
“Kenapa harus mikir, sih? Kalian ini enggak peka banget, kalau di hadapan kalian, ada seorang istri yang takut suaminya digondol wanita lain?!”
Episode 70 : Sakit Perut
Sudah pukul delapan malam lewat, dan sesuai info dari Rafael, resepsi malam ini telah usai. Beberapa pekerja juga mulai membereskan sisa pesta. Pun dengan Fina yang dikawal oleh ketiga wanita yang mengurusnya, menuju kamar hotel tempatnya dirias.
Sesuai permintaan Rafael, malam ini, mereka tidak pulang ke rumah pribadi yang juga dihuni keluarga Fina, atau rumah orang tua Rafael sendiri yang sudah meminta giliran untuk ditempati. Karena malam ini, sesuai arahan Rafael, mereka akan menginap di hotel.
Namun, yang membuat Fina tadak baik-baik saja, sepertinya Rafael sudah mabuk berat. Karena sesuai apa yang Rafael ceritakan, menghindari minuman beralkohol di resepsi mereka sangatlah sulit. Fina menyaksikannya sendiri, setiap teman Rafael seolah sengaja menjebak Rafael agar minum banyak. Padahal, Rafael sudah menolak dan kerap memberikan jatah minumannya kepada teman-teman yang lain atau bahkan tamu undangan khusus.
“Benar, kan, ya? Malam ini si Otoy masih ada? Otoy mengawal Rafael, kan?” tanya Fina untuk ke sekian kalinya kepada ketiga wanita yang mengawalnya.
“Iya, Nyonya. Otoy akan mengawal Pak Rafael,” balas salah satu dari mereka dengan sopan.
Namun, Fina yang sampai balik badan dan menghentikan langkahnya tetap merasa gelisah bahkan takut. Fina merasa tidak baik-baik saja sebelum memastikan langsung apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya.
“Kenapa, sih, aku harus ke kamar duluan? Memangnya Rafael mau ngapain lagi? Bikin otakku kotor saja!” batin Fina yang kali ini sampai cemberut.
Karena yang mengganggu pikiran Fina, Rafael sampai bertemu wanita lain yang bisa saja menjadi duri di hubungan mereka. Baik karena sengaja, atau tidak sengaja di tengah kenyataan suaminya yang sedang mabuk berat.
“Duh, ... memikirkan itu, kepala dan dadaku jadi panas! Siapa sih yang enggak mau sama Rafael? Hanya wanita gila saja, kan, yang enggak mau? Ah ... justru yang gila-gila ini yang enggak mikir dan bisa asal embat!” batin Fina yang kali ini uring-uringan sendiri dan bahkan hampir menangis.
“Nyonya ... mari ke kamar,” ajak salah satu wanita dari mereka dengan sopan.
Fina refleks menelan ludah yang tiba-tiba saja terasa sangat getir. “Tolong, minta ponsel saya, dong ... mau telepon dulu,” pintanya sambil menatap ketiga wanita di hadapannya.
Ketiga wanita itu tak langsung menjawab. Ketiganya sama-sama menoleh dan berkode mata perihal permintaan Fina.
“Kenapa harus mikir, sih? Kalian ini enggak peka banget, kalau di hadapan kalian, ada seorang istri yang takut suaminya digondol wanita lain?!” batin Fina yang menjadi semakin sebal.
Fina langsung meraih ponselnya ketika salah satu dari mereka yang berdiri di tengah, memberikannya. Fina langsung membuka menu kontak di ponselnya dan menghubungi kontak Kafur. Karena sampai sekarang, Fina belum mengganti nama kontak Rafael.
Satu, dua, hingga di panggilan ke tiga, Rafael masih belum menjawab panggilan Fina. Membuat Fina semakin gelisah bahkan ketakutan. Dan Fina yang masih ada di lorong hotel menuju kamarnya pun memutuskan untuk mengutus satu dari ketiga wanita yang ada di hadapannya.
“Tolong katakan kepada pak Rafael kalau perut saya sakit,” pinta Fina.
__ADS_1
“P-perut Nyonya, sakit? Biar kami obati,” tawar satu dari mereka.
Fina segera menggeleng. “Enggak-enggak ... cukup katakan itu kepada pak Rafael saja. Dia tahu, kok!” tukas Fina.
Fina berlalu dengan kenyataannya yang sudah terbakar api cemburu. Rasa curiga dan kesal yang Fina tahan benar-benar membuat Fina semakin terluka.
“Bisa gila kalau aku kayak gini terus!” batin Fina yang sampai membuat kedua wanita yang mengawalnya kewalahan.
Sambil menjinjing tinggi kedua sisi gaunnya hingg lutut, Fina melangkah tegas sekaligus sangat cepat menuju kamar hotelnya. Dan kenyataan tersebut membuat kedua wanita yang mengawalnya semakin yakib, Fina tidak baik-baik saja. Antara benar-benar sakit, atau justru marah.
