
“Gila saja! Kalau kamu ke salon, yang ada kamu bisa kembali dipenjara gara-gara pembunuhan berencana!”
Episode 44 : Demi Nyalon
Bian yang sedang duduk melamun di balik meja kasir dalam bengkelnya, nyaris jantungan ketika seseorang tiba-tiba saja menggebrak meja keberadaannya.
Den Bagus Saipul. Pria dekil yang tak hanya terkenal karena memiliki banyak kerbau dan kambing, melainkan bau tak sedap dari badan Ipul sendiri, menatap Bian sambil mendelik. Kedua tangan Ipul juga pertolak pinggang terlepas dari pria itu yang terlihat sangat marah. Bahkan ... Ipul seperti kerasukan mahluk halus.
“Ngapain kamu? Baru datang sudah mendelik-mendelik begitu, ... pengin aku colok?” omel Bian sambil beranjak dari duduknya.
Dengan keadaan yang masih emosi karena ulah Ipul, Bian yang juga terpaksa menahan napas demi menghalau bau Ipul, meraih masker kain yang tergantung di gantungan dinding sebelahnya.
“Ngapain pakai acara colok mata? Ini saja mataku lagi belekan!” balas Ipul ketus.
“Ih, jorok! Makanya mandi! Itu baru mata! Bentar lagi tubuhmu bisa sampai keluar belatung!” balas Bian sambil mengenakan masker. “Gila saja! Pakai masker pun, baumu tetap tembus!”
Ipul semakin kesal pada Bian. “Belagu banget sih kamu jadi orang! Bahkan semua orang tahu, aku jauh lebih ganteng dari kamu! Mai oli wan Dek Fina saja, mau sama kamu karena kasihan, gara-gara kamu ditinggal rabi sama Lia, kan? Huahahah!”
Ipul benar-benar bahagia setelah berhasil mengatakan itu pada Bian. Itu juga yang membuatnya tertawa lepas sekaligus puas. “Hahaha ... kasihan dicerai sama mai oli wan!”
“Dasar wong gemblung!” cibir Bian yang merasa sangat sial, kenapa hari ini, Ipul sampai mampir ke bengkelnya?
“Sudah, mingkem! Nanti jigongmu pada loncat!” tambah Bian lantaran Ipul tak kunjung diam.
Ipul memang berangsur mengakhiri tawanya, tetapi pria itu justru menggosokkan kedua tangannya pada deretan giginya, kemudian berusaha membalurkannya pada Bian.
Bian yang mendapati kenyataan tersebut langsung ketakutan. Sialnya, Ipul nekat masuk ke area ruang kasir keberadaan Bian yang memang hanya tersekat tembok dan etalase, tanpa pintu berarti.
“Heh, Ipul! Jorok banget kamu! Hihhhh! Woy, tolong, woy! Ini usir si gila Ipul Ihhh jijik, ih!” raung Bian yang sampai melempar bungkusan ban dalam motor, pada Ipul demi mengakhiri ulah gila pria itu.
Dua pekerja yang diminta tolong oleh Bian, segera berlari. Sialnya, Ipul juga mengincar keduanya. Ipul kembali menggosokkan tangannya pada deretan gigi yang tentunya jauh dari kata bersih tak kalah dari tubuh Ipul. Sontak, kedua pemuda tersebut juga tak kalah jijik bahkan lebih takut dari Bian.
Kedua pemuda yang awalnya akan menolong Bian memilih mundur dan terus berusaha menghindar. Bahkan, melihat Ipul berikut tingkah pria dekil itu saja, keduanya sudah mual-mual.
“Aku laporin ke polisi, ya, kamu Pul, kalau berani berulah di sini!” ancam Bian yang masih berdiri di sudut ruangan yang kiranya berukuran 3x4 meter.
Namun, ada yang membuat Bian merasa aneh pada Ipul yang tiba-tiba jongkok. Ipul memunguti bungkusan ban dalam motor, yang sempat Bian lemparkan dengan berubi. Ipul tidak bermaksud menganbil ban-ban itu darinya, kan?
