
“Jangan .... jangan, Rafael! Jangan sampai kamu jatuh cinta kepada Fina! Sakit karena cintamu pada Sunny saja sulit diobati. Apalagi sakit karena tidak pernah dicintai oleh istrimu sendiri?”
Episode 28 : Takut Jatuh Cinta
Mula-mula, tubuh berikut wajah Fina dipijat sebelum diolesi lulur, sedangkan untuk bagian wajah diolesi masker khusus. Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit bersamaan dengan lulur berikut masker yang mengering, Fina yang sampai ketiduran, dibangunkan dan diminta berendam dalam bak mandi yang dipenuhi kelopak bunga mawar merah.
Ketika Fina amati lebih teliti, ternyata air rendam yang akan ia masuki berwarna putih seperti air susu, terlepas dari aroma air sendiri yang terbilang sangat wangi. Aroma wangi yang langsung membuat Fina merasa sangat tenang, tak sabar untuk segera berendam. Tak terbayang oleh wanita itu betapa lembut sekaligus wangi tubuhnya setelah berendam berikut menjalani semua perawatan yang Rafael siapkan.
Dan ketika Fina merendam tubuhnya di sana, ekspresi wanita itu terlihat sangat kampungan tak ubahnya tokoh miskin dalam drama-drama romantis yang mendadak merasakan fasilitas orang kaya.
Awalnya, Fina memang sempat girang bukan main dan bahkan menggunakan kelopak bunga mawar dalam bak rendamnya untuk menutupi wajah tak ubanya masker. Namun, ketika ingatan Fina dihiasi setumpuk masalah yang Fina tinggalkan di kampung halaman--perihal kesehatan Raswin, juga kepercayaan yang tak lagi Fina miliki dari Murni maupun Rina, ditambah wajah berikut tingkah menyebalkan Ipul yang dengan lancangnya memenuhi memori Fina. Semua itu ... semua kesakitan itu sukses membuat Fina loyo.
Fina kehilangan semangat hidup. Wanita berwajah ayu itu tertunduk pasrah seiring linangan air matanya yang rebas berjatuhan ke bak rendam. Di mana tak lama setelah itu, Fina bahkan sampai tenggelam lantaran kebablasan merendam diri hingga kepala. Beruntung, di waktu yang sama, dua wanita yang sedari awal mengurus keperluan mandi Fina kembali masuk ke kamar mandi. Kedunya langsung sigap meraih tangan Fina yang terulur ke atas.
“Nona ... Nona, Anda baik-baik saja? Tolong, ... tolong katakan sesuatu!” ucap salah satu dari mereka sesaat setelah berhasil mendudukkan Fina kembali. Ia mencengkeram jemari Fina kuat-kuat, sedangkan rekannya menepuk-nepuk cukup kuat punggung Fina.
Kedua wanita yang mengurus Fina menjadi ketar-ketir atas kenyataan tersebut. Sebab bisa fatal jika sesuatu yang buruk menimpa Fina. Belum lagi jika Fina sampai mengadu macam-macam kepada Rafael.
Fina yang sampai sesak napas, menjadi terbatuk-batuk dan memuntahkan sisa air yang sempat tertelan setelah kedua wanita yang mengurusnya, menepuk-nepuk punggung Fina. “Aku baik-baik saja ....,” ucapnya kemudian dengan napas tersengal-sengal.
Kedua wanita yang mengurus Fina, langsung berkode mata seiring kelegaan yang menyelimuti keduanya.
“Mengenai ini, ... tolong Rafael jangan sampai tahu, ya? Aku mohon! Bisa panjang urusannya kalau orang itu tahu!” pinta Fina sambil menatap serius kedua wanita di hadapannya yang begitu sopan kepadanya, kendati kali ini, dalam keadaan keduanya yang menunduk, ada ketakutan yang tampak disembunyikan.
__ADS_1
Permintaan Fina cukup membuat kedua wanita tersebut tak percaya. Sekali lagi, keduanya berkode mata dengan kelegaan yang lebih besar dari sebelumnya. “Baik, Nona ...,” ucap keduanya masih sangat sopan.
Namun Fina tak lantas diminta beranjak dari bak rendam. Sebab setelah itu, kedua wanita tersebut bekerja sama mengurus kepala Fina. Keduanya mengeramasi dan sepertinya sedang mengubah keadaan rambut Fina menjadi lebih terawat.
“Jadi orang kaya enak banget ya? Duh ... nyaman banget ... eh, tapi jangan sampai ketiduran lagi!” batin Fina yang kembali diserang kantuk luar biasa.
***
Selanjutnya, Fina yang mengenakan handuk baju lengkap dengan kepalanya yang turut terbungkus handuk, diminta duduk di kursi rias. Di tengah tubuh berikut kepala yang terasa sangat segar, Fina membiarkan rambutnya dikeringkan berikut sederet penanganan yang sangat asing bagi Fina. Fina hanya mengikuti tanpa berani bertanya apalagi berkomentar, lantaran takut mendapat pengaduan buruk kepada Rafael. Pun mengenai agenda dirinya yang sampai tenggelam, Fina sudah berulang kali wanti-wanti pada kedua wanita tadi untuk merahasiakannya.
