
“Cinta Ipul pada Fina benar-benar besar. Bahkan saking besarnya, ... Ipul bisa menjadi orang yang sangat baik sekaligus jahat kepada Fina. Ipul ... dia benar-benar cinta gila kepada Fina. Seperti aku kepada Sunny, sebelum Fina ada,”
Episode 53 : Di Pagi yang Mengukirkan Cerita
Fina keluar dari kamar mandi dengan hati yang berbunga-bunga. Dengan kepala yang terbungkus lilitan handuk, wanita ayu itu tak hentinya senyum-senyum.
Sulit bagi Fina untuk menjelaskan perihal perasaannya saat ini. Mengenai ia yang tak bisa berhenti tersenyum, atau setidaknya ia yang bisa bersikap tenang tanpa tiba-tiba menjadi merasa malu bahkan bahagia dalam waktu bersamaan. Yang jelas, Fina tak ubahnya bunga-bunga yang bermekaran indah di musim semi. Bahagia, merasa sempurna, bahkan Fina juga sampai merasa dirinya telah menjadi wanita sekaligus istri seutuhnya setelah apa yang terjadi padanya dan Rafael beberapa jam lalu.
Rina yang baru keluar dari kamar yang letaknya tak jauh dari kamar mandi dan memang berseberangan dengan dapur bersih, menjadi tersenyum geli ketika mendapati Fina.
Dengan kenyataannya yang masih acak-acakan, bahkan susunan rambutnya awut-awutan tak ubahnya rambut singa, Rina yang baru saja menguap sambil membentangkan tangan pun berkata, “ciee ... manten baru pagi-pagi sudah keramas. Mana jalannya jadi kayak zombie lagi! Memangnya sampai berapa ronde?”
Fina yang awalnya tidak menyadari keberadaan sang adik sudah nyaris di hadapannya, langsung meliriknya sambil mendengkus sebal. Tak ada lagi senyum yang sedari awal menghiasi wajah ayunya.
“Kamu ini pengalamannya lebih yang ke mesum daripada pendidikan, ya, Rin?” gerutu Fina lirih, mengingat suasana kini memang masih sepi. Masih sekitar pukul empat pagi lebih, di mana yang bangun juga baru ia dan Rina.
Rina terkikik sambil menekap mulutnya menggunakan sebelah tangan. Namun ketika ia tak sengaja melihat leher Fina yang nyaris berlalu dari hadapannya, sebelah tangannya refleks menahan sebelah tangan Fina, kemudian menariknya pelan.
Rina sampai menunduk, terperangah menatap leher jenjang sang kakak yang tidak terlindungi apa pun, mengingat rambut Fina sedang terlilit handuk. “Ya ampun, Mbak ... nggilani lehermu ....”
Fina yang refleks mengerling mencoba memastikan keadaan lehernya menjadi kikuk. Kemudian ia menoyor kening Rina, sebelum akhirnya meraba asal lehernya. “Ini kisahnya panjang ...,” gerutunya tanpa berani menatap Rina yang terlihat jelas ingin tahu.
“Berapa ronde!” goda Rina sambil terkikik dan kembali menekap mulutnya bahkan kali ini sampai menggunakan kedua tangannya.
Fina yang menjadi merasa malu menjadi menggeragap. “Rin-na!” omelnya pelan di tengah kedua matanya yang menjadi kerap mengerjap.
Rina menyodorkan kedua telapak tangannya pada Fina sambil mengangguk-mangguk. Sesekali, ia juga berdeham demi meredam tawanya.
“Sebenarnya, awalnya enggak akan separah ini,” ucap Fina yang akhirnya cerita sambil malu-malu. Bahkan, ia kembali tidak berani menatap Rina yang jelas tak bisa mengendalikan senyum berikut pandangan menggoda kepadanya.
Dengan kedua tangan yang menjadi sibuk saling cengkeram di depan perut, Fina melanjutkan, “aku bilang ke Rafael, kalau orang-orang masih meragukan hubungan kami. Awalnya dia kasih masukan agar aku enggak memikirkan omongan orang, ... tapi, mungkin Rafael kepikiran dan jadinya, begini ....”
Fina meraba lehernya menggunakan kedua tangan di tengah wajahnya yang menjadi terlihat sangat tidak berdosa.
