
“Karena kamu akan menjadi bagian dari hidupku, jadi semua yang berhubungan denganmu juga akan berdampak padaku. Itu kenapa, aku juga haru benar-benar menjagamu.”
Episode 33 : Lamaran Dari Ipul
“Assalamualaikum!” Ipul membuka pintu diiringi salam yang begitu tegas sekaligus keras.
Ketiga orang di dalam ruang rawat Raswin sampai terkesiap karena ulah Ipul. Tak hanya Rina yang sedang menyuapi Raswin bubur, sebab Raswin yang masih belum sehat juga sampai tersedak. Dan Rina bergerak cepat mengambil segelas air minum di nakas sebelah. Ia segera meminumkannya pada Raswin melalui sedotan yang tersedia.
Pun dengan Murni yang awalnya sedang menyeruput kopi hitam di gelasnya. Murni yang keberadaannya paling dekat dengan pintu, sampai terbatuk-batuk dan buru-buru meletakkan gelasnya ke meja yang kebetulan ada di sebelahnya.
Murni meraih air minum kemasan gelas yang juga ada di meja dan sudah dihiasi sedotan. Ia meminumnya melalui sedotan sambil berjalan tergesa menghampiri kebersamaan Rina dan Raswin, yang kiranya ada lima meter dari keberadaannya.
“Sejak kapan pengamen boleh masuk ke rumah sakit, terlebih rumah sakit mahal, Rin?” keluh Murni lirih sambil meraih dompet kecil miliknya dari ransel yang keberadaannya di sebelah nakas ranjang rawat Raswin. Ia merasa tak habis pikir pada sosok Ipul yang ia kira sebagai pengamen.
Murni mengambil selembar uang dua ribu dari dalam dompet sambil berjalan tergesa menghampiri Ipul yang memang membuatnya pangling. Sungguh, baik Murni, Raswin, bahkan Rina yang biasanya jeli, tidak mengenali Ipul yang kali ini berpenampilan sangat berbeda dari biasanya.
“Tapi kok, ... aroma ini kayak enggak asing, ya? Bau bengik kayak bau si Ipul?” lirih Rina meminta pendapat Raswin.
“Tapi ngapain juga si Ipul ke sini, setelah dia menyebarkan kabar mbakmu? Toh, ... selama ini tujuannya mendekati kita, karena dia ingin menikahi mbakmu, kan?” balas Raswin yang belum begitu fasih berbicara. Karena efek tetanus yang dialami, Raswin sampai menjadi cadel.
“Lah ... si Ipul kan muka badak ... enggak tahu malu dan emang enggak punya otak. Sudah berulang kali menghina, tapi terus saja usaha!” balas Rina masih yakin. Dan demi membuktikan rasa penasaran, ia sampai menatap saksama pria yang ia yakini sebagai Ipul.
Murni bergidik dan semakin bingung, lantaran pria berkacamata hitam yang ia yakini pengamen, justru sampai meraih, menyalami tangan kanannya yang awalnya memberikan selembar uang dua ribu. “Loh ... loh ... apa jangan-jangan, orang ini tukang pijat tuna netra? Dia minta diantar keluar?” pikir Murni. “I-ini, ... maaf ada apa lagi? Minta diantar apa bagaimana? Kan sudah saya kasih uang?”
Ipul yang baru saja akan mencium punggung tangan Murni, buru-buru melakukannya, sebelum kembali menatap Murni, tanpa melepaskan tangan wanita itu. “Iya, Bu ... tolong antar saya. Tolong antar saya ke pelaminan bareng Fina!” ucapnya semringah sambil menepuk-nepuk tangan kanan Murni yang masih ia salami.
Mendengar suara Ipul, ketiga orang di sana refleks gondok. Mereka benar-benar muak, bahkan meski Sumi dan Sukat yang ternyata sampai menyertai Ipul, menyuguhkan senyum lepas sambil menyapa dengan sangat ramah.
