Menjadi Istri Tuanku

Menjadi Istri Tuanku
Episode 62 : Alhamdullilah!


__ADS_3

“Rasanya, sebahagia ini. Bahkan masih seperti mimpi ... alhamdullilah!”


Episode 62 : Alhamdullilah


Fina menyalami tangan kanan Rafael menggunakan kedua tangannya. Kemudian, dengan perasaan haru yang tiba-tiba membuncah memenuhi dadanya, Fina mencium punggung tangan suaminya itu sangat lama.


“Aneh, ... hanya begini, kenapa perasaanku jadi haru-biru begini? Aku senang, ... Fina begitu menghormatiku, ... tapi, kok ... aku juga sedih, ya? Sedih banget! Dadaku sampai sesak begini!” batin Rafael yang kemudian mengelus punggung kepala Fina.


Keduanya baru saja menunaikan ibadah shalat maghrib di kamar. Benar-benar hanya berdua.


Tadi, tak lama setelah bangun, keduanya silih berganti mandi. Fina meminta Rafael untuk mandi lebih dulu, sedangkan sembari menunggu Rafael selesai, Fina sengaja membuatkan jus jeruk sunkist sesuai permintaan pria itu. Sebab, selain tidak merokok, Rafael juga bukan tipikal yang rutin mengonsumsi kopi atau teh layaknya kebanyakan orang di kampung Fina tinggal. Dan dari semua buah yang Fina tawarkan, Rafael meminta jus jeruk sunkist. Rafael meminta jus jeruk sunkist yang diperas, bukan yang diblender.


“Sudah, ... mau berapa lama lagi?” lirih Rafael sambil mengelus-elus punggung kepala Fina.


Fina memang menyudahi ciumannya terhadap tangan Rafael, tetapi Fina justru merebahkan kepalanya di pangkuah pria itu.


“Maaf, ya ...,” lirih Fina tanpa menatap Rafael.


Fina meringkuk, tiduran di pangkuan Rafael. Dan kenyataan kini semakin mengaduk-aduk perasaan Rafael.


“Maaf karena aku, ... belum bisa menjadi lebih baik. Aku sering dan memang gampang marah-marah. Aku juga enggak bisa lebih sabar dalam menghadapi kamu,” lanjut Fina.


Dengan dada yang terasa semakin sesak, Rafael yang sesekali akan mengelus punggung kepala Fina yang masih mengenakan mukena, berkata, “aku juga minta maaf karena aku masih jauh dari kata baik. Sudah jangan begini. Kalau memang mau istirahat, kembali ke kasur, atau kita jalan-jalan ke balkon sebentar?”


Fina segera menggeleng tanpa menatap Rafael.


Rafael mengerutkan dahi. Semakin tidak mengerti dengan apa yang Fina mau. “Apakah kamu sedang ada masalah? Atau, kamu sedang mengharapkan hadiah?”


Pertanyaan Rafael benar-benar sarat perhatian. Rafael bahkab berangsur membingkai wajah Fina.


Fina menggeleng dan berangsur menatap Rafael. “Enggak. Enggak tahu kenapa, tiba-tiba jadi nelangsa begini.” Ia menghela napas dalam, berusaha mengurangi rasa sesak di dadanya. “Mungkin karena aku masih sulit percaya, sekarang aku sudah menikah.”


Rafael mengerutkan dahi. Dan tak lama setelah itu, ia mendengar Fina menghela napas dalam, dan wanita itu juga kembali meringkuk memunggunginya.


“Raf ... bentar lagi bulan puasa. Tiga hari lagi,” ucap Fina kemudian.


“Terus, kenapa kamu sedih? Kamu enggak kuat puasa, gitu?”


“Aku enggak sedih. Tapi nelangsa ... terharu ... campur aduk pokoknya, Raf ....”

__ADS_1


“Sebelumnya bahkan kemarin, aku menjalaninya hanya dengan keluarga, ... tapi besok, aku juga sama kamu. Dan pastinya, enggak bakalan berisik suara Ipul yang bangunin dari jendela.” Kemudian Fina kembali menatap Rafael. “Dan kamu tahu Ipul banguninnya sambil ngapain? Dia bangunin aku sambil pukul-pukul panci sama wajan diadu begitu. Stres berat pokoknya.”