Rina benar-benar tidak bisa untuk tidak tertawa. Gadis itu menjadi jengah sendiri atas ulah kakaknya yang begitu polos. “Mbak ini, jadi orang kok polos banget, sih?!”
Fina menatap bingung Rina yang masih saja sibuk tertawa, bahkan meski kali ini, Rina mulai memberikan tanggapan. “Apa maksudmu ...?”
Rina menelan ludah cepat. Ia mengatur napas kemudian menatap Fina jauh lebih serius kendati ia memang tidak benar-benar bisa untuk mengakhiri senyumnya. “Kenapa Mbak tanya apa maksudku? Jelas-jelas Mas Rafael kalau lihat Bian bahkan Ipul menatap Mbak berlebihan saja, langsung emosi, Mas Rafael cemburu! Mana mungkin Mas Rafael sengaja ninggalin banyak cup-pang—”
__ADS_1
Ucapan Rina terhenti lantaran Fina tiba-tiba membekap mulut gadis itu dengan sangat erat menggunakan kedua tangan. “Jangan keras-keras kenapa ngomongnya? Ember banget, ih, kamu!” semprotnya di tengah kenyataannya yang menjadi merasa semakin malu.
Rina yang kembali terkikik, berangsur mengangguk-angguk. “Maaf, Mbak ... maaf.”
Fina yang menelan ludah lantaran mulai merasa gelisah, segera mengakhiri bekapannya. “Ya sudah ... Mbak mau masuk kamar dulu. Malu kalau ada yang sampai lihat lagi selain kamu. Awas lho, kalau kamu sampai cerita-cerita!” ujarnya terbilang mengancam dan buru-buru meninggalkan Rina. “Eh, Rin. Air panasnya itu punya mas Rafael mau buat mandi.”
“Iya ....”
Fina terus melangkah cepat kendati perih dan nyeri di sekitar rahimnya terasa semakin kuat, jika ia semakin banyak melangkah. Bahkan karena kenyataan tersebut pula, Fina sampai kesulitan untuk melangkah. Jalannya menjadi kaku tak ubahnya robot bahkan zombie layaknya apa yang Rina katakan. Dan sepanjang perjalanan menuju kamarnya yang menjadi terasa sangat lama atas ketakutan yang melanda, Fina terus menutupi lehernya menggunakan kedua tangannya.
Sampai di kamar dengan selamat tanpa ada orang lain yang melihat, membuat Fina mengembuskan napas lega sambil mengelus dada. Kemudian, demi menghemat waktu, ia segera meninggalkan pintu yang sempat menjadi tempatnya bersandar untuk beberapa detik.
Tujuan utama Fina setelah menyalakan lampu kamar adalah meja di sebelah jendela. Di sana ada gelas dan lima botol air mineral berukuran satu setengah liter, selain sebuah teremos. Fina segera membuka tutup gelas dan mengisi gelas tersebut dengan air dari dalam teremos, kemudian mencampurnya dengan air mineral kemasan botol. Fina membawa gelas yang sudah ia isi tersebut pada Rafael.
“Raf ... bangun ... subuhan dulu,” lirih Fina sambil mengelus-elus dada Rafael.
Rafael hanya bergumam sambil mengulet sebelum akhirnya memunggungi Fina.
“Rafael ...,” panggil Fina lagi.
“Aku dengar ...,” balas Rafael dengan suara berat khas baru bangun tidur, tanpa melakukan perubahan berarti.
“Lima menit lagi.”
“Aku sudah rebusin air buat kamu mandi. Hari ini aku enggak bisa ikut sholat.”
“Mmm ....”
“Rafael kamu dengar aku, kan?”
“Masih ada empat menit, kan?” tawar Rafael yang masih bermalas-malasan.
Fina langsung diam kemudian berangsur beranjak. Ia meletakkan gelasnya di meja sebelah jendela kemudian kembali mengisinya dengan air dari teremos. Tak lama setelah Fina kembali duduk di sebelah punggung Rafael, pria itu mengulet dan berangsur menarik diri untuk duduk kendati kedua matanya masih dalam keadaan terpejam.