Murni langsung mengipratkan kasar tangan Ipul. Ia yang telanjur sakit dengan ulah pria itu, sampai tidak sudi meski sekadar untuk menatap. Akan tetapi, belum juga dipersilakan masuk, Ipul dan orang tuanya langsung melewatinya begitu saja. Ketiganya berjalan menghampiri Raswin layaknya manusia-manusia tak berdosa.
“Kan benar, Pak! Si badak Ipul!” gerutu Rina sambil bersedekap.
“Pak Raswin apa kabar? Sudah sehat, Pak?” sapa Sukat ramah sambil yang kemudian menyalami Raswin.
__ADS_1
Setelah Sukat menyalami Raswin, Ipul juga tak mau kalah. Ipul segera menyalami Raswin dengan semringah.
“Pak, sehat selalu, Pak. Biar Bapak bisa jadi wali di pernikahanku sama Fina!” ucap Ipul.
“Aaagg!” sergah Rina yang nyaris muntah hanya karena mendengar ucapan Ipul. Meski tak lama setelah itu, ia menjadi sibuk menjepit hidung lantaran tak tahan dengan bau tubuh Ipul dan orang tuanya.
Memang sudah bukan rahasia perihal keluarga Ipul yang jarang mandi dan membuat mereka memiliki bau luar biasa. Namun, jika harus bertahan menjalin kebersamaan cukup lama dengan ketiganya, Rina rasa kenyataan itu sangat berbahaya bagi Raswin yang harus selalu seteril. Orang sehat saja bisa langsung sakit jika menghirup aroma Ipul sekeluarga, apalagi yang sakit parah seperti Raswin?
Tanpa menunggu balasan dari Raswin yang terlihat jelas kebingungan, Ipul mengakhiri salamannya. Ia langsung membenarkan posisi kalungnya agar tetap terpampang di depan dada. Pun dengan susunan rambutnya yang kali ini disisir ke belakang dan tampak begitu mengkilap. Ipul juga mengelus kepalanya yang sebenarnya sudah bisa membuat lalat yang hinggap, langsung tergelincir.
“Omong-omong. Dari tadi kok gelap banget, ya? Ini mati lampu, atau memang gelap karena mendung?” keluh Ipul kemudian sambil mengamati suasana sekitar.
“Yang gelap itu otak sama auramu!” cibir Rina. Tak beda dengan Murni, ia juga tidak sudi menatap Ipul berikut orang tua pria itu.
“Ya ampun, Rin ... kamu terpesona sama aku, ya? Aku ganteng banget, ya? Duh ... sayang ... aku cintanya cuma sama Mbakmu! Tapi, kalau kamu mau jadi yang kedua, ya enggak papa, besok sekalian dua-duanya!” balas Ipul dengan sangat percaya diri.
Balasan Ipul sukses menyulut emosi Rina. “Lambemu, yah, Pul! Buka kacamatamu! Ngaca!”
“Ipul! Jaga ucapamu!” bentak Murni sambil melangkah tegas menghampiri kebersamaan. “Cukup!”
Sukat berdeham sambil memasang wajah sungkan. “Begini Pak Raswin, Bu Murni ... sebenarnya, kedatangan kami ke sini, kami ingin melamar Fina untung Den Bagus Ipul kami!” jelasnya.
Sumi mengangguk membenarkan sambil memasang senyum seramah mungkin. Lain halnya dengan Ipul yang memilih melepas kacamatanya.
“Loh ... kok jadi terang? Ah benar, kacamatanya bikin gelap,” gumam Ipul sibuk sendiri. “Tapi kalau aku enggak pakai kacamata, kerennya jadi kurang, ya? Ya sudahlah ... pakai saja!” batinnya kemudian yang kembali mengenakan kacamata.
Suasana di ruang rawat Raswin mulai tidak bersahabat.
“Berdasarkan hitungan weton, Ipul dan Fina kalau menikah, rumah tangganya akan selalu bahagia. Rezeki mengalir, kesehatan oke, jauh dari cobaan pokoknya. Soalnya, Ipul bawa hoki buat Fina, Fina bawa hoki buat Ipul!” Sukat tak hentinya meyakinkan.
