
“Aku tidak memintamu untuk mengikuti agamaku. Kita hanya cukup saling menghormati,”
Episode 37 : Masalah Lain
Setelah perjalanan cukup panjang di antara langkah cepat berikut gandengan erat yang menjerat, ternyata Rafael membawa Fina kembali ke ruang rawat Raswin. Fina paham denah arahnya.
“Jadi, dari tadi, dibawa muter-muter, cuma buat menghindari Ipul? Ya elah, Na ... jangan baper, kenapa?” batin Fina mencoba menasehati dirinya sendiri.
“Bantu ibumu beres-beres. Aku sudah bilang ke perawat untuk memindahkan bapak ke ruang VVIP,” ucap Rafael ketika nyaris memasuki ruang rawat Raswin. Tepat di sebelah pintu ruang rawat Raswin yang masih dalam keadaan terbuka sempurna.
Rafael yang mengakhiri gandengannya kemudian menatap heran Fina. “Kamu ini aneh. Kan aku sudah bilang, ambil perawatan terbaik biar bapakmu cepat sembuh ... kita dikejar waktu, Fina ...,” keluhnya dengan suara lirih.
Meski sudah berucap dengan suara selirih mungkin, tetapi apa yang Rafael lakukan sukses mengusik Raswin, Rina, berikut Murni. Ketiganya kompak memperhatikan kebersamaan Fina dan Rafael yang kemudian disertai tiga orang perawat. Satu perawat laki-laki, dan sisanya perempuan. Fina dan Rafael masuk ke ruang rawat Raswin, bersama ketiga perawat tersebut.
“Pak, Bu ... kita pindah ruang rawat, biar Bapak sama Ibu lebih nyaman juga,” ucap Rafael sopan.
Meski ikut bingung layaknya kedua orang tuanya, tetapi Rina yakin, Rafael akan memboyong Raswin ke kamar rawat yang lebih bagus sesuai keluhan yang beberapa menit lalu ia dengar. Keluhan yang Rafael sampaikan kepada Fina, tak jauh dari depan pintu sebelum keduanya masuk bersama ketiga perawat.
Fina memberi orang tuanya pengertian untuk mengikuti kemauan Rafael. Mereka langsung pindah. Murni, Fina utus untuk mendampingi pemindahan Raswin, sedangkan ia bersama Rina dan Rafael, memboyong barang-barangnya termasuk oleh-oleh dari keluarga Rafael, berikut hadiah pribadi dari Rafael sendiri.
Selain beberapa kantong hadiah dari orang tuanya yang sempat dibawa Didin dan Otoy, Rafael kembali membawa dus berisi pancinya. Dan karena Otoy diminta Rafael untuk beristirahat di ruang rawat setelah sampai berobat, Didin menjadi satu-satunya yang membantu mereka.
***
Ruang rawat Raswin yang baru tak ubahnya hotel berbintang. Jauh lebih luas dan memiliki banyak fasilitas. Tak hanya televisi layaknya di ruangan sebelumnya, sebab selain kulkas, Ac, berikut kamar mandi di dalam ruangannya, juga ada seperangkat meja dan sofa, selain sebuah ranjang tidur lagi.
“Kalau begini caranya, aku bakalan betah lama-lama jaga Bapak!” bisik Rina pada Fina.
Rina benar-benar girang dan segera menghampiri Murni yang sedang membenarkan selimut Raswin, dengan langkah tergesa. Ia langsung menyusun pakaian di dalam ransel, pada lemari panjang yang tersedia dan keberadaannya ada di bawah televisi tak jauh dari kebersamaan Raswin dan Murni.
“Melihat keluargamu bahagia seperti ini, aku menjadi merasa sangat berguna,” lirih Rafael tepat di atas kepala Fina.
Fina yang awalnya sedang memperhatikan orang tua berikut Rina yang kegirangan, sampai merinding. “Kenapa kamu berbicara seperti itu? Memangnya selama ini, ... hidupmu kenapa?” tanyanya lirih tanpa berani menatap Rafael.
__ADS_1
Rafael terdiam dan tak berkomentar. Membuat Fina menengadah untuk memastikan. Di waktu yang sama, Rafael yang awalnya sedang memperhatikan Raswin, Murni, berikut Rina yang diselimuti kebahagiaan, juga menunduk dan berniat menatap Fina.
Gugup dan canggung, melanda Rafael dan Fina, detik itu juga. Keduanya buru-buru menepis pandangan satu sama lain, setelah sempat bertatapan cukup lama dab bahkan terpaku. Fina geser ke kiri, Rafael langsung melangkah ke kanan menuju orang tua Fina yang sudah disertai Rina. Barulah, setelah Rafael sampai di antara ketiganya, Fina memberanikan diri untuk menyusul. Kendati demikian, rasa gugup terus saja menyelimuti keduanya.
“Bu, ... sudah magrib? Aku sholat dulu, ya ...,” lirih Rina kemudian dan sampai membungkuk sopan ketika melewati Rafael.
Rafael terdiam. Ia mengerling dan berhenti pada Fina yang baru datang.
“Mbak ... sholat bareng, yuk?” ajak Rina sambil mengambil mukena berikut sajadah dari lemari panjang yang baru ia tinggalkan.
Ajakan Rina sukses membuat Fina refleks menghela napas dalam. Di mana tak lama setelah itu, tatapannya yang terempas pada Rafael, juga dibalas oleh pria itu yang kebetulan menatapnya.
“Kamu duluan saja. Mbak beresin ini dulu,” sanggah Fina. Ia menyusun barang-barang yang ia bawa, di atas lemari yang Rina gunakan untuk menyimpan pakaian.
