
“Sunny? Siapa Sunny untuk Rafael? Kenapa Rafael mendadak menjadi pemarah bahkan sampai tega membentak-bentak aku, hanya karena Sunny?”
Episode 59 : Pertengkaran Pertama
Fina terbangun dengan sesuatu yang terasa menempel di sebelah wajahnya. Dan ketika Fina memastikan, menggunakan sebelah tangan untuk merabanya, ternyata ada kertas memo yang tertempel di sana.
Fina tak lantas memastikan kertas memo tersebut. Yang ia lakukan justru mencari-cari keberadaan Rafael. Dan selama itu juga, kedua tangannya terus mendekap erat selimut, agar sebisa mungkin menutupi tubuhnya yang tidak mengenakan baju, karena setelah kerokan, Fina benar-benar langsung tidur, tanpa kembali mengenakan bajunya lebih dulu.
Rafael tidak ada di kamar yang bahkan nyaris tidak ada suara lain kecuali detak jantung berikut deru napas Fina sendiri. Jadilah, Fina segera mencomot blus lengan panjang miliknya yang terkapar di nakas sebelah. Ia segera mengenakan blus tersebut tanpa mengenakan bra yang masih tertindih bantal di sebelahnya. Namun sebelum benar-benar beranjak, Fina mencium aroma Rafael di sebelah bekasnya berbaring. Atau mungkin, Rafael sempat tidur di sana, mengingat, Fina benar-benar lupa?
Karena hal terakhir yang Fina ingat, Rafael sempat membantunya meminum obat. Dan setelah itu, Fina benar-benar lupa.
Dengan tubuh yang terasa sangat sehat tanpa rasa sakit entah itu meriang apalagi pusing, Fina segera meninggalkan tempat tidur berikut selimutnya. Dan lantaran suasana kamarnya masih temaram, hanya mengandalkan lampu meja pada kedua nakas sisi tempat tidur, Fina berangsur mencari sakelar lampu di sana.
Tepat di sebelah pintu masuk yang masih tertup, Fina menemukan sakelar di sana. Kemudian ia segera membuka pintu dan masuk ke lorong sebelah yang ternyata merupakan keberadaan kamar mandi. Dan sambil melangkah ke sana, meski dengan kenyataan kedua matanya yang masih merem-melek, Fina membaca memo yang sempat menempel di wajahnya.
--Karena demammu sudah turun, aku berani meninggalkanmu. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan di Bandung, hari ini juga. Tapi sorenya, sebelum pukul enam, aku pasti sudah pulang. Setelah bangun, kamu harus langsung sarapan. Aku sudah meminta chef ternama untuk memasakanmu bubur spesial. Dan perihal cek-up bapak, aku juga sudah meminta sopir mama buat antar--
Fina agak kecewa lantaran di pesan tersebut, Rafael tidak sampai menuliskan jika pria itu menyayangi, apalagi mencintai Fina. Atau kalau tidak, setidaknya Rafael mengukir gambar hati sebagai tanda ungkapan perasaan pria itu terhadapnya.
“Kayaknya, dari semuanya, ... yang paling faseh bilang sayang ke aku ... memang cuma si Ipul. Rafael ...? Boro-boro! Ya wislah ... cuci muka dulu baru WA dia. Karena biar bagaimanapun, Rafael juga sudah jaga bahkan mengurusku. Tapi omong-omong, sekarang pukul berapa, ya?”
Fina bergegas dan mempercepat langkahnya setelah sampai menekan sakelar lampu kamar mandi. Wanita yang memiliki tinggi tubuh seratus enam puluh senti itu segera berdiri di depan wastafel dan siap membasuh wajahnya, setelah sampai menyalakan keran. Namun, ... beberapa tanda cinta yang tampak masih baru di lehernya, sukses membuat Fina membeo. Fina bahkan menumpahkan air di kedua tangannya yang siap ia basuhkan ke wajah.
“Si bayi tua memang curang ... yang kemarin saja belum hilang ... huftt!” gumamnya yang menjadi lemas. Karena dengan kata lain, ia harus memoleskan banyak BB cream di setiap bagian bekasnya, demi menutupi semua itu.
Fina segera membasuh wajahnya. Baru Fina sadari jika perlengkapan sabun termasuk sabun cuci wajah untuknya, juga sudah disediakan di sana. “Tapi biar bagaimanapun, ... si bayi tua juga pengertian, sih. Selalu tahu apa yang aku butuhkan!” batin Fina yang menjadi senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
***
Tujuan Fina selanjutnya adalah mencari ponselnya. Dan ia menemukan benda canggih itu di depan meja rias yang terbilang besar dan sudah disertai satu kotak besar keperluan rias. Fina mengenali kotak rias tersebut sebagai kotak rias yang sempat ia gunakan, dibantu oleh ketiga wanita yang ditugaskan khusus oleh Rafael, sebelum pertemuan pertamanya dengan orang tua Rafael, kurang lebih satu minggu yang lalu.
Tepat ketika Fina baru akan meraih ponsel, telepon masuk dari Rafael menghiasi ponselnya. Tanpa pikir panjang, Fina yang sampai menjadi berbunga-bunga pun segera menjawabnya.
