
Catatan : novel Menjadi Istri Tuanku, merupakan sekuel dari novel : Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh). Jadi jangan heran jika pemainnya saling berkaitan satu sama lain.
Selamat membaca!
***
“Mai oli wan Dek Fina? Kok kamu selingkuh, sih?”
Episode 45 : Setelah Pernikahan
Fina langsung tidak bisa berkata-kata. Lidahnya mendadak kelu ketika ia yang baru bangun tidur, merasa ada yang menahan kepalanya, dan itu seperti tahanan sebuah tangan.
“Ya ampun ... sekarang kan aku enggak tidur sendiri. Tadi aku tidur bareng Rafael, kan?” pikir Fina yang kemudian memberanikan diri untuk memastikan.
Meski sekadar beranjak termasuk menoleh untuk
memastikan yang terjadi di belakangnya juga membuat Fina tidak yakin, tetapi mau tidak mau, Fina juga harus memastikan, daripada ia asal bangun dan mengusik tidur Rafael.
Setelah berusaha keras, nyaris memakan waktu lima menit hanya untuk menoleh, akhirnya apa yang Fina pikirkan memang benar. Sebelah tangan Rafael ada di atas kepala Fina, sedangkan pria itu masih terlelap dengan sangat damai.
Kenyataan sekarang membuat Fina merasa sangat
aneh. Berbagi tempat tidur dengan pria yang bahkan tidak ia ketahui, apakah pria itu benar-benar mencintainya? Atau setidaknya, apakah hubungan mereka juga akan menjadi masa depan? Juga, ... apakah Rafael akan terus memperlakukannya
dengan baik? Rafael akan terus mengayomi bahkan memprioritaskan Fina sekeluarga?
Lantas, bagaimana tanggapan keluarga Rafael jika mereka tahu, sekarang Fina dan Rafael sudah menikah, sedangkan Rafael sampai menjadi seorang mualaf? Apakah semuanya akan baik-baik saja?
“Meski Rafael selalu bisa mengatasi semuanya, tetapi kok untuk urusan kali ini, aku enggak yakin, ya? Aku takut ... takut kalau keluarga Rafael justru menentang keputusan Rafael. Mereka enggak bisa menerima
pernikahan kami?” pikir Fina yang detik itu juga menjadi merasa sangat takut.
Fina dilanda kerisauan yang begitu besar.
Meski ragu, akhirnya Fina memberanikan diri
untuk membangunkan Rafael yang tidur tanpa mengenakan selimut.
“Raf ... Raf ...,” lirih Fina sembari menurunkan tangan Rafael dari atas kepalanya dengan sangat hati-hati.
Ketika Fina nyaris melepaskan tangan Rafael, tiba-tiba saja tangan itu menahan sebelah tangan Fina dengan sangat kuat. Dan setelah menatap bingung tangan Rafael yang tiba-tiba menahannya, Fina juga
langsung menatap wajah Rafael. Rafael ternyata sudah bangun. Pria itu menatap Fina dengan tatapan takut bahkan terkejut.
“Kamu, ... enggak apa-apa, kan?” tanya Fina cemas. “Kenapa kamu ketakutan seperti itu? Kamu mimpi buruk?”
Rafael masih menatap Fina dengan tatapan tak
percaya. Barulah sekitar satu menit kemudian, pria itu berangsur menghela napas pelan, seiring tatapannya pada Fina yang berangsur turun.
“Kenapa Rafael terlihat ketakutan seperti itu?” pikir Fina yang kemudian meraih sebotol air mineral di nakas sebelahnya.
Fina berangsur menarik diri dari hadapan Rafael, kendati ia tidak bisa benar-benar meninggalkan pria itu, lantaran Rafael masih menahan tangannya dengan sangat kuat.
“Minum dulu,” ucap Fina kemudian sambil berusaha membuka tutup botolnya.
Rafael yang masih menunduk pun berkata, “ini sudah jam berapa?”
Suara Rafael masih terdengar sangat berat khas orang baru bangun tidur.
“Bentar aku lihat dulu.” Fina segera meraih ponselnya untuk memastikan waktu. “Sudah pukul sepuluh,” ucapnya kemudian yang kembali meletakkan ponselnya di nakas.
“Bahkan sampai terbawa ke mimpi!” gumam Rafael
__ADS_1
kesal.
Rafael masih mengatur napas pelan. Sebenarnya,
tadi, Rafael sedang bermimpi. Fina melepaskan tangannya karena wanita itu lebih memilih Bian. Fina meninggalkannya hanya untuk kembali pada Bian. Dan kenyataan tersebut sukses membuatnya dilanda ketakutan luar biasa.
“Fina ... Bian masih menghubungimu?” tanya Rafael kemudian dengan keadaannya yang masih menunduk.