“Oke, Mbak ... aku duluan, ya. Aku ke musola dulu,” balas Rina masih bersemangat.
Mengenai agama atau kepercayaan, tak ubahnya luka mendalam yang kali ini tengah Fina dan Rafael rasakan. Jadi, ketika semuanya sudah beres Fina susun, berikut barang-barang yang Rafael angkut dan sampai Fina susun di meja, Fina sengaja pamit kepada orang tuanya dan mengikut-sertakan Rafael ke dalam kepergiannya.
***
Rafael menghela napas pelan. Sambil menggosokkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya yang terbuka, ia berkata, “meski agama dan kepercayaan kita berbeda, tetapi enggak ada salahnya, kan, saling menghormati?”
Rafael memastikan tanggapan Fina melalui lirikan tanpa benar-benar menatap wanita itu.
Kali ini giliran Fina yang menghela napas. Helaan napas jauh lebih dalam hingga punggung ramping wanita itu menegak. Dan tak beda dengan Rafael, Fina juga menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
“Shalat dulu, ... baru kita lanjut bicara,” ucap Rafael kemudian dan masih belum menatap Fina.
Fina yang refleks menatap Rafael menyadari, pria itu menyibukkan diri dengan menatap asal ke sekitar dan jelas menghindarinya. Akan tetapi, apa yang Rafael lakukan berhasil membuat Fina tersentuh. Pria itu selalu dengan ucapannya dan bahkan perihal urusan agama yang terbilang sensitif.
Fina menelan ludah kemudian berdeham. Sambil mencoba meredam ketegangan berikut kecanggungan yang tak kunjung menepi, ia menghela napas pelan. “Aku sedang enggak bisa sholat. Tapi sebelumnya makasih banyak, sudah mengingatkanku untuk sholat.”
Balasan Fina, membuat Rafael bingung dan refleks menatap wanita itu dengan mengernyit. “Kok bisa enggak bisa sholat? Masih ada waktu, kan? Yang penting belum isya? Gini-gini aku cukup tahu agamamu walau enggak banyak.”
__ADS_1
Nada suara Rafael, masih terdengar santai sekaligus sarat pengertian. Fina saja sampai merasa nyaman sekaligus diperhatikan.
“Aku sedang ada tamu bulanan, Raf. Mens. Sudah mau dua minggu, tetapi kalau sudah terlalu banyak masalah memang begini, ... jadi lama banget. Bahkan waktu mau sidang sripsi, aku sampai mens sebulanan.” Fina mengatakannya tanpa menatap Rafael yang ia ketahu masih menatapnya. Bakan kali ini, tatapan pria yang begitu gigih mengajaknya menikah, sampai menjadi menerka-nerka.
“Dua minggu? Biasanya, kalau mens, ... sampai enggak bisa melakukan hubungan, kan? Jadi, kalau dua minggu ini dia mens, berarti ... apakah mantan suaminya sama sekaki enggak menyentuh Fina? Namun, ... jika melihat dadi kenyataan si mantan yang belum bisa move on dari calon sebelumnya , ... sepertinya memang begitu ...,” batin Rafael.
“Masa, iya, aku harus teriak kalau aku masih perawan! Semprul, si Rafael! Kenapa dia menatapku sampai segitunya?!” batin Fina yang sampai mendengkus sebal.
“Mumpung masih di rumah sakit, kita konsultasi saja. Kalau keadaan seperti itu enggak bisa dianggap remeh. Toh, kamu juga yang merasakannya, kan?” ucap Rafael kemudian demi meredam kecanggungan.
Rafael kembali tidak berani menatap Fina.
“Tapi sebelum itu,” sergah Fina yang sampai mencondongkan kedua lututnya pada sebelah lutut Rafael. Ia menatap pria itu penuh harap.
Mendapati itu melalui lirikan, Rafael berangsur menatap Fina. “Apa?” Ia mengangguk sambil mengedipkan sendu kedua matanya, menuntun Fina untuk berbicara.
“Rasanya akan sulit, jika kita tetap beda keyakinan,” ucap Fina yang menjadi merasa bersedih. “Raf, maaf ... aku tahu ini urusan yang sangat sensitif ... setelah semua yang kamu berikan kepadaku dan keluargaku,”
“Aku tidak memintamu untuk mengikuti agamaku. Kita hanya cukup saling menghormati,” tegas Rafael masih dengan nada bicara yang begitu sarat pengertian.
Padahal jauh di lubuk hatinya, Rafael berujar jika sebenarnya, selama ini dirinya tidak begitu percaya dengan agama. Jangankan mengerti, mengenal saja hanya sebatas hal-hal umumnya saja.
Di mata Fina, jiwa pemimpin Rafael benar-benar kental. Dan seperti apa yang Fina takutkan, perbedaan agama di antara mereka memang menjadi masalah lain yang begitu sensitif bahkan pelik.
“Oh, kalau kamu beda agama sama Fina, ... berarti kamu kafir, dong?” ucap Ipul tiba-tiba yang ternyata sudah berdiri di balik punggung bangku yang diduduki Fina dan Rafael.
Dan apa yang Ipul lakukan semakin memperkeruh keadaan. Fina berharap Rafael tidak memikirkan apalagi sampai dimasukan ke hati, perihal ucapan Ipul yang kewarasannya saja masih diragukan. Namun, Fina tidak bisa menjamin semua orang bisa berpikir jernih layaknya dirinya dalam menghadapi Ipul yang lebih sering tidak waras ketimbang warasnya.
Bersambung ....
Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.