***
Dengan keadaan yang masih belum baik-baik saja bahkan terlihat tidak bersemangat, Rafael menghentikan langkahnya di depan salah satu pintu kamar sebuah hotel. Kemudian, dengan fokus pandang yang terus tertuju pada layar ponsel, sebelah tangan yang awalnya sibuk di layar ponsel berangsur merogoh saku di balik jasnya. Rafael mengeluarkan sebuah kartu yang langsung ditempelkan di area kunci pintu.
Ketiga orang yang menangani penampilan Fina dan berjejer di sebelah meja rias, kompak menyambut takjub keluarnya wanita yang menjadi Nona mereka.
Dan tak beda dengan ketiga wanita yang berjejer di sebelah meja rias, Rafael yang kebetulan menoleh ke depan sambil mengatongi ponsel ke saku sisi celana, juga dibuat tak berkutik. Rafael benar-benar pangling dengan penampilan Fina, meski rias yang menyertai wanita itu, rias natural sesuai permintaannya.
“Si Fina ... cantik juga ...,” batin Rafael sambil menunduk lantaran pria itu berusaha menyembunyikan senyumnya. Karena entah atas dasar apa, melihat Fina secantik sekarang, ... sukses membuatnya bahagia. “Enggak kebayang kalau si gila Ipul sampai lihat,” pikirnya tiba-tiba.
Dan sekali lagi, Rafael ingin melihat Fina yang kali ini terlihat sangat cantik. Meski tak lama setelah itu, ia sengaja menyibukkan diri lantaran Fina juga menatap ke arahnya.
Rafael buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menyibukkan kedua tangannya di layar gawai tersebut. Meski sebenarnya, Rafael hanya menggeser-geser aplikasi yang ada di layar. “Tadi, Fina enggak sampai lihat aku senyum sambil mandangin dia, kan?” batinnya ketar-ketir. “Sial!” umpatnya masih berseru di dalam hati.
__ADS_1
Fina berangsur melangkah mendekati Rafael. “Raf?” sapanya sambil menjinjing kedua sisi gaunnya, meski yang ada, ulahnya yang masih terbilang santai bahkan lirih, sukses membuat pria itu terkejut bahkan menjengit.
“Kok kamu malah terkejut begitu, sih?”
“S-siapa yang terkejut?” elak Rafael yang memang terkejut bahkan gugup. “Sial! Kok aku jadi segugup ini, sih?” batinnya semakin kesal.
Fina yang masih menatap bahkan mengamati Rafael lantaran pria itu menjadi terlihat sangat tidak tenang, menyadari Rafael sedang sangat gugup. “Kamu juga jadi sangat gugup?” ujarnya yang kemudian menilik layar ponsel Rafael dan ternyata dalam keadaan gelap. Lantas, dari tadi apa yang Rafael lakukan dengan ponsel tersebut?
Rafael yang sampai menjadi panik lantaran Fina sampai melongok ponselnya, segera menjauhkannya dari wanita itu. “Jiah! Ponselku kehabisan daya!” keluhnya pura-pura. Ya, Rafael masih bersandiwara demi mengelabuhi Fina.
“Serius, ... kalau begini caranya, lebih baik selanjutnya Fina enggak pernah kelihatan cantik lagi!” sesal Rafael masih sibuk mengumpat dalam hati.
“Apakah makan malam ini akan sangat sulit dilalui? Kenapa Rafael harus setegang itu?” batin Fina menjadi diliputi banyak rasa cemas.
“Sebelumnya, ... aku enggak pernah segugup ini. Tapi dengan Fina yang begini, juga keputusanku untuk menikahinya ... jangan-jangan, ... jangan-jangan akulah yang lebih dulu mencintainya sedangkan dia tetap tidak bisa membuka hatinya untukku?” batin Rafael yang lagi-lagi hanya sebatas mengamati Fina diam-diam. Wanita itu tertunduk di hadapannya dengan jarak yang tak kurang dari setengah jengkal. Bahkan Rafael bisa menghirup aroma wangi dari kepala bahkan tubuh wanita itu.
“Jangan .... jangan, Rafael! Jangan sampai kamu jatuh cinta kepada Fina! Sakit karena cintamu pada Sunny saja sulit diobati. Apalagi sakit karena tidak pernah dicintai oleh istrimu sendiri?” Rafael tak hentinya memikirkan kemungkinan buruk dalam hatinya. Kemungkinan buruk yang selalu melumpuhkan kehidupannya ketika ia memikirkan ketulusan cinta. Ya ... semua yang berhubungan dengan cinta sekaligus ketulusan memang menjadi sirna, semenjak cintanya kepada Sunny hanya berakhir bertepuk sebelah tangan. Rafael benar-benar trauma atas kenyataan tersebut.
Bersambung ....
Duh, Tuan Rafael takut jatuh cinta 😂😂😂
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa.
__ADS_1
Selamat menjalankan aktivitas 😍