“Kita bicarakan di depan saja, Wa!” tegas Rina untuk kesekian kalinya. Hanya saja, ketiga tamu tak diundang di hadapannya sangat keras kepala. Ketiganya sama-sama tak tahu diri. Karena jangankan menggubris, Sukat justru semakin ceriwis meyakinka Raswin.
***
__ADS_1
Dari sekitar pukul dua belas siang, Rafael sudah bangun dan langsung membenarkan jok tempatnya duduk layaknya yang Fina duduki. Dan semenjak itu juga, Rafael langsung fokus bekerja bahkan makan pun seolah bukan hal penting. Rafael akan tetap bekerja walau pria itu juga menyisihkan sedikit waktunya untuk makan dan minum.
Fokus Rafael tak tergoyahkan bahkan meski ada Fina di sebelahnya. Fina sendiri sampai heran dibuatnya. Rafael ... pria itu benar-benar gila berkerja. Hanya sesekali mengajak Fina berbicara sebatas meminta wanita itu untuk makan dan banyak-banyak minum. Dan Rafael masih melakukannya tanpa mengalihkan fokusnya dari layar laptop, ponsel, berikut dokumen yang sedang dihadapi.
Tepat pukul tiga sore, mobil yang membawa Rafael dan Fina, menepi di tempat parkir rumah sakit Raswin dirawat. Rafael yang juga baru saja menepikan laptop berikut dokumennya di tepat duduk belakangnya, tak lantas turun. Pria itu segera meraih botol air minum dan memberikannya kepada Fina.
“Sebelum turun, minum air putih lagi dulu, Fin. Usahakan minum yang banyak. Terus jangan lupa, nanti sebelum keluar, kamu juga harus pakai masker.”
Rafael menenggak air mineralnya yang masih terisi seperempat, hingga tuntas.
“Kembung perutku, Raf ...,” keluh Fina.
Rafael yang awalnya sedang memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya khususnya hidung ke mulut, segera menoleh dan menatap Fina sambil menggeleng. “Biasakan.”
Rafael juga memberikan satu masker kepada Fina dan meminta wanita itu untuk mengenakannya juga. “Karena kamu akan menjadi bagian dari hidupku, jadi semua yang berhubungan denganmu juga akan berdampak padaku. Itu kenapa, aku juga haru benar-benar menjagamu.”
Pernyataan pria berusia tiga puluh empat tahun di sebelahnya, sukses membuat hati Fina tersentuh. Kenapa, ... Rafael terdengar begitu tulus kepadanya?
Fina sampai menjadi diam-diam memperhatikan Rafael sambil kembali minum. Ketika Rafael merapikan gaya rambut yang selalu tampak rapi bahkan sempurna sambil mematut diri melalui aplikasi kamera di ponsel, Fina dibuat tak percaya lantaran ia nyaris menghabiskan setengah botol air mineral berukuran satu setengah liter pemberian Rafael, hanya karena memperhatikan Rafael.
“Waw ... kamu haus juga?” ucap Rafael kemudian dan memang tidak sengaja menoleh pada Fina.
Tanpa berani menatap Rafael, Fina menunduk sambil menutup botol air mineral yang hanya tersisa sedikit, di pangkuannya. “Sumpah, aku kembung!” umpat Fina di dalam hati.
Fina masih belum berani menatap Rafael bahkan sekalipun pria itu sudah turun dan memintanya untuk segera menyusul. “Duh ... Rafael ini. Dia terlalu sempurna ... apa jadinya aku kalau terus dekat sama dia? Jangan-jangan, aku yang jatuh cinta dan ... cintaku hanya bertepuk sebelah tangan? Nasibku jadi miris seperti di cerita-cerita, dan ... nyesek banget, sih ...?” batin Fina sambil mengenakan masker dan menyusul Rafael.
Bersambung ....
Selamat pagi ....
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaaa!
Yuk, ramaikan!
__ADS_1
Salam sayang,
Rositi.