“Alhamdullilah ... rezeki anak sholeh ...,” ucap Ipul dengan leganya dan sampai mendekap bungkusan ban dalam motor yang jumlahnya lebih dari sepuluh itu. Bahkan karenanya, ia sampai kerepotan dalam membawanya.
“Heh! Itu maksudnya apa, kenapa kamu bawa begitu?!” omel Bian. Ia yang refleks mendekati Ipul mendadak terjaga lantaran sadar tidak membawa senjata untuk melindungi diri dari Ipul.
__ADS_1
Bian meraih kunci Inggris dari atas etalase dan menodongkannya pada Ipul.
Sambil menatap bingung Bian, Ipul yang sampai cukup jongkok demi menampung ban dalam motor dalam dekapannya, berkata, “ini tadi sudah kamu buang, kan? Ya sudah aku ambil saja. Dan kalaupun kamu mau ini balik lagi, sini bayar ...!”
Bian menggeleng kemudian menghela napas tak habis pikir dengan tangan kanannya yang masih mengarahkan kunci Inggris pada wajah Ipul. “Balikin, enggak! Balikin itu barang dagangan!”
“Nowe (no way) ! Bayar dulu! Nomoni (no money), no barang!” balas Ipul dengan santainya.
Ipul yang sampai senyum-senyum santai, membuat Bian semakin geram dan nyaris menggetokkan kunci Inggris di tangan kanannya, pada kepala Ipul.
“Sumpah, ya, Pul! Kamu benar-benar bikin emosi!”
“Sudah ... kasih aku moni (money) ... moni ... moni ... aku lagi butuh banyak moni buat nyalon soalnya kalau jual kambing kan sayang!”
“K-kamu, ... mau ke salon?” tanya Bian memastikan, menatap Ipul penuh kepastian. Tentunya, masih sengaja berjarak dari Ipul berikut kunci Inggris yang masih ia arahkan kepada pria itu.
Bersama Ipul, Bian merasa sangat terancam. Bian benar-benar takut dikotori oleh pria itu.
Ipul mengangguk dengan bangganya. Tampang yang bagi Bian semakin menjengkelkan.
“Gila saja! Kalau kamu ke salon, yang ada kamu bisa kembali dipenjara gara-gara pembunuhan berencana!” cibir Bian kemudian yang terpaksa bernapas lewat mulut saking sesaknya lama-lama menahan napas.
“Baumu, lho, Pul! Kalau hidup ini berefek seperti kecanggihan editan di layar kaca drama yang menampilkan efek wabah ... di sekitar kamu, di sekitar kamu dengan radius bermil-mil itu sudah berwarna suram efek bau dari badan kamu!” Bian mengatakan itu sambil mengarah-ngarahkan kunci Inggrisnya membentuk lingkaran yang sangat besar.
“Bedebah kamu Bi! Bomat, ah! Yang penting aku dapat ini!” cibir Ipul yang bergegas melangkah.
Kedua pemuda selaku pekerja di sana dan menjadi orang lain di antara Bian dan Ipul, mengingat sekarang sedang tidak ada pelanggan, segera mundur lantaran ngeri pada aroma berikut ulah Ipul. Mereka takut dilumuri jigong bahkan kotor lain dari Ipul.
“Cepat tahan. Ndri, lapor polisi! Ke polsek sebelah, ke polsek sebelah!” sergah Bian kocar-kacir sambil berlari demi menyusul Ipul.
Sebuah sapu lantai yang menyandar di dekat pintu ruang keberadaan ruang kasir, segera Bian sambar. Bian langsung mengarahkan ijuknya pada kepala Ipul.
“Kalian berani lapor polisi, aku ludahin!” ancam Ipul pada kedua pekerja Bian yang sudah siap menghadang.
Ancaman Ipul tak hanya membuat kedua pekerja Bian ragu, melainkan takut. Namun, satu dari mereka buru-buru lari ke sebelah bengkel. Dan mendapati hal tersebut, Bian langsung berseru, “Sul! Itu robohin saja motornya. Itu yang ada kambingnya kan, motor dia?!”
“Lah ... Bos saja takut, apalagi aku?” balas pekerja bernama Samsul dan bahkan sampai gemeteran.
“Sudah jangan ragu!” sergah Bian tak sabar.
