
“Jangan macam-macam sama Fina. Dia itu simpanan orang kaya. Nanti kalian bisa senasib kayak Ipul! Dipenjara!”
Episode 22 : Cobaan Masih Berlanjut
Fina mesem mengakhiri lambaian tangannya terhadap Rafael. Kali ini, tatapannya turun memandangi kantong putih berisi pakaian kotornya lengkap dengan handuk dan seperangkat keperluan mandi. Dalam batinnya, ia berujar, ... andai, semua orang dalam hidupnya baik seperti Rafael, hidup Fina pasti akan sejahtera tanpa penderitaan yang berarti. Tak masalah jika karena hal tersebut juga, Fina akan memiliki banyak patner masa depan. Tapi omong-omong, sampai sekarang Fina masih belum mengerti, mengenai apa yang sebenarnya Rafael maksud dengan “patner masa depan”?
“Tapi ya sudahlah. Nanti, si Rafael juga pasti ngabarin. Eh, omong-omong, nomor Rafael belum aku simpan. Bisa berabe kalau nomornya sampai hilang.” Fina segera merogoh ponsel yang ia simpan di saku sisi sebelah kanannya. Tangannya bekerja dengan cepat membuka fitur kontak. Di mana, riwayat panggilan telepon di sana menjadi tujuannya. Panggilan keluar tanpa nama, itulah kontak Rafael yang langsung menjadi tujuan Fina. Fina segera menyimpan nomor tersebut.
Mula-mula, Fina mengetikkan nama Rafael sebagai nama kontak tersebut. Namun, karena kata “patner masa depan” kembali menghiasi ingatannya, Fina buru-buru menghapus nama Rafael dan menggantinya dengan “Patner Masa Depan”.
Sambil tersenyum kecil, Fina berujar, “aku punya teman baru! Baiklah, ... semoga Rafael enggak kayak Bian. Eh omong-omong, aku ini terbilang nekat, ya? Berani-beraninya nolak ajakan nikah Rafael? Tapi ... masa orang kaya sekelas Rafael sampai mohon-mohon minta aku buat nikah sama dia? Kalau orang sinting sekelas Ipul, baru aku percaya, karena si Ipul emang gila! ... eh ... omong-omong, bagaimana perkembangan kasus Ipul, ya?”
Memikirkan Ipul, membuat Fina merasa bahagia dan sedikit cemas dalam waktu bersamaan. Namun saat menjebloskan pria itu ke ranah hukum, Rafael sudah wanti-wanti polisi untuk melimpahkan kasusnya ke pengadilan di Jakarta andai saja kepolisian tempat Ipul ditahan, tidak bisa menangani. Rafael sendiri memastikan akan memantau kasus Ipul hingga benar-benar selesai. Dan keadaan tersebut cukup membuat Fina merasa aman, kendati Fina sendiri tidak tahu, bagaimana tanggapan warga tempatnya tinggal atas keputusannya memenjarakan Ipul.
***
Di kantor polisi, dengan wajah yang masih babak-belur, Ipul tak hentinya merintih, memohon pada polisi yang berjaga untuk melepaskannya.
“Ayolah, Bapak Polisi. Saya ini hanya korban fitnah ... tadi itu calon istri saya, sama selingkuhannya. Bahkan yang sebenarnya korban itu saya. Lihat wajah saya ... ini begini gara-gara pria itu! Seharusnya dia yang ditahan!”
Polisi yang berjaga hanya melirik sinis sambil menggeleng tak habis pikir dalam menanggapi Ipul. Tak lupa, sebelah tangannya aktif memipat hidung lantaran ia juga mencium bau busuk yang cukup kuat dari Ipul. Pun meski jarak mereka sudah terpaut sekitar enam meter.
“Bapak Polisi, ... tolong dengarlan saya. Ya ampun ... kambing-kambing saya bisa telantar kalau saya di sini, Bapak Polisi! Kalau tidak, Bapak Polisi nanti saya kasih dua kambing, tapi Bapak Polisi bantu saya keluar dari sini, ya?” bujuk Ipul tiba-tiba. Baginya, tak masalah harus berkorban dua ekor kambing kesayangannya yang sudah ia targetkan untuk biaya menikahi Fina, asal ia keluar dari penjara. Karena dengan begitu, ia baru bisa kembali mengejar sekaligus mendapatkan Fina.
“Pak ... Bapak Polisi ....”
“Sudah ... sudah ... jangan berisik! Bapak Polisi ... Bapak Polisi? Memangnya sejak kapan saya menikah dengan biyungmu? Mana pakai acara nyuap segala? Mau, sekalian saya laporkan ke KPK?!” hardik si polisi dan sukses membuat Ipul menjengit ketakutan. Bahkan karenanya, tubuh Ipul sampai gemetaran.
__ADS_1
“Ya sudah, kalau gitu ... tolong hubungi biyung saya, ya, Bapak Polisi,” pinta Ipul kemudian.
“Saya enggak tertarik sama biyungmu, bahkan sekalipun kamu bakalan kasih saya lima puluh kambing! Tampangmu saja enggak jelas begitu, ... ya enggak jauh-jauh dari cetakannya, kan?” balas polisi dengan santainya sambil mencatat di meja kerjanya. Jemari kanannya begitu sibuk mencatat di atas buku tulis menggunakan pena hitam.
“Ih, penghinaan banget ini orang! Lama-lama, aku santet juga!” batin Ipul sambil menatap sebal polisi yang mengawasinya.