Rafael tak kuasa menahan tawanya. Bahkan, pria itu sampai tak menguluarkan suara dalam tawanya.


“Terus satu lagi, Raf ... hari ini, dia itu ngadain siaran langsung di instagram!” Fina semakin antusias dalam bercerita. Ia sampai bangkit duduk sila di depan Rafael yang semakin sibuk mengendalikan tawa. “Dia ngadain sayembara buat cari aku gitu. Dan kamu tahu apa hadiahnya?”


“Kambing?” tebak Rafael.


Fina segera menggeleng. “Bukan ... dia sekadar kasih tanda tangan, sekaligus foto bareng sama kambing-kambing dan kerbaunya, yang dia bilang semok di atas rata-rata!”


“Hahaha ....” Rafael sampai mencengkeram perutnya menggunakan kedua tangan, lantaran cerita Fina tentang Ipul, sukses mengocok perutnya. Tak terbayang apa yang terjadi jika ia menonton acara siaran langsung Ipul. Bisa jadi, ia sampai bolak-balik ke kamar mandi lantaran kali ini saja, ia sampai sudah sampai kebelet pipis.


“Bentar Fin, bentar ... aku ke kamar mandi dulu. Serius si Ipul sampai begini efeknya.” Rafael melepas peci hitam yang sempat ia gunakan, dan langsung diterima baik oleh Fina.


Rafarl berjalan tergesa menuju kamar mandi dengan sisa tawa yang sampai masih terdengar. Dan Fina melepasnya dengan seulas senyum atas kebahagiaan yang tiba-tiba menyelimuti.


“Rasanya, sebahagia ini. Bahkan masih seperti mimpi ... alhamdullilah!” batin Fina yang kemudian berangsur melepas mukenanya.


Fina merapikan bekas shalat mereka dan menggantungnya menggunakan hanger. Fina mengaitkan hangernya di pegangan lemari pakaian yang ada di seberangnya.


“Raf, ... malam ini, aku pakai baju apa?” tanya Fina ketika Rafael kembali datang.


Fina sedang mengamati pakaian miliknya yang tergantung rapi. Pakaian yang tentunya sudah Rafael siapkan sebelum mereka kembali ke Jakarta.


“Raf ... aku serius. Memangnya, nanti konsepnya kayak apa?” balas Fina sambil memunggungi lemari yang masih ia biarkan terbuka hanya untuk menatap Rafael.


“Konsepnya santai, Fin.” Rafael melepas kemeja lengan panjang warna putih yang dikenakan dan membuatnya telanjang dada. “Ini khusus untuk shalat. Dipisah saja,” ucapnya kemudian sambil memberikan kemeja tersebut kepada Fina.


Fina mengangguk sambil menerima kemeja Rafael. Ia langsung menggantungnya menggunakan hanger. Dan tak lama kemudian, Rafael langsung mengambil sepasang piama warna biru muda.


“Pakai ini.” Rafael memberikan milik Fina.


“Yakin?” balas Fina tidak yakin sambil menerimanya.


“Orang tua apalagi kakekku, sangat santai. Paling kalau pesta di luar, baru. Menyesuaikanlah ... toh, malam ini juga acara keluarga, kan?” balas Rafael yang kemudian mengebakan piama miliknya.


Piama mereka sama. Atasan lengan pendek sedangkan bawahannya celana panjang. Dan yang membuat Fina gugup adalah ketika Rafael sampai melepas celana bahan warna hitam yang pria itu kenakan, untuk mengenakan piama.


Fina buru-buru melipir, kabur ke kanar mandi. Rafael yang tidak mengetahui penyebab Fina kabur pun menjadi bingung sendiri. “Fin, ... kamu kenapa?” serunya.

__ADS_1


“Enggak ... cuma kebelet pipis ...!” seru Fina dari dalam kamar mandi. “Karena enggak mungkin juga, kan, aku jujur?” batin Fina kemudian. “Kok segugup ini?” uringnya yang memang masih belum siap berhadapan dengan Rafael jika dalam keadaan yang terbilang sensitif.


