
“Jika Fina membuatmu merasa bersalah, ... kamu menyesal telah berbuat salah kepadanya, ... berarti dia bisa membuatmu menjadi manusia yang lebih baik,”
Episode 40 : Di Sepertiga Malam
Seolah ada jarak yang begitu curam, tatkala Fina maupun Rafael memikirkan perbedaan keyakinan di antara mereka. Suram bahkan gelap menjadi satu-satunya warna untuk masa depan, jika mereka terus memaksa bertahan. Dan anehnya, baik Fina maupun Rafael, sama-sama tidak bisa tidur.
Fina yang terjaga di ruang rawat Raswin, menatap sedih keluarganya. Rina yang sudah tidur di ranjang sebelah bersama Murni, juga Raswin yang terlelap di ranjang pesakitannya.
Fina melangkah tak bersemangat sambil mendekap sebelah tangannya, meninggalkan kebersamaan. Ia melangkah ke ujung ruangan keberadaan sofa dan meja. Namun, ia tak lantas duduk di sana. Sebab, ia hanya berdiri kendati sebenarnya pikirannya melayang sangat jauh. Pikiran wanita itu sibuk mencari kebenaran agar Rafael mau menjadi mualaf atas kemauan pria itu, bukan karena Fina, apalagi terpaksa.
Fina dilanda kegamangan hati yang luar biasa, melebihi ketika dirinya dipaksa menikah dengan Bian, tanpa diberikan kesempatan untuk berpikir.
Fina sendiri bingung, kenapa dirinya begitu berharap, dan sebisa mungkin bisa mempertahankan hubungannya dengan Rafael? Namun demi Tuhan, ... bukan karena pria itu memiliki segalanya apalagi materi, melainkan, ... berada di sisi Rafael, membuat Fina merasa sangat aman bahkan nyaman lantaran pria itu selalu berusaha melindunginya. Pria itu selalu berusaha memberikan yang terbaik bahkan kepada keluarga Fina. Dan bersama Rafael, Fina merasa sangat dihargai meski sewaktu-waktu, Rafael bisa berubah menjadi manusia yang sangat menyebalkan.
Tanpa terasa, mata Fina sudah basah hanya karena ia memikirkan nasibnya yang selalu saja tidak pernah mulus. Fina pun buru-buru menyeka air matanya, di mana tak lama setelah itu, tatapannya tak sengaja mendapati jam dinding yang menunjukkan tepat pukul dua pagi.
“Tadi, aku sudah enggak mens dan aku juga sudah mandi ... mending tahajud sekalian salat istikharah ...,” gumam Fina yang langsung meraih mukena berikut sajadah milik Rina dan kebetulan dilipat di atas lemari panjang bawah televisi.
Fina, melangkah tanpa keraguan. Dan untuk pertama kalinya, ia akan menyebutkan nama seorang pria dalam setiap doa sekaligus tasbihnya.
***
--Hukum Seorang Wanita Keluar Islam Karena Ikut Suami--
Dengan mata yang sampai basah, Rafael terdiam lemas ketika menilik lebih jauh perihal hukum jika ia memaksa Fina tetap mengikutinya. Merinding dan ngeri, sampai membuat Rafael menjerit dalam hati, meneriaki dirinya sebagai orang jahat, jika ia terus memaksakan kehendak.
Meski sebatas membaca artikel di internet, tetapi semua penjelasan yang Rafael baca nyaris sama.
Murtad dan harus dibunuh. Tentunya, dengan hukum tersebut, Fina sekeluarga akan semakin dihakimi oleh masyarakat. Dan dengan demikian, kenyataan tersebut justru bertolak belakang dengan janji sekaligus tujuan Rafael mengangkat derajat Fina sekeluarga.
Hati Rafael terenyuh. Pria itu mencoba mengambil keputusan terbaik. Pandangannya lurus ke depan, kosong tanpa tujuan. Dan ia yang berdiri di depan jendela sebelah tempat tidur mulai mengoreksi dirinya.
Selama ini, Rafael sama sekali tidak pernah memikirkan agama. Bahkan, agama yang ia anut hanya sebatas menjadi pengisi tanda pengenal. Rafael benar-benar hanya menumpang status. Dan memikirkan itu semua, Rafael menjadi nelangsa, malu pada dirinya sendiri.