***
“Sudah sana pulang ... aku enggak mau membuat istriku menunggu,” usir Rafael pada ke lima temannyaa yang masih betah duduk di kursi tamu undangan bagian depan.
Di meja tersebut masih ada dua botol wine yang masih tersisa. Dan salah satu dari mereka bergegas membukanya.
“Habiskan ini dulu, ... baru temui istrimu!” usul salah satu dari mereka. Masih pria yang sama dan sempat merayu Fina sekaligus meminta izin mendekati Rina.
Rafael mengulas senyum sambil menggeleng. “Buat kalian saja. Bawa pulang juga boleh. Aku sudah terlalu banyak minum.” Rafael menghela napas sangat dalam. “Kepalaku saja sudah sangat berat.”
“Tapi omong-omong. Kenapa kita harus membuat Rafael mabuk? Bukankah mereka sudah melewati malam pertama?” seru dari pria yang masih sama sambil meletakkan botol wine yang baru saja berhasil dibuka ke tengah-tengah meja kebersamaan mereka.
Ketika suasana mendadak sunyi dan semua mata kelimanya langsung mengintrogasi Rafael, Rafael membalasnya dengan senyum geli.
“Semenjak menikah ... setiap malam selalu menjadi malam pertama. Bahkan siang pun begitu ... rasanya selalu seperti bulan madu,” balas Rafael.
Balasan Rafael yang mulai terdengar melantur tetapi terdengar jujur, sukses membuat kelima temannya tertawa lepas.
“Kalian terus saja menertawakanku! Kalau kalian enggak percaya, praktek saja sana. Menikah dan setelah itu, hidup kalian seperti bulan madu terus!” omel Rafael.
Kelima teman Rafael hanya mengangguk-angguk di tengahntawa yang masih tersisa.
Di tengah kenyataannya yang semakin merasa pusing, bahkan pandangannya pun mulai kabur, Rafael memutuskan untuk beranjak. Ia melakukannya dengan cukup paksa hingga kursi tempatnya duduk berderit.
“Hati-hati,” ucap mereka dan satu dari mereka yang duduk tepat di sebelah Rafael, langsung beranjak dan menegapkan tubuh Rafael.
__ADS_1
“Jangan menyentuhku ... aku tidak mau disentuh oleh orang lain kecuali istriku. Aku belum sepenuhnya mabuk,” racau Rafael.
“Rafael benar-benar mabuk!” bisik kelimanya yang semakin menahan tawa menertawakan Rafael.
Ketika Rafael menoleh ke depan, ujung karpet merah menuju altar, Rafael mendapati salah satu pengawal Fina yang memberinya kode. Wanita itu menunjuk-nunjuk ponsel dan Rafael yang segera bergegas juga sambil merogoh ponselnya.
Rafael refleks menelan ludahnya yang tiba-tiba saja terasa getir tatkala ia mendapati nomor Fina sampai menelepon tiga kali.
“Mau telepon atau kirim pesan ribuan kali pun, enggak bakal terbalas!” gumam Rafael yang menjadi was-was. Karena meski ia memang membawa ponsel, tetapi ia sengaja mendiamkan semua pemberitahuan. Dan kenyataan tersebut membuat ponselnya sama sekali tidak akan berdering atau sekadar bergetar.
“Raf ... ini belum habis. Jangan pergi dulu,” seru salah satu dari teman Rafael yang dibarengi tawa meledek oleh yang lain.
“Habiskan saja. Aku mau menemui istriku,” balas Rafael yang masih menyempatkan waktu untuk menoleh dan tersenyum kepada ke lima temannya.
“Ada apa?” tanya Rafael kemudian pada pelayan Fina.
“Nyonya meminta saya memanggil Tuan karena Nyonya mengeluh sakit perut,” balas wanita itu sopan.
“Masa, sih? Bukanka tadi bak-baik saja?” Rafael semakin mempercepat langkahnya sambil sesekali mengepakkan kedua matanya demi meredam pening yang terasa semakin kuat.
Tak mau semakin penasaran, Rafael juga menghibungi nomor Fina. Ia langsung menekan nomor satu di fitur kontaknya dan membuatnya terhubung pada kontak Patner Masa Depan.
Telepon yang Rafael lalukan tidak mendapat balasan. Tak hanya satu atau dua kali, melainkan berkali-kali. Membuat Rafael mempercepat langkahnya, hingga Otoy yang telat bergabung dalam mengawal, sampai berlari dalam menyusul.
“Kalian sudah mengobatinya?” sergah Rafael sambil terus melangkah.
“Nyonya tidak mau. Nyonya menolak penawaran pengobatan dari kami, dan meminta saya untuk memanggilkan Tuan secepatnya.”
Balasan dari pelayan Fina sukses membuat kekhawatiran Rafael bertambah.
“Sebenarnya Fina kenapa? Kenapa mendadak sakit perut?” batin Rafael.
Bersambung ....
Selamat bulan Mei ... dan semoga hari ini bisa up lagi, ya. Yuk, ramaikan. Author tunggu ♥️
__ADS_1