Fina refleks menggeleng. “Enggak. Kenapa? Masa
iya, aku harus benar-benar buang ponsel lagi? Toh, nomornya juga sudah kamu blokir, kan? Lagi pula, ... Bian kan bukan Ipul yang kalau diblokir terus gercep ganti nomor baru.”
“Ini masih pagi, tolong jangan sebut-sebut Ipul ... aku bahkan belum sarapan ...,” ucap Rafael yang berangsur menatap sebal Fina.
Fina yang mesem lantaran Rafael terkesan memiliki lefel kejijik-an tersendiri pada Ipul, mengangsurkan sebotol air mineralnya pada pria itu.
Rafael bergidik ngeri sambil menggeleng geli. “Enggak.
Nanti. Nanti nunggu aku lupa sama Ipul. Jangankan makan, ... minum saja, aku jadi enggak selera.”
Rafael berangsur menarik diri untuk duduk dan mengakhiri tahanan tangannya dari Fina.
“Hari ini, apa acara kita? Coba telepon Rina dan bicara dengan ibu. Apa yang harus dilakukan setelah menikah? Biasanya ada sejenis syukuran?” ucap Rafael yang justru kembali terpejam meski ia sudah
berhasil duduk dengan kedua kaki terselonjor.
“Ya ampun Rafael ... baru bangun tidur saja
kelihatan nggemesin banget ...,” batin Fina yang mendadak gugup hanya karena melihat keadaan Rafael. Seperti apa yang baru saja ia keluhkan, pria itu
terlihat sangat menggemaskan tak ubahnya bocah yang baru bangun tidur dan justru mengigau tanpa benar-benar bangun.
“Ehm ... baiklah,” ucap Fina sesaat setelah berdeham.
***
Umpatan pelan itu Rafael dengar langsung dari
mulut Fina. Umpatan yang juga sukses memecahkan kosentrasi Rafael dari layar ponsel.
Rafael langsung melongok wajah Fina. Ia memastikan apa yang terjadi pada wanita itu. Ternyata Fina sedang menonton acara di ponsel, tetapi wanita itu sampai heboh sendiri. Kenyataan tersebut pula yang membuat Rafael menggeleng tak habis pikir tanpa mau berkomentar. Rafael memilih kembali fokus pada ponselnya.
“Keandra ...?” ucap Fina sambil menghela napas dalam kemudian mengempaskan punggungnya pada sandaran tempatnya duduk.
Fina baru memejamkan kedua matanya ketika Rafael tiba-tiba berkata, “kamu ngefans juga sama Keandra?”
Nada suara Rafael terdengar sangat serius. Fina yakin pria itu masih fokus pada ponsel.
Mereka memang sedang menjalani perjalanan untuk pulang ke rumah Fina, sedangkan sekitar satu jam lalu, mereka baru saja berpisah dengan keluarga Fina yang sudah pulang lebih dulu menggunakan mobil yang Rafael sewa khusus. Karena sesuai pengakuan Raswin, kesehatan pria itu memang membaik dengan sangat pesat. Hanya tinggal menjalani kontrol rutin. Itu pun akan dijalani di Jakarta lantaran Rafael sudah mengatur semuanya agar orang tua Fina ikut ke Jakarta. Tanpa terkecuali, Rina yang juga akan melanjutkan kuliah di Jakarta.
“Enggak sih. Aku hanya sebatas mengamati gara-gara tiap hari dicekoki kehebohan Rina. Ini saja si Rina lagi galau gara-gara skandal Keandra.”
“Keandra kena skandal?” Rafael menanggapi Fina
dengan serius. Ia bahkan sampai menatap Fina.
Fina balas menatap Rafael dengan tatapan bingung. “Kok kamu kayak abege, sih, tahu banget sama Keandra?”
“Terus ... kamu langsung mikir kalau aku
enggak normal, hanya karena aku tahu tentang Keandra?” keluh Rafael yang kemudian mencibir.
“Aku enggak bilang begitu. Tapi, kenapa kamu sampai bilang begitu?” balas Fina dengan polosnya.
__ADS_1
Rafael menghela napas tak habis pikir. “Yang kena skandal itu Keandra, tapi kenapa kita yang bertengkar?”
“K-kita, bertengkar? J-jadi, ini sedang bertengkar?” Fina menatap bingung Rafael. Semudah itu pertengkaran hadir di antara mereka.
Akan tetapi, suasana yang mendadak menegang
akibat keluhan berikut cibiran dari keduanya, menjadi sirna atas seruan klakson dari depan. Mobil yang keduanya tumpangi bahkan mendadak berhenti, dan
kenyataan tersebut membuat Fina berikut Rafael, nyaris jantungan. Bahkan andai saja keduanya tidak sampai mengenakan sabuk pengaman, tentu tubuh terlebih wajah mereka sudah sampai menghantam punggung jok di hadapan mereka yang diduduki oleh Didin dan Otoy.
“Pak Didin apa-apaan, sih? Kalau saya jantungan terus saya mati mendadak, siapa yang bakalan gaji Pak Didin?!” semprot Rafael detik itu juga.
