
“Ya sudah ... jika memang tujuanmu ke Jakarta untuk bekerja, mulai sekarang juga kamu bekerja sebagai istriku.”
Episode 25 : Pekerjaan Dari Rafael
“Bikin repot saja!”
Kalimat tersebut sukses membuat Fina terkesiap tatkala ia baru membuka sedikit matanya dengan pandangan yang tentunya belum jelas. Suara tegas seorang pria yang sangat familier untuknya, dan sebenarnya sangat membuat Fina tak percaya. Bahkan karenanya, Fina berpikir ia sedang bermimpi bahkan berhalusinasi setelah apa yang menimpanya. Ya, kehadiran Fina ke Jakarta tanpa tujuan terlepas dari Fina sendiri yang tidak mengetahui seluk beluk Jakarta, justru berujung pada malapetaka. Fina dijambret sebelum sempat meminta bantuan termasuk kepada Rafael, sedangkan setelah itu, Fina mendadak pusing dan sepertinya memang pingsan. Namun kini, sekelebat bayangan melintas di pandangan Fina, pergi meninggalkannya.
“Itu tadi siapa? Dan suaranya enggak asing ...?” pikir Fina masih menduga-duga sambil memilih menarik tubuhnya untuk duduk, mengandalkan tenaga yang tersisa.
Fina langsung mengucek matanya dan betapa terkejutnya wanita itu ketika mendapati Rafael memenuhi pandangannya. Pria itu bersedekap dengan wajah judes dan menatap Fina sangat angkuh.
“Kok kamu di sini?” tanya Fina bingung.
Pertanyaan Fina sukses membuat Rafael mengernyit. Ia yang berdiri di depan ranjang megah keberadaan Fina, langsung berkata, “kenapa kamu bertanya seperti itu? Jusru aku yang seharusnya bertanya begitu kepadamu! Kenapa kamu tiba-tiba ke Jakarta tanpa mengabariku sebelumnya? Kenapa sampai ada orang lain yang meneleponku menggunakan ponselmu dan memintaku membayar tebusan dua milyar untukmu?!” cibirnya panjang lebar.
Gaya Rafael sangat galak terlepas dari jumlah nominal yang pria itu sebutkan dan sukses membuat Fina terkejut. Fina bahkan refleks menelan ludah dengan sebelah tangan mengelap sekitar mulutnya yang basah dan Fina yakini sebagai iler. Fina benar-benar tidak menyangka penjambretnya sampai menghubungi Rafael dan bahkan meminta tebusan dengan nominal fantastis. Atau jangan-jangan, ... Rafael hanya mengada-ngada dan sengaja mengerjai Fina?
“Sekarang apa lagi? Apa maksudmu menatapku seperti itu? Kenapa tatapanmu begitu terkesan merehmehkanku? Kamu pikir aku sedang berbohong? Kenapa semua orang begitu semena-mena kepadaku?!” cibir Rafael kemudian sebelum Fina sempat berucap.
Lagi-lagi Fina hanya bisa menelan ludah dengan perubahan sikap Rafael yang menjadi begitu bengis. Rafael yang Fina kenal sebagai pria baik, begitu peduli dengan sesama itu tak ubahnya orang jahat yang selalu ingin menindasnya. Atau jangan-jangan, ... karena Rafael telah mengeluarkan uang yang begitu banyak demi menebus Fina kepada penjambret? Namun, ... masa iya, Rafael sampai mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya demi menyelamatkan Fina? Dan dengan kata lain, ... hidup Fina sedikit mirip dengan kisah-kisah manis komik sekaligus cerita di novel dan drama romantis? Kenapa Fina terkesan sangat berharga untuk orang sekelas Rafael?
Fina berangsur beranjak dengan merangkak. Ia turun dari kasur megah nan luas yang membuatnya begitu betah bermalas-malasan di sana. Anehnya, bukannya menatap atau setidaknya melanjutkan kemarahannya, Rafael justru bersedekap kemudian memunggungi Fina.
“Serius, ... kamu kasih orang itu dua milyar hanya untuk menyelamatkanku?” tanya Fina masih sulit percaya.
“Kamu pikir, aku sebodoh itu? Jika aku sebodoh itu, mana mungkin aku bisa memimpin perusahaan sebanyak sekarang!” balas Rafael masih marah-marah.
“Terus, ... salahku di mana? Kenapa kamu mendadak marah-marah seperti ini?” keluh Fina tak habis pikir dengan suara yang terdengar sabar. “Kalau memang enggak sampai keluar uang sebanyak itu, kamu enggak seharusnya marah-marah enggak jelas seperti ini, kan?”
Rafael tiba-tiba balik badan dengan kasar dan hal tersebut refleks membuat Fina terkesiap sekaligus mundur. Fina juga nyaris jatuh andai saja kedua tangannya tidak langsung berpegangan pada kemeja putih bagian dada pria tersebut.
Tatapan Rafael dipenuhi kemarahan, tetapi juga banyak kesedihan yang turut menyertai. “Rafael ... sebenarnya pria ini kenapa?” batin Fina yang memilih mundur berikut mengakhiri tatapan mereka yang sempat bertemu cukup lama.
__ADS_1
“Kamu, ... terlalu drama,” ucap Fina yang memilih tak acuh dan kemudian mengamati sekitar. Ia ada di sebuah kamar megah, tetapi di depan sana yang hanya terhalang hamparan pintu kaca tebal merupakan sebuah hamparan kolam renang. Dan kebersihan sekaligus kerapian di sana begitu terjaga. Benar-benar mewah sekalugus elegan.
Menatap mata Fina dengan jarak sedekat tadi juga waktu yang cukup lama, membuat Rafael merasa sangat bersalah dengan keputusannya yang asal marah-marah kepada wanita itu. Tadi, dari mata teduh tersebut yang terlihat begitu rapuh, ia menemukan banyak luka bahkan sederet keputusasaan.
“Kamu sedang marah ke orang lain, tapi melampiaskannya kepadaku!” ucap Fina kemudian sambil berlalu dari hadapan Rafael.
Fina mencari-cari ke sekitarnya. Hingga akhirnya ulahnya yang diselimuti keheningan tersebut lantaran baik ia maupun Rafael sama-sama diam, terusik oleh permintaan maaf dari Rafael.
Dunia berikut pemacu kehidupan Fina seolah berhenti detik itu juga. “Rafael ... meminta maaf? Apakah aku enggak salah dengar?” batin Fina.
“Sekali lagi, ... aku minta maaf. Kamu beruntung bisa mendengar itu dariku, karena seumur hidupku, aku belum pernah mengatakannya pada siapa pun. Namun karena aku masih punya hati sedangkan aku juga mengetahui semua yang menimpamu, aku memang harus melakukan itu,” ucap Rafael dengan kenyataannya yang lebih tenang. Sebab seperti apa yang ia katakan, Fina ... wanita itu sudah memiliki banyak beban.
“Ya ... terima kasih. Aku memaafkanmu.” Fina segera menghampiri tasnya yang ia dapati ada di nakas seberang keberadaannya dan kenyataan tersebut harus membuatnya melangkah di depan Rafael.
Di nakas tersebut, Fina juga menemukan ponselnya yang keberadaannya persis di atas ranselnya, kendati layar ponselnya dalam keadaan pecah.
“Setiap gerakmu akan diawasi oleh orangku,” ucap Rafael kemudian dengan gaya yang terbilang dingin.
“Jika aku sudah mengambil keputusan, tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Beruntung, ... aku sudah menugaskan orangku untuk menjagamu setelah perpisahan kita,” ucap Rafael.
Rafael menatap Fina penuh keseriusan. Bahkan pria itu terbilang sangat jarang mengedipkan mata sampai-sampai, Fina yang mendapatkannya jadi tidak bisa berkata-kata. Fina masih tidak percaya hidupnya akan menjelma layaknya cerita di komik berikut novel online yang beberapa hari terakhir ia baca. Dan lantaran tatapan berikut sikap Rafael terlampau serius, Fina yang menjadi sangat tegang sampai lupa untuk bernapas.
“Karena jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadamu. Bisa-bisa kamu diperkosa terus dibunuh dan mayatmu dimutilasi!” lanjut Rafael dengan kedinginan yang masih menyelimutinya.
“Ya Alloh, Rafael! Doamu buruk banget!” seru Fina refleks dengan ketakutan yang tiba-tiba membuncah.
“Nyatanya begitu, kan? Makanya rajin update berita. Sudah kamu siap-siap. Sebentar lagi akan ada orang yang mengurus penampilanmu. Karena datang ke Jakarta berarti kamu juga harus siap menjadi pusat perhatian!” balas Rafael masih marah-marah.
“Eh, ... ini maksudnya bagaimana? Kenapa penampilanku harua diurus? Dan apa juga yang kamu maksud siap menjadi pusat perhatian?” tanya Fina karena memang tidak mengerti dengan apa yang Rafael maksud.
Tanpa berkomentar, Rafael yang awalnya bersedekap segera meraih sebelah tangan Fina yang seketika itu juga semakin kebingungan bahkan panik. Rafael menuntun, membawa Fina ke dekat kamar mandi yang keberadaan awalnya tengah mereka belakangi. Tak kurang dari delapan meter, mereka sudah berdiri di depan cermin rias yang bisa menangkap pantulan bayangan Fina maupun bayangan Rafael sendiri yang berdiri di belakang Fina sambil menahan kedua lengan wanita tersebut.
Fina kebingungan dengan maksud Rafael yang mengajaknya bercermin. Pria bermata sipit dan terlihat jelas memiliki darah thionghoa tersebut, benar-benar menatap lurus pada pantulan bayangan mereka yang ada di cermin. Meski tak lama setelah itu, tatapan Rafael kembali dikuasai kemarahan, menjerat Fina yang hanya sedadanya, tanpa ampun.
__ADS_1
“Kakek pasti akan bingung kenapa kamu justru ada di sini, sedangkan yang kakek tahu, kamu sedang mengurus bapakmu.”
“Kalau kakekmu sampai bertanya begitu, aku akan jujur dan menjawab, kedatanganku ke Jakarta untuk kerja. Apa salahnya?” balas Fina dengan entengnya sambil menatap serius kedua mata Rafael melalui pantulan bayangan di cermin.
“Sudahlah. Siap-siap saja. Akan ada orang yang mengurus semuanya.” Rafael benar-benar pasrah seiring tatapannya yang menjadi datar.
“Apa yang harus diurus? Apa yang salah dengan penampilanku?!” protes Fina yang bahkan sampai balik badan dan menatap Rafael penuh keseriusan.
“Bahkan kamu masih belum paham juga?” keluh Rafael yang kemudian memaksa Fina untuk balik badan dan kembali mematut diri di cermin. “Lihat! Kamu dekil banget. Kamu juga terlihat enggak merawat diri banget, dan aku enggak mau mengenai kamu, sampai jadi bahan perbincangan yang kurang nyaman bahkan buruk!” tambahnya. “Apa kata orang jika mereka melihatmu seperti ini?”
“Iya, sih ... aku dekil banget. Bahkan aku sama Rafael kayak susu cokelat sama susu putih. Padahal kalau di kampung, aku kelihatan bersih dan terbilang cantik. Tapi kok kalau bareng Rafael seperti ini, ... tampilanku jadi burik banget, ya?” batin Fina terheran-heran pada penampilannya sendiri. Meski tak lama setelah itu, Fina kembali tersadar perihal teguran Rafael.
“Tapi aku ke sini karena aku mau kerja, bukan untuk kamu, Raf!” protes Fina.
Fina akan kembali balik badan untuk menatap Rafael secara langsung, tetapi pria itu buru-buru menahan wajah Fina dari belakang dan memaksa wanita itu untuk menatap bayangan yang ada di cermin.
“Apa sih yang kurang dari aku? Sekarang aku tanya, ... sebagai wanita normal, apakah di matamu aku terlalu buruk?” tanya Rafael kembali diselimuti keseriusan.
Fina tak kuasa berkomentar. Ia terdiam dan berangsur menunduk.
“Ya sudah ... jika memang tujuanmu ke Jakarta untuk bekerja, mulai sekarang juga kamu bekerja sebagai istriku.” Meski berucap dengan suara lirih, tetapi setelah itu Rafael langsung berlalu tanpa memberikan penjelasan lebih kepada Fina yang menjadi menggeragap saking bingungnya.
“Bekerja sebagai istrinya? Maksudnya apa? Kemarin patner masa depan, ... eh sekarang bekerja sebagai istrinya? Jadi, dengan kata lain Rafael minta aku untuk bekerja dengan menjadi istrinya?” batin Fina ketar-ketir. “Apa bagaimana, sih? Kok Rafael aneh kayak Ipul ...?”
Bersambung ....
Ikuti dan terus dukung cerita ini, ya ... like, komen, dan vote dari kalian sangat berharga untuk Author berikut karya-karya Author.
Oh iya, buat kalian yang ingin tahu kisah Rafael sebelum ini, baca novel Author yang judulnya “Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh)”. Di sana ada kisah Rafael yang bucin ke Sunny, sekaligus alasan Rafael frustrasi cari jodoh dan emang jadi masa bodo sama cinta.
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1