“Fin, ... kok kamu enggak bilang, kalau yang dicium Keandra itu si Sunny, sih?!” bentak Rafael dari seberang.
Nada Rafael terdengar sangat marah bahkan kecewa. Sebelumnya, Rafael belum pernah berbicara dengan nada setinggi itu bahkan sampai membentak. Dan mendapat perlakuan tersebut, Fina menjadi merasa sangat nelangsa.
Perasaan Fina menjadi campur aduk. Namun yang jelas, bentakan dari Rafael jauh lebih menyakitkan dari hinaan tetangga termasuk fitna keji Ipul, sebelum Rafael ada dalam hidup Fina.
“M-maksud, ... maksud kamu, apa, sih, Raf? Bahkan kemarin kamu enggak--”
Fina belum selesai berbicara, tetapi dari seberang, Rafael sudah memotong penjelasannya.
“Kamu tahu maksudku!”
“Kalau memang hanya mau marah-marah, enggak usah telepon!” Dan kali ini, tanpa menunggu balasan atau sekadar persetujuan Rafael, Fina langsung mengakhiri sambungan telepon mereka.
Dada Fina benar-benar terasa sesak sekaligus sakit. Bahkan ketika wanita itu menoleh ke samping kirinya selaku keberadaan cermin rias, ternyata ia juga sudah berlinang air mata.
“Sunny? Siapa Sunny? Kenapa Rafael mendadak menjadi pemarah bahkan sampai tega membentak-bentak aku, hanya karena Sunny?” uring Fina.
Tak mau membuat dirinya semakin penasaran, Fina berangsur mencari tahu lebih lanjut perihal skandal Keandra yang Fina yakini akan disertai asal-usul Sunny. Fina benar-benar penasaran perihal Sunny. Dan kenapa juga, Rafael sampai mengenal Sunny?
Apakah Rafael memiliki hubungan dekat dengan wanita cantik yang sempat membuat jagad raya geger, lantaran wanita yang bahkan sudah bersuami itu, terseret skandal gila Keandra?
__ADS_1
Sepanjang Fina melakukan pencarian, selama itu juga Rafael sibuk menelepon. Namun Fina yang telanjur marah juga dengan cekatan menolak semua telepon tersebut.
“Apa-apaan? Kalau cuma mau marah-marah, mati saja sana!” cibir Fina yang terus saja menolak telepon dari Rafael, meski Rafael baru berhenti setelah puluhan kali telepon pria itu ia tolak.
“Syukurin! Capek sendiri, kan?” gumam Fina ketika Rafael tak lagi mencoba meneleponnya.
Fina, memang menemukan latar belakang Sunny. Namun Fina tidak tahu, apa yang membuatnya bisa menemukan status Sunny dalam hidup Rafael? Meski setelah Fina gali lebih jauh, ternyata pekerjaan Sunny selama lima tahun terakhir, menjabat sebagai Manager utama di sebuah hotel ternama.
“Apakah hote ternama yang dimaksud merupakan hotel Rafael?” pikir Fina. “Namun, jika memang Sunny bekerja di hotel Rafael, berarti Sunny juga spesial buat Rafael, apalagi Rafael sampai jadi sebengis tadi bahkan membentak-bentak aku?” pikir Fina.
Ketika Fina dibingungkan dengan semua itu, ada pesan WA masuk dan itu dari Rafael.
Rafael : Maaf ....
Dan Fina segera membalasnya dengan emosi yang masih menggebu-gebu.
Fina : Nggak!
Setelah membalas Rafael, Fina terduduk lemas di lantai, sedangkan sebelah tangannya masih menggenggam ponsel. Fina bersandar pada meja rias dengan emosi yang terkuras. Ya, emosinya benar-benar terkuras ataa kemarahan sekaligus kekecewaannya terhadap Rafael.
Demi meredam semua itu, Fina berniat mematikan ponselnya. Namun apa daya, pemberitahuan aplikasi Instagram, perihal siaran langsung yang dilakukan akun Den Bagus Saeful, dengan judul : Mai oli wan Dek Finaku, diculik kafur!, sukses membuat Fina mengurungkan niatnya. Bahkan dengan sendirinya, Fina justru menyentuh aplikasi Instagram.
“Apakah di dunia ini, yang benar-benar tulus mencintaiku memang hanya Ipul?” pikir Fina seiring hatinya yang menjadi gamang. Pun dengan linangan air mata yang juga mendadak tak mau berhenti mengalir, dari kedua matanya.
Bersambung ....
Hallo, Author kesiangan. Nulis lupa share 🤣🤣🤣🤣. Semalam kebut cerita “Selepas Perceraian” soalnya. Biar cepat tamat.
__ADS_1
Oh, iya... yang belum tahu cerita Rafael pas masih sama Sunny, langsung baca novel Author yabg judulnya : Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh), ya.
Oke, terus ikuti dan dukung ceritanya biar enggak tenggelam, ya. Ramaikan ceritanya. Like, komen, sama votenya Author tunggu 😍😍😍