Dengan dada yang masih berdebar-debar kacau, Fina yang masih syok berusaha menenangkan Rafael. Ia mengelus-elus sebelah lengan Rafael. Tampak ponsel Rafael yang sampai terkapar di sebelah kaki pria itu.
Pantas saja Rafael begitu marah layaknya sekarang. Nyatanya, apa yang pak Didin lakukan sukses membuat Rafael Syok. Namun, Fina yakin, pak Didin memiliki alasan, kenapa pria paruh baya bertubuh pendek kurus itu tiba-tiba menekan klakson dan bahkan sampai mengerem mendadak.
“Tuan, di depan ada yang pingsan,” sergah Otoy berusaha menjelaskan.
Alasan dari Otoy sukses membuat dahi Rafael berkerut samar. “Kamu nabrak orang, Din?” sergahnya semakin terkejut.
“E-enggak sampai Tuan. Masih ada tiga meter,” balas Didin yang juga tak kalah syok dari penumpang yang dibawa.
Fina yang tak kalah bingung berangsur mengamati suasana sekitar. “Bukankah ini di depan bengkel Bian?” batinnya.
Mereka memang sudah sampai di kota Kedungreja. Di salah satu pusat keramaian yang menjadi keberadaan bengkel Bian, yang bersebelahan dengan kapolsek.
“Ya sudah, minggir, Din. Saya mau turun dan lihat langsung,” ucap Rafael dengan emosi yang berangsur turun.
Didin segera menepikan mobilnya bahkan mengambil sebagian halaman bengkel Bian. Dan tak lama setelah Otoy membukakan pintu penumpang Rafael, pria itu berekeluh kesah, “Bos, ... baunya enggak asing!”
Otoy kembali menahan mual yang begitu luar biasa dan sukses mengaduk-aduk perutnya.
Rafael mengernyit. “Ini, bau Ipul, kan?” pikirnya sedangkan di depan sana, sosok yang meringkuk di tengah jalan juga memiliki perawakan layaknya Ipul.
Fina yang turun paling akhir setelah dibukakan pintu oleh Didin, justru kembali masuk setelah wanita itu menghirup aroma tidak sedap dan diyakininya sebagai aroma dari tubuh Ipul, sedangkan di ujung sana, sampai ada motor Ipul yang disertai ranjang kambing.
Fina mengambil dua buah masker. “Saya lewat sini saja, Pak. Makasih,” ucapnya sambil tersenyum sopan pada Didin lantaran takut membuat pria itu menunggu.
Didin langsung mengangguk sambil tersenyum sopan layaknya Fina. Didin segera menutup pintunya, sedangkan Fina yang sudah keluar dan berdiri di sebelah Rafael, juga langsung memberikan maskernya pada Rafael.
Rafael menatap bingung Fina dengan wajah yang menjadi dihiasi banyak kecemasan.
“Raf, kayaknya yang pingsan di depan, si Ipul deh,” lirih Fina sambil mengenakan masker. Sebab, semenjak menjadi bagian dari Rafael, pria itu mewajibkannya untuk hidup seteril.
“Apa sih maunya tuh orang?” Rafael yang menghela napas dalam terlihat begitu pasrah. Pria itu segera menerima masker pemberian Fina dan mengenakannya. “Sial banget, sampai ketemu dia di sini!”
Di seberang, Bian terdiam tak percaya melihat penghuni mobil yang ternyata Fina dan Rafael. Lain halnya dengan Ipul yang menjadi kebingungan lantaran tak kunjung ada yang mendekati terlebih sampai membantunya untuk sadar.
“Ini kok, aku dibiarkan pingsan terus, ya? Tadi mobilnya gede, seharusnya uangnya juga gede, kan? Buat nyalon ini, biar aku tambah ganteng!” uring Ipul dalam hati.
Lantaran masih saja dibiarkan, Ipul pun diam-diam membuka matanya untuk mengintip. Dan di depan bengkel Bian yang Ipul yakini menjadi tempat menepi mobil yang nyaris menabraknya, pria itu mendapati Rafael sedang berbicara dengan Fina dengan jarak yang begitu dekat. Fina yang hanya sepundak Rafael terus menengadah membalas tatapan Rafael sambil mengenakan masker.
“Mai oli wan Dek Fina? Kok kamu selingkuh, sih?” raung Ipul yang refleks bangun.
Ipul yang terlihat sangat terpuluk segera menghampiri kebersamaan Rafael dan Fina.
Ketika Ipul semakin mendekat, Otoy dan Didin memilih melipir demi melindungi indra penciuman mereka, sambil menekap mulut dan hidung kuat-kuat menggunakan kedua tangan.
Bersambung ....
Wahhh Up 2 episode, yaa hari ini.
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa. Semoga besok bisa up lagi, syukur-syukur lebih dari sekali.
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi