita sama-sama butuh. Dan aku sama kamu wajib ada, jika salah satu dari kita sedang butuh. Mengenai pengobatan bapakmu, juga semuanya. Aku pasti akan memberikannya cuma-cuma.” Rafael mengatakannya tanpa menatap Fina.


Menyadari Rafael menjebaknya, Fina buru-buru menarik tangannya. Ia mencoba menyudahi salamannya, tetapi Rafael menolak.


“Bapak dan keluargamu jadi jaminan!” ucap Rafael cepat dan sengaja mengancam Fina.


“Y-yang benar saja?”


“Rafael ... yang kamu maksud tadi apa?” tanya Fina masih belum yakin dengan cara kerja sama yang Rafael ikatkan. “Terus maksud; patner masa depan, apa? Jangan main-main, kamu!”


“Ini enggak ada toko pakaian yang lebih besar? Kok biasa banget, sih?” cibir Rafael kemudian dan justru tidak menanggapi tanggapan Fina.


Yang membuat Fina bingung, Rafael tidak menjelaskan maksud pria itu. Bahkan hingga mereka berpisah setelah mereka sama-sama membeli pakaian kemudian membersihkan diri dan pamitan pada Raden, di mana Rafael juga memberi salah satu atm lengkap dengan nomor pinnya kepada Fina. Juga, keduanya yang sampai bertukar nomor telepon.


“Aku akan kembali datang setelah semuanya benar-benar lebih tenang. Lagi pula, beberapa hari ke depan, aku juga lakan sangat sibuk. Banyak urusan penting yang tidak bisa aku tinggalkan termasuk beberapa urusan di luar negeri.” Rafael menatap Fina penuh keseriusan kendati kini ia sudah bisa bersikap lebih santai.


Fina masih menatap bingung atm pemberian Rafael yang ada di tangan kanannya. “Katakan padaku, apa sebenarnya tujuanmu?”


“Sudah, sana balik ke rumah sakit. Ibu dan adikmu pasti sudah menunggu. Aku pastikan, kamu mau ambil uang sebanyak apa pun, pasti bisa. Tapi kamu jangan boros juga! Dan, ... kalau ada yang macam-macam sama kamu, tabok saja pakai uang dari situ!” tambah Rafael yang kembali emosi.


Fina belum bisa sepenuhnya mengerti dengan cara pikir Rafael. “Tapi ini aman, kan? Kamu enggak menjebakku, kan?”

__ADS_1


Rafael terdiam sambil menatap Fina dengan cukup heran. “Fina masih belum sadar? Anak ini polos, apa kelewat beegol?” batin Rafael. “Memangnya wajahku tampang penjahat, ya, Fin?” ucapnya serius dengan nada suara yang menjadi turun.


Fina yang langsung menatap saksama Rafael, berangsur menggeleng. “Enggak, sih ....” Karena bagi Fina, tampang Rafael berikut cara pria itu mau berkomunikasi dengannya, benar-benar tampang orang baik bahkan dermawan.


“Ya sudah. Ayo aku antar kamu sampai depan. Kamu naik apa ke rumah sakitnya? Ada taksi enggak, sih? Setelah ini, aku juga langsung balik ke Jakarta,” ucap Rafael kemudian sambil melangkah meninggalkan depan ruang rawat Raden, dengan kedua tangan tersimpan di sisi celananya.


Fina segera menyusul sambil menyimpan atm pemberian Rafael di saku belakang celana pensil yang dikenakan. Karena kini, sesuai kesepakatan mereka, mereka memang sama-sama mengenakan kemeja lengan panjang warna putih dan celana pensil panjang warna hitam. Tentunya, setelah mereka mandi karena sebelum ke toko pakaian saja, mereka sudah kuyup karena air kotor yang menggenangi jalan.


Mereka telah sampai di gapura pintu masuk puskesmas. Tak ada kendaraan yang Rafael dapati di sekitar sana. Lantas, Fina mau naik apa?


“Naik yang cepat, tapi aman. Satu lagi, segera urus perceraianmu dan jangan mau dekat-dekat apalagi balikan sama mantan suamimu yang enggak tahu diri itu!”


“Aku mau naik bus. Itu banyak yang ke Cilacap. Apa tujuan Jogja juga masih bisa, tinggal diatur saja nanti turunnya,” balas Fina santai.


“Memangnya enggak ada mobil pribadi yang bisa disewa? Atau kalau tidak, ... aku antar saja?” balas Rafael serius dan memang khawatir kalau Fina harus menjalani perjalanan sendiri tanpa transportasi yang terjamin.


Akan tetapi, Fina belum siap mengenalkan Rafael pada keluarganya. Mau dikenalkan sebagai siapa Rafael di tengah kenyataan Fina sendiri yang sedang menghadapi perceraian dengan Bian? Patner masa depan seperti yang Rafael katakan? Fina saja tidak tahu maksud Rafael, apalagi keluarganya?


“Enggak usah ... enggak usah. Aku langsung naik salah satu bus saja. Tuh, mumpung banyak. Ya sudah, ya. Nanti aku kabari kalau sudah sampai. Makasih. Dah ....” Fina buru-buru kabur, lari begitu saja karena takut, Rafael minta macam-macam.


“Bahkan dia sama sekali enggak menoleh apalagi dadah?” cibir Rafael tak habis pikir.


Ketika Rafael nyaris berlalu dan Fina juga sudah masuk bus, Fina tiba-tiba mengeluarkan kepalanya dari jendela bus paling belakang sambil melambaikan sebelah tangannya pada Rafael.


Rafael yang masih menyimpan kedua tangannya di sisi saku celana dan terlihat begitu santai, refleks tersenyum membalas Fina. “Patner masa depan ...? Dasar wanita bodoh ....”


Bersambung .....


Masih ada yang belum punya Patner masa depan juga? Mau daftar juga ke Rafael, apa Ipul? wkwkwkwk


Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa ^^


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2