Rafael merasa begitu egois. Sebab di tengah kenyataannya yang bahkan tidak tahu agamanya sendiri, ia justru memaksa Fina untuk mengikutinya. Namun, apa yang harus ia lakukan sedangkan ia sendiri sangat butuh pencerahan?
“Kamu enggak punya banyak waktu, Raf!” tegur Rafael pada dirinya sendiri.
Rafael membutuhkan teman untuk berbagi pikiran. Perihal keputusan yang harus segera ia ambil mengenai masa depan hubungannya dengan Fina.
“Jika aku ikut kamu, kasihan bapakku, Raf. Bapakku akan menanggung dosa besar karena aku justru meninggalkan agama hanya untuk urusan dunia. Karena meski kami bukan keluarga yang kental dengan urusan agama, tetapi kami tetap menjunjung tinggi nilai-nilai agama.”
Tiba-tiba saja, pengakuan Fina menghiasi ingatan Rafael. Pengakuan yang begitu membuat Rafael tertampar. Dan ketika mengatakan itu, tepat ketika Fina mengantar Rafael hingga keluar pintu ruang rawat Raswin, sebelum Rafael pergi sekitar pukul sepuluh malam, tatapan Fina begitu dalam. Rafael bahkan merasa terhipnotis karenanya.
Tadi, wajah Fina tak ubahnya malaikat tak berdosa. Dan karena itu juga, Rafael merasa sangat bersalah. Rafael menjadi gelisah dan terjaga hingga sekarang. Bahkan meski Rafael telah meredamnya termasuk mandi di bawah shower menggunakan air hangat, ... semua keresahan sekaligus rasa bersalah itu tak kunjung sirna.
__ADS_1
Puncaknya adalah kini, ketika Rafael mencari tahu lebih dalam melalui internet.
Rafael ingin mendengar penjelasan perihal agama dari Fina. “Jika Fina lebih baik dariku, untuk urusan agama, aku akan mengikutinya dan belajar lebih banyak lagi perihal agama. Tak peduli bagaimana tanggapan papa mama nanti, asal aku memberikan bukti menjadi manusia lebih baik, mereka pasti mengerti,” pikir Rafael.
Rafael menghubungi Fina. Namun, meski ia sudah berulang kali melakukannya, ia tak kunjung mendapat balasan.
“Fina marah dan sengaja mengabaikanku, apa bagaimana?” pikir Rafael. “Atau jangan-jangan, ... dia sudah mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan hubungan?”
Rafael waswas. Itu juga yang membuatnya meraih mantel yang tergantung di kaitan lemari. Ia mengenakan mantel abu-abu tersebut, kemudian menyambar dompet berikut kunci mobil di atas nakas depan jendela sebelah tempat tidur, tempatnya merenung.
“Gila saja si Fina! Apa-apaan sih, ini? Kok aku jadi ingat dia terus?” gerutu Rafael sambil terus berjalan meninggalkan hotel tempatnya menginap. Ia melangkah cepat menuju mobilnya yang terparkir di depan hotel.
Di sepertiga malam ini, Rafael memutuskan menyetir sendiri hanya untuk menemui Fina dan memastikan keadaan wanita itu secara langsung.
Ketika belum lama menyetir, ponsel Rafael berdering. Rafael yang langsung menjawabnya menggunakan headset bluetooth yang langsung dipasang, mengira itu merupakan dering telepon masuk dari Fina.
“Iya, Fin? Kamu belum tidur? Ada hal penting yang ingin kita bicarakan.”
“Ini Kakek, ... bukan Fina ....”
Balasan dari seberang, membuyarkan keseriusan Rafael.
Sembari terus fokus menyetir, Rafael pun mencoba meredam ketegangan yang tiba-tiba melanda hanya karena menjawab telepon Raden.
“Kakek ini ... ada apa, Kek, jam segini, Kakek belum tidur bahkan sampai menghubungiku?” balas Rafael.
Rafael terdiam, menunduk dan menghela napas pasrah. “Aku benar-benar merasa bersalah ....”
“Kepada Fina?” tebak Raden langsung.
Rafael masih diam dan terlihat begitu menyesal kendati ia juga terus mengemudi dengan baik di tengah suasana jalan yang lengah. Tidak banyak pengemudi lain kecuali beberapa motor, selain mobil yang Rafael kemudikan.
“Jika Fina membuatmu merasa bersalah, ... kamu menyesal telah berbuat salah kepadanya, ... berarti dia bisa membuatmu menjadi manusia yang lebih baik,” ucap Raden dari seberang.