Di depan bengkel memang ada sebuah motor yang membonceng keranjang bambu berisi anak kambing yang memang motor Ipul.
__ADS_1
“Tuman kamu, Bi! Berani-beraninya mau menganiaya kambing di bawah umur!” semprot Ipul.
Ipul menakut-nakuti Samsul dengan bibir komat-kamit siap menyemburkan ludah. Membuat pemuda tersebut semakin ketakutan.
Dan ketika Ipul balik badan, sambaran sapu ijuk dari Bian, mendarat di wajahnya. Ipul yang terkejut refleks memejamkan kedua matanya. “Semprul kamu Bi! Ngising baen koe nganah! Sapumu kotor bahkan beroli!” serunya meraung-raung. “Ya Alloh Gusti ... demi dapat uang biar bisa nyalon saja sesusah ini! Bagaimana mungkin aku bisa menyaingi ketampanan si Kafir, kalau aku enggak dapat uang buat nyalon? Masa iya, ... aku beneran jual kambing?” batin Ipul yang masih terpejam, meraung-raung dalam hatinya yang paling dalam.
Ipul merasa sangat nelangsa, lantaran perjuangannya mendapatkan cinta Fina sangat sulit. Terlebih sekarang ini, Rafael yang menjadi saingan terberatnya, membuat Ipul semakin kewalahan.
Lantaran matanya yang terpejam terasa sangat perih dan Ipul yakini karena efek oli dari sapu yang Bian timpukkan, Ipul terpaksa menjatuhkan semua ban dalam motor, yang baru saja ia sita dari Bian.
Wajah Ipul memang dihiasi sapuan oli pekat yang membuat wajah pria itu semakin hitam sekaligus dekil. Dan ketika Ipul memastikan ke seberang selaku keberadaan motornya, dan sampai ia dengar suara bisik-bisik Bian yang meminta Samsul untuk segera melepaskan kambing dari ranjang, Ipul benar-benar syok.
“Biaaan, kenapa kamu lepasin kambingku!” seru Ipul emosi.
Bian tak lantas berhenti. Ia dan Samsul bekerja sama menggiring kambing Ipul ke seberang jalan. Bahkan Bian dan Samsul sampai ikut menyeberang demi menggiring kambing Ipul yang lari dengan girangnya setelah dilepas dari ranjang.
Ipul yang merasa sangat kesal juga tidak tinggal diam. Ipul segera berlari menyeberang jalan. Namun, ulah Ipul yang asal menyeberang juga sukses membuat seruan klakson sebuah mobil memekakkan suasana sekitar. Dan ketika Ipul menoleh ke sisi kanannya selaku sumber suara klakson mobil, sebuah mobil Alphard berwarna putih, sudah ada di pelupuk matanya.
“Yes, mau ditabrak mobil! Pura-pura pingsan ah, biar bisa dapat duit buat nyalon!” batin Ipul yang seketika itu juga justru terpejam dan menjatuhkan diri.
“Ya ampun, itu orang bukannya minggir apalagi lari, malah pingsan! Sul, gimana ini?!” uring Bian dari seberang jalan.
Bian tak hentinya menatap cepas Ipul, terlebih tak kurang dari lima meter di hadapan pria itu sudah ada mobil yang tak hentinya menekan klakson. Bahkan karena klakson dari mobil tersebut pula, situasi di sana semakin bising.
Bersambung ....
Hallo? Ngakak dulu. Bentar ... tarik napas juga 🤣🤣🤣. Ipul dengan semua ceritanya selalu bikin Author bahagia. 🤣🤣🤣
Oh, iya ... ini ada beberapa bahasa Jawa tempat Author. Adakah dari kalian yang juga ngerti? Wkwkwkwk
Terus dukung cerita ini, ya ... kalau bisa share biar lebih banyak yang baca. Tag ke IG Author juga boleh banget di : Rositi92.
Terus, kebodohan Ipul yang malah pura-pura pingsan, tolong jangan ditiru 😂😂😂😂.
Ya sudah, kalian mau up tambahan enggak? Kemarin Authornya kelelahan jadi enggak ada up tambahan.
Yuk, ramaikan 😂😂
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1