Dengan kedua tangan terbrogol, Ipul memang duduk di kursi, di sudut ruang polisi. Dan sesuai keputusan, lantaran kantor polisi keberadaan Ipul tidak sampai disertai tempat penahanan, jadi sebentar lagi, Ipul akan diboyong ke kabupaten.
“Pak, beneran saya bakalan di penjara di Nusakambangan?” tanya Ipul dengan polosnya.
Bukannya menjawab, si polisi justru mengeluhkan perihal aroma busuk yang tercium begitu kuat dari Ipul. “Ini sebenarnya kamu habis ngapain, kok bau busuk begini? Perut saya sampai mual enggak jelas ser-seran begini. Ambyar!” keluhnya yang memang sampai berkeringat bahkan menjadi pucat lantaran tidak tahan dengan aroma Ipul.
Awalnya, Ipul memang merasa tersinggung. Namun setelah ia mengamati, ia juga mencium aroma busuk yang begitu kuat di sekitarnya, sedangkan ketika ia memastikan sambil terus mengendus lebih dalam, ternyata bau busuk itu berasal dari tubuhnya.
Polisi yang memperhatikan ulah Ipul pun mengomentari, “nah! Bau juga, kan? Dari tadi baru nyadar? Ya ampun, Gusti Pangeran ....”
“Bau busuk pun, kamu anggap salah paham? Beneran mah kalau kayak gini. Kamu memang konslet! Miring!” balas polisi yang sampai memiringkan telunjuk kanannya di tengah-tengah kening dan ia arahkan pada Ipul.
“Maksud Bapak Polisi, saya enggak waras?” sergah Ipul tak percaya.
Karena tidak tahan, si Polisi memutuskan keluar ruangan dan hanya meninggalkan Ipul sendiri. Tak lupa, ia juga mengunci pintunya.
“Seriusan ini, aku dipenjara? Aku bakalan dipenjara di Nusakambangan bareng *******? Lha ... kalau aku saja dipenjara, nikah sama Finanya kapan?” Ipul dilema memikirkan nasibnya. Bagaimana bisa, ia mendapatkan apalagi sampai menikahi Fina, sedangkan ia saja ada di penjara?
“Bapak Polisi ... keluarkan aku dari sini ... aku enggak mau dipenjara. Aku cuma mau menikah sama Fina!” Ipul tak hentinya meraung bak orang kehabisan akal. Membuat polisi yang belum lama keluar dari ruang keberadaan Ipul, sampai menggedor pintu ruang keberadaan Ipul dari luar.
***
__ADS_1
Semua biaya pengobatan untuk Raswin telah Fina bereskan. Fina pun berpikir bisa bernapas lebih lega, meski yang ada, ternyata cobaan untuknya memang belum berakhir.
Beberapa tetangga Fina yang kebetulan menjenguk Raswin, langsung melirik tajam ke arah Fina. Mereka langsung berbisik-bisik tanpa mengakhiri lirikan mereka terhadap Fina.
“Jangan macam-macam sama Fina. Dia itu simpanan orang kaya. Nanti kalian bisa senasib kayak Ipul! Dipenjara!” bisik salah satu dari mereka. Seorang ibu-ibu, yang kemarin sempat ikut memergoki Fina dengan Rafael saat di rumah sakit ketika Fina akan membantu Rafael menemui Raden.
Menjenguk orang sakit secara beramai-ramai, memang sudah menjadi kebiasaan orang-orang di tempat Fina. Namun, Fina juga tidak menyangka jika rasa benci untuknya masih begitu besar. Cobaan untuknya masih berlanjut bahkan sekalipun si biang kerok Ipul sudah masuk bui.
Lantaran terus jadi bahan pembicaraan, Fina memilih melipir dan tidak jadi masuk ke ruang rawat Raswin. Karena jangankan mendekat, untuk menyapa mereka pun, tidak Fina lakukan. Fina meninggalkan mereka yang sebagiannya sampai duduk-duduk di tikar yang tergelar di depan ruang rawat Raswin.
Sebenarnya, Fina ingin menjelaskan, membuktikan bahwa semua yang mereka tudingkan salah. Namun, di mata orang-orang Fina sudah telanjur cacat. Dan menjelaskan apalagi menegaskan dirinya tidak bersalah bukanlah perkara mudah. Pun mengenai pesan Rafael yang memintanya untuk menabok mereka yang jahat padanya menggunakan uang. Yang ada, Fina akan dicap gila jika ia melakukan saran tersebut.
Sambil duduk di sudut ruang yang sepi, bahkan ternyata di depan ruang jenazah, Fina mengirim pesan kepada Rafael.
Fina : Raf, makasih banget. Aku sudah beresin keperluan pengobatan bapakku. Tinggal yang buat nanti. Saking enggak percayanya, sampai sekarang aku sampai gemetaran.
Patner Masa Depan : Kamu pikir itu ATM mainan? Julid banget kamu kayak Ipul!
Fina mesem meski jauh di lubuk hatinya, sebenarnya ia juga menangis. Sebab, jika kenyataan justru semakin riuh berikut cobaan yang ternyata belum usai, dengan kata lain, ia juga harus mencari jalan lain. Dan jika memang ia tidak bisa menghadapi, sepertinya pergi dan tinggal di lingkungan baru menjadi satu-satunya pilihan aman untuknya sekeluarga. Namun, apakah Rina dan orang tuanya mau diajak pindah?
Bersambung .....
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa.
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1