Mendengar balasan dari Raden yang tak ubahnya nasehat, hati Rafael menjadi berdesir hangat. Rafael merasa tersentuh. “Fina telah membuatku menjadi orang yang lebih baik?” pikirnya.
“Ada masalah yang harus kalian selesaikan?” tanya Raden dan kali ini terdengar sangat hati-hati.
Rafael menghela napas dalam. Kini, ia mulai memasuki pintu masuk rumah sakit keberadaan Raswin dirawat. “Ada hal penting bahkan terbilang sangat sensitif yang baru kusadari dalam hubunganku dengan Fina, Kek,” ucap Rafael. Ia baru saja berhasil parkir dan segera mematikan mesin mobilnya.
“Sensitif bagaimana?”
“Agama ....” Rafael tertunduk tak bersemangat. Dan dari seberang, Raden juga langsung diam. Membuat suasana obrolan mendadak menjadi senyap.
“Di mata Kakek, agamamu memang sangat buruk. Gaya hidupmu lebih condong ke orang barat. Bahkan kamu enggak percaya Tuhan, karena kamu terlalu percaya dengan ilmu pengetahuan sejenis sains. Padahal agama itu sangat penting. Bukti-bukti beradaban sekaligus perjalanan penyebaran agama sendiri sudah jelas ada.”
__ADS_1
Rafael masih diam tanpa melakukan perlawanan bahkan pengelakan, layaknya biasa. Sebab, pria itu membenarkan apa yang dikatakan Raden.
“Aku dan Fina tidak bisa menikah, jika kami beda agama,” ucap Rafael akhirnya.
“Nah, itu juga yang ingin Kakek tahu. Apakah orang tua Fina sudah bertanya sampai titik itu?” sambut Raden antusias.
“Aku kurang yakin ....” Rafael semakin tidak bersemangat.
“Kakek islam ....”
“Apa maksud, Kakek?” sergah Rafael penasaran.
“Iya. Kakek islam. Belum lama ini, Kakek memutuskan untuk memeluk agama islam setelah semua pelajaran yang membuat Kakek seolah mendapatkan banyak hidayah.”
Semua cerita panjang lebar Raden tak ubahnya angin segar untuk Rafael. Rafael bahkan sampai menjadi merasa berbunga-bunga.
***
Tak lama setelah obrolannya dengan Raden berakhir, Rafael tetap ingin bertemu dengan Fina walau sebentar. Ia ingin memastikan wanita itu baik-baik saja, tanpa buru-buru menutup kesempatan untuknya dalam mengambil keputusan.
Dan ketika Rafael baru saja keluar memasuki lorong keberadaan ruang rawat Raswin, pria itu mendapati Fina melangkah tegas sambil mendekap perlengkapan sholat menggunakan kedua tangan.
Rafael yang awalnya refleks terdiam dan hanya mengamati, bergegas menyusul tanpa mengusik atau sekadar memberitahu wanita itu jika dirinya ada.
Fina pergi ke mushola di lorong seberang. Wanita itu tak lantas masuk mushola. Sebab Fina meletakkan perlengkapan sholatnya di dekat keran, sebelum berwudu di sana.
Di sepertiga malam yang benar-benar sunyi, Rafael tak hanya menyaksikan, karena ia juga menikmati ibadah Fina dengan begitu khidmat.
Rafael tetap berdiri di lorong menuju mushola sambil terjaga menunggu wanita itu selesai beribadan. Pun meski Fina juga sampai bertasbih dan membuat Rafael menunggu nyaris setengah jam.
Ketika Fina selesai beribadah, Rafael berangsur mendekat tanpa benar-benar masuk mushola. Dan ketika pandangan mereka sampai bertemu tepat ketika Fina melepaskan mukenanya sambil menoleh ke arah Rafael, rasanya ... ada keindahan tak kasat mata yang tina-tiba saja pecah menghujani kebersamaan mereka.
Ada yang berdebar-debar di atas normal, dan itu dari dada mereka.
Bersambung ....
Terus dukung cerita ini, yaaa.
Like, komen, rate, vote, Author tunggu 😍😘
Enggak ada Ipul, rasanya terlalu sepi, ya? 🤣🤣🤣
Oh iya, novel Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh) sebenarnya sudah lebih dulu up sekitar jam dua belas malam, tapi enggak muncul-muncul. Susah banget kalau update novel itu. Up langsung lolos, tapi munculnya beberapa hari kemudian 😰😰
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.