
“Jangan tegang apalagi takut. Aku ada di dekatmu dan akan selalu ambil alih semuanya. Ibaratnya, kamu cukup jadi barang saja,”
Episode 29 : Masih Ragu
Fina hilang keseimbangan dan mendadak berpegangan erat pada kedua bahu Rafael, seiring tubuhnya yang menjadi sampai sempoyongan.
“Kamu kenapa?” sergah Rafael cemas dan refleks menahan kedua bahu Fina. Ia langsung menatap saksama Fina dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tak kalah cemas dari Rafael, ketiga wanita yang menangani Fina juga menjadi ketar-ketir. Pasalnya, Fina baru saja mereka tangani. Dan perihal apa yang menimpa wanita itu, pasti akan menjadi bagian dari tanggung jawab mereka.
“K-kakiku sakit, Raf!” keluh Fina sambil menyeringai dan terlihat jelas menahan rasa tidak nyaman.
Dengan sebelah tangan yang kemudian menahan punggun Fina demi menahan keseimbangan tubuh wanita itu, Rafael yang bergerak cepar segera berjongkok dan menyibak gaun bagian bawah Fina hingga lutut, menggunakan sebelah tangannya yang bebas.
Kaki Fina terlihat jelas kehilangan keseimbangan. Rafael yakin, hal tersebut lantaran hak tinggi yang Fina kenakan. Dan kini, setelah memastikannya sendiri, ada kelegaan dan seketika mengiringi helaan napas dalam yang Rafael lakukan.
Namun, Fina yang merasa risi sekaligus malu, segera menurunkan tangan Rafael yang membuat kakinya sampai terlihat hingga lutut. Fina melakukan itu tanpa berani menatap ketiga wanita yang tadi mengurusnya dan sampai saat ini masih berdiri di sebelah meja rias. Pun pada Rafael, Fina juga lebih merasa malu, kendati ia juga merasa tak habis pikir, kenapa pria itu sampai tiba-tiba menyibak gaunnya setinggi itu, ... bahkan sekarang, Rafael sampai membopongnya?
Ulah Rafael membuat ketiga wanita yang terjaga di sana terperangah. Ketiganya yang terkesiap, buru-buru mengatupkan kedua tangan pada mulut mereka yang refleks terbuka lebar menatap tak percaya ulah Rafael.
Rafael membopong Fina dan mendudukkannya di kursi rias. Tak sampai di situ, pria itu juga sampai jongkok untuk melepaskan hak tinggi yang Fina kenakan. Karena kendati pas, tetapi hak tinggi yang tingginya ada dua puluh senti itu belum bisa Fina gunakan dalam waktu dekat apalagi malam ini.
Fina yang semakin malu sekaligus kikuk, sengaja menahan kedua tangannya di lutut. Ia takut, Rafael kembali menyibak gaunnya bahkan lebih parah dari sebelumnya. Terlepas dari itu, Fina juga merasa tak habis pikir, kenapa Rafael melakukan hal terbilang sensitif tanpa izin, seolah-olah, pria itu merasa berhak untuk semua yang menyangkut hidup Fina? Karena meski Fina telah menggunakan uang Rafael dalam jumlah yang tidak sedikit, juga mereka yang sepakat untuk menikah, tetapi Fina tidak suka jika Rafael asal mengambil keputusan terlebih tindakan tanpa izin bahkan kesepakatan dari Fina.
Sambil menyisihkan sepasang sepatu berhak tinggi runcing tersebut, Rafael menatap ketiga wanita yang masih berjejer di belakangnya, “untuk sementara, ... jangan memberinya hak tinggi. Karena bukannya menawan, itu hanya akan membuatnya dipermalukan.”
__ADS_1
Rafael menghela napas dalam, sedangkan ketika perempuan yang dimaksud, segera membungkuk-bungkuk sopan sambil meminta maaf. Lain lagi dengan Fina yang mendadak mengoreksi penilaiannya kepada Rafael.
“Seberapa cerdas sih, Rafael, sampai-sampai dia tahu, aku enggak bisa pakai hak tinggi?” batin Fina.
“Kok, Rafael peduli banget sama aku? Tapi, ... dia benar-benar peduli, ... atau, ada maksud tersembunyi? Atau jangan-jangan, karena Rafael sudah berpengalaman?” Fina masih menerka-nerka dalam hatinya dan membiarkan Rafael mengenakan sepatu flat berwarna senada dengan sepatu hak tinggi yang baru saja dilepaskan. Tentunya, semua yang Rafael berikan kepada Fina termasuk gaun yang dikenakan, sangat membuat Fina merasa nyaman terlepas dari sekujur tubuh wanita itu yang juga terasa sangat segar setelah mendapatkan perawatan.
“Kita berangkat,” ucap Rafael kemudian yang justru memasuki kamar mandi.
Fina yang berangsur beranjak dan meninggalkan tempat duduknya, mendapati Rafael sedang mencuci tangan. “Rasanya, ... kok aneh gini? Kami ... aku dan Rafael hanya sebatas orang asing yang sama-sama membutuhkan, kemudian kami sepakat untuk menjalani pernikahan. Namun, ... apakah semuanya akan berjalan dengan mudah bahkan meski Rafael memiliki segalanya?” batin Fina.