“Kenapa kamu enggak subuhan?” tanya Rafael masih susah payah membuka matanya.
“Bayi tua ... bayi tua,” batin Fina sembari tersenyum geli menatap Rafael. Ia merasa lucu pada ulah Rafael yang benar-benar seperti bocah ketika baru bangun tidur.
Fina segera meraih sebelah tangan suaminya untuk memegang gelas berisi air hangat. “Minum dulu,” ucapnya.
__ADS_1
Meski masih membutuhkan proses panjang, di mana Rafael yang kerap mengucek-ngucek pelan kedua matanya dengan sebelah tangan juga kerap mengepak-ngepakkan kedua matanya, akhirnya Rafael sukses minum dan bahkan sampai menghabiskannya.
Meminum air hangat di awal bangun tidur memang sudah menjadi kebiasaan Rafael dan keluarganya. Fina tahu itu karena Rafael juga memberitahunya. Rafael bahkan meminta Fina sekeluarga untuk menerapkannya menjadi kebiasaan. Kebiasaan sehat yang akan memberikan banyak kesehatan. Dari melancarkan pernapasan, melancarkan pencernaan, memperbaiki sirkulasi darah, memberikan kebugaran, bahkan masih banyak lagi manfaat baik lainnya.
“Kenapa kamu enggak subuhan?” tagih Rafael lagi dengan bibir yang menjadi mengerucut.
Fina yang baru saja meletakkan gelas bekas Rafael minum langsung melakukan gerakan wajah untuk menunjuk noda darah yang ada di bekas tempat Fina tidur.
Rafael yang mengikuti tuntunan maksud gerakan wajah Fina menjadi mengerutkan dahi. “Kamu mens lagi?” ucapnya terkejut mengingat dua hari yang lalu, Fina baru saja selesai mens setelah sampai berkonsultasi kepada dokter perihal siklus mens Fina yang tidak teratur.
Fina yang sempat mengerutkan dahi dan menatap tak percaya pada Rafael atas pertanyaan pria itu, segera berkata, “kok, mens, sih? Mens ... mens ...,” gerutunya.
Rafael yang menjadi bingung, berangsur merenung. Namun tak lama setelah itu, ia menepuk keningnya menggunakan sebelah tangan. “Astaga ... aku khilaf ....”
“Khilaf ...,” cibir Fina yang kemudian memilih membuka jendelanya.
“Ya benar ... buka jendelanya biar sirkulasi udaranya bagus,” ucap Rafael yang kemudian mengerahkan tenaganya untuk beranjak.
“Mandi, airnya sudah ada di ember—?” ucap Fina terhenti lantaran jendela yang ia buka membentur sesuatu. “Ipul belum pergi?” pikirnya sanksi. Namun tak lama setelah itu, raungan tangis Ipul memang terdengar dari balik jendela.
“Si Ipul belum pergi juga?” sergah Rafael tak percaya bahkan syok.
Rafael segera beranjak menghampiri Fina yang sampai balik badan menatapnya dengan kecemasan. Rafael melewati Fina dan melongok apa yang terjadi di luar. Benar, semalaman ini, Ipul tidur di luar jendela kamar Fina.
“Cinta Ipul pada Fina benar-benar besar. Bahkan saking besarnya, ... Ipul bisa menjadi orang yang sangat baik sekaligus jahat kepada Fina. Ipul ... dia benar-benar cinta gila kepada Fina. Seperti aku kepada Sunny, sebelum Fina ada,” batin Rafael sembari menatap prihatin Ipul.
Ipul merengek-rengek sambil mengelus-elus wajah. “Mai oli wan, Dek Fina ....”
Hati Rafael menjadi terbesit. Dan detik itu juga, pria itu menjadi merasa sangat sedih. Rafael seolah melihat bayangan dirinya pada seorang Ipul yang begitu mencintai Fina, meski Rafael belum sampai segila Ipul. Rafael belum sampai kehilangan urat malu bahkan harga diri layaknya Ipul.
Bersambung ....
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa 😍
Like, komen, dan votenya Author tunggu. Jangaj lupa buat masukin ceritanya ke daftar bacaab favorit kalian, biar kalian selalu update sama cerita inu 😂😂😂
Salam santun,
Rositi.
__ADS_1