Karena sekalipun mereka sudah menikah, tetapi Fina masih saja merasa malu. Mungkin nanti, jika Fina sudah terbiasa, Fina tidak harus mendadak kabur layaknya sekarang hanya karena belum siap. Dan Fina yakin, apa yang ia alami layaknya kini juga dialami oleh beberapa atau bahkan banyak orang di luar sana.


“Kamu mau mengeram di kamar mandi, apa bagaimana? Kok lama banget? Ayo turun. Mama sudah WA kalau bentar lagi mereka sampai,” tegur Rafael yang sudah berdiri menunggu di depan kamar mandi.


Fina yang awalnya hanya duduk sambil uring-uringan lantaran teringat adegan Rafael tiba-tiba melepas celana, pun segera bergegas. “Iya, bentar lagi!” sergahnya.


“Kalau gitu aku tunggu di bawah ya. Enggak enak dari pulang, aku di kamar terus. Mau ngobrol sama bapak ibumu juga,” balas Rafael.


“Iya, nanti aku nyusul,” balas Fina yang sampai berseru. Dan Fina menjadi mencemaskan apa yang akan terjadi di acara makan malam mereka.


“Orang tua Rafael dan kakek Raden enggak akan marah apalagi melakukan hal yang tidak aku harapkan, kan?”


***


Ketika Fina turun ke lantai bawah, ia segera melangkah cepat menghampiri kebersamaan. Di ruang keluarga rumah Rafael yang tentunya juga sudah menjadi rumah bersama mereka, Rafael sedang mengobrol bersama Raswin, Murni, dan juga Rina. Ke empatnya terlihat begitu asyik dalam obrolan.


Fina segera duduk di sebelah Rafael, di sofa kecil yang berbeda, persis menghadap kedua sofa yang diduduki oleh Raswin dan Murni. Rafael menghadap Raswin, sedangkan Fina menghadap Murni. Sementara Rina, gadis itu duduk di sudut sofa paling panjang persis sebelah Raswin, menghadap hamparan meja yang dihiasi aneka potongan buah segar dan beberapa camilan.


“Aku tegang banget!” bisik Fina tepat di sebelah telinga Rafael.


“Iya, syukur kalau Bapak sama Ibu betah di sini. Enggak kangen sama Ipul, kan, Bu, Pak ...?” ujar Rafael yang sengeja menyelesaikan obrolannya sebelum akhirnya berbisik juga kepada Fina. “Orang tuamu lebih tegang. Kamu biasa saja. Kan hanya acara makan malam. Paling nanti aku yang dimarahi habis-habisan gara-gara kita langsung nikah tanpa resepsi.”


“Yang kangen sama Ipul itu, Mas ... di sebelah Mas. Tadi saja sampai dibuatkan sayembara sama si Ipul!” seru Rina dan kembali sukses membuat Rafael tertawa.


Fina juga menjadi tertawa.


“Aku mau ikutan sayembaranya, biar dapat tanda tangan Ipul, terus tuh tanda tangan, bakalan aku alihkan buat ambil semua warisan dia!” tambah Rina.


Mendengar itu, tawa Rafael semakin bertambah.


“Jadi diam-diam, sebenarnya, selama ini kamu naksir sama Ipul, ya, Rin?” goda Fina dan kali ini sampai membuat Raswin dan Murni ikut tertawa.


“Mbak fitnah banget, deh!” rengek Rina dan hanya ditanggapi tawa oleh semuanya.


Kebersamaan saat ini, adalah kebersamaan yang tidak akan pernah Fina dan keluarganya lupakan. Terlebih, hanya dalam tiga hari lagi, bulan puasa akan segera tiba. Dan Fina yakin, kebahagiaan yang menyertai mereka akan terasa berkali lipat indahnya, dari apa yang mereka rasakan sekarang.


“Alhamdullilah!” Fina tak hentinya bersyukur dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung .....


Like, komen, sama votenya jangan lupa, yaaa. Terima kasih. Doakan Author lagi kebut novel Selepas Perceraian, biar cepat kelar ,😆😆😆


__ADS_2