Hati Fina yang sempat hancur akibat ulah Bian dan Ipul, kini ibarat puzzel yang akan tetap memiliki celah bahkan bekas, kendati Rafael berusaha menyatukannya melalui keyakinan sekaligus bukti. Terlepas dari itu, Fina merasa akan ada banyak hal yang membuat langkahnya dan Rafael, menjadi tidak mudah. Pun mengenai agenda makan malam yang akan mereka jalani. Rasanya, ... Fina benar-benar tidak yakin bahkan takut. Bagaimana jika keputusannya menerima Rafael, justru membuatnya terjerembab dalam luka tak berujung, yang bahkan sampai kembali berdampak pada keluarganya? Jangan-jangan, ... keputusannya menerima Rafael justru kesalahan besar? Tak beda ketika ia memaksa dirinya membantu dan menikah dengan Bian?
Dengan semua ketakutan itu, Fina sengaja menghentikan langkahnya yang baru saja meninggalkan kamar hotel tempatnya menginap. Karena ternyata, Rafael menampungnya di sebuah hotel yang sulit Fina jelaskan kemegahan sekaligus kemewahannya.
Gedung hotel berikut fasilitas keberadaan Fina kini, seperti gedung hotel yang menjadi tempat tokoh orang kaya di drama-drama yang menghiasi layar kaca. Dengan kata lain, hidup Fina benar-benar tak ubahnya cinderella. Namun, apakah nasib Fina juga akan berakhir manis layaknya cinderella?
Kedua tangan Fina sibuk saling mencengkeram di depan perut. Wanita itu terlihat sangat gelisah bahkan takut.
Rafael berangsur balik badan guna menatap Fina lebih leluasa. “Semenjak bersamamu, ... waktuku terasa semakin panjang. Satu hari saja, ... rasanya seperti berbulan-bulan. Terlalu banyak hal yang harus aku lalui bahkan selesaikan. Belum lagi meyakinkanmu yang bahkan sampai sekarang masih meragukanku.”
“R-raf ...?” Fina masih belum berani menatap Rafael.
Rafael maju selangkah, dan mendapati itu, Fina yang sampai melihatnya karena masih menunduk juga menjadi mundur satu langkah.
“Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?” tanya Rafael kemudian dan masih diliputi banyak keseriusan. Ia sampai menunduk demi menatap Fina yang hanya sedadanya dan bahkan sampai menunduk.
__ADS_1
Rafael sungguh tidak mau terjebak dalam perjodohan yang sudah disiapkan keluarganya. Jadi, andai saja Fina tidak mau karena terus ragu, ia berniat memaksa wanita itu bagaimanapun caranya.
“Kamu sungguh meminta hitam di atas kertas bahkan meterai?” ujar Rafael merasa tak habis pikir dan kemudian mengeluarkan selembar dokumen yang dilipat dari saku dalam jas.
Rafael membuka lipatan itu dan mengangsurkannya kepada Fina. Itu merupakan surat perjanjian yang dilengkapi tandatangan Rafael di atas materai.
Ketika Fina menerima surat perjanjian tersebut, Rafael berangsur bersedekap dan menatap Fina melalui lirikan.
“Itu bukan perjanjian pernikahan. Tapi jika aku macam-macam dan membuatmu merasa dirugikan, kamu bisa menuntutku melalui surat itu.” Rafael mengatakannya tanpa menatap Fina. Gayanya kembali sinis. “Itu surat kuasa.”
Setelah Fina amati, surat kuasa yang Rafael berikan memang surat jaminan untuknya menuntut Rafael jika pria itu melakukan hal yang membuatnya merasa dirugikan. Benar-benar seperti yang Rafael yakinkan, dan ... pria itu tidak berbohong padanya.
“Masih belum percaya juga?” keluh Rafael kemudian dan mulai gemas pada Fina. “Fin ... trauma memang boleh. Namun menganggap semuanya sama dan bisa membuatmu semakin trauma, sangat tidak dibenarkan.” Kali ini, Rafael mulai geregetan. Ingin rasanya ia membelek kepala Fina kemudian mencuci otak wanita itu agar melupakan semua kejadian di masa lalu yang membuat wanita itu trauma.
Fina berangsur menunduk pasrah.
“Kalau masih diam loyo begitu, aku cium, lho!” ancam Rafael tiba-tiba dan sengaja menakut-nakuti Fina yang pada kenyataannya langsung kalang kabut. Ia memiliki ide itu lantaran baginya, wanita sederhana seperti Fina memang paling anti untuk hal-hal sensitif selain kepedulian kepada keluarga yang begitu tinggi. Dan karena itu juga, Rafael memilih Fina yang Rafael yakini akan sangat setia terlebih jika Rafael sampai mengurus kekuarga Fina.
Fina mundur ketakutan sambil memasang senyum masam menatap Rafael yang masih memasang wajah galak.
“Jangan tegang apalagi takut. Aku ada di dekatmu dan akan selalu ambil alih semuanya. Ibaratnya, kamu cukup jadi barang saja,” ucap Rafael kemudian sebelum akhirnya kembali menatap serius Fina. “Ingat, buat sesantai mungkin. Karena jika malam ini kamu berhasil membuat keluargaku yakin, besoknya juga kita balik ke kampungmu, dan aku akan mengurus semua masalahmu yang ada di sana, tanpa terkecuali mengenai mantan suamimu!” Rafael melakukan gerakan wajah menunjuk surat kuasa pemberiannya.
Fina langsung mengangguk gugup beberapa kali. Dengan cepat ia melipat surat kuasa tersebut dan menyimpannya ke dalam tas tangan berwarna silver bertabur batu permata, yang sedari awal menghiasi tangan kanannya.
Bersambung ....
__ADS_1
Masih semangat buat mengikuti ceritanya, kan? 😅😅😅
Yuk tinggalin like, komen, dan vote kalian 😍